
##chapter 21-- Saingan
Ya Tuhan, Ivan pusing. Setahu dia, tugasnya di sini untuk mengontrol kinerja karyawan. Kenapa jadi harus urus Viano?
"Ya kan udah jelas kan kamu yang dekat sama dia." Viano menunjuk karyawannya ketika Ivan sedang pasang tampang tidak ikhlas kalau disuruh harus cari tahu tentang bagaimana kabar Nesta saat ini.
"Iya,sih, Pak. Saya dekat dengan dia.Tapi, bukan berarti saya tahu segalanya. Lagi pula." Ivan menggantung sejenak ucapannya. Dalam hati sedang beristighfar banyak-banyak supaya dia tidak kilap mencekik Bosnya itu, "saya dekat dengan Nesta juga bukan hubungan pribadi lebih pada urusan kerja.
"Urusan kerja atau apa pun itu namanya, sama saja kamu yang dekat dengan dia."
"Oke, saya pasti bisa bantu. Tapi, saya cuma mau bilang jangan sampai Bapak, taruh harapan pada saya.''
Viano mengeru alisnya. "Kamu nggak usah kegeeran, deh. Siapa juga mau naroh harapan ke kamu?"
Mampus, Ivan kena skak.
"Saya cuma kasih tugas Sebagai atasan kamu tentu saja tugas saya mau dijalankan dengan baik," tambah Viano.
"Ya, Pak. Itu sama aja Bapak menaruh harapan sama saya." Ivan harus hati-hati menjelaskan pada Viano. "Yang saya pikirkan adalah takutnya nanti sudah tidak betah lagi di sini."
"Maksud kamu apa, bilang kalau dia sudah tidak betah kerja di sini." Viano mendengkus. "Mana mungkin dia nggak betah!"
"Pak, manusia itu punya dua pilihan dalam hidup. Bekerja Karena mengharapkan gaji besar atau bekerja di tempat yang nyaman.
"Kantor kita lumayan besar kasih gaji.Melebihi UMR!"
Ivan harus membuatnya sadar. Berarti masalahnya ada di opsi kedua. Kantor ini buat Nesta tidak nyaman.
Ketika Ivan hanya bisa membatin atas pikirannya sendir, Viano menyimpulkan apa yang dimaksud karyawannya. Pria itu menggebrak meja "Sejak kapan kantor ini buat nggak nyaman?" tanyanya tegas. "Orang-orang itu berhentinya di sini atau memutuskan keluar cepat-cepat biasanya karena tidak sanggup memenuhi tuntutan perusahaan."
"Justru itu, Pak. Masalahnya, standar Bapa terlalu tinggi."
"Terlalu tinggi atau mereka aja yang nggak mau usaha untuk memenuhi."
Viano tidak suka jika berdebat begini.
"Pokoknya, saya nggak mau tahu. Coba kamu usaha dulu untuk dapetin apa alasan alasan Nesta resign dari sini dan pastikan kalau dia nggak menyebarkan berita buruk soal perusahaan."
Ivan terkejut. "TYa, ampun, Pak. Rasanya Nesta enggak akan mungkin melakukan itu." Lagi pula, dia juga tahu kalau ini cuma akal-akalan Viano biar langsung setuju dengan permintaannya.
"Bapak punya opsi lain untuk saya Misalnya kasih saya kerjaan lembur atau apa gitu yang kira-kira cocok dengan basic saya."
"Nggak ada!" Viano mematahkan harapan Ivan. "Itu tugas kamu, jangan banyak protes atau kamu mau saya lengserkan dari jabatan? Banyak loh kandidat yang bisa menggantikan kamu."
Ivan mendecih dalam hati. Baiklah. Sebagai anak buah dia cuma bisa menuruti apa kata bos.
"Saya kerjakan semaksimal mungkin, Pak. Kemudian dia permisi keluar.
***
Sekarang sudah hari ke tiga, masa Ivan belum bisa dapat juga. Masalahnya bukan cuma tidak bisa tanya-tanya, tetapi dia belakangan ini memang sibuk dengan pekerjaannya. Apalagi masa-masa akhir bulan di mana para karyawan harus dicek kinerjanya. Belum Viano yang mewajibkan Ivan untuk rahasiakan dari Nesta--katanya mau cek sabotase atau bukan.
Oh, God! Sepertinya sekarang Ivan bisa lihat Viano bertingkah idiot, gara-gara Nesta.
Omong-omong, mengurus masalah recehnya Viano, Ivan boleh minta uang lembur tidak, ya?
