
Suara adzan dhuhur mulai berkumandang.
"Sholat dulu yuk." Ajak Qafia.
"Aku dan Jihan tidak ikut." Ucap Dina cengegesan.
"Kalian mau tunggu dimana?" Tanya Izzah.
"Emm di bioskop aja. Kita nonton sama-sama." Ucap Jihan.
"Minta Bil dulu gih." Ucap Istad.
"Emm biar kami yang bayar kak." Ucap Jihan.
" Engga-engga biar saya yang bayar." Ucap Fian.
"Saya saja." Ucap Zayyan.
"Emm gini aja biar adil kita panggil pelayan dulu terus keluarkan kartu cart Masing-masing biar pelayanan yang pilih." Saran Abyan.
"Stuju." Ucap mereka kompak.
Aziz memanggil pelayanan mereka pun mengeluarkan kartu cart masing-masing dan menyuruh pelayanan memiliki kartu cart mereka. Dan yang terpilih kartu Abyan.
"Saya yang bayar" Ucap Abyan "Kalian tunggu yah kartu cartnya kami mau ke mushalla dulu." Ucap Abyan pada Jihan dan Dina.
"Baik kak." Ucap Jihan
"Kami duluan." Ucap Aziz.
Merekapun pergi. Jihan dan Dina menunggu kartu cart Abyan. Setelah pelayanan datang membawa kartu cart Abyan mereka langsung pergi ke bioskop. Jihan dan Dina memilih film horor dan ruang VVIP. Tak lama kemudian Qafia dan rombongan datang.
"Bagaimana kalian sudah beli tiket?" Tanya Izzah.
"Sudah." Jawab Jihan singkat.
Izzah membagikan tiketnya.
"Kalian pilih film horor?" Tanya Aziz.
Jihan dan Dina menangguk.
Mereka semua pun masuk kedalam bioskop Jihan, Izzah, dan Dina duduk sebangku, Nabhas duduk berdua bersama Qafia, Abyan, Zayyan, Aziz dan Istad duduk bersama mau tak mau Fatimah harus berdekatan dengan Fian. Awalnya Fatimah ragu karna mengingat kelakuan Fian selama ini kepadanya yang tak perna baik dan selalu kasar. Namun di paksa oleh Jihan dan yang lain terpaksa mereka duduk bersama di pisahkan oleh jarak 1,5 meter.
"Awas kau kalau sampai ketakutan dan dekat sama saya bakal ku tendang kau ke kutub utara." Ucap Fian menatap Fatimah dengan tatapan membunuh.
Fatimah menunduk ketakutan.
"Fian sudahlah kasihan Fatimah." Ucap Abyan.
"Kalau kamu kasihan sama dia kamu saja yang duduk di dekatnya." Ucap Fian judes.
"Kak tak boleh bilang kayu gitu." Tegur Qafia pada Fian.
Fian hanya diam dan film pun di mulai. Jihan, Dina dan Izzah mulai bereaksi, menutup mata bila ketakutan, teriak dan berpelukan sedangkan Fatimah dan Qafia hanya menonton dengan tenang di wajah mereka tak ada terpancar ketakutan sedikit pun. Begitupun dengan para lelaki dengan santainya menonton.
"Dasar cewe dia sendiri yang pilih film horor dia juga yang ketakutan." Ucap Aziz.
"Liat tu Qafia dan Fatimah mereka menikmati filmnya. Tidak ada raup ketakutan dimata mereka." Ucap Zayyan.
"Fatimah kamu tidak takut?" Tanya Abyan.
Fatimah hanya menggelengkan kepala "Tatapan Fian lebih mengerikan daripada film itu." Ucap Fatimah tampa sadar.
Sontak Fian kembali menatap Fatimah dengan tatapan membunuh. Sedangkan yang lain hanya ketawa.
"Diam." Ucap Fian mengeraskan suaranya.
Mereka semua kembali terdiam dan fokus menonton. Karena mengantuk akhirnya Qafia tertidur di pundak Nabhas. Zayyan khawatir melihat Qafia dan mengira Qafia pingsan.
"Qafia kenapa Has?" Tanya Zayyan.
"Hanya tidur doang kok, kecapean kali." Ucap Nabhas.
"Alhamdulillah." Ucap Zayyan
Setelah Film selesai Nabhas membangunkan Qafia. Qafia Dengan cepat terbangun. Mereka pun keluar dari bioskop.
"Sekarang mau kemana?" Tanya Zayyan.
