BOSS SOMBONG DAN KARYAWATI SABLENG

BOSS SOMBONG DAN KARYAWATI SABLENG
24


__ADS_3

"Pa, Raja mau ketemu Kak Nesta."


Nah, loh! Akhirnya yang ditakuti, terjadi juga. Raja tanya soal Nesta. Kira-kira jawaban yang pas untuk anak sekecil dia apa, ya?


Lagi pula, apa bagusnya, sih berteman dengan Nesta. Heran Viano, Raja dari kemarin sejak pertama kali bertemu dengan gadis sableng satu itu seperti tidak bisa melupakan dia. Hampir setiap hari Raja tanyakan kabar dan juga kapan mereka bisa bertemu lagi.


"Jangan tanya-tanya Kak Nesta dulu. Raja itu masih kecil, harusnya lebih fokus untuk belajar atau lebih baik banyak berteman dengan anak-anak seusia Raja.


Sebagaimana anak kecil yang sudah bisa berpikir, Raja tidak akan langsung iyakan kata-kata Viano.


" Tapi, 'kan, setiap hari juga Raja sudah belajar, Pa. Terus kalau siang kadang-kadang main sama Davin. Kata Papa kemarin gara-gara Raja sering tanya soal mama, harus kurang-kurangin main sama Davin."


Aduh, iya juga. Memang benar sih, kemarin kemarin Viano sempat meminta Raja untuk tidak terlalu sering main sama Davin. Habisnya bagaimana, ya? Setiap hari bocah satu itu menceritakan soal mamanya dan itu membuat Raja selalu bertanya di mana mamanya.


Raja mengangkat mata, seperti berpikir. "Papa itu maunya gimana?


"Apa Raja nggak boleh berteman dengan semua orang?"


"Bukan begitu."


"Jadi maksudnya Papa gimana?"


Viano harus berpikir keras. Tidak mungkin juga kalau dia bilang Nesta sudah berhenti dari kantor, nanti bisa makin banyak tanya Raja. Gitu-gitu, 'kan bakat kritisnya Viano menurun ke Raja.


Lagi pula kalau sampai dia tahu soal penyebab Nesta berhenti, bisa-bisa Raja ikutan menyalahkan Viano. Tidak mau, dong, image sebagai bapak yang wibawa dan selalu berkarisma di mata anak, rusak.


Serius tadinya Viano kira Nesta cuma main-main. Padahal sudah coba diperingatkan soal gaji yang mungkin lebih kecil dari kantornya. Namun, setelah satu minggu dia masih betah di toko tersebut, fix dia benar-benar resign.


Yakin gajinya pasti kecil. Kalau begitu, sih, mungkin buat makan dia saja sudah ngepres. Boro-boro mikirin bayar utang denda ke kantor.


Viano merebahkan diri di tempat tidur Raja, cari-cari alasan supaya anaknya tidak terus menanyakan Nesta. Baru mandi, rambutnya masih agak basah, bantal Raja jadi sedikit lembap.


"Papa tidur sini, ya?" Viano kini menempel di kakinya Raja.


Masih asyik main game, Raja cuma melirik sekilas. Tumben, papanya mau tidur dengannya. Biasanya, dia selalu sibuk sambil bilang. Raja harus mandiri.


"Papa pasti lagi buat salah."


Viano duduk dengan cepat, menyanggah pendapat Raja. Like father like son, sama-sama suka betul ngomong.


"Kata siapa? Papa nggak buat salah sama sekali." Sebagai bapak yang cerdas untuk Viano harus cepat-cepat cari alasan biar tidak kehilangan wibawa di depan anaknya.


Raja meletakkan gawainya, menatap sang Papa dengan tatapan penuh selidik.


"Yang bener Papa nggak buat salah?"


"Iya, benar. Papa mana pernah buat salah sama Raja."


"Papa nggak boleh bohong, loh!" Bosen kau tahu meskipun tidak sepenuhnya paham kalau Viano sedang menutupi masalah dengan Nesta. "Bukannya, Papa paling nggak suka Raja bohong?" Begini, nih, tidak enaknya punya anak yang punya IQ lumayan tinggi. Harus hati-hati kalau ngomong.


