BIRUNYA LANGIT CINTA

BIRUNYA LANGIT CINTA
Bab 12


__ADS_3

"Sudah Saatnya Selna pergi. Assalamu'alaikum." Ucap Selna menutup matanya.


"Selna." Teriak mimi, pipi dan Fian.


Abi Aqlan memeriksa denyut nadi Selna. "Innalillahi wa inna ilaihi rajin. Selna selah tiada."


Qafia dan Fian pingsan. Dan mulai sejak kejadian itu fai bersifat dingin.


Flashback Off


Zayyan dan yang lain ikut menangis melihat Nabhas, Fian dan Qafia  menangis.


"Selna kamukah bintang yang paling terang itu sayang." Ucap Fian menatap bintang dan menghapus air matanya.


"Kak Fian jangan nangis masa laki-laki nangis sih." Ucap Qafia menurukan gaya bicara Selna.


Fian tersenyum mendengar ucapan Qafia. Zayyan, Abyan, Izzah dan Istad menghampiri Fian, Nabhas dan Qafia. Sedangkan Dina dan yang lain masuk kedalam Villa.


"Ternyata Kutub Utara bisa nangis juga ya." Ucap Zayyan duduk di dekat Fian.


"Kakak kira kutub utara tidak bisa menangis. Bisa kali kak." Ucap Qafia membelah Fian.


"Qafia." Ucap Izzah menangis memeluk Qafia. "Jadi Selna sudah tiada, kenapa kamu tidak menjelaskan pada saya Qafia."


"Maaf Izzah." Ucap Qafia merasa bersalah.


Fatima datang membawa coklat panas buat mereka. "Ini ada coklat panas buat kalian." Meletakkan coklat panas di depan mereka masing-masing.


"Makasih kak." Ucap Qafia tersenyum.


"Kamu tau aja Fat kalau Fian suka coklat panas." Ucap Abyan.


"Hanya kebetulan kali dia tau." Ucap Fian dingin.


Fatima tersenyum kecut mendengar ucapan Fian. Fatima tak sengaja menumpahkan coklat panas di baju Qafia.


"Aaaaa panas." Ucap Qafia melihat lengannya terkena coklat panas.


"Qafia." Ucap Nabhas dan Izzah.


"Saya minta maaf Qafia saya tak sengaja." Ucap Fatimah merasa bersalah.


"Bisa becus engga sih kalau kerja. Kamu sengaja kan menyirami Qafia coklat panas." Ucap Fian berdiri "Dasar wanita tak tau terima kasih."  Mengambil coklat panasnya dan menyiram dada Fatima.


"Kak Fian." Jerit Qafia.


"Fian." Ucap Abyan tak menyangka kelakuan sahabatnya.


Fatima hanya menangis dan  berlari masuk kedalam villa.

__ADS_1


"Kak Fian bisa engga sih halus dikit sama kak Fatimah. Kenapa kaka melakukan itu pada ka Fatimah, kak Fatimah sudah minta maaf pada Qaf,. Qaf engga akan mau bicara sama kaka sebelum kaka minta maaf di sama ka fatima." Ucap Qafia kecewa pada fian. "Ayo Za kita masuk." Ucap Qafia menarik tangan Izzah.


Qafia dan Izzah pun masuk kedalam Villa.


"Fi jangan terlalu fosesif lah pada Qafia. Kasihan dia, saya tau ini amanah terakhir Selna tapi engga segitunya juga." Ucap Nabhas.


"Betul Fi. Kalau kamu mau menegur Fatimah engga gitu caranya, kasihan dia. Kita tidak ada yang tau apakah Fatimah yatim piatu atau bagaimana." Ucap Abyan.


"Fi kami tau kamu khawatir pada  Qafia, kami mengerti keadaan mu tapi tak usah seperti itulah Fi, kasihan Fatimah." Ucap Zayyan


"Fi saran saya kamu temui dulu deh Qafia, dari mukanya Qafia sangat  kecewa sama kamu." Ucap Istad.


"Besok saja minta maafnya saya yakin Qafia masih kecewa sama kamu." Ucap Nabhas. "Zayyan punya salep untuk meredakan rasa panas kan?"


"Engga ada Has." Ucap Zayyan.


"Ada apotek buka 24 jam di sini. Lokasinya tak jauh dari sini." Ucap Abyan.


"Ya udah ayo kita pergi beli." Ucap Zayyan.


Zayyan dan Abyan pun masuk kedalam Villa mengambil jaket dan pergi beli salep. Nabhas dan Istad juga masuk kedalam Villa, Nabhas berjalan menuju kamar Qafia sedangkan Istad ke kamar istirahat. Fian berjalan di pinggir kolam menggulung celananya sampai atas lutut  kemudian duduk memasukkan kedalam kolam.


