
"Lo ngapain di sini?," tanya Putra.
Vanya membulatkan matanya, dan bingung. "Aku?, aku bosen di kelas, karena mamah papah ga dateng ambil Raport aku," ucapnya lemas. Dan tertunduk lesu, baru kali ini ada yang menanyainya.
"Lo ga sendiri, mau gue bantu yang ambil?," tawarnya.
Vanya menggeleng cepat. Mana bisa ia di bantu oleh cowok yang dirinya tidak kenal. "Ga mau, kita ga kenal," tolaknya. Lalu menundukkan kepalanya.
"Kenalan dulu dong, baru boleh no Whatsapp," goda Putra. Vanya mendecak. Sudah tau maksud cowok itu.
"Itu mah maunya kamu."
Putra terkekeh, walaupun ia tidak terlalu penasaran nomor ponsel gadis di sampingnya. "Wkwkwk, becanda gua." Vanya hanya mengangguk pelan.
"Kamu ga bareng temen kamu?," tanya Vanya.
Karena setiap bertemu, selalu melihat Putra sendiri. Tidak pernah berkumpul dengan temannya. Atau mungkin Putra pun sama dengannya. Namun tidak mungkin, jika di lihat Putra tampan. Apa lagi dirinya beruntung bisa masuk ke dalam kelas unggulan.
"Temen gua lagi di kantin."
"Kamu ga ikut gabung?," tanyanya. Putra menggelengkan kepalanya.
"Suntuk gua di sana." Putra menatap intens manik mata gadis itu. "Terus lo kenapa di sini sendiri?, temen lo mana?." Vanya hanya membalas dengan senyuman.
"Kenapa?, lo ga di temenin ya." Vanya mengangguk, karena yang di ucapkan cowok itu faktanya. "Wkwk, kasian," ceplos Putra. Vanya sedikit teriris, walaupun benar.
"Becanda gua," sambungnya. Reflek Vanya memukul pelan lengan Putra, karena kesal. Sepagi ini sudah di buat hatinya remuk, untuk kedua kalinya.
"Kenalin gue Putra malio barran pradanu, nama lo siapa?."
"Akuu—–." Belum sempat menyelesaikan ucapannya, bel sudah berbunyi. Vanya bergegas bangun dari duduknya. Ia mengibaskan roknya yang sedikit kotor akibat debu.
Vanya berlari meninggalkan Putra. Yang masih duduk terdiam di sana. Vanya tidak peduli. Lebih baik ia pergi, dan masuk ke kelas. "****!, bel sialan. gua belum sempet tau namanya," umpatnya.
Putra pun memilih bangun dan membersihkan celananya. Ia pergi langsung ke arah kelas. Tidak memperdulikan para temannya yang asik di kantin. Walaupun malas untuk masuk, namun dirinya terpaksa. Di setiap koridor sekolah, gadis di setiap kelas Ips heboh jika ada dirinya lewat. Dan itu membuatnya malas, ingin rasanya berlari kencang.
Melihat tanda kelas Ips 3, mata Putra tertuju pada Vanya yang duduk sendiri di pojokan sana. Ia ingin masuk, dan menanyai siapa nama gadis itu. Tapi niatnya urungkan, karena gengsi yang terlalu tinggi. Tapi hatinya penasaran, dan sudah melewati rasa gengsinya. Akhirnya Putra mencoba masuk ke kelas gadis itu. Gadis itu hanya fokus pada ponselnya. Entah apa yang gadis itu lakukan pada ponselnya. Sampai dirinya datang di hadapannya pun, tidak mendongkak sama sekali.
Gadis di kelasnya heboh ketika Putra menghampiri Vanya. Ada yang berteriak histeris. Dan ada yang tak terima jika Putra menghampiri Vanya. "Ekhem, ekhem," Putra mendeham. Vanya masih mengacuhkannya.
Putra kembali mendeham. "Ekhem ehem." Baru Vanya mendongkak, karena suaranya sedikit mengganggunya. Ia terkejut, ketika Putra ada di samping tempat duduknya.
__ADS_1
"Kamu ngapain di sini?."
"Gua mau nagih utang."
"Aku ga punya utang sama kamu ya, Put."
"Emang."
Vanya di landa kebingungan. Kenapa dengan Putra. Aneh sekali, jika dirinya rasakan. Hutang apa yang ia miliki pada cowok itu.
"Hutang apa, Putra?," tanya Vanya lembut. Putra tersenyum tipis, membuat para gadis di dalam kelas heboh. Benar-benar heboh, Vanya yang sedikit terganggu. Dan menjadi tontonan orang-orang hanya bisa menahan malu.
