
##chapter 17-- Please, Jangan Baper
Yato mengusap telinganya yang masih terasa panas. Sebetulnya, dia bukan anak nakal. Tapi, karena jebakan teman-temannya dia jadi kena imba.
Sial banget dia. Kalau kakaknya atau keluarga tahu dia dapat hukuman begini, bia ditambah nanti hukumannya.
Dobel ini guru juga meminta supaya Yato, buat pernyataan yang ditandatangani orang tua.
Berjalan menuju kelas dengan hati kesal, ingin rasanya Yato marah dengan mereka yang mebuatnya jadi begini.
Suka tidak suka, Yato harus terima takdir kalau nanti akan dapat hukuman tambahan.
Cowok berkulit sawo matang terebut, bilang yang sejujurnya apa yang terjadi di sekolah ke ibu dan bapaknya..
"Udah makan belum kamu?" tanya Ningsih, ketika Yato yang pulang sekolah bukannya ganti baju, tapi malah sibuk mendekati dia.
Yato mau bilang sesuatu, tapi waktu ibunya bilang kalau dia lebih baik makan dulu. Dipikir-pikir benar juga nanti, 'kan, mau dimarahi takutnya pingsan karena tidak ada tenaga.
Ya sudah, laki-laki itu masuk ke kamar ganti baju cuci kaki kemudian ada makan siang.
Setelah makan lagi lagi Dia mendekati ibunya. Yato, memang orangnya tengil dan juga suka usil tapi kalau untuk urusan sekolah dia tidak mau sembunyi-sembunyi dari orang tuanya.
Pelan-pelan dia bilang ke ibunya kalau ada yang mau dibicarakan. Saat Ningsih sedang bingung sarwani kebetulan duduk di sampingnya.
Yato kemudian menunjukkan surat peringatan dari guru yang harus ditandatangani orang tua. Begitu dibaca mereka semua terkejut.
"Apa-apaan ini, Yato! Kenapa bisa bisanya kamu dituduh menyimpan koleksi buku porno. Kamu berani-beraninya, ya sudah nakal begini."
Sarwani siap mengambil sapu untuk memukul anaknya. Ningsih membela Yato sebagai Putra kesayangan.
"Jangan gitu dong, Pak. Namanya juga anak bujang mungkin Yato penasaran."
"Penasaran apanya sampai bikin malu kayak gini!" Sarwani ambil sapu lidi untuk pukul anaknya, bukan untuk kekerasan cuma untuk mendidik. Yato juga tidak merasa kalau tubuhnya jadi sakit.
Tapi, dia mau menjelaskan di sini kalau sebetulnya dia tidak salah sama sekali itu ulah teman-temannya yang titip buku dalam tas dan Yato tidak tahu kalau Saat diperiksa ternyata mereka menyimpan koleksi buku-buku seperti itu, makanya dia kena teguran juga.
"Yato berani sumpah, Pak." Remaja tersebut mengangkat dua jari. "Yato nggak macam-macam, niat sekolah yang bener kok cuma itu kelakuan teman-teman aja. Makanya Bapak tanda tangan dulu."
"Enak saja kamu suruh tanda tangan. Kalau besok kamu ulangi lagi gimana? Kalau ternyata kamu benar menyimpan buku-buku itu?"
Yato mengangkat tangan berani sumpah. Sarwani kemudian menghela napas.
"Inget, Ya, kamu harus sekolah yang benar kasihan itu Kakak kamu kerja pontang-panting buat biayain kamu. Jangan sampai nakal di sekolah. Kali ini Bapak percaya kalau bukan kamu menyimpan barang-barang begitu. Lain kali kalau sampai Kena kasus lagi, Bapak nggak akan pernah percaya dengan omongan kamu."
"Iya. Pak." Yato langsung mengangguk.
"Pak." Sebelum bapaknya pergi Yato memanggil. "Tolong ya jangan bilang sama Kak Nesta."
Soalnya, kalau Neta tahu Yato bia kehilangan uang jajan tambahan. Belum nanti dia akan dipersulit kalau mau minta dibelikan sesuatu.
"Hem." Sarwani cuma bergumam
***
"Papa, sama Kak Nesta ini kenapa? Kok, marah-marahan?"
Viano melirik anaknya, dia berdeham merasa yang tadi salah sikap. Dia harus luruskan supaya pikiran Raja tidak terkontaminasi.
"Bukan begitu, sudah kamu jangan ikut-ikutan orang dewasa lagi ngobrol."
