
Sudah cukup lama dirinya libur sekolah selama 2 minggu. Walaupun dirinya berkerja tetap saja membuatnya suntuk. Mencoba untuk mencari kesibukan yang lain namun selalu saja bosan.
Hari ini tepatnya awal tanggal februari, masuk sekolah. Seperti biasa ia berangkat menggunakan kakinya. Vanya bisa saja menggunakan Grab, tetapi karena sakunya yang tak cukup. Jadi harus memungkinkan untuk dirinya berjalan.
Percuma saja meminta Tama untuk mengantarnya. Sudah pasti Vanya lebih tau jawabannya. Kaki Vanya terus melangkah sampai ke tempat tujuannya. Namun di pertengahan jalan. Seseorang mencegahnya.
TIT! TIT!
Vanya menoleh, pada seseorang yang membunyikan klakson kendaraan miliknya. Pengendara itu tersenyum ramah padanya. "Ayok berangkat bareng!," ajaknya. Yang tak lain itu Abas.
Vanya ingin menolak tapi tidak enak. Mau tak mau harus menurut. Abas dengan ducati miliknya, menadah untuk Vanya supaya tidak terlalu kesusahan menaiki motornya. Abas terkekeh kecil.
"Susah ya?."
Vanya menyengir. "Hehehe iya. Motor punyamu tinggi."
"Yaudah, yuk berangkat. Keburu telat lama-lama disini." Vanya mengangguk. Gadis itu merasa canggung. Karena ini baru pertama kalinya, dirinya berangkat sekolah bersama cowok.
Lima menit kemudian keduanya sampai di gerbang masuk sekolah. Pak satpam menyambut dengan ramah. Abas mengarahkan motornya ke tempat parkir. Sudah banyak motor siswa-siswi di sana.
Abas memarkirkan ducati miliknya. Kemudian Vanya turun dengan hati-hati. Tak lupa juga Abas membantunya untuk turun dari kendaraan besar milik Abas. Setelah itu Abas pun turun dari ducatinya.
"Thanks, Abas."
Abas mengangguk, dan terkekeh. "Anytime, Van. Ayo ke kelas." Abas tanpa rasa pikir panjang. Menggenggam tangan Vanya, untuk pergi dari parkiran. Vanya sedikit terperanjat kaget. Untuk pertama kali, Abas melakukan itu padanya.
Vanya pun tidak bisa menolak. Dan keduanya melangkah pergi dari tempat itu. Karena bel masuk akan berbunyi. Vanya terasa gugup bukan main. Para siswi pun menatap tidak percaya. Jika seorang Abas yang memiliki sifat dingin, luluh oleh gadis seperti Vanya.
Merasa ia di tatap, Vanya memilih untuk melepaskan tangannya dari cengkalan Abas. Terdapat berbagai tatapan tajam yang ia dapatkan. Dari pada dirinya mencari gara-gara. Lebih baik dirinya melepaskan genggaman dari Abas.
Namun tidak bisa, tenaga Abas jauh lebih besar dari Vanya. Dan memungkinkan untuk lepas dari genggaman Abas susah. Dirinya hanya bisa menghela napas pasrah, untuk sampai di dalam kelas. Berbagai tatapan yang dirinya dapat. Tatapan yang tidak dapat dirinya artikan.
Ketika sesosok gadis yang tidak pernah memiliki teman. Dan hari ini dapat di kejutan jika dirinya bisa sedekat dengan Abas. Bagaimana bisa orang-orang tidak terkejut dengan kedekatan keduanya.
Abas yang tentu saja setia menggenggam tangannya sampai di ambang pintu kelas. Lalu keduanya saling masuk, tanpa Abas melepas genggamannya.
"Bas..."
Abas meliriknya sekilas. "Kenapa?," tanya Abas. Raut Abas begitu dingin. Tidak seperti tatapan yang membuatnya nyaman.
"Lepasin Abas.. Aku ga mau kamu lakuin hal kaya tadi!!," ucapnya dengan nada sedikit tegas. Walaupun Vanya merasakan tidak enak hati. Namun, demi ia selamat dari tudingan siswi yang lainnya.
"Kenapa?," ucap Abas, mengulang ucapannya tadi.
Sepertinya Abas tidak terlalu memperdulikan ucapannya. Vanya hanya bisa menghela napas pasrah.
"Lo ga suka?."
Vanya menggeleng, membenarkan ucapan Abas. Gadis itu tertunduk. Kini berada di posisinya serba salah. "Lo takut anak-anak liat kita jalan berdua?," tanya Abas.
