Blessures Éternelles

Blessures Éternelles
Nyekar ke makam


__ADS_3

"Hari ini tepatnya tiga tahun kamu ninggalin aku, ke dunia."


Sambil mengungkapkan kata, yang sangat amat dirinya rindukan. Sosok dimana, lelaki yang selalu ada ketika dirinya rapuh. Sudah tak terasa meninggalkannya selama tiga tahun lamanya. Vanya mengunjungi makam sang kekasih, menggunakan dress putih. Yang dimana dulu sang kekasih selalu memintanya untuk menggunakan dress cantik ini.


"Sayang.. Tolong sampaikan rinduku pada nenek ya. Aku merindukannya, begitu juga dengan mu. Dan aku berkunjung menggunakan dress kesukaan mu. Lihat aku juga—–."


Vanya menunduk tak kuasa melanjutkan ucapannya. Rasanya sakit. Dan sudah pasti tidak ada yang mengetahui jika dirinya benar sesakit ini. Vanya berusaha melanjutkan kalimatnya yang terpotong.


"Lihat aku juga bawa bunga kesukaan kita berdua. Lihat bunga tulip putih ini cantik sekali. Terakhir kamu bilang, bunga ini persis seperti ku bukan?," ucapnya menatap batu nisan bertulisan. "Mahesa Malbian  binti Machfud Rases".


Gadis itu menatap begitu penuh harapan. Jika yang kini ia tatap bukanlah makam sang kekasih. "Bian, aku kangen... Tolong datang ke mimpi ku, membawakan setangkai bunga tulip putih ini. Jangan terus aku yang membawakannya untukmu setiap tahunnya."


Vanya terus menunduk. Dres yang kini dipakai sudah dinodai oleh tanah makam. Vanya mencekram gundukan tanah makam Malbian. Sebagai untuk menghilangkan rasa sesak pada dadanya. Tak di sangka bahwa, seseorang berdiri di sampingnya. Cowok itu menatap kasian, pada gadis itu yang terlihat kacau.


Cowok itu berjongkok, mensejajarkan tinggi badannya. Kebetulan dirinya membawa kain di dalam jasnya. "Ini usap air mata lo," kata cowok itu. Vanya masih menunduk tak berani menatap seseorang yang tengah bersamanya.


Dengan lembut dirinya mengusap air mata yang membasuhi pipinya. "Terima kasih." Lelaki itu mengangguk. Perubahan suasana hatinya sedikit lebih tenang. Dirinya mencoba melihat lelaki itu.


"Kamu putra?. Kamu ngapain di sini?," tanya Vanya sedikit terkejut. Putra sedikit terkekeh.


"Gua?. Gua lagi berkunjung juga ke sini." Vanya mengangguk. Untungnya cowok itu bukan mengikutinya. "Btw, dia siapa, Van?. Sayang banget ya lo sama almarhum." Vanya menoleh pada Putra.


"Iya Put, aku sayang banget sama dia."


Putra mengangguk. "Mahesa Malbian binti Machmud Rases." Putra bergumam. Namanya tidak asing baginya. "Kalo boleh tau, maaf ya kalo gua nanya bagian yang sensitif. Almarhum meninggal karena apa?," tanya Putra.


"Karena kecelakaan. Dia di tabrak oleh oknum yang ga bertanggung jawab." Putra membulatkan matanya. Ternyata benar, seseorang ini sudah tidak asing baginya. Bagaimana dirinya menjelaskan ini semua.


"Gua turut berduka cita ya, Van."


"Terima kasih, Putra."


Putra mengangguk. Dirinya berpamitan untuk pulang. "Gua pamit pulang ya. Gapapa kan kalo gua tinggal sendiri?." Vanya mengangguk.


"Ga apa-apa. Aku berani di sini sendiri." Putra tersenyum, kemudian melangkah berjalan meninggalkan Vanya. Putra bergegas pergi terburu-buru. Seperti orang yang sedang di landa kegelisahan.


