
##chapter 18-- Viano Marah
Kadang Nesta berpikir. Kenapa nasibnya sebagai anak buah Selalu Salah. Kemarin saja setelah menemani Raja seharian bermain jelas-jelas itu anak merasa bahagia dan kelihatan seperti baru menemukan Hal paling indah dalam hidupnya. Harusnya berterima kasih.
Tapi, malamnya dia malah kirim pesan yang kalau dibaca itu benar-benar isi-isinya memarahi Nesta karena katanya Raja setelah bertemu dengan dia punya bahasa yang aneh-aneh.
Nesta pikir itu wajar. Namanya juga anak milenial pasti bakal ketemu kosakata baru. Beda dengan bapaknya yang ganteng ganteng tapi uzur. Kalau dia sih jangankan bahasa gaul. Bahasa manusia yang berperikemanusiaan saja Mungkin dia tidak tahu.
Lagi pusing begini, tiba-tiba Yato sudah menagih sepatu baru yang dijanjikan. Ampun benar deh Itu adik. Tidak tahu apa, kalau kakaknya di sini setengah mati bekerja. Untung kemarin dia sudah dapat uang lemburan.
Laknatnya lagi si Yato bukanya minta sepatu yang masih harga standar yang kira-kira Sesuai dengan dompet Nesta. Iya sih, memang saldo di rekening lagi lumayan gendut tapi kan sebagai warga yang harus hidup bersahaja saldo gendut itu tidak bisa langsung dihabiskan. Wajib dihemat mana tahu nanti kena musibah. Dipecat misalnya.
Yato mana peduli dengan urusan begitu.
"Ayo, dong, Kak. Aku udah telanjur pamer ke teman-teman kalau kakak aku yang cantik itu kerja di kantor."
Nesta yang lagi video call dengan adiknya langsung mengerucutkan bibir. Potongan model kayak Yato begini mau membanggakan kakaknya. Paling juga karena niat modus makanya bisa memuji-muji.
"Udah deh, enggak usah mengada-ada. Potongan kamu membanggakan Kakak. Yang ada juga setiap hari kamu jelek-jelekin."
"Ya ampun, nggak percaya banget sih sama adiknya. Aku baru saja dapat penghargaan dari guru loh. Sebagai siswa teladan tahun ini."
"Itu guru pasti matanya buta. Masa kamu jadi siswa teladan."
"Nggak buta. Tapi khilaf." Dia ketawa-ketawa sendiri.
Yato memang begitu gayanya. Selengean. Tapi, otak anak itu lumayan encer. Makanya walaupun Nesta sebal dia masih sayang ke adiknya itu karena bagaimanapun juga nantinya Yato yang akan bawa nama baik keluarga.
"Aku udah check out di online shop, nanti kode virtual aku kirim ke Kak Nesta tinggal bayar."
"Hih, ngatur kamu!" Nesta geram.
"Jangan pelit-pelit, Kak. Bapak aja kemarin abis bantu-bantu tetanga mau bagi dua rendang. Masa Kak Nesta beli sepatu aja nggak mau."
"Astaghfirullahaladzim, Yato itu perbandingannya nggak sesuai nggak sepadan!" Nesta harus tingkatkan kesabaran. "Ya udah daripada kamu cerewet, nanti kakak cek berapa tagihannya."
Menunggu lima menit setelah memutus video call, Nesta dapat kode virtual.
Luar biasa Yato tidak tanggung-tanggung. Harga sepatunya hampir satu juta. Ini sih pemalakan adik ke kakak!
***
Nesta menguap lebar. Kalau diukur pakai kemampuan matematika ahli seperti Laplace, kira-kira lingkaran mulutnya nyaris mendekati 360 derajat. Maklum, semalam dia marathon nonton drama Korea, lantaran gemas tinggal delapan episode menuju tamat.
"Neng, kalau mau nguap mah, ditutup mulutnya! Nggak sopan, ih!" tegur Ujang.
"Hehe!" Nesta malah cengar-cengir.
"Laler masuk, baru tau, loh!" Ujang menunjuk mulut Nesta.
Nesta menutup mulutnya dengan telapak tangan. "Nggak apalah, Mang, lumayan jadi camilan."