Satu lagi masalahnya. Lusi tidak kalah sibuk seperti Viano. Bukan untuk merekrut Nesta kembali atau melakukan pengintaian. Namun, dia sibuk bertanya apa alasan sesungguhnya Viano meminta Nesta kembali kerja di sini. Secara posisinya cuma Offfice Girl. Bukan karyawan atau staf penting-- yang dengan mudah bisa digantikan orang lain.
__ADS_1
"Ya, mana saya tahu, Lus." Ivan sembari sibuk dengan pekerjaannya sendiri menjawab singkat pertanyaan Lusi yang lagi lagi mengganggu Ivan di saat tidak tepat.
Lusi mendengkus, mendengar jawabannya. "Masa sih, kamu enggak tahu? Enggak mungkin banget, deh. Bilang aja kamu nggak mau bilang."
Ivan bersandar di kursi, mengelus dada perlahan.
"Kalau kamu memang mau tahu banget, apa yang terjadi kayaknya mendingan langsung tanya aja ke Pak Viano."
"Asal kamu tahu, ya," ujar Ivan beberapa detik kemudian ketika Lusi masih tidak percaya kalau manajer SDM tersebut memang tidak tahu apa alasan utama Viano mengotot Nesta harus kembali ke kantor. "Yang jelas, kemarin Pak Viano bilang side cuma rasa takut kalau ada sabotase karyawan."
"Apa?" Lusi mendelik. Apa-apaan ini, Viano dari mana ceritanya bisa kepikiran begitu!
***
Kevin sedang menjelaskan pada Nesta, apa saja pekerjaan yang harus dilakukan. Tadinya Nesta kira, dia bakalan bersih-bersih atau buat kopi seperti di kantor. Ternyata bukan.
"Nggak mungkin kamu kerja kayak gitu." Mata Kevin menyipit ketika dia tersenyum. "Ini cuma usaha kecil, aku butuh bantuan lebih."
"Aku nggak ada keahlian, Kev. Bikinin kopi doang jagonya." Nesta menyeringai.
"Kapan-kapan, buatin boleh dong."
Dengan senang hati, Nesta menyanggupi.
Oke, kembali lagi pada masalah pekerjaan. Kevin menjelaskan cara menggunakan mesin kasir pada Nesta. Mumpung masih sepi, mereka praktik beberapa kali biar makin mahir.
"Gampang, 'kan?" Kevin memastikan kalau semua penjelasannya bisa dipahami Nesta.
Mengacungkan jempol, Nesta menjawab, "Bisa."
Kevin baru saja selesai menjelaskan bagaimana cara menggunakan mesin kasir, sebaiknya Nesta mulai belajar menyusun display toko. Mumpung masih sepi.
"Kamu nggak ada niat lanjut kuliah?" Sembari bantu menyusun, Kevin mengajak bicara. Dia cuma penasaran, soal Nesta yang tidak lanjut kuliah. Nesta pernah jadi adik tingkat Kevin di Fakultas Pertanian. Sayang sebelum semester awal dimulai, Nesta sudah tidak pernah masuk.
"Nggak ah, males." Nesta menjawab tanpa melepaskan perhatian dari kaleng kaleng sarden yang sedang disusunya.
"Kenapa?"
"Enakan cari duit, hehe."
Jawaban yang sudah Kevin tebak sebelumnya.
Tadinya Nesta pikir dengan kuliah, dia bisa dapat kerja enak dan punya uang banyak. Ternyata sebelum rencananya dimulai, takdir berkata lain. Lantaran ayahnya di-PHK, dia harus berhenti di awal perkuliahan, mulai bekerja apa saja asal keluarganya bisa bertahan hidup.
Belum masalah ibu tirinya yang super cerewet, bikin Nesta tidak tahan. Dia memang sengaja memilih bekerja supaya bisa pisah dari rumah.
Yang namanya rasa malu atau gengsi, sudah Nesta tepis. Kerja apa saja, dia lakoni. Terakhir, dia masuk ke kantornya Viano lantaran tergiur sama gajinya yang besar.
Sialnya, si bos termasuk tipe yang kejam. Hobinya ancam potong gaji, suka marah-marah tidak jelas. Ditambah ada Lusi, yang selalu skeptis sama Nesta.
"Nes, bisa jaga toko sendiri, 'kan?"
"Bisa."
Lega Kevin mendengarnya. "Ntar kalau ada butuh atau nggak tau, telepon aja, ya. Aku harus keluar."
