Blessures Éternelles

Blessures Éternelles
Vanya janji ya sama ibu?


__ADS_3

Hari ini ia terlambat pulang. Karena toko kue cukup ramai hari ini. Vanya masuk dengan berjalan jinjit. Takut, jika Tama tahu ia di jam segini belum pulang. Jika ketahuan pastinya, Tama tidak akan segan-segan menghukumnya. Vanya masuk melewati pintu belakang. Untung saja, dirinya membawa baju ganti. Jadi bisa terlebih dulu mengganti pakaian.


Sampainya di pintu belakang. Ia membuka dengan amat pelan. Kemudian Vanya masuk ke dalam. Untungnya, jendela kamar sudah ia buka sebelum pergi. Vanya lalu menaikkan satu kakinya. Setelah semuanya selesai, ia mengunci kembali jendela kamar.  Setelah membalikkan badan. Tubuh tegap, lelaki paruh baya itu menatap tajam padanya.


Kali ini, Vanya hanya bisa gugup. Aksinya kali ini sudah tertangkap basah oleh Tama. Ya, Tama sudah mengetahui semuanya lewat Cctv. Yang ia pasang diam-diam, dan bodohnya Vanya tidak berhati-hati dalam semuanya. Tama menatap dengan tidak bersahabat. Kali ini tubuhnya akan menjadi sasar empuk untuk Tama. Tuhan, jika bisa Vanya ini pergi dari rumah ini. Bagaikan neraka, tidak ada kebahagiaan secuil pun di dalam rumah itu.


Dengan santai, namun mematikan. Tama berjalan pelan ke arah Vanya. Vanya tidak bisa berkutik, kali ini cukup pasrahkan semuanya pada Tuhan. "Dari mana kamu?!," ucap Tama. Dengan suara dingin penuh intimidasi. Tama menatap tajam pada anak gadisnya. Vanya hanya bisa menunduk diam.


"JAWAB!!."


Vanya tersentak kaget. Mendengar suara Tama yang menyentaknya. Air mata yang ia tahan di pelupuk matanya, menitik pada kulit wajahnya. Ia hanya bisa diam. Takut untuk menjawab.


"KAMU SUDAH MELAWAN HAH!!?. MAU JADI APA KAMU VANYA!!. JADI ****** DI LUARAN SANA?!!."


Tak henti-henti Tama memakinya. Vanya diam seribu bahasa. Makian Tama membuatnya seperti di hantam bebatuan besar. Rasanya sakit, tidak bisa di pungkiri. Vanya menggigit bibir bawahnya untuk tidak mengeluarkan tangisannya. Hatinya teramat perih.


"MAU JADI APA KAMU!!!, ****** SEPERTI IBU KAMU YANG SERING KELUAR?!!, JAWAB VANYA!!."


PLAK!


Tama menampar keras pipi kanan putrinya.  Tamparan keras membuat pipinya memerah. Vanya hanya bisa diam, menangis dalam-dalam. Tak habis pikir oleh perkataan Tama.


PLAK!


Tama kembali menampar pipinya. Pipi gadis itu lebam. Akibat pukulan Tama yang begitu kencang. Wajah Tama memanas menatap jijik pada putrinya. Hatinya mengeras, seperti tidak ingin menatap wajah putrinya. Terdapat sebuah kebencian yang besar pada Vanya.


"VANYA!! KAMU TULI?!, JAWAB VANYA! MAU JADI ****** DILUARAN SANA KAMU?!!," suara keras Tama. Mampu membuat air mata jatuh dari pelupuk matanya.

__ADS_1


Tama mendorong tubuh Vanya. Karena emosi yang bergejolak. Emosi Tama bagaikan, air yang sudah mendidih. Tama sering kali meluapkan emosinya.


"Papah...," lirih gadis itu. Tenggorokannya seperti tercekat. Gadis itu tak mampu membuka suaranya. Ia meringkuk. Tubuhnya menancap pada dinding. Sakit, tubuhnya sakit akibat dorongan kuat yang dilakukan Tama. Tak lama ia pun luruh, kakinya sudah tidak kuat menahan bobot tubuhnya.