"Emmm kemana ya!" Ucap Jihan dengan gaya berfikir.
__ADS_1
"Gimana kalau kita pergi ke panti asuhan muara kasih?" Ucap Qafia yang merasa rindu pada anak-anak panti muara kasih.
"Boleh juga tuh." Ucap Fian.
Mereka pun pergi, namun sebelum ke panti asuhan mereka menyempatkan membeli cemilan dan beras serta lauk-pauk untuk anak pantin dan pengurus. Dan kali ini mereka membayar belanjaan masing-masing.
"Apa masih ada yang kurang Qaf?" Tanya Abyan.
"Kita singgah di apotek dulu ya kak." Jawab Qafia.
"Masalah obat biar saya yang tanggung Qaf." Ucap Zayyan.
"Serius?" Tanya Qafia.
"Iyya."
"Baiklah ayo kita pergi." Ucap Jihan.
Mereka semua pun keluar dari Mall tersebut dan berjalan ke kendaraan masing-masing. Dan melajukan mobil mereka ke panti asuhan.
"Kak Fatimah tidak apa-apa kan?" Tanya Qafia khawatir melihat Fatimah yang mulai lemah.
"Iyya Qafia saya tidak apa-apa, mungkin hanya kecapean saja." Jawab Fatimah.
"Emm kakak tidur saja dulu jalanan juga macet mungkin butuh waktu 1 jam baru sampai." Ucap Qafia menyarankan.
Fatimah hanya mengangguk dan mulai menutup matanya.
"Kak bagaimana kalau Kak Fatimah ikut Qaf ke aceh? Qaf perna dengar suara kak fatimah ngaji suaranya sangat merdu kak. Dia bisa ngajar di pesantren." Ucap Qafia
"Nanti kita bicarakan sama Ummi dan Abi ya dik." Jawab Nabhas.
"Iyya kak."
Mereka asik berbicara, suara adzan kembali berkumandang menandakan waktu ashar telah masuk.
"Singgah solat dulu yuk." Ucap Qafia melihat masjid.
"Iyya dik." Ucap Nabhas.
"Kak Fatimah bangun sudah waktunya sholat ashar." Ucap Qafia membangunkan Fatimah.
"Ayo sholat." Ajak Nabhas setelah semuanya turun dari mobil.
Mereka pun pergi berwudhu dan ikut sholat berjamaah bersama masyarakat. Selesai sholat mereka semua keluar. Qafia jalan terburu-buru karna niqobnya basah hingga tak sengaja menabrak seorang laki-laki.
"Maaf akhi saya tidak sengaja." Ucap Qafia menundukkan pandangannya.
"Qafia?" Ucap pemuda itu dengan mata berkaca-kaca.
"Iyya saya Qafia." Jawab Qafia dan merasa heran mendengar perubahan suara pemuda yang ada di hadapannya
Nabhas dan yang lain menghampiri Qafia.
"Ada apa dik? " Tanya Nabhas setelah sampai di dekat Qafia.
"Ini Kak Qafia tidak sengaja menabrak ikhwan ini." Jawab Qafia.
"Maafkan adik saya. Dia terburu-buru tadi." Ucap Nabhas mewakili Qafia.
"Kak Nabhas bukan?" Tanya pemuda itu mulai berderai air mata.
"Iyya saya Nabhas, kamu...... " Ucap Nabhas menggantung ucapannya.
"Saya Afzal Kak anak Almarhum Abah Shali dan Almarhumah Umma janna." Ucap Pemuda itu yang tak lain adalah Afzal sepupu Qafia dan Nabhas.
"Kak Afzal"
"Afzal."
Ucap Qafia dan Nabhas bersamaan, Nabhas langsung memeluk sepupunya anak dari adik sang abi. Dengan air mata yang mengalir keduanya terus berpelukan. Begitupun Qafia Menangis melihat Kakak sepupu yang selama ingin di rindukan. Izzah langsung menenangkan Qafia.
"Qaf sudah ya jangan nangis lagi." Ucap Izzah.
Qafia hanya memeluk Izzah dan terus menangis. Istad mulai turun tangan.
"Ade jangan nangis lagi ya, nanti kepala ade pusing." Ucap Istad berusaha memenangkan Qafia.
Nabhas dan Afzal melepas pelukannya. Dan melihat Qafia.
"Adik kakak kok cengeng sih? Engga boleh cengeng sayang." Ucap Afzal.
__ADS_1
"Kakak dari
"Ayo kita ke pantai." Ucap Qafia.
