BOSS SOMBONG DAN KARYAWATI SABLENG

BOSS SOMBONG DAN KARYAWATI SABLENG
Senjata Makan Tuan


__ADS_3

Nesta kesal setengah mati. Bayangkan saja, kalau setiap kali dia buat masalah dipotong 20%--lima kali salah sudah habis gajinya


Makin parah dengan kontrak kerja yang menyatakan kalau dia tidak boleh mengundurkan diri sebelum masa kerjanya habis. Kalau tidak, denda tiga kali lipat gaji.


Ingin rasanya Nesta keluar dari kantor yang tidak manusiawi begini.


Diingat-ingat nanti jam 10.00 ada rapat pimpinan. Itu berarti Nesta ada kesempatan untuk membalas Viano.


Lihat saja, bosnya yang sombong minta ampun itu nanti akan merasakan akibatnya!


Masa bodoh kalau dipecat itu lebih baik, daripada menjadi budak di sini. Masih banyak tempat kerja yang mau menerima Nesta. Lagipula, dia bisa dapat pesangon besar.


Baru susun rencana, Nesta tanpa sadar menyeringai sendiri. Makin dibayangkan, makin seru. Viano bakal 'tewas' kali ini.


Lusi yang baru sampai kantor, terheran-heran melihat tingkahnya. Office Girl baru tersebut, tidak sadar kalau sedang cengar-cengir sendirian. Lusi pikir, Nesta kurang waras.


"Ngapain kamu ketawa sendiri?" tegur Lusi.


Nesta terlonjak kaget. "Ibu kebiasaan, deh, suka nongol tiba-tiba. Bikin saya kaget."


Curiga, nih, Nesta. Jangan-jangan, Lusi punya ilmu meringankan tubuh. Pasalnya, tiap kali dia datang, Nesta tidak sadar. Tahu-tahu sudah ada di depan muka.


"Saya juga males negur kamu!"


Nesta memberengut. Memang, serendah apa dia di mata Lusi?


"Yah terus, kenapa Ibu negur saya?"


"Karena saya liat kamu, cengar-cengir sendirian!"


"Yah, nggak apa dong, Bu. Saya koprol-koprol juga, itu hak saya."


Meski kesal setengah mati, semua yang dikatakan Nesta benar.


Detik selanjutnya, Lusi mengibas tangan di depan wajah Nesta memamerkan kukunya yang baru di cat warna merah terang. Kontras sekali dengannya, yang tampak kucal dengan kain pengelap kaca.


"Kayaknya kamu harus periksa ke psikiater, deh! Masalahnya udah beberapa kali kamu sering maracau sendirian." Lusi melenggang pergi setelahnya.


Waktu Lusi punggungi Nesta dan semakin menjauh, dia tirukan gaya sekertaris sok cantik itu. Lagipula, Nesta bingung, kenapa Lusi kelihatan benci dengannya?


Salah apa Nesta dengannya, sampai-sampai Lusi harus terus mengganggu.


♥♡♥


Jam 10.00 rapat dimulai. Nesta membuat kopi untuk rapat dibantu karyawan yang lain. Setelah kopi dan snack siap, mereka antar ke ruang rapat.


Sampai di sana. Nesta perhatikan, Viano duduk di posisi utama. Dia sibuk dengan pekerjaan. Matanya hanya fokus pada laptop sampai tidak sadar kalau ada orang yang paling dibencinya--Nesta.


Masuk pelan-pelan, Nesta kemudian meletakkan kopi di depan Viano.


Ada Lusi dan pimpinan lain. Saat Nesta, menaruh kopi milik Lusi, Viano mendongak.


CEO Taruna Corp, mengamati sekitar, para pimpinan lain sudah meminum kopi mereka.


"Lusi, kopi kamu sudah diminum belum?" tanyanya.

__ADS_1


"Belum, Pak."


Viano merasa lega. "Kalau gitu, tukar kopi kamu dengan punya saya!"


Lusi tercengang. "Apa? Ditukar, Pak?"


"Kenapa? Kamu nggak mau tukeran dengan saya?"


"Bukan begitu, Pak." Lusi mengggeleng. "Tapi, kenapa Bapak minta tukar?"


"Karena saya mau minum yang itu."


Karyawan lain memperhatikan mereka saat bicara. Lusi mengalah, dia tukar kopi yang baru ditaruh Nesta ke kopi milik Viano.


Mata Nesta membulat sempurna saat tahu Lusi mau tukaran kopi. Bisa gawat!


Dia menggigit bibir. Kalau sampai Lusi minum kopi Viano, bahaya.


Mending Viano, Nesta bisa dipecat. Lain dengan Lusi, dia bisa kena omel sepanjang tahun. Terus, Viano bakal potong lagi gajinya.


