Blessures Éternelles

Blessures Éternelles
Kembali ke toko kue 2


__ADS_3

Sampainya di toko, ia menaruh sepeda di depan toko. Kebetulan memang sudah di sediakan tempat sepeda miliknya. Sebelum ia datang kesana memang belum ada untuk menaruh sepeda. Jadi firna membuatkan tempat sepeda untuknya. Selain sudah menjadi ibu kedua baginya. Firna betul-betul tulus menyayangi vanya. Memang sudah firna anggap sebagai anak kandungnya. Ia juga di rumah sendiri, anaknya sudah lama tinggal di kota Yogyakarta, jadi sulit untuk terus berkunjung.


Bertemu dengan sosok firna, membuat vanya terus menerus bersyukur karena masih diberi seseorang yang baik untuknya. Diberi sosok pengganti ibu baginya. Ternyata setiap kesabaran pasti akan didatangkan seseorang yang baik. Vanya hanya bisa berucap syukur kepada Tuhan atas semua yang telah di beri. Bersyukur sekalipun hanya didatangkan orang-orang baik seperti firna.


Vanya tersenyum dan lalu membuka pintu toko pelan. Firna yang sadar jika ada seseorang yang datang, tersenyum dengan begitu ramah. Entahlah, hati firna terbuat dari apa. Firna begitu sangat baik, ia pun tidak pernah lupa untuk terus mengajarkan kebaikan padanya. Seberusaha keras ia lelah dengan alur hidupnya. Pasti disitu juga firna terus memberikan semangat padanya. Firna tidak pernah absen dalam bentuk memberi kasih sayang, pelukan, bahkan ucapan yang membuat hatinya terasa lega.


Firna berjalan ke arah Vanya. "Halo anak ibu, sudah sarapan belum?," tanya firna seperti layaknya menanyai keadaan putrinya. Vanya tersenyum lalu bersalaman. Tangan firna tidak pernah berubah masih tetap lembut.


"Sudah ibu. Ibu sendiri udah sarapan?." Vanya bertanya balik. Ia juga sangat menyayangi firna. Kehadiran firna mampu membuatnya merasakan kasih sayang yang sudah lama ia dambakan. Mungkin, jika tidak bertemu firna, entah bagaimana keberlangsungan hidupnya.

__ADS_1


"Sudah dong. Kamu kesini memangnya sudah ngerjain tugas. Ibu bukan ingin mengusir, sebaiknya kamu pulang biar besok saja kesini." Dengan nada suara lembut, justru membuat Vanya tertawa kecil.


"Ih kok kamu ketawa sih. Ibu ga mau kalo kamu engga ngerjain tugas ya," sambung firna.


Vanya kembali tertawa kecil. "Engga, engga. Aku udah ngerjain tugas kok semalem, jadi ibu tenang aja kan bisa kerjain malem."


"Boleh kerjain di malem hari. Tapi ga boleh di jam 9 ke atas ya."


Setelah mendengar jawaban Vanya. Firna pun merangkul pundak anak gadisnya itu. Mengajak untuk ke tempat kue. "Iya syukur deh kalo begitu. Takutnya nanti kebablasan lagi." Vanya cekikikan.

__ADS_1


"Engga kok ibuu. Aku selalu ingat terus pesan ibu." Firna pun tersenyum lalu tertawa. Kedekatan keduanya di lihat oleh seseorang pengunjung yang ingin membeli kue. Sedikit terlihat mencurigakan karena baru kali pertama pembeli ini mengenakan setelan baju yang tertutup. Keduanya saling menatap satu sama lain. Pemikiran mereka sama. Namun, firna tetap berusaha untuk tidak membuat panik.


"Halo baik kak. Mau pesan apa?." tanya firna dengan pengunjung misterius itu. Mencoba menetralkan pemikiran negatifnya dan tidak terlihat dengan raut wajah panik. Pembeli itu hanya menunjuk ke arah kue yang ingin di beli. Tidak mengucapkan sepatah dua patah kata pun.


Setelah menjumlah berapa total yang di beli, firna pun menyebutkan nominalnya. "Ini totalnya 113.000 rupiah ya kak," ucap firna menyebutkan berapa total yang di beli. Seseorang itu membuka tasnya, dan mengambil dompet untuk mengambil uang.


Si pembeli menyodorkan uang dua lembar seratus ribu. Firna menerimanya dengan lembut, dan tersenyum. Sehabis itu ia mengambil uang di kasir, lalu menyodorkan kembalian si pembeli. Setelah suasana yang terlihat mencekam, akhirnya selesai. Vanya yang mematung melihat aksi yang menegangkan hanya diam mematung.


Dirinya bingung harus bagaimana. Ternyata dibalik itu semua. Perbuatan mamanya Vanya. Zella menyamar karena ingin tahu bagaimana keadaan putri tunggalnya, dengan mantan suaminya. Ingin menanyakan namun ia tidak ada keberanian untuk menampakkan wajahnya di hadapan putrinya. Di balik masker putih dan topi, zella tersenyum karena putrinya mendapatkan perlakuan baik oleh si pemilik kue. Selama ia meninggalkan putrinya begitu lamanya. Zella benar-benar gelisah.

__ADS_1


Alasan zella pergi bukan karena papah dari putrinya itu berkehidupan sederhana. Namun terdapat perlakuan yang tidak mengenakkan yang membuat dirinya harus pergi meninggalkan putri semata wayangnya. Selama belasan tahun, zella khawatir akan kondisi Vanya. Ia tahu jika tama memperlakukan tak baik pada Vanya. Sebelum pergi, memang bi wini yang selalu memberikan kabar pada zella. Karena ia juga tidak ingin menjadi ibu yang jahat. Jadi lebih baik zella memantau dari kejauhan.


"Anak mamah sudah besar ya, cantik pula. Maafin mamah yang belum bisa berani menampakkan wajah mamah kembali, sayang." Ucapan lirih yang terdengar pilu hanya mampu di dengar sendiri. Tak ada keberanian untuk berani meminta maaf di hadapan sang anak.


__ADS_2