Blessures Éternelles

Blessures Éternelles
Hari hari seperti biasa


__ADS_3

Setelah tiga hari di rumah sakit. Putra kembali ke rumahnya. Dirinya di bantu oleh supir pribadi. Terkadang ia, sedikit menertawakan hidupnya. Nyaris seperti keluarga sempurna, namun tidak ada kebahagiaan. Terkadang hidup sederhana memang lebih baik. Tidak adanya kekangan hidup.


"Mari den, bapak bantu," ucap pak Manto.


Putra tidak merespon. Lalu terdiam sejenak. "Bapak pulang duluan aja, saya mau ke rumah temen dulu." Pak Manto yang sudah di beri amanat, tidak ingin melanggar perintah dari tuan besar.


"Maaf den, di suruh tuan harus pulang."


"Bapak tenang aja. Biar saya yang jelasin nanti sama ayah," ucap Putra. Dirinya memilih lari begitu saja. Tanpa berpamitan dengan pak Manto. Lebih baik dirinya menyegarkan pikirannya yang kalut.


"Gio, Gio, heran gue sama lo. Demen banget jadiin anaknya robot," sungutnya. Kali ini Putra memilih untuk ke taman dekat danau. Biasanya di jam sore gini pasti sejuk. Terus berjalan ke arah taman. Biasanya danau itu sudah menjadi tempatnya.


Pak Manto masih membisu. Bagaimana dirinya menjelaskan pada Gio. Bisa saja dirinya di pecat. Pak Manto yang sudah lama bekerja, sudah tau sikap dari seorang Gio Pradanu. Pak Manto hanya bisa berpasrah, dirinya juga merasa


kasian pada Putra, anak sematawayangnya dari Pradanu grup.


"Aden, aden. Bapak paham tapi jangan seperti ini den."


****


Sedari tadi Putra duduk di bangku pinggir danau. Cowok itu menatap kosong. Hampa sekali hidupnya. Sudah di jadikan alat oleh sang papah. Bundanya yang selalu fokus pada karir. Benar, membuatnya gila secara perlahan. Di paksa untuk menjadi anak unggul, dan tidak boleh turun.


Putra menghela napas panjang. Lalu menghembuskan. Terkadang begitu melelahkan. Hidup hanya menjadi anak satu-satunya. Di dalam rumah, hanya ada pembantu yang setiap saat kerja. Tidak ada kegembiraan di dalam rumah itu. Mungkin, tidak pantas untuk di sebut sebagai rumah.


"Anjing, gini banget idup," teriak Putra. Tidak peduli seseorang mendengarnya. Lagi pula, pasti jam segini tidak ada seorang pun di sana. Sudah di pastikan karena jam juga, sudah menunjukkan sore menjelang malam.


Udara di sana begitu sejuk. Dengan silir angin yang menerpa, kulit putih wajah Putra. Ia memejamkan matanya, sambil menghirup angin. Sudah cukup lama dirinya di sana. Putra memilih untuk beranjak pergi dari sana.


Jika terus berlama-lama, pasti supir papahnya. Tidak segan-segan untuk memarahi pak Manto. Baru ingin membalikkan wajahnya. Ia memincingkan matanya. Dari kejauhan ia menatap, wajah seseorang yang tidak asing baginya. Ia menatap dengan samar-samar. Karena jaraknya sedikit jauh.


Putra berlari ke arah seseorang itu. "WOY STOP BAJINGAN," teriaknya. Orang-orang yang berada di sana menatapnya.


Segerombolan cowok itu menatap, mengintimidasi. Benar saja, gadis yang dulu membantunya hampir saja di lecehkan. Segerombolan cowok itu menatap remeh pada Putra. Tentu saja, jika 1 orang melawan 5 orang, akan pasti Putra kalah. Wajah cowok itu memerah, menahan amarahnya.


Salah satu dari cowok itu berjalan ke arah Putra. Seperti layaknya sahabat. Putra yang melihat tingkah cowok itu hanya mendecih. "Mau jadi pahlawan ke maghriban lo?," tanya cowok itu, dengan nada meremehkan. Teman-teman cowok itu tertawa lepas. Seperti lelucon, Putra tidak merespon.