__ADS_1
Abas mengerti jika Vanya takut jika, siswi menudingnya karena sudah jalan bersamanya. Namun bagaimana pun, ia tidak memperdulikan itu. Abas menoleh pada Vanya. Dengan mengulas senyum tipis di bibirnya.
Dirinya menepuk pelan pundak, Vanya. Untuk sedikit menghilangkan rasa takut, dan kecemasan pada Vanya. "Sini dengerin gue. Vanya jangan peduliin tatapan orang-orang yang ga suka sama lo. Lakuin sesuka hati lo, Vanya."
Vanya mengangguk. "Aku tau, Abas. Tetapi jika kita terus berdekatan seperti ini. Akan menjadi heboh warga sekolah. Aku tidak ingin yang lain menganggap berlebihan, tentang hubungan kita," ucapnya.
"Lagi pun, kita hanya sebatas kelas. Bersikaplah sewajarnya, Abas."
Vanya lalu berjalan pergi ke tempat ia duduk. Meninggalkan Abas, yang terdiam. Memang benar yang di ucapkan, Vanya. Namun, apakah salah jika Abas tidak menganggapnya sebagai teman sekelas. Melainkan lebih dari seorang teman kelas.
Kemudian Abas memilih duduk ke tempatnya. Ada rasa kecanggungan pada Abas saat ini. Ketika Vanya berbicara tentang hubungannya dengan Vanya. Memang murni hanya sebatas teman kelas. Salah dirinya karena sudah menyukai gadis seperti, Vanya. Tentu saja sulit untuk mendapatkan hati, Vanya.
Posisi tempat duduk Abas, maupun Vanya hanya hanya saling depan belakang. Abas dengan lekat menatap punggungnya gadis itu. Abas menelan ludahnya yang terasa tercekat.
"Abas di panggil bu Fatma!" teriak siswi di ambang pintu kelas.
Suaranya begitu nyaring. Hingga seisi kelas menatap ke arah gadis yang berteriak itu. Abas hanya mengangguk, lalu berdiri untuk menuju ruang guru. Di beberapa langkah Abas, Vanya menatap heran.
"Kenapa ya dia di panggil oleh bu Fatma?," tanyanya pada diri sendiri. Vanya pun langsung mengedikkan bahunya, tak tahu. Lagi pun memang bukan urusannya. Untuk mengetahui urusan Abas.
****
Jam istirahat terdengar begitu menggelegar di seluruh sekolah. Semuanya bersenang ria. Ya tentu saja, waktu yang di tunggu-tunggu oleh yang lain.
Mana mungkin jika orang tidak gembira jika bel itu sudah berbunyi. Pastinya perut mereka sudah begitu lapar. Kini Vanya hanya memilih untuk memakan yang di bawanya.
Mau sekejam apapun Tama padanya, pasti masih terdapat rasa sayang untuknya. Walaupun banyak sekali kekangan dari Tama. Namun tak masalah bagi Vanya.
"Vanya, lo ga ke kantin?."
Vanya mengulas senyum manisnya. "Engga, sebaiknya kamu duluan saja. Nanti mengantri. Aku bawa bekal dari rumah." Teman sebangkunya mengangguk. Oh ya, tentu saja kini Vanya sudah memiliki teman sebangku.
Gadis itu bernama, Seltaya maelsa. Vanya memanggilnya dengan sebutan, Taya. Taya gadis yang lemah lembut. Kepribadiannya tentu halus. Vanya begitu senang jika ada teman sebangku.
"Ada yang mau kamu beli?." Vanya menggeleng, sebagai jawaban. Taya tersenyum, paham dengan gelengan Vanya. "Ya sudah aku ke kantin dulu ya. Tunggu aku kembali lagi." Taya pun berpamitan untuk pergi ke kantin.
Vanya memilih untuk memainkan ponsel, sambil menunggu Taya kembali. Tak di sangka jika Abas duduk di sampingnya. Vanya sedikit terkejut. Tanpa rasa bersalah, Abas menyeringai.
"Tidak sopan!."
"Terserah lo deh, Van. Kenapa ga ke kantin?, " tanya Abas basa basi.
Supaya memiliki topik pembicaraan. Vanya memasang wajah ketus. "Liat saja sendiri di meja, aku." Abas menatap pada kotak makan, kemudian mengangguk. "Kamu sendiri kenapa tidak ke kantin?, bukannya kamu tidak bawa bekal?," tanyanya.
"Tau aja kalo gue ga bawa bekel. Cenayang ya lo?." Kini Vanya menggeleng-geleng dengan tingkah awkward Abas. Entah, kesurupan hantu apa.