"JOROK!" Ujang memekik.
"Bercanda, Mang."
Ujang mengambil sapu di belakang pintu, beserta kemoceng. Kelihatannya sudah siap untuk kerja lagi.
Menjelang siang, yah begini. Saat para bos dan staf keluar untuk makan siang, para petugas kebersihan siap-siap untuk merapikan ruang kerja lagi.
Lebih-lebih ruangannya Viano. Dia paling anti ada yang kotor atau berantakan sedikit. Satu hal, yang bisa masuk ruanganya selagi dia tidak ada, hanya Ujang.
Ujang jadi orang kepercayaan,sementara yang lain jangan harap bisa masuk. Termasuk Ivan.
__ADS_1
Any way, Ivan termasuk tipekal yang mandiri. Misalkan butuh kopi atau minuman hangat lain, dia lebih suka buat sendiri. Beda dengan Viano yang manja dan menjengkelkan.
"Aduh ... aduh ...." Ujang memegang ulu hatinya yang tiba-tiba terasa nyeri.
"Eh, Mang, kenapa?" Nesta terekjut.
"Nggak tau." Ujang masih merintih kesakitan.
"Jangan-jangan, udah mau dicabut nyawa Mang Ujang?"
"Weh. sembarangan!" Ujang makin nyeri ulu hatinya dibilang mau meninggal.
Nesta ambilkan kursi, biar Ujang bisa duduk. Sebentar dia ke belakang untuk menyiapkan air hangat supaya Ujang lebih baik.
Setelah meneguk airnya, Ujang melirik jam.
"Ada janjian, Mang?"
"Halah, Nesta, kamu ini bercanda melulu!" Tidak habis pikir Ujang soal kelakuan teman kerjanya yang masih muda nan imut-imut, tetapi oon tidak ketulungan.
Ujang lagi mengkur waktu. Sebentar lagi Viano bakal selesai makan siang. Alamat repot kalau ruangannya belum bersih. Ada serangan mendadak, Ujang jadi merasa lemas.
"Kamu ke ruangan Pak Viano bisa, nggak?"
"Bisa." Nesta mengangguk.
"Nah!" Ujang menyerahkan sapu dan kemoceng pada Nesta. "Tolongin Mamang, ya. Bersihin ruang Bos Kasep. Nanti kalau pulang belum bersih dia bisa marah."
Ditatap dulu sapu dan alat pel, Nesta kemudian mendesah. "Iya gampang kalau cuma, bersihin. Tapi, si Kupret biasanya marah-marah kalau saya yang masuk ruangannya."
"Sembarangan!" Kepala Nesta diketuk gagang kemoceng sama Ujang. "Sama bos ngatain Kupret. Kasep begitu--ganteng. Kalau Mamang punya adik perempuan, bakal Mamang jodohin sama dia."
Nesta mendelik.
"Udah sana buruan!" Ujang mengedikkan dagu agar Nesta keluar. "Tolongin Mamang. Sesama rekan kerja, kita ini harus jadi tim yang solid."
Ujang terkikik. Bukan masalah, dong, meski cuma pegawai rendahan sekali-kali pakai bahasa elite.
"Oke, deh, saya bersihin ruangan Pak Viano."
Ambil alat keberishan yang sudah disiapkan Nesta siap pergi.
Ke lantai atas pakai lift, cuma butuh tiga menit untuk sampai ke ruangan Viano.
Dengan kunci yang sudah Ujang pinjamkan, Nesta bisa masuk ruangan si Bos.
Amboi! Surga di kantor ini, ya ruangannya Viano.
Bukan cuma soal ruangannya yang terlihat bagus dengan lukisan pantai--tanpa bule berjemur-- melainkan karena super bersih dan terasa segar. Ditambah aroma terapi bikin relax.
Oke, tidak perlu lama-lama terlena, Nesta harus segera bereskan ruangan sebelum Viamo datang.
***
Viano kembali ke ruangan agak terlambat dari biasa. Pasalnya, dia makan siang sembari rapat dengan pimpinan direksi.
Duduk di kursi, dia menyandarkan tubuh. Menghela napas berat dengan mata terpejam.