"Dik gimana  masih panas?" Tanya Nabhas yang melihat tangan Qafia di kipas oleh Izzah.


"Iyya Kak lumayan." Jawab Qafia meringis.


"Sabar ya dik. Zayyan dan Abyan pergi beli salep buat adik." Ucap Nabhas.


"Sabar ya dik." Nabhas mulai panik.


"Sakit kak."


Tok....


Tok...


Tok....


"Assalamu'alaikum Has ini saya Zayyan." Ucap Zayyan.


"Wa'alaikumussalam Yang masuk." Ucap Nabhas.


Zayyanpun masuk.


"Has ini ada salep, oleskan ke bagian yang panas ya." Ucap Zayyan memberikan salep itu pada Nabhas.


Nabhaspu menerimanya. "Makasih Yan."


Zayyan menganggukkan kepala dan pamit keluar.

__ADS_1


Keesokan harinya tangan Qafia sudah tidak sakit lagi. Qafia, Dan Jihan menyiapkan sarapan buat mereka semua. Nabhas dan yang lain sudah ada di meja makan. Mereka semua makan dengan hikmat. Selesai makan Dina dan Izzah membereskan meja makan sementara yang lain menunggu di ruang tamu.


"Kak Fatimah maafkan saya ya, Karna saya kak fatima di siram sama kutub utara itu." Ucap Qafia merasa bersalah.


"Engga apa-apa dik. Emang ini salah saya." Ucap Fatima.


"Kak Fian minta maaf sama kak Fatima sekarang." Ucap Qafia memerintah.


"Fatimah saya minta maaf. Saya emosi tadi malam, jujur saya tidak bisa melihat Qafia menangis. Qafia sumber penyemangat saya." Ucap Fian merasa bersalah.


"Iyya engga apa-apa." Ucap Fatimah tersenyum.


"Engga ada lagi yang mau di sampaikan Kak Fi?" Tanya Qafia.


Fian hanya menggelengkan kepala.


Izzah dan Dina selesai dengan pekerjaannya mereka siap untuk pulang ke Jakarta.


"Kita ke makan Selna dulu ya." Ucap Fian.


Mereka semua berdoa sebelum pulang. Selesai berdoa merek pulang. Fatimah ikut di mobil Jihan.


Sesampainya di perkuburan umum air mata


Qafia mulai menetes begitu pun dengan Fian dan Izzah mulai menangis. Mereka semua  mengikuti langkah kaki Fian.


Sesama di makam bertulisan Cahyana Selna Binti Raisman.


Izza langsung melemah. Izza, Fian, Nabhas dan Qafia jongkok.


"Assalamu'alaika Selna." Ucap Qafia dengan air mata yang terus mengalir.


"Selna kenapa kamu begitu  cepat pergi Selna, kenapa. Selna maafkan saya yang tidak ada saat kamu membutuhkannya saya. Maafkan saya Selna." Ucap Izza.


"Assalamu'alaika adik kesayangan kakak. Dik disini kakak sudah tak sendiri lagi. Ada kak Abyan yang selalu menemani kakak. Sayang  disana bagaimana. Owh ya disini ada Dina, Jihan, Zayyan, Istad, Daffa, Rafli, Fadli dan Fatimah." Ucap Fian mengusap batu nisan Selna.


Selesai dari pemakanan mereka semua pulang. Fian memaksa Qafia untuk ke rumahnya. Namun Nabhas tidak mengizinkan karna harus kembali ke Jakarta dan harus istirahat sebelum ke Aceh.


Sesampai di jakarta mereka semua berpisah. Daffa, Rafli dan Fadli masuk ke apartemen Fadli.


"Cape banget." Ucap Daffa baring di sofa.


"Iyya betul rasanya tulang ku remuk semua." Ucap Rafli sandar di sofa.


"Daffa kenapa kamu jadi pendiam waktu di puncak?" Tanya Fadli.


"Entahlah Dli mood saya hancur setelah melihat Qafia dan Zayyan selalu bersama. Apalagi saat mereka sambung ayat. Hancur hati saya melihat itu. Kini makin susah mendapatkan Qafia." Ucap Daffa "apalagi setelah Fian datang. Makin susah mendapatkan Qafia."


"Tapi dimata ku Fian hanya menganggap Qafia itu adiknya Daf." Ucap Rafli.

__ADS_1


"Udah engga usah bahas mereka dlu saya cape." Ucap daffa menutup matanya.


__ADS_2