"Jangan jadi bajingan, lo di lahirin dari rahim seorang perempuan—," ucap Putra, menggantung kalimatnya.


"Gimana kalo saat ini,, ibu lo di posisi dia?," tanya Putra. Sambil menunjuk ke arah Vanya. Yang terlihat badannya bergetar. Bibir gadis itu menjadi pucat pasi. Menahan rasa takut yang amat dalam. Seperti seseorang yang takut, akan di pukul.


Cowok itu masa bodo, pada pertanyaan konyol dari Putra. Tak lama cowok yang bernama, Genus itu menyerang Putra tiba-tiba. Putra yang belum bersiap, terkena pukulan. Dirinya tersungkur ke rumput-rumput kecil di taman. Teman dari Genus tertawa, melihat dari kekalahan Putra. "Masa gitu aja udah jatuh" ucap Genus.


Putra bangun dari jatuhnya. Tatapan putra yang tadi sendu, menjadi tajam. Seperti seseorang yang akan menerkam mangsanya. Putra meludah ke samping. Dengan jurus yang ia pernah pelajari. Putra memukul Genus. Seperti cara yang Genus lakukan padanya.


Bugh! Bugh!


Putra memukul wajah Genus. Sampai Genus kewalahan dari serangan Putra. Genus akui jika Putra, lebih jago darinya. Teman Genus menyaksikan perkelahian itu. Melihat bosnya sudah babak belur. Semuanya langsung menyerang Putra. Kini Putra hanya seorang diri, mencoba melawan Genus berserta temannya. Namun, bagi Putra tidak masalah. Lebih baik dirinya kembali luka, dari pada gadis yang dirinya tolong.


Sekitar 5 menit berlangsungnya perkelahian. Justru geng Genus sudah habis bonyok, di pukuli oleh Putra. Genus yang sudah habis tenaga menyuruh gengnya untuk pergi dari tempat itu. Putra yang baru saja keluar dari rumah sakit. Ia lalu ambruk ke bawah. Vanya begitu panik, lagi, lagi dirinya melihat cowok itu pingsan lagi.

__ADS_1


"Aduh, tolong dong jangan pingsan. Aku bingung nolongnya," ucap Vanya, dengan ekspresi panik.


Putra kembali membuka matanya. Tenaganya sudah cukup habis, hanya melawan 5 orang. Sudah pasti, Gio akan memarahinya. Kali ini yang dirinya pikirkan bukan itu. "Lo gapapa kan?," tanya Putra.


"Aku gapapa."


Putra mengangguk. Lalu beranjak bangun, dan duduk. Kali ini hanya ada kesunyian, tidak tahu ingin mengobrol apa."Kalo boleh tau, kenapa kamu ke sini?—. Bukannya kamu masih di rumah sakit?," tanya Vanya.


"Gua suntuk, jadi kesini," jawab Putra. Vanya hanya mengangguk. Vanya memegang tangan Putra. Mencoba untuk membantu Putra untuk berdiri. Putra bingung, lalu paham yang di maksud gadis itu. Ia lalu berdiri, gadis itu memapahnya. Walaupun Putra harus membungkuk, lebih bawah lagi.


"Oh iya, makasih ya." Putra menatap lekat mata gadis itu. Sedikit terkekeh kecil. Gadis itu mengernyitkan dahinya heran.


"Sama-sama."


****


Putra sampai di depan rumahnya. Ragu untuk masuk ke dalam. Sudah pasti Gio akan marah besar padanya. Putra pun melangkah pelan menggunakan kaki jenjangnya. Kemudian, Putra membuka pintu besar rumahnya. Benar saja Gio sudah menunggunya di ruang tamu.


Gio duduk dengan menyilang kakinya. Dengan pakaian celana hitam, serta jas yang dirinya pakai. Gio menatap tajam anak tunggalnya itu. "Dari mana saja kamu?," tanya Gio, dengan nada dingin. Putra hanya menatap Gio, lalu melangkahkan kakinya ke hadapan Gio.


