
Jihan berlari menuju taman Dina pun mengejarnya. Sesampai di taman Jihan duduk di kursi taman dan menangis tersedu-sedu.
"Jihan kamu jangan gitu sama Kak Daffa."ucap Dina.
"Dina bukan kamu yang rasakan gimana kehilangan seorang Ibu 2 sekaligus. Mama Ratna dan Bunda Erma sangat sayang sama aku dan Aziz terutama Bunda Erma walaupun dia bukan Bunda kandung ku dia sangat menyayangi ku sama bahkan lebih menyayangi ku dari pada Aziz, Saat aku salah Mama Ratna memarahi ku Bunda Ranti membela ku dan bahkan menyalahkan Aziz karna tidak menjaga ku dengan baik. Dan sekarang Aziz malah membentak ku gara-gara Daffa."ucap Jihan menangis dan menunduk
Qafia dan Zayyan datang. Dina membantu Qafia duduk di dekat Jihan Sementara Zayyan berdiri di dekat Qafia. Dan Dina berdiri di samping jihan
"Jihan."ucap Qafia memegang pundak Jihan.
Jihan pun langsung memeluk Qafia dan menangis sejadi-jadinya.
"Jihan sudah lha jangan menangis lagi. Ingat kamu harus mengikhlaskan Mama Ratna dan Bunda Erma." Ucap Qafia sambil mengelus sembuh Belakang Jihan
"Iya betul tuh kalau perlu kamu panggil Qafia Bunda Qafia, dan panggil saja Dina Mama Dina aku ikhlas kok." ucap Izza yang tiba-tiba datang dan sudah berdiri di samping Dina.
"Astaghfirullah hal adzim."
"Izzaaaaaaaaa."Terima Dina tepat di telinga Izza.
Suara Dina yang cukup keras membuat mereka jadi pusat perhatian.
"Kamu ya datang tidak ucap salam malah langsung nyerocos."ucap Dina kesal.
"Maaf Dina ku syayang."ucap Izza sambil memeluk Dina.
Dina diam dengan mukanya yang datar dan melepas pelukan Izza
"Dokter ganteng tolong hangatkan sahabat saya yang cantik ini, saya yakin sikap dokter ganteng hangat dan bisa menghangatkan hati sahabat saya ini. Owh ya ini namanya Dina nama panjangnya DiiiiiiNaaaaaaaa, titisan nya mak lampir, calon istri nya kak Rafli."ucap Izza
"Iiisss Izza."ucap Dina cemberut.
Jihan melepas pelukannya dan tertawa melihat tingka Dina dan Izza. Aziz datang dan langsung memeluk Jihan.
"Maafkan aku An, aku salah telah membentak mu, maafkan aku yang tidak bisa menjadi kakak yang baik untuk kamu."ucap Aziz
"Ziz sudah, aku tidak apa-apa kok. Mungkin apa yang di katakan Qafia benar aku harus mengikhlaskan Mama Ratna dan Bunda Erma."ucap Jihan sambil melepas pelukan Aziz.
"Alhamdulillah Adeku yang imut ini sudah sadar."ucap Aziz sambil memcubit pipi Jihan.
Merekapun ketawa bersama. Lolicon terus di lontarkan oleh izza dan tak jarang di balas oleh Aziz.
"Makasih Ya Allah engkau telah mengirim kan sahabat seperti Qafia yang memiliki sifat ke ibuan, Dina yang memiliki sifat ramah dan tegas, Izza yang cerewet, jago silat, dan lucu, Aziz kakak yang selalu melindungi ku dan menyayangi ku"batin Jihan.
"Qaf."teriak seseorang dari belakang
Sontak menghentikan tawa mereka dan berbalik ke arah suara tersebut.
"Kak Has."ucap Qafia.
Nabhas pun berlari ke dan langsung memeluk Qafia.
