Blessures Éternelles

Blessures Éternelles
Tolong, Ampun papah


__ADS_3

Pukul menunjukkan tepat jam 10 malam. Entahlah, apa yang akan terjadi dirinya jika pulang dari rumah. Berat hati juga jika dirinya pulang. Pasti papah, mamahnya akan memarahinya. Dan sebuah luka kecil, dengan tanda kasih sayang.


Sudah biasa bagi Vanya, terkena cambukan dari papahnya. Dari kecil dirinya menanggap bahwa sayatan pisau, atau cambukan itu hanya sebuah kasih sayang. Sakit, namun dirinya menyukai itu. Cukup gila, jika orang lain tau. Tapi baginya, manusia tidak akan pernah peduli padanya. Mau dirinya mati sekali pun, orang-orang tidak akan peduli. Justru beban dunialah yang mengurang.


Mau tak mau, dirinya harus menginap di bangku rumah sakit. Tubuhnya sudah lelah jika harus menerima pukulan dari papahnya. Jadi lebih baik dirinya menginap, dan akan mencari alasan walaupun orang tuanya tidak percaya. Tidak masalah, sudah biasa bagi Vanya.


Dulu, Lavanya adalah gadis yang periang. Namun, dengan sifat periangnya justru membuat orang tuanya membencinya. Lavanya memiliki sifat ramah. Namun, semenjak kejadian itu. Semuanya menjadi hilang. Tidak ada lagi senyum lebar, manis yang ada pada dirinya. Sekarang hanya ada wajah yang terlihat tidak semangat untuk menjalani hari-harinya. Di wajah cantik itu hanya tersirat seperti mayat berjalan.


Lavanya afreen meera adalah gadis dengan rambut sebahu berwarna hitam ke coklatan. Serta bola mata berwarna coklat terang. Lavanya kerap di sapa dengan Vanya, maupun areen. Biasanya yang menyapa nama itu hanya beberapa orang terdekatnya. Lavanya memiliki satu sahabat, namun ternyata sahabatnya itu sudah lebih dulu pergi. Kini hidupnya hanya seorang diri. Tidak ada lagi yang mau mendengarkan keluh kesahnya.


Vanya menatap bisu ke arah depan. Tentu saja tidak ada yang dirinya pikirkan. Hanya ada kekosongan di dalam pikirannya. Yang dirinya lakukan hanyalah pasrah. Lalu setelah tugasnya selesai, ia bisa pergi dengan tenang. Terlihat seseorang pintu ruang rawat lelaki itu dibuka oleh seseorang.


Wanita paruh baya itu tersenyum. Gadis itu pun tersenyum kaku, dan mengangguk kepalanya sekali. Wanita itu berjalan ke arahnya. Lalu duduk di sampingnya. Jujur saja, hatinya tidak tenang. Takut jika dirinya disalahkan, atas kondisi anaknya. Jika, benar itu tidak masalah. Yang dirinya bisa lakukan menghela napas panjang. Lalu pasrahkan pada Tuhan.


"Makasih ya cantik, sudah membantu anak saya," ucap wanita usianya berkisaran 30 tahun. Karena rasa canggung yang tinggi pada gadis itu. Dirinya hanya mengangguk sebagai jawaban. Bingung untuk membuka suara. "Oh ya, kamu kenapa tidak pulang?. Apa ayah mu tidak khawatir cantik?," Gadis tersenyum sekilas. Lalu menghela napasnya.


"Aku udah bilang pulang malem tante."


"Oh gitu ya, karena ini sudah malam. Kamu menginap saja ya." Gadis itu pun mengangguk. Justru tujuan itulah dirinya menginap. Untuk terhindar dari cambukan maupun pukulan sang papah.


****


"Ampun papah, ampun. Aku janji usaha lebih baik lagi," mohonnya. Dengan suara serak, karena terlalu lama menangis. Susah sekali untuk menahan supaya tidak sesegukan. Tama menatap dengan remeh pada putri tunggalnya.


