
"Entahlah Dli mood saya hancur setelah melihat Qafia dan Zayyan selalu bersama. Apalagi saat mereka sambung ayat. Hancur hati saya melihat itu. Kini makin susah mendapatkan Qafia." Ucap Daffa "apalagi setelah Fian datang. Makin susah mendapatkan Qafia. Fian sangat menyayagi Qafia Dli."
"Tapi dimata ku Fian hanya menganggap Qafia itu adiknya Daf." Ucap Rafli.
"Udah engga usah bahas mereka dulu saya cape." Ucap daffa menutup matanya.
Keesokan harinya Qafia dan Nabhas sedang asik bermain di taman belakang rumahnya.
"Kak momen ini yang akan Qaf rindukan nanti setalah di Aceh." Ucap Qafia duduk di kursi taman.
"Sama dik kakak juga akan merindukan momen ini." Ucap Nabhas duduk di dekat Qafia.
Qafia langsung sandar di dada sangat kakak dan juga memeluknya. "Kak, kak fatima dimana?" tanya Qafia pada Nabhas.
"Ikut sama ummi ke pasar dik." Ucap Nabhas.
"Kak, Qafia boleh minta tolong sama kakak?" Tanya Qafia.
"Mau minta tolong apa sayang?" Tanya Nabhas.
"Tolong cari orang tua kak Fatima ya." Ucap Qafia.
"Kakak tak bisa janji dik, tapi insya Allah kakak akan usahakan." Ucap Nabhas.
HP Qafia berbunyi menandakan ada pesan yang masuk.
SAHABAT FILLAH
Aziz
Assalamu'alaikum
Jihan
Waalaikumussalam
Izzah
Waalaikumussalam
Waalaikumussalam
Dina
Waalaikumussalam
Aziz
Ketemuan yuk.
Besokkan Qafia pergi
Jadi kita harus buat momen yang tak terlupakan buat Qafia.
Jihan
Dimana?
Dina
Bagaimana kalau di mall saja?
Izza
Stuju
Baiklah.
Tapi kalian sedang kuliah
Kalian mau bolos ya🤨?
Aziz
Engga kok Qaf.
Hari ini engga kulia
Jihan
Kami jemput atau pergi sendiri Qaf?
Pergi sendiri saja deh.
Ada kak Has juga yang antar.
Izza
Okke kami tunggu di mall ya.
Sip.
Qafia menyimpan hpnya dan menatap Nabhas.
"Kak antar Qaf ke mall ya."
"Ngapain?"
"Ketemu Izza, Jihan, Dina dan Aziz."
__ADS_1
"Boleh. Mau berangkat sekarang atau nanti?" Tanya Nabhas.
"Sekarang kak."
"Yaudah ayo siap-siap."
Qafia dan Nabhas masuk ke dalam rumah dan menuju kamar masing-masing. Selesai siap-siap mereka semua turun ke lantai 1.
"Ummi sudah dari tadi datangnya?" Tanya Qafia yang melihat Ummi Syifa duduk di ruang keluarga.
Qafia dan Nabhas menghampiri sang Ummi.
"Baru-baru kok sayang. Anak-anak Ummi mau kemana?" Tanya Ummi Syifa.
"Mau ke mall Ummi sama Kak Nabhas mau ketemu sama Dina, Izza, Aziz dan Jihan Ummi. Bolehkah Ummi?" Ucap Qafia.
"Boleh dong sayang." Ucap Ummi Syifa.
"Ummi, Kak Fatimah mana?" Tanya Qafia.
"Fatimah ada di kamar nak. Mau Ummi panggilkan?" Tanya kembali Ummi Syifa.
"Engga usah Ummi biar Qaf saja yang panggil." Jawab Qafia. "Kak Has tunggu disini ya, Qaf mau panggil Kak Fatimah dulu."
Nabhas hanya menganggukkan kepala. Qafia pun pergi ke kamar Fatimah. Tak lama kemudian Qafia dan Fatimah datang.
"Kak Has Ayo. Kami sudah siap."
Merekapun pamit pada Ummi Syifa. Selesai pamit mereka semua pergi ke mall, tak butuh waktu lama mereka semua sudah sampai.
"Alhamdulillah sampai." Ucap Qafia.
"Mereka dimana?" Tanya Nabhas menanyakan keberadaan Jihan, Aziz, Izzah dan Dina.
"Katanya mereka sudah di parkiran." Jawab Qafia.
"Mau tunggu mereka?"
"Iyya kak." Jawab Qafia.
Mereka turun dari mobil. Tak lama kemudian Jihan, Izzah, Dina dan Aziz datang.
