
Kini, Nesta bingung anak kecil mau diapakan. Kalau ditinggal 'kan, tidak mungkin.
Berdua duduk di trotoar jalan, bakal dikira gembel tidak, sih! Nesta agak khawatir.
Muka Raja, Nesta lihat-lihat kayak pesimis gitu. Anak sekecil dia, masalahnya bakal sebesar apa, kira-kira?
Pas lagi mikir-mikirin gitu, eh, Nesta malah ditegur ibu-ibu yang lewat.
Ditegur, karena anak mau berangkat sekolah bukan diantar malah diajak duduk di trotoar.
Ngeselin memang. Kayaknya besok, kudu setel lagu Beyonce keras-keras kalau di jalan. Yang liriknya; im single lady im single lady.
Its mean, gue jomlo! Nesta membatin.
Raja kayaknya manfaatin keadaan. Dia beneran ajakin Nesta ke sekolahnya.
Lah, terus ngapain dia kabur pakai seragam kalau minta dianterin ke sekolah? Jadi mikir, deh, Nesta.
Omong-omong, masalah utamanya bukan itu doang. Nesta memang tidak mungkin antar itu anak ke sekolah. Pipinya bengkak gara-gara sakit gigi.
Bakal bikin malu.
Lagian, bapaknya Raja memang kejam. Nesta sebal.
Tapi, tidak enak juga kalau terus duduk di trotoar.
Demi generasi masa depan Bangsa Indonesia yang gemilang, Nesta siap berkorban.
"Kamu mau sekolah, nggak?" Mau tidak mau, Nesta bakal antar itu anak ke sekolah.
"Hari ini pentas siswa kelas dua. Harusnya ada papa atau mama yang bisa hadir."
Nesta manggut-manggut.
"Kalau nggak ada Papa, itu mamanya memang nggak bisa juga?"
Tunggu! Nesta salah tanya tidak? Muka si Raja tambah murung.
"Mama kamu ke mana?" Ujungnya jadi penasaran karena, ekspresi Raja itu.
Mendesah, Raja menjelaskan, "Papa nggak pernah cerita soal mama."
Miris amat hidup Raja. Ini jangan-jangan, bapaknya pria Hidung Belang yang suka meninggalkan istri, terus anaknya dipaketin ke rumah. Tanpa nama pengirim.
Jadi, tidak bisa jelasin mamanya yang mana. Analisis Nesta begitu.
Tepuk-tepuk pundak Raja. "Sabar, ya," ujar Nesta.
Oke, balik lagi ke pertanyaan sebelumnya. Dia mau sekolah atau tidak.
Jawabannya, ya.
Si Raja mau sekolah. Biar telat, tidak masalah. Gurunya pasti bisa memafkan
Namun, Nesta harus ke kosan dulu. Ganti baju, plus make up dikit biar tidak burik amat.
Paling dikit, kalau udah oles bedak sama blush on, agak samar bengkak di pipinya.
Tunggu! Dia bakal kena azab tidak ya, kali ini?
__ADS_1
Bilangnya tadi izin kerja mau istrisahat total. Eh malah keyalapan, sama anak kecil gini.
Tenang. Tuhan 'kan maha pengampun. Niatnya baik, kok-- nolongin anak orang. Dapat pahala--harusnya. Walau ada unsur dosa juga. Bohong sama Ivan yang udah baik banget.
Ya udah, deh. Ivan pasti maafin kalau tahu alasan Nesta baik.
Habis dari kosan, pesan ojek online. OTW ke sekolahan.
Sampai sana, di depan sekolah--tepat di pos satpam--Nesta ditanyai sama satpamnya.
Bukan soal kenapa dia yang antar Raja, melainkan soal kenapa dia telat satu jam.
Mau bilang kalau mereka barusan ketemu di jalan, bisa dikira Nesta orang jahat.
Niatnya mau bohong. Namun, belum sempat diutarakan, wali kelasnya Raja muncul.
Untung. Gini-gini, Nesta takut sama dosa. Orang bohong, lidahnya dipotong nanti. Ngeri!
"Raja kok baru datang?" Guru manis dan berwibaba tersenyum pada mereka.
"Ini tadi ada gangguan dikit." Cengar-cengir Nesta menjelaskan. Tidak ada wibawa.
"Ya udah langsung, ke kelas."
"Ini siapa?" Sebelum beranjak, Ibu Guru tanya soal Nesta.
"Calon mama!" Si Raja enteng tanpa beban, sebut Nesta calon mama.
Muka guru Raja jadi berkspresi susah ditebak. Antara, terkejut, takjub atau merasa mustahil
Iya. Mustahil papanya Raja punya calon kayak Nesta.