****


Putra sampai di rumahnya. Dirinya pergi untuk menemui sang ayah. Namun, Putra melupakan segala sesuatu. Bahwa dirinya baru mengingat jika sang ayah. Baru saja pergi keluar kota.


"Bangsat. Gua baru inget ayah keluar kota." Putra mengumpat. Putra pun segera keluar dari dalam rumahnya. Untuk menenangkan hatinya di rumah Cameron.


"Ga mungkin cowok itu kan?."


Putra entah kenapa seperti merasakan kegelisahan. Hatinya tidak karuan. Bingung, kacau bercampur aduk. Putra menyalakan ducati miliknya. Ia berlaju kencang menaiki kendaraannya.


Tak butuh waktu lama, Putra sampai di halaman rumah Cameron. Ia berlari menuju pintu rumah Cameron. Dirinya mengetuk pintu Cameron.


"Assalamu'alaikum. Tante ada Cameron?" salamnya.


Ibu Cameron tersenyum lembut. "Ada Putra. Masuk aja." Putra pun mengangguk, setelah ibu Cameron mengajaknya masuk.


Putra berlari ke lantai atas. Dikarenakan kamar Cameron memang berada di atas. Ia membuka pintu kamar Cameron. Cameron yang tengah asik, tidak mengubris yang datang ke kamarnya.


"Cameron," panggil Putra.


"Eh bro. Lo kapan ke sini, tumben berkunjung."


"Sialan lo, Cam."


"Kenapa? Lo lagi ada masalah sama bokap lo?." Putra menggeleng.


"Bukan itu permasalahannya. Lo masih inget kejadian tahun lalu ga?."


"Apa? Soal kejadian kecelakaan itu?."


"Iya."


"Namanya tuh apa ya. Gue lupa, ****!."


"Serius lo ga tau? Ga mungkinkan lo ga tau!."


"Beneran gue ga tau. Lo kenapa sih?." Cameron sedikit bingung dengan rautan wajah pada Putra. Entah kenapa yang membuatnya mengingat itu semua. Padahal kejadian itu sudah cukup lama. Lagi pun, tidak mungkin ingatan Putra kembali.


"****!. Gua harus apa Cameron?."


"Apa yang harus lo apa?. Gue ga ngerti asli," Cameron benar-benar kebingungan. "Lo kenapa sih, Put. Aneh tau ga sih!, tiba-tiba nanya kejadian lama!!."


"Gua ketemu makam seseorang itu." Putra mencekram kepalanya yang terasa pusing. Bodoh sekali dirinya tidak mengingat kejadian tahun-tahun kemarin. "Gua ketemu nama itu."

__ADS_1


"Jangan gila deh."


"Gua serius!. Argh kepala gua!!" teriak Putra. Kepalanya terasa begitu pusing. Memori di otaknya memutar kembali. Ia menarik rambutnya. Otaknya memutar sebuah kejadian, tapi terlihat tidak berwarna.


"Put!!, sadar anjing sadar."


"Kepala gua. Arghh, arghh." Putra berteriak kesakitan. Sampai dimana dirinya ambruk jatuh ke lantai.


"Anjing! Putra bangun Putra."


"BUNDA TOLONG BUNDA!!." teriak Cameron. Sang ibu pun sampai di kamar Cameron. Raut wajah ibu Cameron begitu cemas. Ketika melihat sahabat putranya tergeletak tak sadarkan diri.


"Putra kenapa, kak?. Kenapa bisa pingsan gini?," tanya bunda Cameron.


"Kakak juga ga tau bun. Tiba-tiba kepala dia kesakitan."


"Ya sudah ayo angkat temanmu ke ranjang. Baru abis itu bunda ambilkan kompresan." Cameron mengangguk. Keduanya saling mengangkat tubuh Putra yang tak sadarkan diri.


Setelah memindahkan Putra. Ibunda Cameron berlari pergi kebawah. Sebelumnya bunda Cameron mengecek suhu tubuh Putra. Dan benar-benar sangat panas. Tubuh Putra yang tadi baik-baik saja. Sekarang menjadi panas, dan berkeringat.