Raja bingung, Nesta mendesah pendek. Begini, nih, kalau jadi bapak tidak tahu cara mengasuh anak. Dikira bocah sekecil ini paham dengan bahasa yang begitu, apa?
"Memang kalau tanya sama orang dewasa, nggak boleh, Pa?"
"Kamu lihat duluapa yang ditanya. Kalauitu urusan yang bukan harus dicampuri anak kecil, anak kecil nggak boleh tanya."
Viano sudah ditekuk wajahnya. Dia merasa ini gara-gara dekat dengan Nesta, makanya Raja jadi bikin dia sakit kepala.
"Pak, jangan begitu kalau sama anak kecil." Nesta bicara tanpa menatap Viano, kepalanya menyamping. Kan, kurang ajar kalau begitu, namanya.
Viano memilih untuk menutup telinga Raja. Mending pergi dari tempat itu sebelum Nesta semakin merusak otak Raja.
"Pa, kita mau ke mana?"
"Cari tempat yang lebih bagus, Papa temani Raja main."
Raja masih bingung saat langkahna terseret-seret oleh Viano. Tapi, dia kemudian sadar kalau dengan Nesta tadi cukup menyenangkan. Makanya, bocah itu menghentikan langkah.
"Pa, Kak Nesta masa ditinggal?"
"Biar aja, dia sudah besar. Tahu jalan pulang." Lagi pula tidak akan ada orang yang mau culik perempuan modelan begitu. Bikin bangkrut.
Nesta masih cenga-cengo di belakanga mereka. Mau ikutan ngobrol takut dibilang tidak layak ikut campur. Makanya dia pilih diam. Meski yang dilihat mereka sedang membicarakannya. Tetap jalan paling aman adalah tutup mulut dulu.
"Kamu boleh pulang," kata Viano saat menoleh ke belakang. Tidak ada basa-basi. Berasa diusir Nesta.
"Iya, Pak." Nesta balik badan siap pergi.
"Kak Nesta." Raja malah berlari ke arahnya, lalu memegang tangan Nesta. "Jangan pulang, dong.Raja masih suka main sama Kak Nesta."
Sebenarnya,kasihan juga, sih, Nesta sama Raja. Tapi, kalau bapaknya sudah senap lihat dia mana mungkin bertahan di sana.
"Kak Nesta sama papa lagi marahan, ya?"
Iyuh, marahan. Kok, kedengarannya malah kayak romantis.
"Nggak bukan, kamu sok tahu aja marahan itu artinya apa."
"Tau." Raja menatap Nesta dengan sungguh-sungguh. "Kayak mama sama papanya Davin teman Raja, katanya mereka juga suka marahan."
__ADS_1
Nesta mau ketawa, tapi pas lihat Viano menghampiri mereka langsung tutup mulut rapat-rapat. Belum juga apa-sudah main protes dia soal Raja yang kenapa lama amat diskusi sama Nesta.
"Ja, Kak Nesta mau pulang aja, deh!" Nesta begini bukan karena drama. Melainkan ngeri potong gaji. Secara, aturan dari Viano dia tidak boleh dekat-dekat.
"Iya, biarin Kak Nesta pulang," timpal Viano.
Dengar Vinao mendukung Nesta pergi, gadis itu mengerucutkan bibir.
"Lagian, Papa, kan, udah ada di sini. Papa bisa temenin Raja mau main apa aja."
Raja sedikit layu. Tadi, dia memang merasakan hal yang paling menyenangkan. Nesta bukan perempuan dewasa yang harus jaga image di depan semua orang. Apa papanya bisa seluwes Nesta? Raja ragu soal itu.
"Sana pulang!" Viano memelotot pada Nesta, ketika Raja tengah diam.
Otak usil Nesta malah aktif kalau dizalimi begini.
"Ya, Pak. Saya maklum, kok, kalau Bapak mau jaga wibawa di depan anak."
Viano mengangkat dagunya sedikit, bergaya angkuh.
"Soalnya bakal malu, kalau papanya Raja yang kekar, wibawa, pimpinan perusahaan nanti kalah main dingdong." Tutup mulut, pakai gaya tersipu malu ala gadis manja. Nesta meledek bosnya, jelas.
Viano tidak suka meladeni kebawelan Nesta. Otaknya cukup cerdas. Masa, menangani proyek besar dia bisa, main permainan anak-anak kalah?
"Nesta kamu pasti waktu sekolah nggak pernah ranking satu, ya?"
