
High heels akhirnya diganti dengan wedges. Kata Viano, sih, biar lebih aman. Lagi pula, lihat Nesta jalan patah-patah, malah bikin rusak penampilan.
Selesai urusan di butik, Viano mau langsung pergi ke rumah orang tuanya. Nesta dipesenin taksi buat perjalanan ke rumah Viano, sekalian jemput Raja.
"Kok, saya nggak diantar aja dulu, Pak?" Detik-detik taksi Nesta mau datang dia sempat-sempatnya tanya.
Viano yang berdiri di sampaingnya cuma melirik sekilas. Masih untung dia mau baik untuk menemani Nesta, sampai taksi datang.
"'Kan, lumayan hemat biaya, Pak." Walau tidak dianggap, terus saja bicara.
"Memang rumah keluarga Bapak sama rumah pribadi nggak searah, ya?" Masih saja ajak ngobrol. "Saya bau ketek, ya, Pak?" Nesta mulai curiga, sama dirinya sendiri.
"Atau jangan-jangan bau jigong?" Biasanya, 'kan, begitu. Orang dihindari karena bau mulut.
Viano merogoh kantung. Ambil permen karet yang tadi, buka bungkusnya, ambil isinya, terus sumpal ke mulut Nesta.
"Saya cuma tanya karena penasaran!" rutuk Nesta, tetapi mulutnya asyik mengunyah permen. Nasib kacung berwajah standar, ya begini. Coba kalau cantik imut lugu seperti yang di novel remaja bakal dapat kiss.
Dipikir-pikir lagi, Viano masih baik. Ketimbang dijejal sama batu bata.
"Itu kamu, sambil kunyah makanan aja, masih bisa ngomong. Saya nggak tau gimana keluarga kamu ngadepin kebawelan itu."
Memang tidak banyak yang tahan dengan Nesta. Paling cuma kakeknya, itupun karena sudah tidak bisa dengar.
Lihat jam tangan, Viano mendesah. Baru tiga menit, rasanya kuping sudah panas. Nesta bahkan lebih cerewet dari Raja yang masih anak-anak.
Sebentar, aura semacam apa ini? Viano mengernyit saat melihat Nesta diam. Jangan-jangan, ucapannya menyinggung Nesta.
Tunggu beberapa detik. Masih diam juga.
Jadi sedikit merasa bersalah.
"Kamu kenapa diem aja?" Sok cool tanyanya, biar tidak kentara kalau lagi khawatir. "Marah sama saya?"
Nesta geleng-geleng.
"Kenapa diem?"
"Permennya nyangkut di gigi, Pak. Aduh." Nesta sibuk mengarahkan lidah ke arah permen yang tersangkut.
"Buang aja, kenapa!" Heran ada perempuan secuek dan seaneh Nesta.
"Sayang, Pak. Masih manis."
Astaga! Viano sakit kepala dadakan.
"Terserah kamu, yang penting kamu diem."
"Beres!" jawabnya tanpa ragu.
Viano terus menghitung detik yang terbuang. Perempuan di sampingnya, terlalu menyebalkan.
Syukur, taksi pesanan sudah sampai di depan.
"Taksinya sudah dateng, kamu tinggal ke depan. Saya mau ke parkiran." Viano siap melangkah--menuju kebebasan dari cerocosan Nesta yang bikin kuping pengang.
__ADS_1
"Pak!" Viano memejam seraya mengepal tangan, ketika Nesta memanggilnya lagi. "Jangan main pergi aja, dong!"
"Kamu kenapa lagi, sih!"
"Ongkosnya gimana?"
Demi Tuhan! Viano mau teriak. Sebesar apa pun dia menahan, bahasa tubuhnya yang bulak-balik mengusap wajah sangat menunjukkan kalau dia kesal.
"Nesta saya sudah bayar cash tiga juta, ongkos masih kamu hitung juga?"
"Oh, tiga jutanya udah termasuk ongkos, Pak?"
"Saya, sudah bayarkan pakai e money!" Kelihatannya Viano sangat emosi, Nesta sampai menciut. Otomatis kabur.
Naik taksi, sebut alamat yang dituju, Nesta duduk manis dalam mobil.
Cuma tiga puluh menit, sudah sampai tujuan. Ternyata, rumah si bos strategis juga. Dekat ke mana-mana.
"Kak Nestaaaa!" Raja yang sudah menunggu di depan gerbang, menyambut gembira kedatangan Nesta.
Nesta yang baru turun dari mobil, terpesona pada pandangan pertama. Rumah Viano bagus. Bukan masalah mewah atau luasnya, melainkan desainnya yang unik. Di bagian depan ada beberapa area hanh disetting mirip area futsal dan lapangan basket mini.
Neste mendekati Raja.
Pelukan, gemas-gemasan sedikit. Serasa sepuluh tahun tidak bertemu. Mia cuma bisa diam memperhatikan dua mahluk alay--tepatnya satu, karena Raja masih anak-anak.