"Bangsat siapa coba yang buat si Putra kaya gini!!. Gue bunuh itu orang!." Maki Cameron. Tak terima jika seseorang melakukan hal buruk pada sahabatnya. Cameron setia mengompres dahi Putra.


Cameron mencoba mengambil ponselnya. Untuk menyuruh kedua temannya datang ke rumah. Begitu pun dengan sang bunda yang tengah membuatkan bubur dan sayur sop untuk makan siang nanti. Sambil menunggu Putra sadarkan diri.


****


Sudah cukup lama dirinya berada di makam, Malbian. Kini ia beranjak untuk pergi meninggalkan makam itu. Sebelum pergi meninggalkan area pemakaman. Ia mencium batu nisan milik, Malbian. Vanya tersenyum.


"Sayang, aku pamit pulang ya. Kapan-kapan aku ke sini lagi. Tenang di sana ya sayang. I miss u and i love u more." Vanya pun membalikkan badannya. Sebelum benar-benar pergi meninggalkan makam Malbian.


Meninggalkan setangkai bunga tulip. Bagi keduanya bunga tulip bisa di artikan besarnya kasih sayang keduanya. Begitu pula bunga tulip bisa diartikan perpisahan untuk selamanya. Namun begitu, sampai akhir hayat bunga tuliplah yang akan menjadi saksi bahwa keduanya pernah sangat amat menyayangi.


"Sayang bunga tulip ini kita khususkan sebagai arti kecintaan pada pasangannya. Dan perpisahan bagi pasangan mereka. Mau kita berpisah selama mungkin. Bunga tulip sudah jadi saksi bahwa, Malbian mencintai Lavanya."


"Dan begitu pula dengan. Lavanya yang mencintai Malbiannya." Vanya pun pergi meninggalkan makam Malbian. Waktu pun sudah sore, sebelumnya. Vanya memotret makam Malbian dimana senja sudah menampakkan barang hidungnya.


"Cantik.. Dulu kita liat sunset di pantai. Kini gantian aku melihat sunset di depan makam mu Malbian," ucap Vanya.


Dan berakhir Vanya benar-benar pergi meninggalkan makam Malbian. Rasanya berat untuk pergi meninggalkan makam itu. Karena rasa sakit padanya benar-benar masih tersisa. Hidup sendiri, dan tanpa seorang Malbian. Yang dulu sangat mencintainya.


Yang selalu ketika dirinya rapuh. Namun juga tak terasa jika dirinya bisa berdiri sendiri tanpa topangan seorang Malbian. Sedikit kesulitan untuk menjaga kekokohan itu. Walaupun sering kali bangunan itu mencoba ingin roboh.


Kini kisah cintanya hanya ada sosok Lavanya yang tanpa seorang Malbian. Sosok cowok yang selalu menguatkannya sudah hilang. Seperti seorang tokoh yang kehilangan sosok pemeran utamanya. Malbian sosok cowok yang memiliki hati lemah lembut. Terima kasih untuk selalu mencintai tokoh yang selalu bersamamu Malbian.


****


Devons dan Fikran sudah sampai di rumah Cameron. Keduanya saling menunggu Putra sadarkan diri. Sudah begitu lama dirinya menunggu Putra untuk sadar. "Kejadiannya kenapa sih, Cam?," tanya Fikran. Mencoba menghentikan keheningan.


"Gue ga tau. Tiba-tiba dia nanya kejadian 3 tahun yang lalu. Aneh kalo kata gue mah."


"Kok bisa sih. Mana ini anak rapih banget lagi. Acara pake jas segala."


"Kayanya dia abis berkunjung ke makam deh, Cam," ucap Devons. Keduanya saling mengangguk. Lagi pun ini memang hari dimana Putra sering berkunjung pada makan sang nenek.


"Kan biasa hari libur dia ke makam neneknya. Dan pastinya pakai pakaian rapih."