Qafia pergi meninggalkan mereka, masuk kedalam mobil dan mengganti niqobnya yang sudah basa.
"Kamu selama ini tinggal dimana?" Tanya Nabhas pada Afzal.
"Tinggal di apartemen dekat sini kak." Ucap Afzal.
"Kamu kerja dimana?" Tanya Istad yang lumayan dekat dengan Afzal.
"Di perusahaan Alhanan kak sebagai sekretaris."
"Masya Allah." Ucap Istad.
"Kakak mau kemana ramai-ramai?" Tanya Afzal.
"Kami mau kepanti asuhan muara kasih. Kamu mau ikut?" Tanya ucap Istad.
"Boleh." Jawab Afzal.
"Emm gimana kalau Fatimah ikut sama kamu Izzah. Saya mau satu mobil dengan Qafia, Nabhas, dan Afzal. Ziz tolong bawa mobil saya ya." Ucap ucap Istad.
"Baik kak." Ucap Fatimah dan yang lain.
Mereka semua pun berjalan ke mobil masing-masing. Dan melajukan mobil mereka ke pantai asuhan muara kasih. Di mobil nabhas mereka asik bercerita. Sesampainya di pesantren Qafia turun terburu-buru meninggalkan Nabhas dan yang lain.
"Kak Bidadari..." Teriak anak anak panti
Mereka semua berlari memeluk Qafia.
"Adik adik kakak." Ucap Qafia memeluk mereka. "Apa kabar sayang?" Kemudian melepas pelukannya.
"Baik kak." Ucap Mereka.
"Ayo masuk." Ajak Qafia.
Qafia, Jihan, Dina, Izzah, Fatimah dan anak pantai masuk duluan ke halaman panti. Sementara Aziz, Nabhas, Abyan, Fian dan Istad memarkirkan mobil mereka, setelah itu membawa snack dan lauk-pauk serta beras yang tadi mereka beli.
Selesai meletakkan beras dan lauk pauk mereka membagikan snack pada anak-anak dan sisanya di simpan buat besok.
"Gimana adik-adik suka snacknya?" Tanya Zayyan.
"Suka kak." Ucap Anak panti.
Mereka semua bermain dengan anak panti. Para laki-laki main bola bersama anak panti laki-laki, sedangkan perempuan menggambar, menyanyi dan bermain boneka.
Afzal merasa lelah main bola, dia memutuskan duduk di kursi ujung lapangan. Qafia yang melihatnya mengkode Jihan agar melanjutkan mengajar anak-anak mengaji, Jihan yang memiliki kepekaan yang cukup tinggi mengerti kode yang diberikan Qafia. Qafia pun pergi di dekat Afzal, tak terasa air mata Afzal berjatuhan.
"Kak Afzal kenapa?" Tanya Qafia setelah sampai d dekat Afzal.
"Kakak rindu Umma dan Abah." Ucap Afzal. "Kasihan mereka masi kecil sudah di tinggalkan oke orang tua mereka. Kakak pernah berada di posisi mereka, kakak tau bagaimana rasanya ditinggal oleh kedua orang tua sedari kecil" Lanjut Afzal menangis tersedu-sedu.
Qafia ikut meneteskan air mata "kakak harus menjadi laki-laki yang kuat, kakak tidak sendiri ada ummi dan abi yang menjadi orang tua kakak."
Nabhas dan Istad yang melihat Qafia dan Afzal duduk bersama. Istad menghampiri Nabhas.
"Has kayanya mereka nangis deh." Ucap Istad.
"Iyya mereka menangis, ayo kita ke mereka." Ajak Nabhas.
"Zayyan, Fian, Abyan, Aziz kami ke Qafia dan Afzal dulu ya." Ucap Istad.
"Okke." Jawab Abyan dan Zayyan.
"Sip kak." Jawab Aziz
Sedangkan Fian hanya menaikkan jempol👍.
Nabhas dan Abyan pun berjalan ke arah Afzal dan Qafia. Sesampainya di dekat Qafia Nabhas langsung memeluk Qafia.
"Adek kenapa?" Tanya Nabhas.
"Qaf rindu sama Umma dan Abah." Ucap Qafia memeluk Nabhas.
"Maaf kak ini salah aku." Ucap Afzal menunduk.
"Kamu tidak salah kok Zal ini mah karna Qafia saja yang cengeng." Ucap Nabhas berusaha menghibur.
Qafia melepas pelukan Nabhas dan cemberut.
__ADS_1