
"Kamu—," ujar Zella. Sedikit risih dipeluk Vanya. Zella melepaskan pelukan dari Vanya. Vanya sedikit heran, kenapa mamahnya melepaskan pelukannya.
Firna yang mendengar keributan bergegas keluar. Ia begitu terkejut jika mamah dari Vanya datang. "Mamah, mamah gimana kabarnya?," tanya Vanya, dengan nada kesenangan.
Di kejauhan seseorang datang. Berlari mendekati Zella. Anak kecil itu memanggilnya dengan sebutan mamah. Seketika hatinya remuk. Ternyata sang mamah sudah memiliki keluarga baru. "Mamah, kakak ini siapa?," tanya gadis kecil itu. Tiba-tiba lelaki paruh baya datang. Dengan merangkul pinggang Zella, serasi. Diremukkan untuk yang kedua kalinya.
Zella berjongkok. "Mamah ga tau sayang," ucap Zella lembut. "Kayanya kakaknya salah orang—," sambung Zella, sedikit terbata. Lelaki paruh baya itu menyapa hangat Vanya dan Firna.
"Maaf ya adde–kk, kakak pikir ini mamah kakak."
"Gapapa kok kakak." Gadis itu tersenyum lebar. Vanya hanya bisa membalas dengan senyum tipis.
Firna yang mengerti perasaan Vanya. Ia sedikit mendekatkan tubuhnya. "Anya kebelakang dulu ya, biar ibu yang layanin aja," bisik Firna pada Vanya. Vanya mengangguk, dan membalikkan tubuhnya. Berjalan dengan terkulai lemas. Baru mengetahui sebuah fakta yang membuatnya dunia hancur, sehancur-hancurnya.
"Maaf ya atas ketidaknyamannya. Mari mau pesan kue apa. Di sini banyak berbagai macam kue loh," ucap Firna, memecah kecanggungan.
Gadis kecil itu berlari, untuk memilih berbagai macam aneka kue. Gadis itu menunjuk berbagai macam kue, dengan gembira. Zella tertawa kecil, begitu pun dengan sang suami. Setelah selesai memesan mereka pun kembali pergi. Zella yang sedikit gembira. Kembali murung, hatinya terasa janggal.
"Mamah harap kita ga pernah ketemu lagi ya Vanya,,," ucap Zella dalam hati. Sang suami membukakan pintu mobil untuk Zella. Dan ketiganya melesat pergi dari tempat toko kue.
****
Di kamar mandi, Vanya menangis. Hatinya begitu sakit, mengetahui sebuah fakta yang mengejutkan. Pantas saja, Tama selalu memukulinya. Vanya tak habis pikir, skenario hidup macam apa. Hidup sendiri, memiliki keluarga yang sudah terpecah belah. Vanya terus menangis di dalam. Firna khawatir, mendengar tangisan Vanya. Hatinya ikut teriris mendengar suara Vanya yang tersedu-sedu.
"Anya buka sayang pintunya—," ucap Firna. Dengan mengetuk pintu kamar mandi. Khawatir jika Vanya melakukan hal buruk di dalam.
Tak selang berapa menit, Vanya pun keluar dari kamar mandi. Firna dengan cepat memeluk tubuh ringkih gadis itu. Firna mengusap pelan punggung Vanya. "Gapapa, sayang gapapa," ujar Firna menenangkan Vanya.
Firna mengajak Vanya untuk keluar terlebih dahulu. Ia dengan sigap, mengusap untuk memenangkan hati gadis itu. Hatinya begitu teriris. Gadis seusia dirinya sudah menelan banyak pahitnya hidup. Firna merangkul Vanya.
Firna hendak mengajak Vanya keluar untuk bisa menghirup udara segar. Namun Vanya menolaknya. Karena waktu masih menunjukkan bekerja. "Ayo keluar, biar tenangin diri kamu." Vanya menggeleng lemah. Sedikit terdengar segukan pada gadis itu.
__ADS_1
Vanya dengan susah payah menghentikan segukannya namun berakhir nihil. Segukannya masih terdengar jelas di telinganya. "Tuhan,,,, cobaan apa lagi?," gumamnya, entah bertanya pada siapa. Mata gadis itu memerah. Karena terlalu lama menangis.
****
Kini toko kue Firna lebih awal tutup. Di karenakan anak dari Firna sedang berkunjung pada rumahnya. Alhasil Firna menutup tokonya. Vanya awalnya meminta untuk Firna tidak menutup toko nya lebih awal. Namun Firna menolak, dan menyuruh Vanya untuk pulang lebih awal.
Dan pastinya, Firna membiarkan untuk Vanya menyegarkan pikirannya. Para pegawai Firna lebih dulu pulang. Hanya tinggal Vanya. Firna menggembok warungnya. Firna langsung mengambil kendaraannya. Kini tinggal Vanya sendiri. Menatap kosong pada toko yang sudah di tutup.
Dengan lemah, ia pun berjalan tanpa arah. Kaki kecilnya terus melangkah tanpa tujuan. Jalanan masih ramai, banyak sekali motor berlalu lalang. Vanya memutuskan untuk pergi ke danau. Tempat itu sudah menjadi teman curahan hatinya. Di kala dirinya sedih. Danau menjadi saksi bisu, di saat harinya di penuhi kepahitan.