"Papa biasanya sibuk, selalu bilang ke Raja untuk mandiri. Hari ini, tumben mau tidur di sini. Pasti Papa lagi buat salah, mau bujuk Raja, ya, 'kan, Pa?"


Skakmat. Viano menyeringai, mengubur sosok tegas dan wibawa saat di hadapan Raja. Menghela napas, dia terpaksa harus menjelaskan.


"Sementara waktu, Raja belum bisa ketemu Kak Nesta."

__ADS_1


"Loh, kenapa?" Kecewa Raja mendengarnya. Meski Begitu tetap saja dia mencoba untuk bernegosiasi dengan Viano, siapa tahu masih dapat kesempatan untuk bertemu dengan Nesta.


"Ya, pokoknya nggak bisa dulu, deh. Ingat ya, Raja." Viano coba bicara baik-baik, "orang dewasa itu 'kan, punya kesibukan sendiri. Mereka harus kerja, urus keluarga atau ada hal-hal lain yang kamu mungkin nggak paham."


"Tapi ...." Raja masih mendebat Viano, "memangnya Kak Nesta mau urus keluarga? Dia kan katanya tinggal di rumah sendirian?"


"Berarti, mau urus yang lain," alasan Viano.


"Urusan apa? Kerja?"


"Ya, bisa jadi." Mulai gerah harus meladeni Raja.


"Besok tanggal merah, Pa. Bosen kalau sama suster terus. Apalagi kalau oma dateng, nanti Raja dimarahin."


"Papa bukan nggak ngizinin Raja ketemu sama Kak Nesta. Cuma ...." Ucapannya terjeda.


Raja yang yang tidak sabar langsung bertanya, "Cuma apa, Pa?"


"Jam kerjanya udah nggak bisa Papa atur lagi." Ya iyalah, secara Nesta bukan karyawannya lagi.


Tadi saja masih sisa terasa jengkel di hati Viano. Nesta bukannya menghargai Bos Besar malah lebih menghormati Kevin yang cuma bos minimarket.


Kalau Viano mau akuisisi minimarket Kevin, sama saja nanti juga jatuhnya Nesta bakal jadi karyawan dia lagi. Segitu, berani-beraninya dia bersikap kurang ajar.


"Kenapa, Pa?" Raja bertanya lagi ketika Viano tidak juga memberi jawaban.


Sabar, Viano harus sabar. Anak pintar, konon katanya banyak tanya.


"Kak Nesta udah nggak kerja lagi sama Papa."


"Kenapa, Pa? Papa pecat Kak Nesta?"


"Kalau begitu apa?"


"Dia udah ada di tempat yang lebih baik."


Raja tercengang mendengarnya. "Maksud Papa, Kak Nesta meninggal?"


"Heh!" Viano membolakan mata. "Siapa yang ajarin ngomong gitu?"


Raja menunjukkan wajah polos khas anak-anak. "Denger dari TV. Biasanya kalau ada yang bilang dapat tempat yang lebih baik, berarti meninggal."


Viano mengusap wajah. "Jangan langsung tiru apa-apa, yang dilihat di TV." Salah Viano juga, harusnya dia bisa hadirkan seseorang yang bisa mendampinginya terus. Ibu, maksudnya. Sayangnya, belum ketemu siapa yang pas.


Raja mengangguk kecil.


"Jadi, Kak Nesta sekarang di mana, Pa?"


"Dia dapat tempat kerja lain. Katanya, lebih enak dari tempat kerja Papa." Sebal Viano mengingatnya. Masa perusahaan harus disaingi sama Toserba.


"Kenapa, Kak Nesta nggak kerja lagi sama Papa?"


Kelihatannya Viano harus mengalihkan dengan pembicaraan lain. Karena kalau mau dituruti bisa jadi pertanyaan Raja makin bertambah rumit.


Balik rebahan, tangan di bawah kepala, Viano menyuruh Raja ikut tidur di sampingnya.