"Cenayang gundulmu," jawabannya dengan logat bahasa Jawa. Abas sedikit terkekeh kecil, mendengar logat bahasa yang di gunakan, Vanya. Karena setiap harinya selalu menggunakan bahasa formal.
"Terus apa dong? Dukun?. Gue mau makan bekal berdua sama lo boleh ga?." tanya Abas menawarkan diri. Vanya menyilangkan tangannya. Bahwa dirinya tidak ingin berbagi. Bukan karena pelit, tapi jika untuk berdua dengan Abas. Pasti seseorang akan menyebarkan berita yang tidak benar.
__ADS_1
"Pelit banget lo, Van."
"Iya terserah kamu," jawab Vanya.
"Anjir ini cewek!, pake cara apa coba biar luluh," batin Abas.
****
KRING!! KRING!!.
Bel pulang pun berbunyi nyaring. Semuanya sibuk dengan merapihkan alat tulis mereka masing-masing. Vanya hanya merapihkan dengan sangat pelan. Ia rapihkan dengan santai.
Setelah semuanya sudah bersiap merapihkan alat tulis mereka masing-masing. Barulah sang ketua memimpin doa. Seluruh ruangan sunyi, tidak ada yang bercanda ketika berdua.
Seperti sedang berada di pantai sore hari. Dengan angin yang menerpa dengan lembut. Terasa begitu menyejukkan hati. Setelah selesai, semuanya duduk dengan rapih. Pulang dengan di bagi supaya kelas tidak berantakan.
Pulang lebih awal di mulai dari pojok. Tempat duduk Vanya. Barisan duduk Vanya berdiri serentak untuk berpamitan pulang. Begitu pun Taya dan Vanya. Mereka berjalan dengan berurutan meja. Tidak ada yang saling menyelang.
"Kamu pulang bareng siapa?," tanya Taya.
"Aku pulang naik gojek. Kamu?."
"Aku di jemput papah. Nanti kamu pulang hati-hati ya," ucap Taya. Vanya mengangguk.
"Kamu juga hati-hati." Tak terasa mengobrol. Kini giliran mereka untuk bersalaman pada pak Fatan. Taya lebih dulu bersalaman, di lanjut oleh Vanya. Begitu pun dengan selanjutnya.
Taya pulang lebih dulu, karena katanya sedang ada acara di keluarganya. Vanya pun mengangguk ketika Taya pamit lebih dulu. Vanya berjalan melewati koridor kelas. Tak lama Abas mengikutinya dari belakang. Setelah langkah kaki Abas dan Vanya sejajar.
Abas menarik pelan lengan Vanya. "Van, ayo pulang bareng." Vanya melepaskan genggaman dari Abas.
"Aku bisa naik gojek."
"Jangan ya, itu uang lo simpen aja, pulang bareng gue." Vanya menggeleng tetap dengan pendiriannya. "Ayo dong, Van. Jangan kaya gini," Abas terus memaksa. Vanya menggeleng.
Abas mencekram pergelangan tangan Vanya. "Ga mau Abas. Tolong jangan paksa aku. Kamu seperti orang gila, obsesi kamu tinggi juga."
"Apa susahnya lo ikut pulang bareng gue!."
"Tentu saja aku tidak mau, Abas. Tolong jangan paksa aku!!." mohonnya dengan tegas. Sama dengan Abas yang memiliki ego yang tinggi. Abas terus memaksanya.
Tak lama Putra datang di antara keduanya. Putra mencekal pergelangan tangan Abas. Keduanya saling bertatap sengit. Suasana tegang di antara keduanya. Vanya benar-benar sudah lelah. "Lepasin!, anak orang lo paksa, stupid!." Vanya di sana menatap dengan rasa gugup.
"Lo siapa Vanya. Ngatur-ngatur."
"Gua?, siapa dia?." Putra terkekeh remeh. Lelucon macam apa ini. "Gua cuma mau lo jangan paksa dia pulang bareng lo, bodoh. Anak orang lo paksa, ya dia risih!." Putra meninggikan suaranya.
"Cukup, cukup. Sebaiknya kamu pulang Abas," lerai Vanya. Untuk menghentikan peristiwa perkelahian. "Aku bisa pulang sendiri." Vanya pun meninggalkan keduanya. Menghiraukan keduanya.
"Lain kali ngejar cewek yang lo suka dengan cara lembut, jangan kasar," bisik Putra. Tepat di telinga Abas. Lalu Putra pergi meninggalkan Abas. Yang sedang mematung.
__ADS_1