"Habis dari taman," jawab Putra santai.


Gio menatap mengintimidasi. "Kamu tau, kamu baru saja sembuh. Dan sudah berkeliaran saja," ucap Gio. Beranjak dari duduknya, dan menatap ke arah Putra.


"Udah ya yah, aku capek mau tidur." Putra melangkahkan kakinya menuju kamar. Gio masih diam, menatap ke arah anaknya. Walaupun Gio keras dalam mendidik anaknya. Namun, Gio masih mempunyai hati nurani. Setelah Putra masih ke dalam kamarnya. Gio kembali pergi dari rumah, karena pekerjaan yang nyaris menumpuk.


Kini pukul sudah jam 10 malam. Kepergian Gio yang entah kapan kembali ke rumah. Dan bagaimana, Dania yang terus menerus fokus pada pekerjaannya. Melupakan buah hati kecil yang dulu, Dania sangat menyayangi. Dan ketika, anak itu sudah remaja di lupakan begitu saja. Rasanya, hidup seperti ini Putra sudah pasrah. Putra hanya bisa mengingat kejadian tahun silam. Ketika Dania, Gio mengajaknya ke wahana di jakarta. Sungguh, Putra merindukan itu semua.


"Bunda, ayah kalian kapan pulang?."


****


Kring.. Kring..


Alarm berbunyi, namun gadis itu tetap saja tidak bangun dari tidurnya. Sesekali, Vanya menggeliat. Ia mencoba bangun dari kasurnya. Waktu sudah menunjukkan jam 5 kurang 35 menit, dengan sedikit tersandung akibat selimut. Ia mencoba bangun kembali.


"Awsss,," rintihnya.


Dengan mondar-mandir, ia mengambil handuk. Dan keluar dari kamar, ternyata keadaan di dalam rumah masih begitu sunyi, hampir setiap hari. Tama yang baru saja keluar dari kamar, bersiap untuk berangkat ke kantor bersama sang mamah. Tama menatap sekilas pada putrinya. Lalu melangkah cepat, terburu-buru.


Sedikit pun Tama tidak mengucapkan, selamat pagi padanya. Tak lama di susul oleh sang mamah. Zella hanya tersenyum tipis padanya. Lalu pergi begitu saja, tanpa berjalan ke arahnya. Namun, bagi Vanya itu sudah hal lumrah. Sudah beberapa tahun seperti itu, jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan.


Walaupun terasa sesak di rongga dadanya. Yang dirinya bisa, hanya tersenyum. Tidak apa-apa, mungkin tahun belakang ini dan sekarang Della sedang sibuk. Tidak masalah bagi Vanya. Mungkin, dan mungkin  bagi tubuhnya tidak masalah, tapi tidak dengan hatinya.


Kali ini Vanya memilih untuk pergi mandi. Karena sudah cukup hari libur. Walaupun sudah di beri tahu bahwa, harus membawa orang tua untuk mengambil Rapor tidak masalah mungkin lain kali. Sang mamah dan papahnya bisa mengambil Rapor.


Vanya bergegas ke kamar mandi.


Bi Wini sudah lebih dulu menyiapkan sarapan untuknya. Vanya hanya bisa melihat bi Wini yang sibuk mengerjakan pekerjaannya. Vanya pun masuk ke kamar mandi. Hanya beberapa menit mandi, ia pun keluar dari kamar mandi. Tubuhnya sedikit menggigil karena air yang dingin.

__ADS_1


Vanya memilih masuk untuk bersiap-siap. Baru sehabis ini dirinya bersarapan. Seperti biasa, setelah selesai bersiap. Ia pun bersarapan terlebih dahulu. Lalu membawa roti di kotak makannya. Di bantu bi Wini yang mengoles roti pakai selai rasa coklat. Bi Wini kembali menutup kotak makannya.