Di sana gadis itu menyandar pada dinding. Tama berdiri, tanpa menatap iba kepadanya. Cukup puas, Tama memilih pergi dari kamar gadis itu. Ia berjalan, tidak memperdulikan anak gadisnya. Yang terkulai lemas, menyandar pada dinding. Air mata gadis itu kembali menetes. Seluruh tubuh, tenggorokannya seperti mati rasa. Hidupnya begitu berat. Ia sudah cukup lelah dengan semuanya. Sampai kapan semuanya usai?.


****


Sepagi ini, gadis itu sudah bersiap untuk pergi ke toko. Padahal suhu badannya sedang tinggi. Namun gadis itu masih tetap dengan egonya yang tinggi. Bibir gadis itu pucat pasi. Tidak di oleskan dengan lips


cream. Karena sudah cukup ia bersiap. Ia keluar dari kamarnya.


Pagi ini ia memilih untuk sarapan terlebih dahulu. Seperti biasa rumah sudah sangat sepi. Bukan hanya sewaktu pagi, namun sudah bertahun-tahun. Semenjak sang mamah pergi meninggalkannya yang ingin fokus pada karirnya. Sampai, Tama kecewa dan selalu meluapkan emosi padanya. Vanya tak apa, lagi pula ini salahnya yang sudah lahir ke dunia.


Bi Wini yang senantiasa membantu menyiapkan sarapan. Bi Wini menyambut hangat Vanya. Sudah pasti Tama berangkat ke kantor pagi-pagi buta. Entahlah, semuanya seperti di butakan oleh karir maupun uang. Sampai lupa, jika di rumah memiliki seorang anak yang butuh bimbingan. "Bapak sudah pergi kerja, non," ucap bi Wini memberitahu. Padahal dirinya sudah tahu jika Tama pergi kerja sepagi itu. Memang setiap harinya begitu bukan.


Setelah selesai bersarapan. Vanya pun meminum terlebih dahulu. Lalu beranjak pergi untuk menuju toko kue. "Bi, Vanya berangkat ya. Kalo papah tanya aku, bilang aja aku lagi kerkom," teriaknya memberitahu. Bi Wini yang masih di dapur hanya mengangguk.


Vanya memilih hari ini untuk berangkat memakai sepeda, yang dulu mamahnya berikan. Sudah lama dirinya tidak memakai, semenjak sang mamah pergi meninggalkannya. Bersama sang papah, yang sekarang membencinya. Semenjak Zella pergi meninggalkan Tama dengannya. Tama menjadi lebih emosional. Dan terus menerus menyiksanya sebagai kambing hitam.


Vanya membuka pintu garasi. Sepedanya terlihat dipenuhi debu karena sudah sangat lama sekali tidak ia pakai. Kemudian, dirinya membersihkan debu terlebih dahulu. Hanya butuh satu menit membersihkan. Ia pun pergi dari rumahnya. Vanya dengan sangat senang mengayuh sepedanya dengan cepat. Ia tertawa puas. Begitu girang karena terlihat menyenangkan.


"Wuu~~~" senandungnya.


Orang yang lewat hanya menatap heran padanya. Namun gadis itu tidak tahu jika ia menjadi tontonan orang-orang. Vanya terus mengayuh sepedanya. Dan, akhirnya sampai di tempat tujuannya. Ia memarkirkan sepeda di pinggir toko. Takut jika ada orang yang mengambil sepedanya. Baginya itu barang kesayangan. Dan satu-satunya yang di beri oleh Zella.


Vanya berjalan dengan bersenandung. Hari ini entah kenapa moodnya tidak buruk. Vanya membuka pintu toko. Sudah ada pemilik toko. Yang menyaksikan tingkah Vanya. Ibu pemilik toko hanya tertawa kecil.

__ADS_1


Vanya tersadar dan menghentikan tingkah absurdnya. Ia cengengesan. "Eh ada ibu," ucapnya. Vanya sering memanggilnya dengan sebutan 'ibu'. Karena ia sudah berkerja lama di warung ibu Firna. Bagi Vanya, Firna sudah menjadi sosok ibu keduanya. Firna juga tahu, bagaimana hidup Vanya. Karena Vanya sering menceritakan hidupnya yang buruk. Jika ini hanya mimpi buruk, ia ingin bangun. Dan tidak ingin tidur selamanya.