Akhirnya Tama menghentikan aksi bodohnya. Tak lama itu juga, aksi bodoh itu dirinya lakukan kembali. Satu, dua, tiga, entah berapa banyak luka pada tubuh ringkih gadis itu. Terlihat miris, tidak ada satupun yang membantunya, dari goncangan maut yang diberikan Tama.


"Papah ampun, Vanya mohon papah. Papah hiks... Papah maafin Vanya," mohonnya sekali lagi. Tama masih mencambuk tanpa ampun. Tama seperti orang kesetanan. Kali ini Vanya hanya bisa pasrah.


Jika pukul ini nyawanya di ambil, Vanya sangat amat ikhlas. Dirinya lebih memilih pergi, untuk ke syurga bersama neneknya. Sudah cukup, penderitaan yang sudah dirinya lewatin selama 9 tahun. Dan jangan lagi untuk sampai 10 tahun ini. Dirinya sudah sangat lelah. Tubuhnya seperti tidak ada daging lagi. Seperti hanya tersisa tulang belulang saja.


"Tuhan... Aku ikhlas jika nyawa ku di ambil hari ini. Izinin aku buat ketemu nenek," batinnya.


Sesekali dirinya meringis kesakitan. Namun ia mengapit bibirnya supaya tidak bersuara. Tama masih memukulnya tanpa belas kasihan. Sekali pukulan, dirinya meringis. Entah berapa banyak luka di dalam tubuhnya. Luka, luka sebelumnya saja masih basah, lalu ditambah lagi. Sudah pasti, besok ia akan demam.


Tubuhnya gampang sekali sakit. Terkadang dirinya juga tidak ingin menjadi lemah. Hidup dibawah tekanan orang tua. Tidak ada seseorang pun yang membantunya mengobati lukanya. Tidak memiliki teman, sahabat. Sungguh malang nasibnya, akankah dirinya bisa kuat kembali?.


15 menit berlalu, Tama akhirnya menghentikan aksi gilanya itu. Amarah pada diri Tama sepertinya meredam. Syukurlah, hari ini selamat, tentu selamat dari maut. Walaupun tidak dengan lukanya. Namun tak apa, ia ingin masih bisa hidup. Dan mencapai cita-citanya menjadi dokter. Sekeras apapun hidup, harus dilewati dengan sabar.


Tama meninggalkan putrinya yang meringkuk. Dirinya sama sekali tidak peduli pada gadis itu. Yang hanya dirinya butuhkan, meluapkan emosi pada gadis itu. Lebih bagus dirinya meluapkan semua emosi pada gadis itu.


Vanya mencoba bangun dari jatuhnya. Tubuhnya benar-benar lemas. Tidak ada sepersen pun untuk dirinya bangun. Namun dirinya terus mencoba. Dengan pelan dirinya bangun. Rasa pusing di kepalanya benar-benar menjalar cepat. Vanya menggeleng pelan, tetapi rasa pusing itu tidak ingin hilang.

__ADS_1


Vanya berjalan dengan gontai. Ia berusaha menyeimbangkan tubuhnya supaya tidak ambruk ke lantai. Tangannya melemas, untuk membuka gagang pintu kamar saja rasanya tidak bisa. Setelah berhasil membuka pintu. Ia masuk dan menutup pintu. Berjalan ke arah ranjangnya.


Kemudian merebahkan tubuhnya. Gadis itu merintih kesakitan. "Ssstt, aww. Nenek sakit, ayo bawa aku ikut sama nenek," gumamnya. Demi apapun rasanya sudah tidak ingin hidup lagi. Dirinya sudah benar-benar lelah. Satu-satunya orang yang sayang padanya sudah lebih dulu berada di pangkuan Tuhan.


Ia paham bahwa seseorang yang sudah dipanggil duluan. Maka Tuhan sayang pada orang itu. Tapi sungguh, dirinya masih membutuhkan sang nenek. Rasanya rindu, di usap lembut kepalanya. Di rawat penuh kasih sayang ketika sakit. Kini yang sekarang hanya bisa ia lakukan sendiri.