"Hutang—."
"Apa?," tanya Vanya sedikit bingung, karena Putra menggantung kalimatnya.
"Hutang karena lo belum kasih tau, siapa nama lo!" tegas Putra. Vanya hanya menghembuskan napas. Hutang seperti apa itu, apakah itu termasuk hutang?. Ada, ada saja cowok satu ini.
"Cuma karena itu, kamu buat seisi kelas aku heboh."
"Biarin." Putra lalu memilih duduk di samping Vanya. "Cepet, siapa nama lo?," tanyanya dengan sedikit nada kesal.
"Oke, oke, kenalin nama aku Lavanya."
"Pretty–," sambungnya dalam hati.
Putra pun beranjak bangun.
Lalu beranjak pergi meninggalkan kelas gadis itu. Ia berlari, melewati satu ruang kelas, dan baru sampai di kelasnya. Sudah cukup dirinya menjadi tontonan. Karena cuma ingin tau siapa nama gadis itu.
Putra pun berangsur pergi dari kelas itu. Ia terdiam sejenak, ketika mengingat nama gadis itu. Putra sedikit mengulas senyum di bibirnya.
Putra sedikit menyinggung senyum di bibirnya, lalu berlari ke arah kelasnya.
"Pretty name, pretty heart."
****
Hari ini pembagian Raport, Putra terlihat biasa saja dengan hasil Raportnya. Jika nilainya turun, mau tak mau pasti Gio akan terus mengoceh. Gio selalu menekannya untuk mendapatkan nilai sempurna. Menjadi juara kelas dalam setiap tahunnya.
Kini wali kelasnya masuk ke dalam kelas. Bersiap untuk membagikan setiap Raport muridnya. Setiap pembagian Rapor bukan siapa yang pertama juara kelas. Melainkan dari awal absen. Putra memainkan ponselnya. Ia duduk sendiri, dan duduk dengan tenang. Karena tidak ada ketiga temannya yang mengganggu.
__ADS_1
Tak lama, ketiga teman Putra sampai. Dan tentu saja di marahin oleh bu Uti. "Kalian dari mana saja!," ujar bu Uti. Ketiga temannya hanya cengengesan. Tidak menyadari kesalahannya. Bu Uti mengusap dada, sabar. "Cepat kalian duduk, ibu akan membagikan Raport kalian." Cepat-cepat ketiganya saling dorong, mendorong untuk duduk di tempat.
"Eh mas Putra," goda Fikran, pada Putra. Putra hanya menatap tajam pada Fikran. Lalu beralih menatap ke depan.
Memiliki ketiga sahabat yang tentu saja seperti, orang tidak waras. Namun, pertemanan mereka sudah menjalin lama. Terkadang ia sedikit setres, dengan tingkah ketiganya. Itung-itung, seperkian menit dirinya menghela napas. Bagaimana tidak sinting, jika terus melihat tingkah absurd ketiganya.
Fikran duduk di belakang Putra bersama, Devons. Sedangkan Putra duduk bersama Cameron. Ketiga memiliki wajah yang sama-sama ganteng, secuil debu pun tidak nampak.
Seisi kelas menjadi sunyi. Namun, siapa sangka. Fikran malah mengcairkan kesunyian itu. "Aelah ibu lama banget sih, tinggal di bagiin doang!" sungut Farkan. Dengan entengnya cowok itu bicara. Semuanya menatap sinis ke arah Fikran.
Fikran cengengesan, lalu mengangkat dua jarinya. Sebagai tanda perdamaian. Di balik itu semua, tingkah paling receh hanya Fikran. Sisanya bisa terbilang belum rusak sampai LCD. Fikran memang cowok yang gampang, membuat para siswi di kelasnya salah tingkah.
Hanya karena sifatnya yang gampang akrab dengan yang lain. Beda lagi dengan, Devons, Cameron maupun Putra. Benar-benar salah memilih teman. Jika bisa Putra ingin mengantikan Farkan dengan yang lain.
Ibu Uti pun memanggil satu persatu. Kini bagian Devons. Jujur, Devons dilanda kegelisahan. Takut nilainya anjlok, dan turun dari sebelumnya. Apa lagi, bundanya sedang duduk di sebelah bangkunya. Yang sudah di sediakan. Setelah di panggil, Devons berdiri tegap. Lalu menghela napas, dan memejamkan mata sejenak. Menghirup udara, mengisi oksigen pada tubuhnya. Ia pun berjalan dengan tegap.