"Bener itu, siapa yang ga tau kan. Kita aja udah temenan lama sama Putra. Dan ga ada yang tau. Bocah ini selalu nutup sebagai lukanya." Keduanya saling mengangguk. Benar-benar merasa kasian pada Putra. Walaupun hidup enak, belum tentu enak juga menjalankannya.


"Gua jadi kasian sama si bos," kata Fikran.


"Tapi lebih kasian lagi nasib gua," sambung Fikran, dengan menunduk dramatis. Devons bergidik geli melihat nasib Fikran. Begitu juga dengan Cameron. Fikran memang manusia yang begitu dramatis.


"Maaf... Maaf Vanya... Bukan salah gua, Van..." Putra bergumam. Sampai ketiganya saling beradu pandang. Siapa gadis yang di ucapkan oleh Putra.


"Vanya??." Keduanya serentak mengucapkan nama seseorang itu. Putra terus-menerus bergumam menyebutkan nama tersebut.


Bagi ketiganya nama itu tidak asing juga bagi mereka. "Kalian tau siapa cewek itu?," tanya Fikran. Keduanya memang saling mengingat tapi lupa.


"Gue lupa asli. Tapi nama itu emang ga asing."


"Bener, coba cek hp si Putra. Ini bocah agak misterius juga, tapi hp aja dia kaga di konci."


"Lah iya anjir kaga di konci. Coba liat whatsapp nya. Kali aja ada kontak si Vanya-Vanya itu."


Cameron mencoba mencari kontak nama Vanya. Namun tidak ada apapun kontak di ponsel Putra hanya ketiga temannya yang dirinya simpan. Dan kedua orang tuanya.


"Anjir, anjir ga ada kontaknya itu cewek," ucap Cameron.


"Terus gimana? Coba cek instagram dia. Kali aja dia follow itu cewek."

__ADS_1


"Coba iya coba cari."


Cameron mencoba membuka aplikasi instagram. Dan terdapat dua akun. Yang satu asli punya Putra. Dan akun kedua adalah akun second yang dimana, ketiga temannya pun tidak pernah tahu sama sekali.


Cameron mencari username Vanya di akun pertama namun tidak ada. Dan Cameron mencoba beralih ke akun second milih Putra. Dan benar saja ketemu. Cameron mencoba menghubungi akun tersebut. Dan mencoba mengirim pesan.


Setelah sudah mengirim pesan. Cameron bergegas untuk pergi. Dan menjemput dimana lokasi Vanya berada. Sebelum pergi Cameron berpamitan terlebih dahulu. Fikran dan Devons berjaga untuk Putra. Putra masih bergumam, meminta maaf.


Cameron juga meminta untuk merahasiakan ini semua ketika Vanya datang. Sampai dimana waktu yang tepat untuk Putra mengingat semuanya. Dan waktu yang tepat untuk Putra menjelaskan.


Cameron sampai di tempat tujuan. Dimana di sisi jalan dekat pemakaman. Cameron sedikit menaikkan satu alisnya bingung. Bagaimana bisa Vanya berada di kuburan.


"Lo bukannya anak ips sebelahkan?," tanya Cameron. Vanya mengangguk. "Lo kenal Putra dari mana?,"


"Kebetulan kita kenalan di taman sekolah. Kenapa?."


"Engga, aneh aja Putra ngeFollow akun lo," ucap Cameron ketus. "Kok bisa dia follow lo ya. Mana pake akun second."


"Hah? Kamu bilang apa tadi?," tanya Vanya.


"Engga, ayo ikut gue."


"Putra sakit apa? Kenapa harus aku?. Sedangkan aku dan Putra ga ada hubungan apapun."


"Udah diem, jangan banyak cingcong. Putra ngigau nama lo terus."


"Loh kenapa bisa?. Tadi siangan kita ketemu di makam, aku liat dia baik-baik aja."


"Hah? Lo ngomong apa? Jalanan lagi berisik. Nanti aja bahasnya."


"Iya, iya."