"Assalamu'alaikum." Salam Jihan, Izzah, Dina dan Aziz.
"Wa'alaikumssalam." Jawab Qafia, Nabhas dan Fatimah.
Jihan langsung ke posisi kiri Qafia sedangkan Izzah di sebelah kanan Qafia.
"ayo masuk." Ajak Nabhas.
Mereka semua pun masuk. Sesampainya di dalam mall mereka pergi ke tokoh baju dengan niatan ingin membeli baju couple. Qafia, Izzah, Dina dan Jihan memiliki baju, Aziz berdiri sambil memerhatikan mereka, sedangkan Fatimah dan Nabhas hanya duduk di kursi tunggu.
1 jam kemudian Aziz belum juga menyetujui pilihan baju mereka.
"Ziz gimana kalau yang ini? Awas kalau kamu tidak stuju lagi." Ucap Jihan memegang baju berwarna beige.
"Engga-engga, itu terlalu menor Jihan." Ucap Aziz sih tukang proses.
"Kalau ini bagaimana?" Kini giliran Izzah yang memperlihatkan baju berwarna silver.
"Tidak tidak dan tidak Izzah itu terlalu glamor yang kita butuh itu yang sederhana. Kita tidak mau ke kondangan kita hanya mau foto studio." Ucap Aziz.
"Kalau yang ini bagus tidak?" Tanya Dina memperlihatkan baju berwarna emerald.
"Tidak Dina itu modelnya seperti ibu-ibu yang mau ke pasar." Ucap Aziz.
"Ziz mau kamu apasih pilihan ku terlalu menor, pilihan Izzah glamor, pilihan Dina seperti Ibu-ibu. Kamu maunya apa Aziz? " Tanya Jihan mulai emosi. "Sudah 1 jam kita disini pilih baju tidak ada yang kamu suka."
"Jihan jangan emosi." Tegur Qafia yang membawa gamis berwarna Hitam dengan sedikit rendah berwarna pink di ujung lengan.
"Masya Allah cantiknya." Ucap Jihan melihat baju yang di pegang Qafia.
"Cantik, sederhana dan elegan." Ucap Aziz.
"Jadi kamu stuju dengan ini Ziz?" Tanya Izzah
"Iyya perpaduan hitam dan pink sangat menawan." Jawab Aziz.
"Terus hijabnya pakai warna apa?" Tanya Dina.
"Warna Pink kayanya bagus." Jawab Aziz.
"Okkey kita pakai warna pink." Final Jihan.
"Terus kamu pakai celana warna apa Ziz?" Tanya Dina
"Warna Hitam kemeja pink." Jawab Aziz santai.
"Ya udah sekarang ayo cari baju buat Aziz." Ucap Dina.
Setelah proses mencari baju selesai, mereka ke toko es krim. Tak sengaja ketemu dengan Fian, Zayyan, Abyan dan Istad.
"Assalamu'alaikum." Salam Zayyan, Istad, Fian dan Abyan.
"Waalaikumussalam." Jawab Nabhas, Qafia, Fatimah, Izzah, Jihan, Dina dan Aziz.
"Kalian darimana mau kemana nih?" Tanya Nabhas.
"Tadi ada meeting di luar jadi sekalian mampir ke mall bosan tiap hari cium obat rumah sakit terus." Jawab Zayyan.
__ADS_1
"Terus Fian dan Abyan?" Tanya kembali Nabhas.
"Dari peresemian resto Langit Cinta cabang bogor." Jawab Abyan
"Kalian mau kemana nih?" Tanya Zayyan.
"Ini sih bocah mau ke toko es krim katanya." Jawab Nabhas.
"Kami boleh gabung?" Tanya Abyan.
"Boleh dong kak." Jawab Aziz.
Mereka pun jalan bersama menuju toko es krim di mall itu. Sesampainya disana mereka memiliki duduk di sofa dengan alasan supaya bisa 1 meja.
"Kalian mau pesan apa?" Tanya Nabhas.
"Gelato rasa Fanila." Ucap Jihan
"Kami pun gelato rasa Fanila." Ucap Dina diangguhi oleh Izzah.
"Qafia, Fatimah, Abyan, Fian, Zayyan, Aziz dan Istad?" Tanya Nabhas.
"Kulfi." Jawab Aziz.
"Saya juga kulfi." Ucap Istad.
"Prozen Yogurt." Ucap Abyan.
"Fatimah, Zayyan, Qafia, Fian?" Tanya Nabhas
"Es Kotor." Jawab kompak Fian, Qafia dan Zayyan.
