Blessures Éternelles

Blessures Éternelles
Flashback


__ADS_3

Sudah tak terasa jika dirinya memasuki kelas 12. Berjuang sekuat tenaga, sampai di titik akhir pencapaiannya. Vanya bersyukur, jika dirinya sudah bertahan selama ini. Dimana, seharusnya ia rayakan bersama Malbian.


Seperti tahun sebelumnya, dimana Malbian selalu merayakan walaupun hanya sebuah kejutan kecil. Namun, bagi Vanya itu adalah kejutan yang berharga. Malbian memang sosok lelaki yang pengertian.


Siapa sangka, jika para gadis selalu mengincarnya di sekolah. Jika di ingat Vanya terpekik ketika Bian mampu membuatnya tertawa dengan tingkah abstrud Bian.


"Sayang.. Lihat ini," ujar Bian. Dirinya memakai sebuah bola merah di hidungnya. Seperti badut. Vanya tertawa kecil. Benar-benar lucu.


"Selamat ya sayang, akhirnya kita bisa naik kelas."


"Hahaha, kamu ada-ada saja. Selamat juga untukmu, Bian. Terus berjuang sampai impian kita tercapai ya!!."


Malbian mengangguk, lalu mengecup singkat di dahi Vanya. "Terima kasih sudah bertahan, Afreen. Aku mencintaimu."


"I love u more, Mahesa Malbian." Malbian tersenyum lebar. Lalu merenggangkan tangannya, untuk gadis itu memeluknya. Keduanya saling berpelukan erat.


"Besok hari libur, gimana kalo kita liburan ke pantai."


"Wah, Bian. Itu ide yang bagus. Aku juga ingin melihat sunset."


"Ya sudah besok aku jemput ya. Bersiap dengan cantik. Akan aku potret kamu bersama sunset yang indah itu."


Vanya terkekeh. "Terima kasih, Bian."


"Sama-sama cantikku, sayangku, cintaku." Bian mengusap lembut puncak kepala gadis itu. Vanya bersandar pada dada bidang Bian. Merasakan detak jantung, Bian. Rasanya ingin setiap saat bersandar pada dada lebar Bian.


"Bian, berjanji untuk tidak menjadi sunset ya?," Vanya mendongkak, ketika Bian sedang mengusap bahunya. Bian lalu menatap balik, Vanya.


"Afreen, aku tidak bisa berjanji. Tapi aku siap untuk ada setiap saat. Sama seperti sunset, dia bisa muncul di waktu yang di tentukan. Tetapi sunset tidak pernah ingkar janji, untuk tidak muncul kembali."


"Bian, aku belum siap jika kamu ninggalin aku." Vanya terus memeluk erat lelaki itu. Tidak, ia benar-benar sangat takut kehilangan Malbian.

__ADS_1


Bian tersenyum. "Hey, cantik ku. Dengar sini, banyak sekali orang-orang tidak akan siap jika mereka di tinggal oleh seseorang yang begitu berarti di hidup mereka. Tetapi percayalah, dimana seseorang itu akan pergi meninggalkan atau memang pergi untuk mendekap pada pangkuan Tuhan. Pastinya, mereka akan mencoba terus ikhlas, jika seseorang itu memang sudah ditakdirkan untuk pergi."


"Percaya pada, Tuhan. Kamu akan kuat, dan terus hidup tanpa aku. Ada Tuhan yang terus ada di sampingmu, Afreen. Jangan takut, untuk setiap hari-hari yang buruk, menimpa pada mu." Bian mencoba menjelaskan, dan memenangkan gadisnya. Bian paham, sangat paham. Jika gadis itu tidak merelakan jika dirinya pergi.


Namun, apa daya jika Tuhan sudah berkehendak. Di sisi lain, Bian juga tidak rela di antara keduanya akan pergi lebih dahulu. Dan dengan tekad Bian, dirinya selalu berusaha mencarikan seseorang untuk menjadi penggantinya nanti. Dimana, jika Afreen merindukan atau membutuhkan seseorang dalam hidupnya.


Malbian yang dengan notabene sudah tahu bagaimana kehidupan seorang Afreen. Karena Malbian lah yang selalu ada di samping, Afreen. Malbian memang sosok lelaki yang dimana semua love langguage saja dirinya borong.


Setelah Malbian menjelaskan pada Vanya. Justru dirinya menangis, karena sudah membayangkan jika di tinggal seorang Malbian. Hidupnya akan lebih pudar, dan tidak ada warna yang tersisa. Malbian mencoba untuk menenangkan, Afreen. Namun, tangis gadis itu pecah. Malbian terkekeh gemas. Pada gadis yang sedang menangisinya.


