Blessures Éternelles

Blessures Éternelles
Sedikit perdebatan


__ADS_3

Kini saatnya bersiap untuk berangkat sekolah. Sebelumnya Vanya sudah lebih dulu bersiap. Ia keluar dari kamarnya, dan memilih untuk ke dapur. "Bi, papah sudah bangun?," tanya Vanya, untuk menanyakan keberadaan sang papah.


Bi wini yang memang kebetulan sudah menjadi ART di rumahnya sejak kecil, sudah tahu jika tuannya lebih dulu bangun untuk pergi ke kantor pagi buta sekali. "Non, tuan sudah berangkat dari pagi," jawab bi wini. Bi wini sembari melakukan membuat sarapan untuknya. "Nih non sarapan terlebih dahulu."


"Makasih ya bi."


"nggeh, sama-sama non. mau bibi buatkan bekal juga?," tawar bi Wini.


Vanya menolak, sambil mengunyah rotinya. "Engga usah bi, aku bisa beli nanti di kantin." Bi wini pun mengangguk. Bi wini kembali mengerjakan pekerjaannya yang lain. Sambil menunggu Vanya selesai bersarapan. Lumayan cukup lama dirinya bersarapan. Ia pun memilih pamit ke bi wini yang sudah ia anggap pengganti neneknya.


"Bi wini, Vanya berangkat sekolah ya," ujarnya sambil bersalaman. Bi wini pun mengangguk sambil tersenyum.


"Hati-hati ya non di jalan."


"Iya bi, makasih ya sarapannya."


Tidak lamanya Ojol sampai di gerbang rumahnya. "Dengan mba Vanya ya." Abang ojol itu pun bersuara. Vanya mengangguk dan naik ke motor. Ojol memberikan helm pada Vanya.


Sekitar 15 menitan di perjalanan. Barulah sampai di gerbang depan sekolah. Ia lalu membayarnya. Tak lupa pula helm yang dikenakan di lepas. Ojol pun pergi setelah mengantarkan penumpangnya. Vanya bergegas masuk ke dalam. Masih ada waktu 6 menit  sebelum bel sekolah berbunyi. Vanya melangkah berjalan. Ternyata sudah banyak murid yang datang.


Sampainya di kelas, Vanya pun di sambut dengan Taya. Taya memang biasa lebih awal dari Vanya. Jadi tak heran baginya. "Van, kamu berangkat ga bareng sama Abas?." Vanya hanya menggeleng sebagai jawaban. "Tumben banget biasanya Abas barengan kamu," sambung Taya.


"Engga Taya. Masih pagi jangan bahas itu."


"Anyway, kamu udah selesaiin PR?."

__ADS_1


"Udah kok. Kalo kamu sendiri udah?."


Taya menyengir, kebiasaan buruk Taya yaitu tidak mengerjakan PR. "Kebiasaan kamu Taya. Jangan di ulang lagi, kebiasaan buruk itu harus di ilangin."


"Iyaa maaf, aku lupa Van. Semalem aku habis nightride bareng cowokku." Vanya menggeleng, adanya saja alasannya klasik yang diberikan Taya.


"Yaudah ini isi. Keburu pak Bima ke sini."


"Wah Taya lo kerjaannya nyontek terus. Untung lo punya temen pinter kaya Vanya. Ya sekali pun polos banget mau di manfaatin." Ucap salah satu teman kelasnya, Faley. Ya, dia memang sedikit tidak suka oleh Vanya. Karena sering kali Vanya didekati oleh Kaka OSIS. Ataupun siswa tampan lainnya.


Namun, Vanya tidak mengubris itu, dan lebih membiarkan Faley bersikap semaunya. Karena tidak ada gunanya meributkan hal yang tidak penting baginya. Lagi pun itu juga bukan kemauannya kan di dekati oleh Kaka OSIS, ataupun Ketua OSIS di sekolahnya.


"HEH ******! LO NI KALO NGOMONG NYEPLOS AJA YA!. IRI DENGKI YA LO?!." Ya suara yang terdengar dengan nada nyolong dan ngegas itu, dari Taya. Taya memang benci dengan orang seperti Faley. Entahlah adanya saja hama di sekolah. Lagi pun tidak ada salahnya Vanya memberi contekan padanya.