"Fatimah?" Tanya Nabhas.
"Gelato aja kak." Jawab Fatimah.
"Okke mbak gelato rasa Fanila 4, kunfi 2, prozen yogurt 1 es kotor 4." Ucap Nabhas.
"Baik. Mohon menunggu." Ucap pelayanan itu kemudian pergi.
"Jadi berangkatnya besok Qaf?" Tanya Fian.
"In Sya Allah kak." Ucap Qafia.
"Bukannya kamu juga akan ke Aceh besok Fi?" Tanya Istad.
"In Sya Allah." Jawab Fian.
"Dalam rangka apa kak?" Tanya Aziz.
"Ngajar di sana."
"SMP atau SMA?" Tanya Izzah
"Dosen." Jawab Fian.
Pelayanan datang membawa pesanan mereka. Mereka pun makan sambil bercerita.
"Masya Allah. Terus perusahaan kakak siapa yang urus?" Tanya Dina
"Ada Abyan yang urus."
"Dimana kakak jadi dosen?" Tanya Jihan.
"Universitas Syiah Kuala." Jawab Fian.
"Bukankah itu universitas paling terkenal di aceh?"
"Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) adalah perguruan tinggi negeri tertua di Aceh. Berdiri pada tanggal 2 September 1961 dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan Nomor 11 tahun 1961, tanggal 21 Juli 1961. Pendirian Unsyiah dikukuhkan dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia, nomor 161 tahun 1962, tanggal 24 April 1962 di Kopelma Darussalam, Banda Aceh. Unsyiah berkedudukan di Ibukota Provinsi Aceh dengan kampus utama terletak di Kota Pelajar Mahasiswa (Kopelma) Darussalam, Banda Aceh. Saat ini, Unsyiah memiliki lebih dari 30.000 orang mahasiswa yang menuntut ilmu di 12 Fakultas dan Program Paska Sarjana.
Sebagai salah satu institusi pendidikan tinggi, Unsyiah memiliki fungsi yang sangat strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, baik untuk kebutuhan lokal, nasional maupun regional. Sebagai universitas Jantung Hati Rakyat Aceh yang mengutamakan mutu, Unsyiah mengintegrasikan nilai-nilai universal, nasional, dan lokal untuk melahirkan sumberdaya manusia yang memiliki keselarasan dalam antara IPTEK dan IMTAQ. Keseimbangan diantara keduanya menjadi komponen utama dalam menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, berbudi pekerti, menjunjung tinggi etika, estetika serta berakhlak mulia.
Diawali dengan pembentukan Yayasan Dana Kesejahteraan Aceh (YDKA) pada tanggal 21 April 1958 yang dibentuk untuk mengadakan pembangunan dalam bidang rohani dan jasmani guna mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi masyarakat. YDKA menyusun program antara lain (a) Mendirikan perkampungan pelajar/ mahasiswa di ibukota provinsi dan setiap kota kabupaten dalam wilayah Nanggroe Aceh Darussalam, (b) Mengusahakan berdirinya satu Universitas untuk daerah Nanggroe Aceh Darussalam. Selaras dengan ide tersebut, tanggal 29 Juni 1958, Penguasa Perang Daerah Istimewa Aceh membentuk KOMISI PERENCANA DAN PENCIPTA KOTA PELAJAR/MAHASISWA. Komisi yang dipandang sebagai saudara kandung YDKA ini mempunyai tugas sebagai komisi pencipta, badan pemikir, dan inspirasi bagi YDKA, sehingga komisi ini dipandang sebagai modal utama pembangunan perkampungan pelajar/mahasiswa." Ucap Qafia.
Fatimah tercengang mendengar penuturan Qafia. Sedangkan Dina, Izzah, Aziz, Jihan dan yang lain sudah terbiasa dengan kemampuan Qafia yang super duper lincah.
"Bukannya kamu akan kuliah disitu juga Qaf?" Tanya Izzah.
"Iyya." Jawab Qafia singkat.
"Kamu ambil jurusan apa?" Tanya Abyan.
"Rencananya sih jurusan Ilmu Fiqih." Jawab Qafia.
"Masya Allah." Ucap mereka serentak.
Suara adzan mulai berkumandang.
"Sholat dulu yuk." Ajak Qafia.
"Aku dan Jihan tidak ikut." Ucap Dina cengegesan.
"Kalian mau tunggu dimana?" Tanya Izzah.
"Emm di bioskop ada. Kita nonton sama-sama." Ucap Jihan.
"Minta Bil dulu gih." Ucap Istad.
"Emm biar kami yang bayar kak." Ucap Jihan.
__ADS_1