Hari ini jalanan begitu ramai. Dan macet, dan Cameron memilih untuk mencari jalan pintas. Untuk cepat-cepat sampai di rumahnya. Vanya sekarang merasakan dilanda kebingungan. Entah, ada apa yang terjadi. Tapi Vanya berharap, jika terjadi hal buruk pada lelaki itu.


Sekitar 10 menitan, keduanya sampai di rumah. Vanya begitu terkejut jika rumah Putra besar. Walaupun rumahnya juga besar. Namun sama saja tidak sebesar rumah Putra.


"Rumah Putra besar juga ya."


"Ini rumah gue. Rumah Putra jauh lebih besar."


"Loh kok bisa dia ada di sini?."


"Lo banyak tanya, hadeh," ucap Cameron pasrah. Kesabaran Cameron memang setipis tisu. Cameron merasa muak dengan gadis di sampingnya. Kalau bukan karena Putra, ogah sekali membawa gadis ini.


Sampainya di kamar Cameron, bunda Cameron menyiapkan cemilan. Vanya mendengar Putra terus mengigau. Menyebut namanya. Vanya terasa begitu mengingatkan pada Malbian. Ketika Malbian sakit, Malbian selalu mengigau. Entah, bagaimana bisa keduanya saling mirip.


Vanya duduk di sebelah Putra. Vanya mencoba untuk mengusap lembut tangan Putra. Semuanya saling keluar, meninggalkan Vanya dan Putra. Walaupun ada kecanggungan jika Vanya berduaan di kamar dengan Putra.


"Putra kamu kenapa bisa gini? Kamu sakit apa?," tanya Vanya. Yang dimana Putra terus mengigau, menyebutkan namanya. "Putra panas, Putra sakit apa?."


Putra pun tersadar, dirinya membuka pelan matanya. Putra tersentak kaget, ketika Vanya berada di sampingnya. "Lo, lo ngapain di sini!."


"Temen kamu aja aku ke sini. Karena kamu ngigau dan nyebut nama aku terus. Kamu kenapa?."


"Gua gapapa. Lo ga usah khawatir. Tolong panggil temen gua." sentak Putra. Vanya mengangguk, menurut apa yang Putra suruh. Vanya beranjak berdiri dari duduknya. Untuk keluar memanggil Cameron.


"Cameron, kamu di panggil."


"Oh okey, thanks ya Van."


Vanya pun keluar, tanpa memilih untuk masuk kembali ke kamar. "Kenapa ya Putra tiba-tiba berubah gitu?," batin Vanya.


Cameron dan Putra saling mengobrol di dalam. "Lo ngapain ajak dia ke sini? Gila lo Cam!!."


"Lagian lo juga kenapa ngigau nyebut nama dia. Lo pikir gue sama yang lain ga kaget!!."


"Okeh untuk itu semua, thanks Cam. Tapi bisa kan ga usah panggil dia. Lo mikir dong, kalo dia mikir gua suka sama dia gimana?," tanya Putra.


"Tenang aja, cewek kaya dia ga mungkin mikir kaya gitu."


"Ajak bawa dia pulang. Bilang gua minta maaf karena tadi bentak dia. Terus ambil jas gua suruh pake, ini udah malem."


"Hadeh iya iya, lagian itu anak pake dres segala. Mana kotor juga dresnya di tambah gua ****** dia di pinggir kuburan."


"Udahlah sana lo, ngomong mulu. Keburu dia di marahin bapaknya!!," ketus Putra. Dengan amat terpaksa Cameron menurut. Tidak ada yang berani membantah. Lagi pun, memang salahnya sudah mengajak Vanya ke sini.


Cameron membuka pintu kamarnya, dan lalu menutup kembali. "Ayo Van gue anter pulang," ajak Cameron.


"Terus Putra gimana? Aku khawatir."

__ADS_1


"Putra udah baikan berkat lo. Tadi dia suruh anter lo pulang."


"Oh gitu ya, aku masuk dulu ya. Mau bilang sesuatu." Cameron mengangguk. Dan menunggu di luar untuk menunggu. Setelah selesai berbicara, Cameron mengantar pulang Vanya.


__ADS_2