__ADS_1


Raja menyelipkan kepalanya di sela ketiak Viano.


"Sini, deh, gantian Papa yang tanya." Viano sedikit bergeser memberi ruang pada Raja agar lebih nyaman.


"Apa, Pa?" Mata Raja terangkat naik, menatap langsung pada wajah Papanya.


"Misalkan." Viano terlihat serius. "Raja nanti kalau udah dewasa harus bertarung dengan Papa, Raja pilih mengalah sama Papa lantaran Papa ini orang tua Raja atau milih bertarung untuk buktiin bisa lebih baik dari Papa?"


"Apa ya, Pa?" Ekspresi Raja kelihatan berat, mungkin pertanyaannya terlalu rumit.


Dua detik berpikir ....


"Kalau nanti Raja udah gede, Papa lebih suka yang mana?" Daripada bingung memikirkan jawaban, mending Papanya yang ditanya. "Raja ngalah sama Papa atau lihat Raja buktiin kalau bisa?"


"Papa, 'kan, tanya Raja. Jangan ditanya balik."


"Raja, belum gede, Pa. Nggak tau jawabannya apa. Papa aja yang jawab. Papa, 'kan, udah lahir duluan, pasti tau jawabannya."


Viano kesal?


Kalau ya, berarti harusnya Viano sadar bisa jadi selama ini karyawan atau orang di sekitarnya mempunyai perasaan yang sama. Kesal! Ketika mereka bertanya-tanya atau punya pendapat Viano sering membalikkannya.


Viano tanya soal begini bukan cuma iseng. Sebetulnya dia penasaran dan mau cari tahu dari pendapat orang lain, karena dirinya sendiri merasa dilema.


Bagaimana tidak, besok dia akan mengadakan meeting dengan beberapa perusahaan untuk presentase proposal soal tender proyek pembangunan jalan dan sudah diketahui bahwa salah satu pesaing adalah perusahaan ayahnya.


"Jadi, Papa lebih suka yang mana?" Kembali Raja bertanya.


Menggaruk pelipis sebentar, Viano memikirkan jawaban yang tepat.


"Mmh, Papa lebih suka kamu tunjukin potensi kamu. Papa nggak mau, Raja ngalah sama Papa. Justru harus buktiin, kalau Raja anak Papa yang hebat."


"Nah, berarti itu Pa, jawabannya."


Viano menyunggingkan senyuman untuk Raja. "Kamu pinter."


Bangga Raja dipuji. "Raja, 'kan, anak Papa."


Viano mengacak puncak kepala anaknya. "Iya, Raja anak Papa."


Pelukan, ayah dan anak. Lagi akur, mode mesra. Kadang, Viano tidak percaya dia sanggup membesarkan bayi yang dulu ukurannya hanya sebatas lengan, sekarang sudah tumbuh semakin besar.


Sepuluh tahun lalu, semua orang meragukan seorang Viano mau dan mampu mengurus anak sendirian, tanpa istri. Yah, walau bayar jasa pengasuh anak, setidaknya Viano masih bisa jadi sosok yang dipanuti Raja. Dia ayahnya!


Pa, Tante Lusi itu siapanya Papa?"


"Tante Lusi itu cuma teman kerja Papa. Memangnya kenapa?"


Raja mengerutkan alis. Dia mengingat soal Lusi yang bilang kalau. Raja tidak boleh nakal karena Lusi tidak suka anak nakal.


Tapi, Raja merasa dia tidak pernah nakal. Lusi saja yang tidak pernah suka dengannya


"Tante Lusi, bukan mamamua Raja, 'kan?"


"Nggak bukan." Meski mereka dekat, Viano tidak pernah mendeklarasikan Lusi sebagai calon istri ataupun calon ibu dari Raja.

__ADS_1


"Pa?" Raja mendongak pada papanya. Dia punya pertanyaan penting yang harus dijawab oleh Viano. "Kapan Raja bisa punya mama?"


Der! Ini yang mau Viano tanyakan juga, kapan ada wanita yang pas untuk dijadikan mama bagi Raja. Siapa coba, siapa?


__ADS_2