Malbian tersenyum, jika ada seseorang yang akan takut kehilangannya. "Sudah, sudah Afreen. Aku ga ninggalin kamu, cup, cup, sudah ya cantik ku."


Lelaki itu terus mencoba merayu, dan menenangkan. Tetapi, tetap saja gadis itu tidak henti, henti menangis. Bian tertawa kecil, dirinya gemas sendiri. "Cantik, dengerin aku. Aku di sini, dan tetap di sini," ujar Malbian. Suara Malbian begitu lembut, sampai pada akhirnya Vanya berhenti menangis.


"Sudah menangisnya?."


Vanya mengangguk, walaupun isak tangisnya masih terdengar jelas. "S-sudah." Malbian menganguk. Mencoba mengusap lembut, untuk meredakan segukan Vanya.


Vanya masih mencoba untuk menghentikan segukannya. "Mauu," jawab Vanya. Tidak terlalu susah untuk mencoba menghentikan tangis Vanya. Malbian memang sudah jago. Justru Vanya lah yang akan kebingungan, mencari sosok semirip Malbian.


"Sebentar ya, aku ambil kamu minum dulu."


Vanya mengangguk, dan menyadar pada sofa. Vanya mencoba memejamkan matanya, lalu menghirup udara. Menunggu Malbian mengambil minum, Vanya memainkan ponselnya sebentar. Karena dirinya jarang sekali bermain handphone jika sudah bersama Bian.


Vanya memilih untuk menonton drama korea. Dan dapat bonus menonton bareng bersama Malbian. Keduanya memang sering sekali nonton bareng. Ketika ada film terbaru di bioskop, pasti Malbian selalu mengajaknya. Entahlah, dimana Malbian dapat uang tersebut.


Vanya tertawa kecil mengingat momen bersama Malbian. "Malbian, andai bisa di putar kembali." Senyum manis itu perlahan memudar. Merindukan sosok Malbian berada di sampingnya.


Vanya memegang dadanya. Dirinya sangat rindu degupan jantung, Malbian. Vanya mencoba memutar kembali momen dulu. Gadis itu memejamkan matanya, berusaha mendengar kembali detak jantung milik kekasihnya. Terdengar jelas, sangat jelas.


"Malbian, degup jantungmu begitu terdengar sangat jelas Bian." Vanya bergumam dengan setia memejamkan mata.

__ADS_1


"Malbian, apakah kamu ada di sampingku sekarang?. Jika benar, tolong jangan pergi dulu, aku masih ingin mendengar suara detak jantung mu."


Vanya terus setia memejamkan mata. Begitu terdengar sangat jelas. Suara itu membuatnya kembali rindu pada sosok kekasihnya. Vanya benar-benar sedang merasakan sosok yang sekarang dirinya rindu.


Tak lama dirinya membuka mata. Tak sadar jika matanya sudah meneteskan air mata. Mata gadis itu terlihat memerah. Vanya membungkam mulutnya. Rasa sesak di dada terasa mengilukan baginya.


"Malbian," seru gadis itu.


"Vanya...," sahut seseorang memanggilnya. Vanya menoleh ketika terdengar seseorang memanggilnya. Suara seseorang itu begitu merdu dan lembut.


"Lo kenapa?." Vanya menggeleng.


"Aku gapapa, kok."


"Yakin?, gua boleh duduk sini ga?."


"Silahkan, Put."


"Kalo ada apa-apa cerita ya. Gua siap dengerin keluh kesah lo."


"Thanks, Putra. Tapi untuk itu aku ga bisa."


Putra tersenyum. "Iya santai aja. Kapan pun itu gua tunggu kok." Vanya mengangguk. Terasa begitu gugup. Bahkan jantungnya berdegup tak karuan.


"Kamu kok bisa di sini."


"Oh aku.. Eh gua lagi berkunjung aja ke sini."


Vanya terkekeh kecil ketika Putra menggunakan aku-kamu. "Haha, kamu bicara seperti biasa aja. Kalo masih kagok pake itu." Putra menggaruk tenguknya yang tidak terasa gatal.


"Haha iya iya, Van." Vanya pun mengacungkan jempolnya. Dan tertawa kecil, Putra hanya tersenyum ketika gadis itu tertawa kecil.

__ADS_1


__ADS_2