"Eh, kok, Bapak tahu?" Mata Nesta membola.
Ketebak dari gayanya yang bisa bangga cuma bisa main permainan anak-anak.
"Prestasi tertinggi kamu, pasti cuma juara satu makan kerupuk."
"Woaaah!" Nesta merasa Viano jago meramal. Dia berdecak kagum. "Bapak bisa tebak nggak, siapa jodoh saya?"
Ya Tuhan! Viano menepuk jidat. IQ Nesta jangan-jangan di bawah seratus. Viano satire, malah dianggap serius.
"Pa, Kak Nesta ini memang jago banget. Tuh buktinya!" Raja mengedikkan dagu ke tangan Nesta yang memboyong lima boneka. "Main mesin capit aja, bisa dapet banyak hadiah."
"Huh!" Dengan dada terbusung, Viano tampak meremehkan "Papa bisa dapat yang lebih banyak."
"Beneran, Pa?" Raja semringah. "Berarti Papa punya sentuhan penuh kebaikan ya?"
"Hah?" Viano heran. Kosa kata baru apa lagi itu!
Raja mengangguk. "Kata Kak Nesta, begitu."
Bahaya, Viano mulai berpikir ulang untuk menuruti kemauan Raja untuk bertemu Nesta. Belum 24 jam, anaknya sudah keracunan. Jangan-jangan, besok dia ketularan sableng.
"Nggak ada, itu bohong."
"Bapak, kok, ngmong gitu!" Nesta tidak terima dituduh pembohong. "Bapak kalau nggak mau ngaku kalah, jangan bilang saya bohong. Buktiin aja!"
Wah, Nesta menantang. "Oke!" Viano terima tantangannya. "Saya bisa buktiin."
"Tunggu sini, biar Papa isi saldo dulu. Nanti kita borong satu mesin!"
Nesta antara yakin dan tidak, Viano bakal bisa. Soalnya jari jemari Viano itu cuma ditakdirkan untuk mengetik di komputer, bukan bersenang-senang model begini.
Nesta jadi mau lihat bukti segala ucapan Viano.
"Nih!" Viano menunjukkan kartu warma biru, yang siap dipakai untuk semua area permainan. "Raja mau yang mana tinggal tunjuk. Papa bisa dapat semua."
"Coba, Pa!" seru bocah polos tersebut. "Ke mesin yang permen coklat aja, Pa. Raja nggak suka boneka."
"Huh, Papa bisa habisin isi mesinnya!" Viano meletakkan tangannya di pundak Raja menuntun pergi bersama.
Nesta yang ada di belakang cuma bisa mencebik kesal, sambil membuntuti mereka.
Gesek kartunya, Viano siap memulai aksinya.
Raja memperhatikan papanya. Dari pancaran matanya kelihatan sekali kalau dia berharap Viano bakal tampil keren selayaknya supe hero.
Setengah jam kemudian ....
"Om!" Bocah perempuan memukul bokong Viano.
Seakan abai, Viano tetap fokus pada tumpukan permen yang jadi targetnya.
"Om!" Sekali lagi bokong Viano dipukul.
Kali ini, Nesta tidak tinggal diam. "Woi, Pak!"
Kuping Viano langsung panas dengar suara Nesta. "Heh, kamu nggak sopan!" Dia menegakkan kembali tubuhnya. "Saya ini atasan kamu."
Oke, Nesta minta maaf soal sikapnya. Namun, ada yang lebih penting.
"Bapak udah setengah jam, nggak ada hasil. Masih maksa juga."
Viano kacak pinggang. "Masalahnya buat kamu, apa?"
"Nggak ada masalah buat saya. Cuma, Bapak lihat, noh!" Nesta menunjuk ke belakang Viano. Rentetan bocil alias bocah cilik yang ditemani mamanya lagi antre.
"Kenapa nggak bilang!" Viano langsung menuntun Raja, kabur begitu saja.
"Hhiiiih!" Nesta kesal sendiri.
"Tolong, suaminya kalau banyak uang suruh beki mesin sendiri!" celetuk ibu-ibu, yang kurang suka sama sikap Viano.
Nesta meringis.
__ADS_1
Nanti dulu! Suami? Viano dikira suami Nesta.
Wah, buta matanya itu orang! Perbandingan mereka bagai langit dan jurang. Kejauhan. Nesta, sih, tidak ambil pusing soal itu.
Lain cerita, kalau Viano yang dengar. Bisa keluar tanduk.
