Blessures Éternelles

Blessures Éternelles
Kembali ke toko kue


__ADS_3

Dikarenakan besok adalah hari libur. Jadi kemungkinan malam ini ia mengerjakan tugas sekolah. Yang ia ingat memang ada beberapa tugas dari sekolah. Jadi dirinya mengambil buku pelajaran yang ada tugas sekolah. Vanya sedikit kesusahan namun dengan tidak putus asa, akhirnya ia menemukan jawabannya.


"Pyuhh, akhirnya ketemu juga jawabannya." Hidup di rumah yang cuma di isi papahnya dan ART membuatnya merasa kesepian. Walaupun kadang bi Wini menginap kadang izin pulang ke rumahnya.


Apa lagi Tama yang sering kali lembur kerja. Pastinya sering kali di rumah sendiri. Terkadang hidup dengan seorang ayah pun ia bagaikan hidup sendiri. Tidak ada candaan apapun di rumah. Ia juga sangat merindukan sosok ibu yang sudah meninggalkannya.


Sebanyak apapun kesalahan ibunya, tak menjamin bahwa ia tidak merindukan sosok ibu yang telah melahirkannya. Walaupun sekuat tenaga ia ingin bertemu. Zella akan terus menerus tidak membiarkan dirinya bertemu. Dibalik fakta yang ia tau tentang ibunya, bahwa sang ibu telah menikah pun tidak akan membuatnya benci pada zella.


Justru kenapa harus dia yang menjadi korban dibalik rumah tangga yang hancur berantakan. Terakhir keluarganya membaik di usianya yang beranjak 7 tahun. Ditinggalkan sosok lelaki yang juga menyayanginya pun membuat ia harus bagaimana lagi untuk kuat menjalani kehidupannya. Vanya juga ingin sedikit merasakan kehangatan didalam keluarga, mungkin takdir sudah berkata lain. Mau segimanapun, ia tidak boleh menyerah.

__ADS_1


"Akhirnya selesai jugaa." Ia melihat jam dinding. Waktu sudah mulai malam, dirinya memilih tidur. Karena pasti Papahnya pun besok sudah berangkat bekerja. Jadi ia putuskan besok akan pergi ke toko. Dari pada dirinya di rumah, yang ada bosan.


Sebelum tidur, vanya memilih untuk ke kamar mandi terlebih dahulu. Itu rutinitas yang ia lakukan saat akan memulai tidur. Langkah awal yang wajib ia harus menggosok giginya, dan mencuci muka. Perkiraan hanya dilakukan beberapa menit saja. Setelah sampai di kamar mandi, ia menggosok gigi terlebih dahulu. Memang di anjurkan sikat gigi terlebih dahulu. Karena jika mencuci muka lalu setelah itu gosok gigi yang ada akan timbul jerawat.


Selesainya di kamar mandi, vanya kembali ke kamarnya. Ia berjalan ke arah meja skincare, sebelum itu juga ia harus memakai beberapa skincare malam untuk menghasilkan kulit wajah yang sehat. Setelah semua selesai, ia bangun dari duduknya dan kembali untuk tidur. Lampu kamar ia matikan hanya lampu tidur saja yang ia nyalakan. Ia memang sudah terbiasa dengan rutinas malamnya. Jadi terlihat sedikit lama ya.


Keesokan paginya, vanya sudah bangun. Ia mengecek jam di ponselnya. Masih cukup pagi ia bangun. Ditempat tidur ia masih menggeliat, karena memang susah sekali untuk bangun. Yang dilakukannya upaya untuk memporsir punggungnya. Setelah 3 menit ia masih merebahkan tubuhnya, ia bangun dan mencoba keluar kamar. Apakah sang ayah sudah berangkat kerja. Tapi sepertinya sudah.


Vanya tersenyum lembut. "Pagi juga bi, eh nanti aja deh bi, aku masih mau rebahan." Bi wini mengangguk, sebelum ia berbalik badan dan melanjutkan cuciannya. Vanya pun kembali merebahkan tubuhnya, badannya terasa sedikit sakit. Mungkin karena posisi tidur yang salah.

__ADS_1


Pekerjaan rumah memang dilakukan bi wini. Kadang baju seragamnya pun bi wini cuci kan. Namun, papahnya kadang melarang untuk harus dirinya lakukan sendiri. Tetap saja bi wini melakukan diam diam agar tidak ketahuan papahnya. Lagi pun majikannya ini jarang sekali di rumah. Jadi tidak tahu apa yang di lakukan bi wini. Majikannya pun acuh tak acuh. Karena yang dilihat hanya bi wini harus  selesaikan pekerjaan rumah.


Sudah hampir 15 menitan ia kembali merebahkan tubuhnya. Jadi ia kembali bangun bersiap untuk mandi. Ia mengambil handuk dan berjalan ke arah pintu kamar lalu membukanya. Ia berjalan berbelok ke arah kamar mandi, kamar mandi sedikit berdekatan dengan dapur. Ia mengecek bahwa ia tidak melihat keberadaan bi wini. Yang ia lihat sudah ada sarapan untuknya, yang di sediakan oleh bi wini. Ia pun lanjut ke dalam kamar mandi. Tak harus banyak waktu ia di kamar mandi.


"Hshshshs, dingin bangett...," ucapnya dengan badan yang menggigil. Ia berjalan ke arah kamarnya. Dengan tubuh yang masih di balut handuk. Lalu, kemudian ia melangkah kecil ke lemari pakaiannya. Mengambil setelan baju. Setelah sudah memakai baju, ia kembali keluar dari kamar.


Berjalan ke arah dapur untuk bersarapan. Mengambil sarapan lalu duduk di meja makan. Sehabis makan ia mencuci piring bekasnya. Kembali untuk mengambil tas dan juga ponselnya. Ia beralih keluar untuk ke tempat toko kue. Sedikit membantu firna menjaga toko. Ia kesana menggunakan sepeda sekalipun kadang tidak pernah ia pakai ke sekolah. Hanya di pakai ketika pergi ke toko saja.


Dengan angin lembut yang menerpa kulit wajahnya. Terasa membuat menyejukkan hatinya. Ia memejamkan matanya merasakan kesegaran cuaca di pagi hari. Ternyata ada yang melakukan lari pagi di jalanan. Biasanya ia lewat tidak menemukan orang-orang berolah raga. "Wah ramai juga ya... Ku pikir lewat sini ga akan ramai orang-orang." Ucapnya lirih.

__ADS_1


Ia terus mengayuh sepedanya. Sama saja lah ya, itung-itung ia juga ikut berolah raga. Waktu masih menunjukkan pukul 8 kurang 5 menit. Perkiraan sampai di toko kue mungkin bisa sampai jam 8 lewat 7 menit. Tidak terlalu jauh juga dari jarak rumahnya ke toko kue.


__ADS_2