"Kak Nesta cantik. Dibeliin baju Papa, ya?"
Nesta tersenyum lebar. "Kamu, tau aja." Jadi malu dibuatnya.
"Oo-h." Nesta terbata. Jadi, Viano menganggap penampilan Nesta buruk untuk diajak le restoran mewah? Kok, Nesta agak sakit hati, ya?
"Kak Nesta?" Raja mengguncang tangan Nesta yang sedang melamun. "Kenapa diem aja?" tanyannya kembali saat Nesta menatapnya.
"Kalau boleh tau, Papa kamu makan siang apaan, sih? Kok, kamu nggak boleh satu meja?"
Mia mengambil alih percakapan ketika Raja terdiam.
"Pak Viano ada meeting penting dengan keluarganya. Takut Den Raja, bosen."
Nesta berpikir sebentar. "Ja!" Seenaknya Nesta menciptakan panggilan untuk anak bosnya. "Gimana kalau kita jalan-jalan aja?"
"Mau ke mana?"
"Kita main yang seru-seru aja, ketimbang makan doang!"
"Mau, Kak!" Raja pikir, lebih menarik tawaran Nesta.
"Den!" Mia menginterupsi, "kalau papanya tanya nanti gimana?"
Nesta menyipitkan mata. Kode, biar itu bocah jangan sampai terhasut.
"Raja nggak mau makan bareng oma!"
•°•
__ADS_1
Viano gelisah. Makan siang sudah berlangsung setengah jam lalu, tetapi Nesta sama Raja belum tampak batang hidungnya.
Renald--ayahnya Viano--sebetulnya sudah bertanya berkali-kali, perihal anaknya yang tidak bisa tenang. Namun, Viano berusaha mengabaikan. Masalahnya, ekspresi Garseta seolah mengingatkan bahwa dia tidak mau Viano membahas Raja.
Lagi pula ada juga yang membuat tidak nyaman dari tadi. Lusi. Perempuan itu memang ada di sana sebagai tamu sekaligus topik utama dalam perbincangan.
Jangan heran, soal keberadaan sang sekretaris. Dia bukan perempuan sembarangan. Walau bukan dari kalangan pengusaha, Lusi cukup berkapasitas untuk menjadi pendamping Viano.
Ibunya Lusi merupakan mantan model ternama yang juga sahabat Garseta. Jelas, dari penampilan Lusi tidak jauh-jauh dari ibunya. Belum lagi, dia berasal dari kampus yang sama dengan Viano. Singkatnya; Lusi jelas bibit, bebet, bobotnya. Bonus dia cantik.
Bagi Viano, Lusi lebih mirip mata-mata di kantornya ketimbang karyawan.
"Soal pertunangan kalian. Apa, sudah menentukan kapan tanggalnya?"
Lusi yang duduk di samping Garseta tersipu malu. Pipinya merona, kala membayangkan Viano akan menjadi miliknya.
"Siapa yang bertunangan?" tanya Viano, dingin.
"Jangan berulah, Vi!" Garseta mengingatkan.
Paling tidak suka kalau acara makan keluarga, ujungnya seperti ini.
"Saya menghargai, apa pun keputusan Viano." Lusi menahan rasa di hatinya yang ingin segera memiliki Viano.
"Benar begitu, Lus?" sambar Viano.
Lusi merasa, dia akan terjebak dengan ucapannya sendiri.
"Kalau begitu." Viano melepas serbetnya, siap beranjak karena tidak mau ada pembahasan pribadi di sini. "Kita nggak perlu bahas ini lagi. Karena jawabannya tetap sama."
Renald tidak banyak bicara. Perjodohan ini, memang Garseta yang menginginkan.
Viano membungkuk sedikit, sebagai rasa hormat.
"Maaf, Ma, Pa. Viano harus pergi."
Ketika Garseta bertanya cukup tegas dia mau ke mana, Viano hanya terus melangkah.
"Apa demi Raja?"
Viano membeku sejenak.
"Kalau demi Raja, berarti anak itu sama saja membawa sial seperti ibunya. Anak pembawa sial. Dia yang memisahkan ibu dan anak!"
"Ma!" Papanya Viano mengingatkan agar Garseta menahan emosi.
"Sampai kapanpun ...." Kali ini Garseta mulai parau bicaranya. "Putraki tidak akan bisa kembali lagi, itu berarti selamanya aku tidak akan menganggap dia bagian dari keluarga ini!"
Mengabaikan, Viano tetap pergi. Dia tahu, sikapnya tidak baik, terutama kalau sampai Raja lihat pemberontakkannya.
"Tinggalkan anak itu, Vi!" Di acara makan yang privat tersebut, Garseta meneriaki Viano.
Lebih berat pada Raja, Viano memilih pergi.
Maafin Viano, Ma.
__ADS_1