
Terkadang bersama seseorang yang mencintai kita itu sangatlah menyenangkan. Tetapi aku bersamanya hanya menyisihkan sebuah luka. Mungkin, bersamanya akan mendapatkan luka. Namun, jika tidak bersamanya akan membuatku lebih tersiksa.
Kamu dan aku seperti atma dan daksa, yang tidak diizinkan semesta untuk bersama. Ternyata lebih menyakitkan bukan jika kita tidak bersama.
"Tuhan... Haruskah aku lanjut berjuang, atau aku akhiri?," tanyanya dengan menatap langit malam.
Sedikit teriris dihatinya. Rasa sesak menjalar di organ pernapasannya. Gadis itu menatap langit dengan sendu. Mengingat naas nasib kekasihnya, yang dimana kecelakaan yang mengakibatkan sang kekasih menghembuskan napas terakhirnya. Di saat semua pergi tidak memperdulikan dirinya.
Memang sudah cukup lama kejadian yang menimpa sang kekasih. Namun, itu tidak akan dirinya lupakan begitu saja. Dimana kejadian itu hanya dijadikan sebuah insiden kecil. Vanya terkekeh, mengingat kembali kejadian dulu.
Belum lagi, sang nenek menghembuskan napas terakhir dalam hidupnya. Dan di susul oleh seseorang yang sudah lama bersamanya.
"Dunia jahat ya, sayang?. Aku ga kuat tanpa kamu..."
Vanya menyeletuk. Tahu, jika ini sudah kehendak Tuhan. Dan manusia tidak bisa mencegah itu semua. Gadis itu menatap kosong, terasa hambar. Hidup sendiri, tanpa seseorang yang tahu jika dirinya sedang rapuh.
Gadis itu menghela napas lemah. Menunduk penuh dalam. Badannya terasa remuk, seperti di hantam batu besar. Sekali, kali dirinya menghela napas. Cobaan yang dirinya lewati terasa melelahkan. Fisik, maupun mentalnya terasa berantakan. Seperkian menit, dirinya duduk di bangku taman. Kini dengan gontai dirinya berjalan menggunakan kaki kecilnya.
Wajahnya lesu, seperti tidak adanya gairah hidup. Setiap hari penuh dengan kesialan. Tidak pernah di anggap adanya di dunia. Cukup, sudah penderitaan yang dirinya alami. Namun, terkadang tekad yang kuat pada dirinya terus membuatnya harus maju dan tidak mundur. Walaupun, semangat pada dirinya selalu di patahkan.
Baginya tak apa, dirinya harus melewati dengan sabar dan tersenyum. Karena di setiap kerja keras tidak akan mengkhianati hasilnya. Gadis itu berjalan, seperti tidak tahu arah. Kaki kecilnya terhenti, di depan sana seperti ada keributan.
Bugh! Bugh! Bugh!
Terdengar pada indra pendengar miliknya. Gadis itu menggigit jarinya, memikirkan caranya untuk membantu seseorang yang di pukuli oleh segerombolan orang. Melihat ke kanan, kiri, namun sepi tidak ada siapa pun.
__ADS_1
"Aduh,, gimana ini bantunya," batin gadis itu.
Dengan menggunakan seluruh pemikiran dirinya memiliki rencana. Saat itu juga, gadis itu melakukan rencananya. Dirinya berdiri di semak-semak yang tak jauh dari gerombolan orang itu. Mengambil ponselnya. Lalu membuka youtube, untuk mencari suara sirine polisi. Saat itu juga dirinya menekan video itu.
Setelah rencananya berhasil. Dirinya keluar dari semak-semak itu. Lalu berlari untuk melihat seseorang yang habis terpukul oleh gerombolan orang tadi. "Kamu gapapa kan?," tanya gadis itu. Sedikit kaget, karena tubuh cowok di hadapannya terkulai
lemas. Tidak ada tenaga untuk menatap padanya.
Dirinya berjongkok, untuk menyamakan tingginya. Dengan penuh hati-hati, dan di selimuti keringat dingin. Ia mengangkat pelan kepala cowok itu. Gadis itu membulatkan matanya kaget. Cowok itu menutup matanya. Kini dirinya di selimuti rasa bingung. Harus bagaimana lagi membantu cowok di hadapannya. Tubuhnya yang kecil tidak kuat untuk membopong tubuh besar cowok itu.
Gadis itu mencoba untuk menelpon ambulance. Setelah selesai menelpon dirinya menaruh kembali tubuh cowok itu di jalan. Dirinya duduk lalu menjulurkan kakinya. Kembali dengan mengangkat kepala cowok itu untuk menaruhnya di pahanya. Gadis itu mencoba untuk mengusap kepala cowok itu
dengan lembut.