Lebih baik, susul Viano.
"Papa katanya mau habisin satu mesin?" Raja mempertanyakan ucapan papanya. "Saldo Papa udah habis, satu aja kita nggak dapet."
"Papa sengaja, nggak ambil permen coklat dari mesin yang tadi. Permennya sudah lama, paling besok kadaluarsa. Kita beli yang masih bagus aja."
Alesan! Nesta mengumpat dalam hati.
"Berarti Papa nggak punya sentuhan kebaikan kayak Kak Nesta."
Viano hanya berdecih.
"Kalau saya yang main, paling tiga kali percobaan udah berhasil!" Nesta bergumam dari belakamg. Cukup jelas sampai Viano bisa dengar.
Viano menoleh ke belakang. "Siapa yang ajak kamu ngomong?"
Sakit! Kurang kejam apa lagi bos laknatnya Nesta.
"Papa lihat, deh, Kak Nesta mainnya jago."
"Cuma mujur."
Dituduh cuma mujur, Nesta bisa buktikan!
Ini dia, Nesta sudah dapatkan mesinnya. Raja sama Viano, diam menyaksikan Nesta.
Alat capit di dalam mesin sudah bergerak, Nesta mengarahkan pada target, tahan sebentar untuk mengira-ngira. Tekan!
"Wuuhuu!" Nesta memekik kegirangan karena dia berhasil pada cobaan pertama. Dia berjoget tidak karuan.
Viano merasa panas.
"Nah, buat Raja." Nesta menyerahkan boneka berbentuk monyet pada Raja.
"Cuma mujur!" Viano berujar datar.
Nesta tersenyum miring. Dia akan buktikan kalau memang punya skill bukan cuma mujur.
"Yeeeey!" Nesta melompat kegirangan. Dia dapat lagi.
"Tuh, 'kan, Pa!" Raja menunjuk Nesta. "Kak, Nesta itu punya sentuhan kebaikan. Berarti Kak Nesta orang baik."
Usai keberhasilan yang kedua, Nesta dan Raja saling adu tos. Bikin hati Viano makin panas.
"Pak!" Nesta mendekatkan boneka ke depan wajah Viano. "Saya hadiahin ini buat Bapak."
"Kenapa dikasih ke saya? Kamu bangga, karena bisa kalahin say?"
Nesta menggeleng cepat. "Bukan, saya kasih biar Bapak seneng, nggak marah-marah terus sama saya."
Viano tercengang. Jawaban Nesta sungguh polos atau dia memang punya IQ di bawah rata-rata.
"Nah!" Dia letakkan di tangan Viano.
Meski sedikit kaku, Viano menerima pemberian Nesta.
Beralih pada Raja.
"Kak Nesta mau pulang dulu, ya." Dia mengacak-acak puncak kepala Raja. "Udah ada Papa, jadi kalian puasin aja berdua."
Raja kelihatan murung.
"Raja, 'kan, anak cowok. Oapanya juga cowok. Jadi cowok sama cowok." Eits, Nesta merasa bingung sendiri dengan teori yang baru dia bilang. Entah maknanya apa.
"Pokoknya gitu, deh!" Cepat-cepat dia bilang, sebelum Raja tanya macam-macam. "Kapan-kapan, kita bisa ketemu lagi."
Raja mengangguk.
"Pak!" Panggil Nesta.
Viano tersentak. Karyawatinya ini memang hobi membuat Viano jantungan.
"Saya pamit duluan, ya." Nesta menundukkan kepala sedikit. "Makasih untuk uang lemburannya."
"Ummh."
"Da, Raja." Nesta tersenyum lebar sambil melmbaikan tangan sebelum pergi.
Oh Tuhan, kenapa dia kelihatan imut di mata Viano?
"Misi, Pak!" Nesta melangkah pergi.
Viano menatap boneka bintang berwarna merah muda yang ada di genggamannya.
"Arggh!" Viano menggeram, setelah Nesta menghilang. Dia buka satu kancing atas kemejanya. Merasa sesak tanpa sebab.
Senyuman Nesta terakhir tadi, kenapa terus berputar ulang di benaknya?
"Jangan-jangan!" Viano menggeleng sambil bicara sendiri.
Raja bingung dengan sikap papanya. "Papa kenapa?"
"Nggak apa-apa, cuma pusing sedikit. Kita pulang aja, ya."
__ADS_1
"Papa pusing ditinggal Kak Nesta?"
Gubrak!