"Ck, lo juga Van. Jangan lemah lawan kek." Dengan nada suara yang kesal, karena tidak ada perlawanan pun dari temannya ini.


"Aku bukannya ga mau lawan balik. Yang aku ga mau itu, cuma masalah sepele tapi di buat panjang."


"Aku malas jika berakhir dengan berhadapan di ruang BK. Yang ada orang tuaku yang di panggil. Kamu sendiri tau, ayahku keras." ucap Vanya menjelaskan.


"Iya iya paham."


"AWAS YA LO ******!, SEKALI LAGI BUAT ULAH!," ucap Taya memperingati sambil menunjuk ke arah Faley. Faley yang tidak ada takut hanya mendecih. Baginya itu hanya sepele.


Kedatangan Abas membuat seisi kelas pun jadi sunyi. Abas menaikkan alisnya, bertanya. Ada kejadian apa sebelum dirinya tiba di kelas. Dirinya berjalan ke arah meja Vanya. Menanyakan kenapa dengan isi kelas. Tidak seperti biasanya kelas menjadi sunyi begini. "Kenapa?," tanya Abas pada Vanya. Namun, Vanya hanya mengedikkan bahunya.

__ADS_1


Bahwa sebelumnya tidak ada kejadian apapun. Dari pada urusannya menjadi panjang, jadi lebih baik berbohong. Tidak ada salahnya bohong demi kebaikan. Bukan membenarkan bahwa bohong itu kebaikan. Tetapi, ia tidak ingin masalah sepele akan menjadi panjang lebar. Dirinya malas, jika namanya terseret masalah, apa lagi jika papahnya di panggil ke ruang sekolah. Alamat tidak ada ampun yang akan diberikan Tama padanya.


Tak lama itu juga bel berbunyi. Guru pun sampai di kelasnya. Selama pembelajaran seisi kelas menyimak apa yang di ajarkan oleh pak Bima. Tidak ada yang bersuara. Jadi lebih membuat materi yang di beri oleh guru membuat paham. Mungkin biasanya jika murid tidak ada yang bersuara ketika guru sedang menjelaskan, guru itu guru killer yang bisa di maksud galak?. Salah sebenernya, memang sudah peraturan serempak dalam kelas Vanya, jika tidak ada yang bersuara ketika guru mengajar atau menjelaskan.


Kalau ada yang bersuara, akan di denda dan ya lumayan tinggi bayarnya. Minimal denda jika melanggar peraturan harus membayar 50 ribu. Jadi di perhitungan 50 ribu itu, bisa bayar uang kas kelas selama sebulan. Peraturan itu di buat membuat anak kelas menjadi tidak berani bersuara. Walaupun memang dari kalangan keluarga kaya.


Ya sekali memang ada yang melanggar. Namun lama kelamaan tidak ada lagi yang melanggar. Selama berlangsung pembelajaran. Tak terasa bel istirahat pertama berbunyi. Seluruh kelas bersorak gembira. Pak Bima akhirnya menutup pembahasannya, dan akan dilanjutkan di pelajaran selanjutnya.


Teman kelasnya beramai-ramai keluar kelas untuk ke kantin sekolah. Dan kebetulan Taya pun mengajaknya untuk ke kantin bersama. "Ayo ke kantin, nanti keburu antri." Vanya mengangguk tanda setuju.


"Vanya.," panggil Abas. Vanya menoleh ke sumber suara.


"Kenapa?."


"Gua nitip ya minuman."


"Minum apa, Abas?."


"Terserah."


"Ouh, okey tunggu." Taya pun dengannya berjalan keluar kelas mengarah ke kantin. Sampainya di ambang pintu kantin, dengan di penuhi berbagai orang-orang yang sudah mengantri untuk makan.


Vanya menghela napasnya. Ia malas jika kantin sudah ramai seperti ini. mau tak mau ia harus jajan.


Jangan lupa untuk follow ya, mohon kasih feedback untuk aku. Kalo ada salah dalam naskahku kalian bisa kasih saran di kolom koment, terimakasih banyak🥰🤎

__ADS_1


__ADS_2