"Nenek jahat, tapi nenek baik. Nenek jahat karena ga ajarin aku caranya hidup tanpa nenek. Sedangkan aku sudah terbiasa hidup adanya nenek," gumamnya. Tanpa di sadar matanya perlahan menutup. Gadis itu menutup matanya. Jika dilihat sangat cantik, walaupun ada sedikit lebam di bagian pipi.


Karena sudah terlalu banyak aktivitas. Ia pun tidur dengan nyenyak. Wajah anggunnya, begitu tenang. Seperti tidak ada masalah dalam kehidupannya. Tenang, sangat tenang. Gadis itu tidur karena stok energi pada tubuhnya mengurang.


"Nenek?. Nenek mau jemput aku ya?."


****


Cowok itu terbangun dari tidurnya. Mengucek matanya. Menatap pada ruangan bernuansa  serba putih itu. Dirinya melihat sekitar, sunyi, tentu saja dirinya seorang sendiri. Bau khas rumah sakit itu menyengat di indra penciumnya. Cowok itu melamun, memikirkan bagaimana bisa dirinya ada di sini.


Setelah semenit mengingat kejadian semalam. Dirinya baru mengingat kejadian semalam. Yang dirinya pikirkan siapa yang membantunya, menelpon pihak rumah sakit. Cowok itu tersenyum kecut. Kedua orang tuanya pun tidak ada yang menemaninya.


Cowok itu mendecih. "Gue sakit aja ga ada yang peduli". Dirinya tertawa hambar, seperti orang gila. Tidak ada seorang pun yang memperdulikan dirinya. Malang sekali nasib cowok itu.


Putra mario barran pradanu— cowok yang kerap di sapa Putra, maupun Danu. Dengan ukiran wajah yang nyaris sempurna, cowok itu memiliki tinggi badan sekitar 180 cm. Pradanu adalah marganya. Putra adalah anak tunggal dari seorang pengusaha besar pradanu grup. Pradanu grup, perusahaan yang terbilang sudah turun temurun.


Namun tetap saja, di kehidupan yang memiliki segalanya bukan hal yang menyenangkan. Terlalu banyak tekanan yang cowok itu dapat dalam hidupnya. Seperti di jadikan sebagai robot, untuk menjadikan perusahaan sang papah menjadi lebih besar lagi. Nyatanya, dirinya tidak bisa apa-apa, dan harus patuh pada perintah sang papah. Di kehidupan yang sudah bertahun-tahun, dirinya jalanin hanya dengan belajar, belajar dan terus belajar. Sekali pun sang papah tidak mengizinkannya untuk berkumpul dengan para teman sekolahnya. Dengan terpaksa dirinya terus berbohong, untuk bisa merasakan bagaimana menjadi remaja yang tanpa kekangan orang tua.


"Siapa lo?," tanya Putra.


Vanya mengerjap matanya, kaget. "Eh, aku cuma mau jenguk kamu." Cowok yang duduk di brankar itu heran. Padahal dirinya saja tidak mengetahui gadis itu. Dengan seenak jidatnya, gadis itu ingin menjenguknya. "Kamu udah ga apa-apa kan.?"


"Gua baik."


"Syukur deh kalo gitu." Putra masih dengan rasa bingungnya. Kini berusaha mengingat siapa gadis itu. Rasanya tidak asing bagi Putra.


"Eh, tunggu."


"Iya, kenapa?," jawab Vanya. Dirinya merasa gugup. Baru kali ini ia bicara dengan seorang cowok. Padahal dirinya tidak sepeduli itu dengan cowok. Tapi entah kenapa, kali ini terasa berbeda. Kenapa dengan dirinya?.


Putra mengingat wajah gadis itu. "Btw, thanks ya." Vanya tertawa kecil, lalu mengangguk. Eh, sepertinya kali ini, ia salah tingkah.


"Anytime," jawab Vanya. Vanya kebetulan membawa sebuah roti pada tempat makannya. Ia duduk di sebelah cowok itu. Lalu membuka kotak makannya. Ia membagi rata rotinya. Roti itu, ia kasih pada Putra. Putra masih sedikit bingung, kenapa gadis di sampingnya itu peduli padanya. "Ini buat kamu."