"Dek kamu Itu bikin kakak khawatir aja. Tadi kakak ke kamar kamu tapi kamu tidak ada kakak cari di kantin, di lobby juga tidak ada ternyata ada di sini."ucap Nabhas melepas pelukan Qafia.
"Maafkan Qaf kak, sudah buat kakak khawatir."ucap Qafia merasa bersalah pada Nabhas.
"Engga apa-apa Dek."ucap Nabhas.
"Sudah panas nih yuk kita masuk."ajak Zayyan yang sedari tadi memegang selang infus Qafia.
"Ayo."
"Kak Nabhas yang ganteng dan imut."ucap Qafia sambil mengedipkan mata pada Nabhas.
Nabhas yang paham akan itu segerah menggendong Qafia ala bridal style, yang lain pun pamit pulang sementara Zayyan menemani Nabhas ke kamar Qafia.
🌸🌸🌸
1 Minggu kemudian Qafia kini sudah di izinkan pulang, dan tiap minggunya harus check up. Kini Qafia bersiap-siap ke kampus. Nabhas masuk ke kamar adiknya dan duduk di kasur Qafia. Sementara Qafia sibuk menyusun buku-bukunya yang akan di bawah ke kampus.
"Dek kamu yakin hari ini mau masuk kulia?"tanya Nabhas kepada Qafia.
"Iya kak."
"Kakak antar ya dek?"
"Engga usah Kak, Qaf kan bisa pergi sendiri, terus kalau kakak pakai alasan sekalian ke kantor kan kantor dan kampus Qaf bedah arah. Jadi Qaf pergi sendiri ya kak."
"Engga. Kakak engga izinkan Ade jika harus pergi sendiri ke kampus. Ya udah kalau Ade tidak mau di antar sama Kakak, Ade harus pergi sama Zayyan. Ade dan Zayyan searah kan. Dan kalau Ade takut berduaan dengan Zayyan Ade tenang saja Akan ada Riska bersama kalian. Riska sekolah tak jauh dari kampus Ade." ucap Nabhas memohon pada Qaf
"Baiklah kak kalau begitu aku bersedia. Ayo Kak aku sudah siap."
🌸🌸🌸
Zayyan dan Riska sudah ada di depan rumah Qafia. Qafia pun segerah pamit pada kedua orang tuanya. Qafia segerah naik ke dalama mobil Qafia duduk di bangku belakang. Zayyanpun menyalakan mesin mobilnya bersiap untuk pergi. Riska tida-tiba turun dan pinda ke dekat Qafia.
"Ayo uncle kita pergi, aunty terlambat" ucap Riska
Zayyan pun melanjutkan perjalanan
Riska Anantari adalah anak dari Kakak Zayyan. Riska berusia 4 tahun. Dia sudah Paud. Orang Tua Riska sudah meninggal saat Usia Riska 1 tahun. Riska di rawat dan di besarkan oleh Umma Ginta dan Ayah Ammar.
"Aunty yang namanya aunty Qafia kan?"tanya Riska sambil menatap Qafia
"Iya nama aunty Qafia kok Riska bisa tau nama aunty?"tanya Qafia.
"Tadi dengar uncle sebut nama Aunty."ucap Riska tersenyum. "Boleh Riska peluk Aunty?"tanya Riska penuh harap padah Qafia.
"Boleh."ucap Qafia menarik tangan Riska dengan lembut.
Riskapun memeluk Qafia. Tak terasa air mata Riska menetes saat memeluk Qafia. Dan Qafia pun membalas pelukan Riska.
"Ya Allah Riska kenapa menangis?"tanya Qafia panik. "Kak Zayyan Riska menangis."
"Riska kenapa menangis sayang?"tanya Zayyan sambil menepihkan mobilnya.
"Riska kangen sama Ummi uncle, apa gini ya rasanya peluk Ummi?"ucap Riska.