Setelah itu Vanya berjalan ke arah pintu keluar rumah. Grab yang dirinya pesan sudah sampai. Setiap harinya ia berangkat menggunakan Grab. Tidak ada lagi kendaraan di rumahnya. Hanya ada satu mobil yang di bawa Tama. Dan satu motor di dalam garasi. Itu pun ia tidak bisa menggunakannya. Karena Tama tidak pernah mengajarinya.


"Ayo pak berangkat," ucap Vanya.


Kemudian di dalam perjalanan ia fokus pada ponselnya. Karena seperti biasa, grup sudah penuh oleh percakapan temannya. Apa lagi setiap pembagian Raport pasti dirinya yang menjadi sasaran empuk untuk bergosip. Dari kelas 10, dirinya menjadi perbincangan karena selalu ia yang mengambil Raport  sendiri tanpa di dampingi mamah papahnya.


****


Sepuluh menit dalam perjalanan menuju sekolah. Akhirnya ia sampai di pintu gerbang. Dirinya membayar pakai uang cash. Semalam hari gajiannya, lumayan dalam sebulan cukup untuk uangnya sehari-hari membayar Grab.


Vanya ragu untuk masuk ke dalam sekolah. Apa lagi bertemu teman kelasnya. Vanya sudah mengabari Syabila untuk datang ke sekolahnya. Namun balasan dari Syabila cukup membuat hatinya remuk berkeping-keping.


"Andai nenek yang temenin aku," ucapnya getir.


Dari lamunannya, seseorang menklasonnya sudah sedikit lama. Dan Vanya tersadar, ketika pengemudi itu memencet klakson kembali. "Maaf, maaf ya."


Pengemudi motor itu menghiraukan Vanya. Dan dirinya langsung pergi masuk begitu saja. Vanya menghela napas "Hufft."


Lalu ia masuk ke dalam sekolah. Kakinya melangkah memasuki koridor sekolah. Yang sudah cukup banyak siswa-siswi yang sedang di teras sekolah. Kini, ia sampai di depan kelasnya. Kakinya berat untuk melangkah ke kelas.


Sebelum ia datang pasti sudah menggosipkan dirinya. Tak heran jika ia menjadi perbincangan teman kelasnya.


Vanya masuk, dan lalu menaruh tasnya di kursi. Ia memilih keluar, dari pada telinganya panas.


"Ya Allah, kapan ya mereka ga ngomongin aku lagi," gumamnya. Ia melangkah ke arah taman belakang sekolah. Ia berlari, sampainya di taman belakang ia duduk di sana. Cahaya matahari pun tertutup karena pohon besar di sana.


"Kapan mamah sama papah ga sibuk?. Aku butuh beberapa jam doang, buat kalian ambil Raport aku. Tapi kenapa kalian sesusah itu?," ucapnya bermonolog sendiri. Di pohon yang besar, dirinya bersandar pada batang pohon. Benar-benar sejuk, apa lagi ini masih pagi.


Tak lama Putra pun duduk di sebelahnya. Keduanya sama-sama tersentak kaget. Kali ini keduanya saling bertemu kembali. Entah, skenario apa yang Tuhan buat. Sampai sudah berapa kali dirinya bertemu. "Kamu ngapain di sini?," tanya Vanya.


"Lo yang ngapain di sini?."


"Ya aku sekolah di sini lah. Aneh banget kamu," sungutnya. Putra membulatkan matanya. Karena gadis di hadapannya seperti memiliki kepribadian ganda. Kadang lembut, dan kadang sedikit galak.


"Gue tau, tapi kok gue baru tau lo sekolah sini."


"Aku juga baru tau kalo kamu sekolah di sini," jawabnya.


"Lo anak kelas berapa?."


"Aku anak Ips 3." Putra mengangguk. Pantas saja tidak melihat gadis itu di sekolah. "Kamu Ipa juga?," tanya Vanya.


"Gue Ips unggul."


Vanya terkejut, lalu mengangguk. "Pantes aja." Lalu Vanya terkekeh dan menatap kosong ke depan. Sekilas dirinya menatap pada Putra.


"Lo ngapain di sini?," tanya Putra.

__ADS_1


__ADS_2