"Oke!" Nesta melingkarkan jarinya. Sebetulnya sedikit takut juga, karena Nesta di sini baru tiga hari. Cuma, dia tidak enak kalau misalkan harus menahan Kevin. Modal ingatan uang sudah diajarkan, Nesta harus bisa!
__ADS_1
Melepas rompi kerja, Kevin pamit pada Nesta. "Aku tinggal, ya!"
*
Ivan harus bersusah-payah supaya Nesta mau kasih tahu di mana tempatnya bekerja.
Siang ini dia baru kirim chat ke Nesta supaya gadis itu mau kasih tahu. Setelah penjelasan cukup panjang dan kan curhatan Ivan soal Viano yang terus-terusan menerorny--seolah Ivan tidak punya kerjaan lain--akhirnya membuat Nesta bisa diajak kompromi.
Meskipun Ivan tidak bilang soal pikiran Viano yang menganggap Nesta disabotase, Nesta sudah menaruh curiga kepadanya.
Yah, apa pun permasalahan mereka, Ivan tidak mau ikut campur. Yang jelas, dia sudah berhasil mendapatkan alamat toserba Nesta. Tinggal laporkan saja pada Viano.
"K-Mart?" Viano yang baru dengar nama toko tempat Nesta bekerja, bersikap seakan-akan meremehkan. "Toko macam apa itu? Kok, saya nggak pernah dengar."
Ivan mengangkat bahunya tinggi-tinggi. "Namanya juga toko baru, Pak." Jangan sampai setelah dia beres mencari tahu alamatnya sekarang disuruh cari tahu informasi toko. Lama-lama, Ivan gabung di tim Intel jadi detektiv.
"Dari perusahaan kita, dia kerja di sana? Levelnya nggak sebanding, Van!" Viano geleng-geleng.
Haruskah Ivan mengingatkan pada Viano soal azab? Menghina usaha orang lain, kayaknya termasuk dosa.
"Kamu nggak buka pikiran Nesta, Van? Manajer SDM, harusnya bisa kasih gambaran sedikit, soal perusahaan yang bagus atau nggak."
Harusnya, Ivan yang tanya. Bisa dibayangkan, lulusan Psikologi malah harus tangani hal yang tidak ada gunanya.
"Ada yang gak beres, Van."
Ivan mengernyit. "Nggak beres gimana, Pak?"
Astaga, Ivan masa tidak paham. "Itu, tempat kerja Nesta." Sampai menunjuk-nunjuk Viano.
"Namanya juga orang kerja, butuh uang. Lepas dari sini, di sana nerima. Mungkin diambil aja. Lagian, Bapak juga kan nagih uang denda ke Nesta."
"Itu dia!" Viano sampai terlonjak dari tempat duduknya. Lagi-lagi Ivan dibuat bingung dengan sikap bosnya. "Gimana mau bayar coba? Kalau dia kerja di toko yang levelnya masih rendah begitu."
Ivan bersandar di kursi, memijat pelipis sambil menghela napas. "Tokonya mungkin kecil, Pak. Tapi, siapa tahu pendapatannya besar."
"Nggak mungkin!" Viano menyanggah pendapat Ivan. "Kemungkinan Nesta untuk bayar denda bakal tipis. Kebayang, dong, kalau karyawan lain nanti main berhenti seenaknya mengikuti jejak Nesta."
Oh Tuhan, Ivan perlu obat sakit kepala sementara Viano butuh psikiater.
"Ya udah deh, Pak, saya masih ada kerjaan lain. Urusan Nesta terserah Bapak."
Viano mendecakkan lidah. "Kamu gimana sih, Van! Kita ini kehilangan satu karyawan dan itu bukan masalah sepele."
"Ya ampun, Pak!" Ivan mengusap wajah. "Ini yang hilang cuma OG, Pak. Karyawan tanpa pendidikan atau keterampilan khusus. Rekrut yang lain juga bisa."
Viano tidak sependapat dengan Ivan. Baginya kesempurnaan perusahaan itu harus dimulai dari hierarki terendah sampai tertinggi.
Pada akhirnya, Ivan harus menggunakan sedikit ilmunya sebagai alumni psikologi.
"Pak, boleh kasih saran?"
Viano menatap Ivan. Hanya diam saja, berarti Ivan boleh mengatakannya.
"Saran saya, jangan terlalu pakai perasaan kalau untuk urusan kerja." Setelahnya, Ivan keluar dari ruangan Viano.
Perasaan? Viano bertanya sendiri. Salah memang kalau merasa dilecehkan secara personal kalau sampai harus bersaing dengan toko rendahan?
__ADS_1
Masa bodoh! Dia tetap mau cari tahu sedetai-detailnya!