"E-eeh thanks ya." Vanya mengangguk sebagai jawaban. Ia lalu mengunyah roti itu. Karena begitu enak, ia reflek menggeleng-gelengkan kepalanya. Putra sedikit terkekeh, karena terlihat gemas.

__ADS_1


Putra mengumpat. "She so cutee."


****


Hari ini Vanya melakukan hari-harinya


dengan melakukan pekerjaan di toko. Semenjak libur, dirinya bingung untuk melakukan kegiatan. Jadi lebih baik dirinya pergi ke bekerja di sebuah toko, yang cukup sederhana. Gaji yang ia dapat juga bisa membiayai, makanan sehari-harinya.


Kini pukul sudah jam 12 siang. Waktunya untuk beristirahat. Berjalan keluar toko, mencari makan siang. Setelah jalan berapa meter, tak sengaja seseorang menabrak. "Eh, maaf maaf," ucap cowok itu.


Vanya masih fokus mengusap bahunya, yang sedikit nyeri. Lalu menatap pada cowok yang menabraknya. "Iya g-ga apa apa. K–kamu?."


"Lo?, ngapain di sini?," tanya balik Putra.


"Eum, aku abis selesai kerja, ini mau cari makan," jawab Vanya terbata. Putra pun mengangguk. Lalu menarik tangan Vanya. Gadis itu bingung. Kenapa akan dirinya bawa. Kebetulan hari ini, juga Putra belum makan siang. Jadi lebih baik Putra mengajak gadis itu makan bersama.


Keduanya sampai di rumah makan. Putra lebih dulu masuk ke dalam. Di ekori oleh Vanya. Lalu, Putra duduk di bangku yang sudah disediakan. Dengan sedikit malu, Vanya duduk di samping Putra. Pelayan menghampiri mereka, dengan senyum ramah. "Ini ya mas menu di tempat kami."


"Saya pesen nasi goreng sama lauknya ya mas," ucap Putra. Lalu pelayan pun tersenyum, dan mencatat di notebook. Tak lama, pelayan pun menatap pada .


"Mba nya mau pesen apa?."


"Sebentar ya mas, aku liat dulu." Pelayan itu pun mengangguk. Vanya memilih makanan di sana. Bingung karena terlalu banyak menu makanan di sana. Sambil mencari makanan yang ia inginkan. Pelayan itu pun masih menunggunya. "Mas saya mau mie ayam saja ya," sambungnya.


Pelayan itu pun mengangguk. Dan kembali mencatat pesanan Vanya. Kemudian, pelayan kembali menatap keduanya. "Minumnya mau apa mba, mas?," tanyanya.


"Es teh manis saja mas," ucap Putra. Putra menatap sekilas kepada Vanya.


"Aku samain aja mas," ucap Vanya. Pelayan pun kembali mengangguk.


"Baik tunggu ya mas, mba." Keduanya mengangguk serempak. Sambil menunggu pesanan datang. Keduanya saling diam, tidak ada yang memulai pembicaraan. Sampai akhirnya, karena Vanya tidak ingin saling diam. Ia memutuskan untuk bertanya pada Putra.


"Oh iya, kamu ngapain tadi lewat toko?."


Putra pun yang sedang menatap ke arah lain. Langsung menatap ke arah Vanya. "Oh gua abis dari kostan temen, kenapa emangnya?." Vanya mengangguk.


"Oh gitu," jawab Vanya singkat.


Putra pun tersenyum kaku. "Lo ngapain kerja di situ?. Ortu lo kemana emang?," tanya Putra sedikit penasaran.


"Aku kerja cuma nambah uang jajan aja. Mamah, sama papah ada kok," jawabnya. Putra hanya mengangguk. Sebelum akhirnya makanan mereka sampai. Tak lama makanan sampai. Mereka pun menyantap makanan mereka.

__ADS_1


****


__ADS_2