Seperti biasa, harinya begitu buruk. Bagaikan mimpinya setiap malam. Setiap tidur ia selalu mimpi dengan hal buruk. Tidak ada kebahagiaan di dalam mimpi, maupun hidupnya.


"Selamat pagi ibu~~," ucapnya dengan nada berirama. Firna hanya tertawa lalu mendekat pada Vanya. Kemudian Firna memeluknya. Usia Firna juga sudah berumur, sekitar 57 tahun. Namun Firna tampak begitu masih muda. Firna memeluk erat Vanya. Itu dilakukan Firna setiap paginya. Vanya yang dipeluk sudah tidak kaget lagi.


Firna adalah wanita paruh baya. Yang memiliki seorang anak laki-laki. Suaminya sudah lama meninggal, Firna hidup seorang diri. Anak lelakinya sudah berkeluarga, namun jarang sekali anaknya itu menjenguknya. Dan menanyai bagaimana kondisinya. Firna masih dengan setia memeluk tubuh kecil gadis itu. Vanya pun memeluk balik tubuh Firna. Sungguh hangat, dan Vanya ingin diperlakukan ini setiap paginya. Pelukan hangat dari sosok seorang ibu, mampu membuat menjadi diri sendiri.


"Anya janji ya sama ibu?, mau seberat apapun hidup Anya jangan pernah ingin bunuh diri—," ucap Firna. Sedikit segukan Firna yang mampu di dengarnya. Vanya tersenyum, walaupun keduanya masih setia memeluk.


"Iya ibu, Anya janji—."


"Tapi Anya ga janji, kalo Anya terus kuat setiap harinya," sambungnya dalam hati. Firna terus memeluk erat. Firna memang selalu memanggil Vanya dengan sebutan Anya. Namun, itu tidak keberatan jika Firna memanggilnya dengan nama Anya.


Bagi Vanya itu sebuah sebutan nama kasih sayang. Dan tentu saja persis seperti Marata, sahabatnya yang dulu pernah memanggilnya Lava.


THING!


Suara lonceng berbunyi, menandakan seseorang datang untuk membeli. Toko kue Firna memang ia desain seperti toko di luar negeri. Dan desain yang Firna pilih cukup bagus, dan mampu memikat para pembeli. Firna dan Vanya pun saling melepas pelukan. Kembali bergegas untuk berjualan.


Vanya memilih untuk kebelakang terlebih dahulu. Menaruh tasnya dan tidak lupa memakai celemek. Firna lalu melayani si pembeli. Setelah selesai melayani Firna bergegas untuk ke belakang. Toko Firna hanya terisi oleh 2 perempuan dan satu laki-laki. Toko Firna juga bisa di pesan lewat online. Dan yang mengantar pesanan itu hanya laki-laki saja. 2 perempuan membantu Firna di dapur, untuk membuat stok kue yang hampir habis. Dan Vanya termasuk di bagian kasir, dan melayani pembeli.


Biasanya toko Firna sepagi ini belum ramai. Seperti biasanya toko kuenya selalu ramai di jam sore maupun siang. Semuanya saling fokus pada pekerjaan masing-masing. Vanya duduk santai, karena tidak ada lagi yang datang membeli kue. Tiba-tiba, mata Vanya menarik perhatian. Pada seseorang yang baru saja datang ke toko kue. Dia adalah, Zella. Tak di sangka, Vanya bertemu dengan mamahnya. Bergegas ia berlari menuju Zella.


Air mata Vanya seketika luruh. "Mamah—," panggilnya. Zella yang berjalan terperanjat kaget. Vanya memeluk erat tubuh Zella. Kerinduannya pada mamahnya, sangat amat kuat. Zella heran, bagaimana bisa ia bertemu dengan putrinya.


"Kamu—," ujar Zella. Sedikit risih dipeluk Vanya.

__ADS_1


__ADS_2