Apes bertubi-tubi, jadinya.


"Anu, Bu Lusi kopinya biar saya buatin yang baru. Nggak enak tadi kayaknya udah dipegang-pegang sama Pak Viano."


Lusi menolak. "Nggak apa-apa, biar saya minum kopi yang ini." Dia menunjuk cangkir kopi Viano.


Nesta hampir kehabisan cara. Sementara, Lusi merasa ini kesempatan bagus. Sekarang Viano mau tukaran kopi dengannya, siapa tahu setelah ini mereka bisa lebih menjalin hubungan yang lebih dekat.


Sadar Nesta berusaha mengambil cangkir kopi dari hadapan Lusi, Viano semakin curiga.


"Kamu kenapa sibuk, kalau saya mau tukar kopinya?"


Karyawan lain tertawa.


"Diam!" bentak Fiano. Sekarang dia menatap lurus pada si OG paling kurang ajar sekantor. "Kamu jawab aja yang jujur. Pasti minumannya udah kamu racun, 'kan?"


Nesta pura-pura terkejut. Acting layaknya korban penzaliman ala sinetron. Coba kalau pakai soundtrack, makin apik.


"Jangan pura-pura!" Viano bisa menebak, membuat Nesta makin kesal. "Kalau itu nggak diracun, kamu ngapain menghalangi saya tukar dengan Lusi?"


Selama Nesta belum mampu membuktikan, bosnya itu pasti akan tetap menuduh.


"Bapak jangan tuduh sembarangan. Ingat, Pak, fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan."


Viano tersenyum sinis. "Saya nggak fitnah! Tapi, saya tanya," tegas Viano.


Kalau bukan bos, sudah Nesta cemplungin Viano ke got!


Viano bicara lagi. "Kalau memang minuman itu nggak kamu racun, coba kamu buktiin!"


Sompret! Sial pangkat dua.


Nesta menghela napas sejenak. "Bapak mau saya buktiin kayak mana?" tantangnya.


"Minum kopi itu!"

__ADS_1


Alamat tidak bisa menolak. Dasar apes tujuh turunan, niatnya mau ngerjain Vano malah jadi dia yang kena.


"Kenapa diam? Kamu nggak bisa buktiin?"


"Memangnya kenapa saya harus takut?"


Viano masih menatap tajam, seolah menyuruh Nesta minum.


Nesta mengangkat cangkir kopi. "Bapak mau saya minum seberapa banyak?"


Lusi tercengang, Nesta seberani itu pada Viano.


"Minum kopinya sampai habis!"


Dipandang dulu cangkir kopi yang tadinya untuk Lusi.


Demi Tuhan, Viano itu sangat menyebalkan!


Nesta kemudian meneguk kopi itu sampai habis.


"Nih!" Dia menunjukkan gelas kopi yang sudah kosong. "Saya minum sampai habis, 'kan, Pak. Bapak lihat saya masih hidup, engga keracunan. Bapak berarti udah fitnah saya."


Dasar Bos laknat!


Sekarang iris mata Nesta beradu dengan milik Lusi. "Bu Lusi harus hati-hati, masa Pak Viano mau tukar kopi beracun dengan Ibu."


"Diam kamu!"


Walau senjata makan tuan, paling tidak masih dapat bonus bikin Lusi marah.


Benar juga, kata Nesta. Kalau kopi itu beracun, berarti Lusi yang akan minum. Tadinya, Lusi kira Viano mau lebih dekat dengannya. Ternyata malah mau menjadikan Lusi 'tumbal'


Tampan, tetapi tidak punya perasaan.


Viano berdeham. "Saya mau kopi lagi, tapi nggak mau kamu yang buat!"


Emangnya saya mau buatin situ kopi?


Nesta cuma bisa tersenyum kecut.


Segera membereskan pekerjaan, Nesta kemudian keluar dari ruang rapat tersebut.


Setelah pintu ditutup ....


Kyaaaaa!


Dia lari terbirit-birit menuju kamar mandi.


"Asin ... asin ... asin!" Nesta melepeh kopi yang tadi dia minum, setelah sampai di kamar mandi. Untung saja, tadi dia masih bisa menahan rasa asin di mulutnya supaya Viano tidak curiga.


Viano sialan! Gara-gara dia, Nesta harus minum secangkir kopi asin.


Catat, tadi dia memasukkan dua sendok garam ke dalam kopi. Terbayang, 'kan, bagaimana asinnya?


Sementara itu, Viano yang masih memimpin rapat dalam hati tetap yakin kalau Nesta mau mengerjainya.

__ADS_1


Kalau benar, dia tengah bersorak dalam hati.


Sukurin kamu!


__ADS_2