"Ganteng juga ya. Tapi kok bisa kamu di pukul sih?," tanyanya. Walaupun tidak ada respon dari cowok itu. Gadis itu tersenyum kecil. Jika dilihat baginya, cowok itu sangat lucu. Sedangkan wajahnya sudah di penuhi oleh luka lebam akibat tonjokan segerombolan orang yang dirinya tidak kenal.
Petugas pun mengangguk, mengizinkan untuk dirinya ikut. Satu petugas duduk bersamanya. Perawat lelaki itu pun mengambil selang oksigen. Lalu memasangkannya. Suara sirine itu begitu nyaring di telinganya. Ini pertama kalinya menumpangi ambulance.
"Boleh saya bertanya?," tanya perawat yang duduk di sebelah kanan. Gadis itu pun menjawab dengan mengangguk. "Kronologinya kenapa ya dek?."
Gadis itu menelan salivanya susah payah. Kemudian menghela napas, lalu menghembuskannya pelan. "Jadi tadi aku ga sengaja liat ada segerombolan pukul dia, aku cari ide buat orang-orang itu pergi. Aku ga tau kejadian awalnya kenapa, aku cuma liat cowok ini di pukulin." Perawat itu lalu mengangguk.
"Terus?."
"Dengan ide aku, aku cari di youtube suara sirine polisi. Dan akhirnya mereka kabur, aku panik, karena bingung harus minta tolong siapa. Tapi rasa panik itu langsung ilang, dan akhirnya aku telpon pihak rumah sakit," jelasnya.
__ADS_1
Perawat itu spichlees karena mengambil tindakan yang benar. "Kamu keren, di situasi kaya gini emang ga harus di jalani pakai kepanikan," ujar perawat di depannya. Gadis itu mengangguk. Hatinya tidak tega untuk meninggalkan cowok yang berbaring lemas di sampingnya.
Gadis itu menatap sendu, menatap manik mata cowok itu. Tatap cowok itu terlihat melemah. Sesekali menutup matanya. Gadis itu tersenyum kaku, kala cowok itu menatapnya sayu.
"Aduh, pasti bakal di marahin mama, papah," batinnya.
****
Sekitar 25 menitan, akhirnya sampai di rumah sakit. Perawat dengan cepat menarik brankar cowok itu. Dirinya mengikuti dari belakang, ingin sekali tahu menahu akan kondisi cowok yang dirinya tidak kenal. Tempat kejadian dan rumah sakit cukup terlihat jauh. Walaupun jalanan sudah terbilang sepi.
Perawat lalu membawa cowok itu ke ruangan. Aroma bau obat-obatan menyengat di indra penciumnya. Terdapat bau obat, serta udara dingin malam. Perawat membawa cowok itu ke ruangan yang bernuansa serba putih. Dirinya memilih duduk, karena sudah tidak kuat lagi untuk berdiri.
Menunggu cowok itu di periksa oleh dokter. Gadis itu menghentakkan kakinya secara pelan. Akankah cowok itu mengalami luka dalam?. Sudahlah gadis itu sangat khawatir. Semoga saja tidak terlalu parah lukanya. Melihatnya saja membuatnya linu. Terdapat banyak luka lebam pada wajah cowok itu.
Membayangkannya saja, pasti sudah sangat sakit. Sudahlah, ia tidak ingin memikirkan itu. Dirinya memilih diam, lalu menunggu dokter keluar dari ruangan itu. Untuk memberitahu kondisi cowok itu bagaimana.
"Kamu pihak keluarganya?," tanya dokter itu. Yang baru saja keluar dari ruangan. Gadis itu menggeleng.
"Bukan." Dokter itu lalu tersenyum. Lalu mengangguk. Dirinya sempat lupa bahwa pasien korban dari pengeroyokan.
"Oh iya, saya mau kasih tau. Pasien hanya mengalami lebam yang cukup besar. Namun kamu tidak usah khawatir, cepat atau lambat pasti sembuh," ucap dokter menjelaskan kondisi cowok itu. Gadis itu hanya mengangguk pelan.
Lalu dokter meninggalkan gadis itu. Yang berdiam mematung. Tak lama kemudian seseorang dari kejauhan berlari ke arahnya. Gadis itu memincingkan matanya, terlihat dua orang dengan raut wajah gelisah dan khawatir. Sampainya di hadapan gadis itu. Seseorang yang dirinya lihat dari kejauhan itu menanyakannya.
"Dimana anak saya?.,," tanya wanita paruh baya itu.
__ADS_1
Gadis itu menggeleng pelan. "Di sana tante," jawabnya gugup sambil tersenyum. Dan menunjukkan kamar rawat cowok itu. Sepasang suami istri itupun langsung pergi berlari masuk, meninggalkannya. Dirinya mematung, dan tersenyum kecut.