Tak lama ia berjalan. Gadis itu sampai di danau. Ia melihat sekeliling bahwa taman dengan perbatasan danau. Begitu ramai, di penuhi orang-orang yang berkunjung di sana. Tetapi, gadis itu menghiraukan semuanya. Ia memilih menatap kearah danau. Yang terlihat begitu indah dan luas.
Vanya menatap ke depan, sesekali mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Sulit di perjelas, di saat itu juga hatinya melebur. Tidak bisa di jelaskan oleh kata-kata. Fisik maupun mentalnya sudah rusak. Tidak ada lagi yang akan peduli padanya.
Jauh dari kata sembuh, mentalnya sudah rapuh. Tidak ada lagi kata semangat untuk hidup. Vanya terduduk lesehan, ia menyila kakinya sembari memeluk tubuhnya. Mencoba memberi energi pada tubuhnya.
"Mamah udah punya keluarga baru, papah kayanya juga udah punya keluarga lagi, terus aku?," gumamnya.
****
"Halo."
Vanya mendongkak menatap pada seseorang yang menyapanya. Dengan sedikit canggung, Vanya menjawabnya.
"Halo juga."
"Boleh gua duduk di sini?." Vanya mengangguk. Mempersilahkan seseorang itu duduk di sampingnya. Ternyata dirinya adalah Abas. Cowok yang menjadi juara atas di kelas.
Abas kaferos angkasa— cowok pintar namun dingin. Cowok anti sosial, dan bahkan manusia introvert. Namun itu tidak memberatkannya. Sudah pasti ia banyak yang mengajak untuk berteman. Namun Abas selalu menolak. Cowok itu memiliki wajah yang tak jauh tampan, jika tersenyum senyumnya manis melebihi gula. Abas cowok dengan tinggi badan 180 cm, dengan memakai kacamata minus yang selalu dirinya pakai mampu membuat cowok itu berkharisma.
"Congrats ya Lavanya," ucap Abas. Pipi gadis itu memerah.
__ADS_1
"Thank u Abas. Congrats untukmu juga." Abas mengangguk. Sedikit dengan kekehan kecil. Abas ikut menyenderkan punggungnya pada pohon. Kemudian bersandar pada bahu Vanya.
Vanya membulatkan matanya. Sungguh tak di sangka jika cowok dingin seperti Abas. Bisa bersikap seperti ini padanya. Padahal jika di dalam kelas, sudah pasti tidak kenal satu sama lain.
"Terus kuat ya Vanya, gua tau lo rapuh," ucap Abas. Yang masih setia menyender pada bahu gadis itu. Gadis itu bingung dengan apa yang di ucapkan oleh cowok di sampingnya.
"Sejauh apa kamu tau Bas?," tanya Vanya.
Abas mengulas senyum di bibirnya. "Gua tau semuanya. Gua tau kalo lo sering ke sini," jawab Abas. Vanya benar-benar di buat kaget. Apakah Abas menguntit dirinya?.
"Sasaeng." Abas terkekeh mendengar celotehan Vanya. Namun kepalanya masih setia menyandar.
"Gua bukan penguntit, ataupun sasaeng."
"Kalo bukan itu, kenapa kamu tau kalo aku sering ke sini," ucap Vanya meninggikan suaranya. Lagi, dan lagi Abas tertawa kecil. Ia di buat gemas pada sikap gadis itu.
"Vanya dengerin gua. Gua ga tau ini secara kebetulan atau gimana. Tapi gua sering ngeliat lo ngelamun di sini, dan seperti biasa gua juga sering ke sini buat lari sore," ucap Abas mencoba menjelaskan. Vanya hanya mengangguk memahami apa yang di jelaskan oleh Abas.
Tak di sangka seseorang mengamati kegiatan keduanya. Seseorang itu mengamati dari kejauhan. Cowok itu mengepalkan tangannya. Wajahnya memerah, seperti menahan amarah. Yang sudah menggejolak.
Cowok itu masih dengan hati yang panas. Entah itu api cemburu. Ia masih mengamati bagaimana keduanya saling tertawa. "Bos, hayu balik woy," ajak Fikran.
Ya, tentu saja yang sedang di selimuti api cemburu itu adalah Putra. Entah kenapa hati Putra begitu panas melihat keduanya saling tertawa lepas. Walaupun Vanya dan Abas membelakanginya.
"Lu liat apa sih, Put," ucap Devons. Keduanya saling mengangguk. Bingung dengan sifat drastis yang Putra tunjukkan. Fikran menatap pada seseorang yang sedang bermesraan di danau.
"Bos lo iri liat dua sejoli itu?," tanya Fikran. Keduanya saling beradu pandang. Masih bingung apa yang di ucapkan Fikran. Kemudian Devons dan Cameron menatap ke arah depan. Dan sekarang mengerti apa yang di ucapkan oleh Fikran.
Putra menatap tajam. "Pulang."
Ketiganya langsung mengangguk patuh. Akhirnya mereka meninggalkan tempat itu. Putra menaiki kendaraannya dengan cepat. Di susul oleh ke tiga temannya. Mereka justru masih kebingungan. Kenapa bisa Putra iri dengan sejoli yang mereka lihat.
__ADS_1