BOSS SOMBONG DAN KARYAWATI SABLENG

BOSS SOMBONG DAN KARYAWATI SABLENG
First Time


__ADS_3

Teriakan Viano menggelegar ke mana-mana. Dia menunjuk gadis di depannya, bertanya dengan kesal siapa dia.


"Saya, Pak?" tanya gadis itu sendiri.


"Iya, kamu!" ketus Viano.


"Saya-"


Belum selesai kalimat gadis itu, seseorang membuka pintu. "Ada apa ini, Pak?"


"Apanya yang ada apa! Kamu gak liat ini." Viano menunjukkan celananya yang ketumpahan kopi panas. Lebih tragis lagi, kopi itu tumpah di 'area terlarang'.


"Maafin saya, Pak." Si pelaku berusaha menjelaskan.


"Aduh ...." Ivan menepuk jidat. "Maafin dia, Pak. Dia OG baru.


Viano mendengus. "Pecat dia sekarang juga!"


Ivan melirik pada Nesta--OG yang baru saja menumpahkan kopi.


Nesta panik. Masa iya, baru kerja sehari sudah dipecat? Mana, ada rencana makan-makan awal bulan, mau jalan-jalan.


Nggak banget, deh!


"Pak, maafin saya." Nesta mengambil tisu coba untuk bersihkan noda yang ada di celana Viano.


"Mau ke mana tangan kamu!"


"Mau bersihin celana Bapak."


Astaga! Ivan geleng-geleng.


Viano mundur satu langkah. "Jangan coba-coba, ya! Kamu istri saya aja bukan, mau pegang-pegang."


Nesta mengernyit bingung. "Istri?"


Dia bodoh atau bagaimana? Mana mau, Viano membiarkan perempuan asing menyentuh dia sembarangan.


"Keluar kamu dari ruangan saya!"


"Hah?"


Ivan mengambil alih situasi. "Kamu keluar dulu, ya."


Nesta menurut. Dia permisi keluar pada para bos.


"Sial! Cewek itu dari mana, sih? tanya Viano.


"Itu, 'kan, karyawan kemarin kita rekrut, Pak," jelas Ivan.


"Terus kamu ambilnya asal-asalan?"


"Loh?" Ivan tidak terima tuduhan Viano. "'Kan, Bapak sendiri yang bilang pilih karyawan yang hasil tesnya terbaik. Dan itu yang terbaik, Pak."


"Terbaik dari mananya!" Viano menukas. "Kamu enggak lihat, dia numpahin kopi panas ke sini." Viano menunjuk celananya. "Gimana coba masa depan saya!"


Ivan hanya menghela napas.


Setelah emosinya sedikit reda, Viano duduk di office chair-nya.


"Pokoknya saya nggak mau tau, pecat itu karyawan hari ini juga!"


Ivan menarik napas dan mengembuskannya perlahan. "Kita udah keseringan pecat karyawan, Pak. Kalau kali ini kita pecat dia, itu namanya Bapak zalim. Dia masih karyawan baru, kita harus kasih kesempatan. Biasanya kalau di tv-tv, Bos zalim kena azab."


Viano meradang. "Kamu yang saya pecat!"

__ADS_1


Ivan jadi sakit kepala. "Tapi, Pak, di luar itu, dia kemarin udah tanda tangan kontrak dengan kita. Dia minimal kerja 1 tahun dengan kita. Kalau dia berhenti di tengah jalan, kita kenakan denda 3 bulan gaji. Sedangkan kalau kita memecat dia kurang dari 1 tahun tanpa alasan fatal, kita akan kenal penalti seratus juta."


Viano tersentak. "Gila! Seratus juta? Orang bego mana yang buat aturan itu?"


"Bapak sendiri yang buat."


Damn! Viano merasa begitu bodoh buat aturan semacam itu. Semuanya karena dia kesal dengan diri sendiri, karena tak bisa menahan diri untuk tidak memecat karyawan yang menjengkelkan.


"Jadi gimana?" Ivan penasaran dengan keputusan Viano.


Pria tiga puluh tahun itu menyandarkan tubuh di kursi.


"Gimana apanya? Sana kerja lagi."


Viano dengar dengusan Ivan. Persetan soal itu, dia boss di sini.


Nesta pergi ke pantry untuk membereskan sisa-sisa pekerjaannya. Tangannya sedikit gemetaran. Bagaimana ya kalau dia benar-benar dipecat?


Baru juga memikirkan akhir bulan bisa gajian, akhir tahun bisa jalan-jalan ke Bali malah sudah dipecat. Kalau begini sih, akhir tahun bukan jalan-jalan ke Bali, tetapi ke BIKINI BOTTOM.


Lusi tiba-tiba datang mencengkram tangan Nesta.


Nesta mengaduh kesakitan.


"Tadi kamu ngapain aja di ruangan Pak Viano?"


"Bikin Vlog," jawabnya santai. Lagipula, pertanyaan Lusi terlalu aneh. Nesta di ruangan Viano? Ya sudah pasto membawakan kopi.


"Jangan main-main kamu, ya!"


"Ibu aneh, udah tau saya lagi kerja masih ditanya apa."


"Ada ribut-ribut apa tadi?"


"Tadi saya numpahin kopi ke celananya Pak Viano."


"Ya, Habisnya waktu saya mau tanya Pak Viano kopinya mau ditaruh di mana dia diem aja."