Menjadi pimpinan perusahaan bukan hal mudah. Ada banyak hal yang harus dia lakukan dan pertanggungjawabkan.
Besok dia harus bersaing untuk memperebutkan tender senilai puluhan miliyard. Parahnya, yang jadi pesaingnya kali ini adalah perusaahan ayahnya sendiri.
Jika Viano memenangkan tender, berarti dia mengalahkan ayahnya. Sementara kalau dia kalah, perusahaan tempatnya bekerja yang akan rugi.
__ADS_1
Kepalanya pening. Saat dalam keadaan tertekan begini, Viano terkadang merenacanakan untuk bisa pensiun secepatnya.
Memiliki lebih banyak waktu bersama Raja dan mungkin wanita yang akan menjadi istrinya kelak. Sepertinya indah.
Omong-omong, Viano kangen dengan seseorang.
Berniat membuka dompet di saku jasnya, dia malah dikejutkan dengan fakta baru.
Ke mana dompet kulit kecil miliknya?
Benda itu ukurannya cukup kecil--pas sesaku--dan tidak banyak isi. Namun, ada yang paling penting di situ dan Viano tidak bisa jika ia kehilangannya.
Periksa dengan baik di saku baju, celana, merogoh jas, tidak menemukan. Aneh, mana mungkin dia menghilangkan dompet kesayangannya.
Duduk sebentar untuk menenangkan pikiran. Viano mengingat-ingat kapan terakhir memegang dompetnya.
Beberapa detik, dia akhirnya tahu.
Tadi pagi, Viano sempat membuka dompetnya, dan sebelum meeting dia tinggalkan begitu saja. Berarti dompet itu seharusnya ada di atas meja sekarang.
Viano melihat ke sekitar meja. Mencari di kolong, mungkin saja terjatuh. Nihil.
Mulai panik, jangan-jangan ada orang lain yang masuk dan mengambil dompetnya.
Viano memeriksa CCTV ruangan.
"Nesta!" Viano menyebut nama karyawatinya dengan geram. Dia memperhatikan gadis itu seperti memegang dompetnya yang tergeletak di meja. Sialnya, posisi Nesta memunggungi CCTV. Jadi, dia tidak bisa melihat apa yang Nesta lakukan selanjutnya.
Darah Viano menddidih. Kelakuan sintingnya masih bisa dimaafkan, tetapi kalau sudah berani mencuri jangan harap akan ia maafkan. Apalagi, mengambil benda miliknya yang penuh kenangan dan sangat berharga.
Dengan napas memburu, Viano mengangkat telepon. Menekan sambungan untuk menghbungi Ivan.
"Ivan, suruh Nesta ke ruangan saya!"
Ivan yang mendengar nada kemarahan dari Viano, merasa curiga.
"Van, denger, nggak?" Viano membentak
"Denger, Pak." Ogah, deh, buat Viano tambah marah. "Baik, Saya panggilin dia sekarang."
Ivan menutup teleponnya, dia jelas tidak akan berani bertanya 'kenapa' kalau nada bicara Viano sudah naik satu oktaf begitu.
Kira-kira, kali ini Nesta buat masalah apa lagi?
Ah, sudahlah. tidak perlu terlalu ikut campur dengan urusan bosnya.
Melalui ponsel, Ivan menghubungi Nesta.
"Ya, Pak Ivan?" Nesta yang baru saja duduk di pantry, cukup terkejut Ivan meneleponnya.
"Nes, kamu disuruh ke ruangan Pak Viano."
"Loh, tumben?"
Ivan mendesah. "Saya nggak tau, yang jelas, kamu hati-hati aja, ya. Kedengarannya dia lagi marah."
Marah? Memang salah apa, sampai Viano harus marah? Nesta jadi bertanya sendiri.
"Ya sudah, cepet kamu ke sana. Soalnya kalau kamu lelet, saya juga yang kena masalah."
"Baik, Pak."
Nesta bergegas ke ruangan Viano begitu panggilan terputus.
__ADS_1
Sepanjang langkah, jantungnya berdebar. Meski berusaha tenang, dalam hati dia penasaran. Kira-kira, kali ini Viano akan memarahinya karena apa?
(kalau mau baca duluan bisa langsung ke K.B.M. a.pp ya, Bun)