Apa lagi, bundanya sedang duduk di sebelah bangkunya. Yang sudah di sediakan. Apa lagi, bundanya sedang duduk di sebelah bangkunya. Yang sudah di sediakan. Bu uti tersenyum, sambil memberikan sebuah Raport pada bundanya. Devons gugup ketika sang bunda menatap dingin padanya.
"Selamat ya kamu dapet juara ke 3," ucap bu Uti. Devons menghembuskan napas lega. Bundanya yang mendengar pun tersenyum pada bu Uti, lalu tersenyum padanya. Kali ini ia senang, bisa dapat juara kelas. Setelah semuanya selesai, Devons beranjak bangun dari duduknya.
Begitu pun dengan sang bunda. Sebelum itu bunda Devons menjabat tangan bu Uti. Dan berjalan keluar. Setelah sang bunda keluar, Devons membalikkan badannya, untuk kembali ke tempat duduknya.
"Congrats bro," ucap Putra. Dengan menatap bangga pada temannya.
"Selamet bro devons," Fikran ikut menyahut.
Cameron menatap bangga pada sepupunya itu. "Congrats vons, pertahanin!" timpal Cameron. Devons pun mengangguk, dengan tersenyum. Bukan hanya sebagai teman saja. Mereka bisa menjadi satu keluarga. Menjadi rumah kedua untuk pulang. Terkadang kita bisa memiliki keluarga maupun rumah, dari bukan saudara kandung.
****
Kali ini gadis itu menunggu namanya terpanggil. Jujur, hatinya kini gelisah. Entah siapa yang akan menjadi juara kelas. Dirinya tidak terlalu yakin mendapatkan juara kelas. Alih-alih, ia ingin tahu bagaimana nilainya. Apakah, akan turun atau tetap saja di kelas sebelumnya. Vanya menggenggam kedua tangannya. Dengan sedikit bergetar. Semua terlihat tidak terlalu panik dalam pembagian raport.
Satu persatu wali murid di panggil beserta anak murid. Vanya hanya bisa menatap sendu. Terkadang, kapan ia akan merasakan itu semua. Sampai kapan harus terus seperti ini. Seperti hidup sendiri. Di telantarkan oleh orang tua. Vanya hanya bisa menunggu namanya di panggil. Terlebih lagi, harus menerima kenyataan bahwa ia tidak membawa mamahnya ke sini.
Bu Dewi menatap Vanya di pojokkan sana. Dengan wajah terlihat pucat pasi. Hari ini cukup panas. "Selanjutnya, Lavanya afreen meera silahkan maju," ujar bu Dewi. Vanya pun beranjak dari duduknya. Dan melakah lebar ke arah meja bu Dewi. Dengan menggenggam sebuah amplop berisikan uang. Karena di setiap anak harus membayar sebesar 30 ribu.
Vanya maju sendiri. Seisi kelas terkikik kecil, mampu terdengar oleh telinganya. Terlihat begitu menyedihkan hidupnya. Tidak memiliki teman, tidak di dampingi oleh papah, maupun mamah. Vanya kemudian duduk. Bu Dewi memberikan Raportnya, Vanya pun mengulas senyum tipis. Ia memberikan sebuah amplop yang sudah di isikan oleh uang.
"Selamat ya Vanya, kamu dapat juara ke 2," ucap bu Dewi, dengan raut wajah gembira. Yang Vanya lakukan hanya tersenyum. Jika di katakan ia sangat senang, dan bersyukur. Namun bukan itu yang ia inginkan. Hanya sekali saja ia ingin di apresiasi oleh Tama. Tetapi itu hanya sebuah mimpi belaka.
Tak lama Vanya bangun dari duduknya. Untuk pergi kembali ke tempat duduknya. Karena semua raport teman sekelasnya sudah di bagikan. Bu Patmi pergi kembali ke ruang guru. Karena sepertinya ada riwayat panggilan. "Yah percuma dapet juara, kalo ayah kamu ga dateng. Sia-sia dong usaha kamu," maki Hanun. Vanya tidak menghiraukan itu.
__ADS_1
Semuanya menertawakannya. Tetapi Vanya sudah tidak peduli. Olokan itu semua sudah ia makan setiap harinya. Jadi Vanya memaklumi perbuatan teman kelasnya. Jika ia ladeni, akan membuat masalah panjang. Dan pastinya Tama akan di panggil oleh guru. Dan itu sama saja membuat Vanya akan mati detik itu juga.
"Sabar ya Vanya. Kamu harus kuat.."