Blessures Éternelles

Blessures Éternelles
Pacar kamu ya van?


__ADS_3

Ketika sudah memasuki waktu belajar. Semuanya fokus kembali pada materi yang di beri guru. Tak lama itu pun mungkin karena fokus pada papan tulis, tak terasa jam pulang pun berbunyi. Seperti biasa rutinitas sebelum pulang, ya baca doa. Baca doa di pimpin oleh ketua kelas.


Setelah selesai berdoa di urutan meja bagian pojok yang akan lebih dulu bersalaman. Untuk menjaga supaya tidak saling mendorong. Kini giliran barisan pojok kanan tempat duduk Vanya.


Duduk yang di bagian depan lebih dulu baru seterusnya. Di belakang Taya ada Vanya yang mengikutinya. Abas pun dibarisan belakang Vanya. "Van, mau pulang bareng ga?," tawar Abas untuk pulang bareng bersamanya.


Vanya menolak dengan lembut. "Engga Abas, thanks."


"Yaudah deh." Ucap Abas dengan nada lirih.


Karena semua isi kelasnya sudah pulang, dan termasuk siswa-siswi yang lainnya. Taya dan Vanya searah, Vanya yang menunggu ojol dan Taya yang menunggu jemputan. Sudah berapa kali dirinya memesan namun terus terusan di tolak. Sekolah juga sudah lumayan sepi. Awalnya ia ingin berkunjung dulu ke toko ibu Firna.


Ia tidak menoleh ke arah sumber motor di belakangnya. Ia hanya fokus mencari ojok untuk pulang. Karena jarak rumahnya memang sedikit jauh.


"Vanya," Sahut seseorang yang suaranya tampak tak asing baginya. Iya dirinya Putra. Lelaki yang sempat ia tolong. Vanya menoleh ke arah sebelah.


"Kenapa?," tanya Vanya.


"Belum pulang?."


"Kamu liat aja sendiri." ucapnya ketus.


"Ayo pulang bareng gua. Di sekolah udah sepi ojol juga kayanya lagi banyak pesanan."


Vanya sedikit berpikir terlebih dahulu. Ia juga ingin berkunjung ke rumah Firna. Karena semenjak masuk sekolah sudah jarang sekali berkunjung ke toko.


"Boleh deh, tapi nanti ke toko kue frisla dulu ya," ujar Vanya, memberi tahu kemana lokasi dirinya akan pergi.


"Oke, lo tinggal arahin jalannya. Karena gua sedikit lupa."


"Iya gampang."

__ADS_1


Di perjalanan keduanya ada sedikit mengobrol tentang sekolah. Sampai lupa tempat yang ia akan kunjungi sudah sampai di hadapannya. Di luar sedikit banyak pengunjung.


"Lo kesini mau beli kue? Emangnya siapa yang ultah?," tanya sedikit penasaran. Memang anaknya sedikit kepo. Tapi kalo tentang yang lain kadang dirinya acuh tak acuh.


"Oh engga, itu aku mau berkunjung ke ibu. Udah lama ga ke sini."


"Hah?." Putra sedikit mengerutkan dahinya. Gimana maksud dari perkataan gadis itu?. Kan setiap di rumah sudah pasti bertemu bukan?.


"Ah kamu keliru. Dia itu emang ibu toko kue. Jadi aku panggil dia ibu."


Setelah sudah di jelaskan akhirnya putra mengerti. "Oh begitu gua agak sok sedikit. Anyway gua boleh masuk ga?." Vanya mengangguk, bahwa dirinya mengizinkan.


Vanya langsung membukakan pintu untuk Putra masuk terlebih dahulu. Dan tentu saja dirinya menurut. Wajarlah, ini baru pertama kali dirinya berkunjung. Sedikit malu padahal bukan sifat yang dimiliki Putra. Firna tersenyum saat kedatangan Vanya. Sedikit kaget walaupun tidak terlihat dari raut wajahnya.