"Terus?"


"Karena dia diem aja pas saya panggil, saya tepuk pundaknya. Dia malah kaget. Tumpah semua, deh, kopinya."


"Kamu berani banget pegang Viano!"


"Bukan pegang, Bu, tapi cuma tepuk. Di sini ...." Nesta menujukkan pundaknya. "Itu pun cuma pakai kuku, pelan lagi," tambahnya.


"Ih!" Lusi mulai kesal. "Kamu banyak omong, ya."


"Nanti kalau saya diam aja, Ibu bingung."


"Ya, Tuhan ...." Lusi semakin kesal. "Awas sana!" Dia menggeser tubuh Nesta.


Bergeser, Nesta kembali melanjutkan pekerjaannya. Lusi kembali ke ruangan.


"Aneh dia yang tanya, dia yang marah-marah. Dasar sekretaris carper. Sok cantik." Nesta mengomeli gelas kotor.


Nesta harus sabar. Namanya orang kerja begini. Penting untuk diingat, tidak punya uang lebih horor, daripada dimarahi Bos!


•°•


Ivan masih ada di ruangan Viano. Mendengarkan ocehan atasannya tersebut. Nasib dia memang sial hari ini. Dia diam, Viano mengusir. Dia mau pergi, Viano juga marah-marah lagi.


Apes!


"Kamu, kok bisa salah pilih karyawan begini, Van? Biasanya kamu enggak pernah salah rekrut karyawan."

__ADS_1


Ivan hanya diam.


"Coba bayangin, baru satu hari kerja udah begini. Kamu tumben nggak becus pilih karyawan."


Kali ini, Ivan menjawab. "Lho, bukannya Bapak sendiri yang minta supaya saya pilih karyawan sesuai dengan keinginan Bapak?"


"Keinginan saya gimana?" sergah Viano.


"Bapak bukannya bilang, pilih karyawan yang kuat, rajin, bisa kerja, gak baperan, tahan banting kalau Bapak lagi marah, nggak mudah tersinggung."


Viano memijit kepala saat dengar penjelasan Ivan.


"Waktu saya tes, Nesta itu, yang jawabannya paling mendekati kriteria Bapak. Karena, dia bilang dia udah biasa dengan situasi begini." Ivan mengetuk meja kerja Viano supaya diperhatikan. "Dia tinggal sama ibu tirinya yang cerewet."


"Jadi maksud kamu, saya sama cerwetnya dengan ibu tiri dia?"


Ivan mengerucutkan bibir. Pikir aja sendiri!


Viano coba mengingat. "Emang saya minta begitu?"


"Saya bisa tunjukin rekamannya ke Bapak." Ivan hendak mengambil ponselnya. Ivan memang selalu siap sedia, karena Viano itu labil. Dia memang punya strategi bagus untuk urusan project bisnis. Namun, soal emosi dia nol besar.


Sering disalahkan, Ivan akhirnya mengatur strategi. Setiap kali Viano memerintahkannya, dia akam rekam di ponsel. Sebagai cadangan, kalau boss-nya itu 'kumat'.


Viano buru-buru mencegah. "Nggak usah. Yang penting mulai hari ini, saya nggak mau lihat dia lagi."


"Tapi kita nggak bisa main pecat gitu aja, Pak, karyawan juga punya hak asasi."


"Terserah kamu. Pokoknya saya nggak mau lagi lihat dia."


"Oke, Pak, kita bisa atur supaya Bapak nggak lihat dia lagi."


"Saya nggak percaya kamu lagi. Saya buatin aturan sendiri, nanti kirim ke email kamu."


Ivan menunggu, kalau-kalau Viano masih ada perlu.


"Kok, kamu masih diem. Lanjut kerja, Van!"


Mendesah, Ivan permisi. Awas, kalau Viano masih mau 'ceramah' lagi! Bisa-bisa, nanti dia yang mengajukam resign.


"Misi, Pak!" Ivan taham emosi.


"Humh!" Viano mana peduli.


Kembali ke ruangan, Ivan duduk di kursi. Mengatur napas sebentar, dia menelepon Nesta, meminta gadis itu masuk. Nesta datang tak lama setelahnya.


"Masuk!" Ivan mempersilakan, ketika ada yang mengetuk pintu. Tebakannya, Nesta yang datang.


Nesta masuk. "Permisi, Pak." Dia duduk di depan Ivan, dalam hati menebak kalau dia pasti akan dipecat.


Ivan menatap Nesta. "Kamu tau, pagi ini kamu sudah keterlaluan," ujar Ivan.


Nesta hanya menunduk. "Maafin saya, Pak."


Ivan berdecak, lalu dia salin sebuah file dari ponselnya ke komputer. Nesta mendelik, ketika sesuatu tercetak dari mesin printer.


Ivan membacanya sekilas, kemudian dia lipat rapi kertas tersebut. "Ini untuk kamu." Ivan menyodorkan hasil print-nya.


Yah, beneran dipecat, deh.


"Baca itu baik-baik, dan jangan sampai ada kesalahan."


"Baik, Pak."


"Kamu boleh kembali kerja."

__ADS_1


Nesta keluar dari ruangan Ivan. Sebelum mulai kerja, dia baca kertas yang tadi diserahkan Ivan. Matanya terbelalak. Bukan surat pemecatan. Namun, ini LEBIH BAHAYA.


Viano gila!


__ADS_2