Si Ibu guru senyum, Nesta meringis. Kenal juga tidak bapaknya Raja modelan kayak apa. Iya kalau cakep. Kalau .... Ah, tidak kuat membayangkannya Nesta. Ih, bakal kayak apa!
Lewati koridor sekitar beberapa meter, Nesta dibuat takjub sama sekolahan ini. Kayaknya sekolah tempat orang kaya. Lihat saja, fasilitas lengkap, kantin bagus, perpustakan luas, dan ....
Masuk ke kelas, kelasnya juga bagus, pakai AC pula.
Sekolah berasa hotel.
Kebayang dulu Nesta sekolah di kampung. Boro-boro AC, kipas angin jugga tidak ada.
Indahnya jadi orang kaya.
Di bangku-bangku yang disusun melingkar, pasangan murid dan walinya lagi pada sibuk bikin prakarya.
"Kak!" Raja mengguncang tangan Nesta.
"Kita duduk situ." Telunjuk Raja ,menunjuk bangku agak pojok sebelah kanan.
"Oke!" Nesta melingkarkan jari.
Duduk, siap-siap bikin prakarya.
Anak lain memang didampingi sama orang tuanya. Kasihan, cuma Raja yang tidak didampingi.
Sambil ngerjain, Nesta tanya-tanya dikit, kayaknya bisa.
"Papa kamu nggak sempet dateng ke sini. Orang sibuk, ya?"
__ADS_1
Raja yang sedang melipat kertas origami, mengangguk.
"Papa mana suka ikut kegiatan gini. Lebih suka kerja."
Sadis juga si bapak.
Berikutnya, Raja menyusun orogami yang sudah berbentuk burung di atas meja.
Dia hebat. Nesta buat dari tadi gagal terus.
"Raja nggak suka sama papa yang kerja terus. Belum sama tante-tante yang sibuk deketin papa."
"Nggak boleh gitu. Siapa tau, papa kamu memang lagi sibuk. Papa, mau urus anak sendiri. Itu hebat, loh." Seeet! Bisa aja si Nesta sok bijak. Dia rasanya pengen tepok jidat sendiri.
"Dia pasti sayang banget sama kamu," imbuh Nesta.
Raja mengangguk dengan senyuman. Kok, aneh. Nesta mendadak jadi sayang sama dia, padahal baru pertama bertemu.
"Kamu harus bersyukur. Daripada jadi Kakak."
"Papanya Kakak juga nggak pernah nemenin ke sekolah?"
"Bukan," sergah Nesta. "Ayahnya Kakak, nikah lagi setelah ibu Kakak meninggal. Meski begitu, dia tetep sayang Kakak."
"Terus?"
"Kakak ke Jakarta, cari kerja. Malah dapet bos yang kelakuannya kayak setan!" Kelepasan. Nesta menyebut kata kasar di depan anak kecil.
"Oh!" Mata Raja membulat, aktivitas melipat kertasnya terjeda. "Bos Kakak jahat?
"Banget!" Nesta mendramatisir.
"Kalau gitu, kerja sama papanya Raja aja."
Sebelah alis Nesta tsrangkat naik. "Papa kamu?"
"Iya. Papanya Raja juga punya kantor. Mending kakak masuk ke kantornya papa Raja."
Serius nih Raja? Nesta jadi tergiur.
"Kalau papa Raja, nggak jahat sama karyawannya."
Nesta merapatkan tangan. "Ooh ...." Merasa haru dan berharap omongan Raja itu benar. "Bener, nih? Kalau papa kamu ada lowongan, nanti tawarin Kakak, ya?"
Raja mengangguk.
Lirik hasil kerjaan Nesta, dia terkiik. "Kakak nggak bisa lipat origami."
"Nggak!" Nesta menyeringai.
Suasana happy dan mulai akrab, mendadak jadi horor.
Satpam menemui Nesta, memintanya untuk ikut ke pos. Belum bilang alasannya apa, Nesta, sih, nurut saja. Sampai di lokasi, dia dikasih tahu kalau papanya Raja barusan bilang anaknya kabur dari suster sebelum berangkat sekolah.
Dan, Nesta dicurigai sebagai orang asing yang mengancam keselamatan Raja.
Pakai mengaku calon mamanya segala!
Penjelasan Nesta belum bisa dierima. Raja malah dibawa ke ruang konseling. Sampai papanya datang, baru dia bisa ketemu Nesta.
__ADS_1
Apes. Niatnya mau dapat pahala malah jadi dapat fitnah.
Sumpah, Nesta penasaran siapa papanya Raja.