Ia justru terkejut jika anak gadisnya itu membawa seorang lelaki. Padahal ini baru pertama kalinya ia membawa lelaki. Selepas almarhum Bian yang pernah dirinya ceritakan pada Firna. "Wah anak ibu bawa siapa?, pacar kamu ya van?," tanya Firna sedikit menggoda.


"Eh ibu, bukan bukan. Kenalin dia temen disekolah aku namanya Putra." Putra pun bersalaman dengan memperkenalkan dirinya. Firna menerima hangat Putra. Firna juga mempersilahkan untuk duduk.


"Wah kue yang ibu bikin enak ya. nanti saya ajak deh temen saya buat beli kue disini." Ujar Putra dengan merasakan rasa enak pada kue yang ia gigit. Kue firna memang tidak ada lawan. Tokonya pun sudah ia buka di berbagai daerah. Firna tersenyum lebar ketika teman Vanya menyukai kue miliknya.


"Wahh lahap banget kamu ya. kue ibu seenak itukah?." putra mengangguk, benar-benar sungguh enak. ia tidak bisa mendeskripsikan bagaimana rasa kue yang ia makan. pertama kali ia tertarik dengan kue. bukan karena tidak suka kue, hanya saja kue yang dijual di toko lain berbeda dengan rasa kue firna.


"kapan-kapan saya ke sini lagi deh bu. saya beli kuenya, boleh juga ga anaknya?."


"eh??. kamu kira anak saya barang?." jawab firna dengan menaikkan satu alis.


Putra terkekeh. "habisnya anaknya cantik sih bu. saya jadi naksir nih."


"walah kamu naksir vanya. ibu restuin deh asal jangan buat sakitin vanya ya. ga di restuin lagi nanti."


Semua tertawa dengan ocehan firna. "Ibu ih apaan sih. Jangan percaya putra deh bu."

__ADS_1


"ga ada salahnya toh, van. ibu juga suka kok sama putra."


"aduh, kalo ibu suka sama saya. nanti vanya nangis."


"ya engga begitu. maksud ibu suka sama sifat kamu ini put. masa saya suka sama cowo yang naksir anak saya sendiri sih?"


Vanya hanya tersenyum. "udah udah deh."


Sudah lumayan lama, Putra memilih untuk berpamitan karena hari sudah mulai malam. Vanya menyuruh untuk Putra pulang. Karena dirinya masih ada urusan di sini. Dengan begitu Putra pulang berpamitan terlebih dahulu pada firna. Firna mengantarkan Putra keluar, padahal Putra sendiri bisa.


Putra sedikit tersentuh karena di perlakuan hangat oleh firna. "Hati-hati ya put, jangan ngebut makasih loh udah anter Vanya ke sini."


Putra menganguk. "Iya sama-sama bu. Putra pamit pulang ya."


Firna kembali mengobrol dengan Vanya. "Gimana dengan papahmu?." firna bertanya karena sedikit gelisah. Memang ia sudah tau jelas watak Tama bagaimana.


"Iya gitulah bu. Masih seperti biasa, mamah pun ga ada niatan buat nanya sedekar kabar aku gimana."


"Piye mamahmu itu ndok. Ibu sendiri bingung dengan sikap kedua orang tuamu. Kamu tinggal sajalah dengan ibu."


"Aku ga bisa ninggalin papah bu. Apa lagi biaya sekolah papah masih bayarin."


"Yok bisa ibu yang bayarkan. Dari pada kamu yang ke siksa sama papahmu. Dia ini kalo marah selalu lampiaskan sama kamu, ibu khawatir."


"Aku gapapa kok bu. Ga usah khawatir, disana juga masih ada bi wini."


"Yaudah kalo itu mau mu ndok. Bilang ibu kalo kamu ada yang sakit ya. Jangan diam saja."


"Iya bu makasih banyak loh. Oh iya, aku mau pamit pulang, besok sabtu nanti aku kerja lagi."


"Iya datang kesini kalo kamu ga banyak tugas ya." Vanya mengangguk, dan dirinya bangun dari duduknya untuk pamit pulang. Sebelumnya Firna memberi beberapa kue dagangannya, untuk Vanya nyemil. Tak lupa untuk berterima kasih juga.

__ADS_1


__ADS_2