"Riska jangan nangis sayang. Riska boleh kok panggil Aunty dengan panggilan Umma."ucap Qafia sambil mencium puncak kepala Riska yang tertutup Hijab.
__ADS_1
"Makasih Umma."ucap Riska kemudian mencium pipi Qafia. " Sayang deh sama Umma."
"Umma juga sayang sama Riska."
"Uncle ayo lanjutkan perjalanannya. Kasihan Umma kalau telat ke kampus."ucap Riska.
Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka. Di dalam mobil yang Riska tak berhenti mengoceh dan membicarakan semua kegiatannya pada Qafia. Qafiapun dengan sabar mendengarkan cerita Riska. Sesampai di depan kampus Qafia pun turun di susul oleh Riska.
"Sayang Umma masuk dulu ya."ucap Qafia pada Riska. Riska pun mencium punggung tangan Qafia.
"Umma semangat ya belajarnya."
"Iya sayang. Assalamu'alaikum."ucap Qafia.
"Waalaikumsalam Umma."
Qafia pun meninggalkan Riska yang masih berdiri di samping mobil Zayyan.
"Riska ayo masuk sayang. Katanya mau ke sekolah."ajak Zayyan.
"Iya uncle."
Riska pun segara naik di mobil. Zayyan pun melanjutkan perjalanannya.
"Uncle kapan ya aku punya orang tua kaya Uncle dan Umma?"ucap Riska menatap Zayyan.
"Riska suka sama Umma Qafia?"tanya balik Zayyan pada Riska.
"Iya Uncle, Riska suka sama Umma Qafia. Umma Qafia baik dan sayang sama Riska. Uncle boleh tidak tanya Umma Qafia kalau weekend kia pergi jalan-jalan. Kalau Uncle sibuk engga usah ikut yang penting Riska sama Umma Qafia?"tanya Riska.
"Iya sayang. Nanti aku tanya Uncle Nabhas. Kalau di bolehin kita pergi berempat."
"Uncle Nabhas itu siapa uncle?"
"Uncle Nabhas itu Kakak Umma Qafia."
"Owh. Uncle headphone nya mana?"
"Mau apa sayang."
"Mau nelpon Uncle Nabhas."
Zayyan pun memberikan headphonenya pada Riska. Riska pun menelpon Nabhas.
📲
"Asalamualaikum Uncle."ucap Riska.
" Waalaikumsalam Ini Riska ya?"tanya Nabhas memastikan.
"Iya uncle ini Riska."
"Ada apa Ade manis?"
"Uncle nanti kalau hari ahad kita jalan-jalan yuk. Uncle, uncle Zayyan, sama Umma Qafia."
"Boleh. Emang adek manis mau kemana?"
"Oke. Nanti hari Ahad Uncle jemput."
"Makasih ya Uncle."
"Iya. Sama-sama Dek."
"Uncle sudah dulu ya Riska sebentar lagi sampai di sekolah. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam"
Sambungan pun terputus.
"Apa kaya uncle Nabhas?"
"Katanya boleh Nanti hari ahad dia jemput."ucap Riska.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
🌸
__ADS_1
🌸
🌸
🌸
🌸
🌸
🌸
🌸
🌸
🌸
🌸
🌸
🌸
🌸
🌸
🌸
🌸
🌸
🌸
🌸
🌸
🌷
🌷
🌷
🌷
🌷
🌷
🌷
🌷
🌷
🌷
🌷
🌷
🌷
🌷
🌷
🌷
🌷
🌷
Cerita BCl sampai sini dulu ya teman-teman jangan lupa like dan comen.
💐
💐
💐
💐
💐
💐
💐
💐
💐
💐
💐
💐
💐
💐
💐
💐
__ADS_1
𝓕𝓸𝓵𝓵𝓸𝔀 𝓳𝓾𝓰𝓪 𝓙𝓾𝓰𝓪 𝓲𝓰 𝓪𝓾𝓽𝓸
@fadillahrasab