BOSS SOMBONG DAN KARYAWATI SABLENG

BOSS SOMBONG DAN KARYAWATI SABLENG
Nesta Menyerah


__ADS_3

##chapter 20--Nesta Menyerah


Ada berbagai jenis anak sekolah.


Yato termasuk jenis anak sekolah yang rajin dan juga berprestasi dibalut tampilan yang selalu nyeleneh. Buktinya semester ini dia pegang jabatan sebagai wakil ketua OSIS.


Meski Nesta bilang itu mungkin gurunya hilaf cuma di sisi lain tetap sebagai kakaknya dia bangga. Dengan begitu Yato bikin kakaknya itu semangat kerja meskipun digempur dengan penindasan dari Viano.


Yato harus berusaha sekuat tenaga karena kalau tidak sudah bisa ketebak nasibnya bakal gimana di masa depan nanti, jadi perencanaan hidup mereka adalah Nesta kerja mati-matian untuk menyekolahkan Yato. Nanti Yato kuliah, lalu dapat pekerjaan yang baik untuk mengangkat derajat mereka.


Soal kemudahan hidup Yato, itu sudah dijamin Nesta makanya dia bisa tinggal fokus belajar. Beda banget dulu dengan Nesta yang mau jajan saja susah. Belum lagi kalau pulang sekolah harus disuruh bantu-bantu ibunya untuk urus cucian di rumah.


Nasib hidup masyarakat miskin, walauppun tidak miri amat. Tetap saja dulu cukup Nesta susah untuk bisa sekolah dengan nyaman.


Yato memang tidak pernah tertarik banget-banget dengan perempuan tapi dari kemarin ada orang yang terus mengejar-ngejar dia.


Ini saja mau pulang sekolah sampai ada sosok perempuan itu


Omong-omong, Yato dulu pernah ditolak sama perempuan yang ini membuat Dia belajar kalau sakit hati bisa mengubah seseorang. Makanya dia sekarang lebih hati-hati terhadap perasaan siapa pun. Kalaupun tidak suka ya tinggal bicara baik-baik.


Yang jadi masalah adalah dari kemarin orang yang mengejar-ngejar Yato ini tidak bisa diajak bicara baik-baik.


Satu per satu orang lewat, Yato masih diam saja di tempat. Dia mau ambil motor bututnya yang terparkir tapi takut ketahuan dengan perempuan itu. Namanya Astrid dari kelas sebelah.


Sebenarnya dia lumayan cantik. Yato juga heran kenapa dari kemarin sibuk mendekati jangan-jangan cuma prank. Takut nanti makan hati sendiri makanya Yato pilih menghindar


"Yato!" Astrid memanggilnya sembari melambaikan tangan.


Mampus ini, Yato mau menghindar malah ketahuan sama dia tapi mau bagaimana lagi kelihatannya memang sengaja menunggu di sana karena tahu Yato mau mengambil motornya.


Astrid tidak akan malu meskipun kemarin Yato menolaknya dengan bilang kalau dia cuma mau fokus belajar.


Itu bukan alasan, Yato memang cuma mau fokus dengan pelajaran. Astrid malah suka dengan semakin semangat untuk bisa jadi atau mendekatinya.


Padahal kalau dia lihat bagaimana kakaknya Yato yang super cerewet mungkin bisa jadi pikir-pikir 1000 kali bilang begitu.


"Yato, kamu mau pulang."


"Iya, aku mau pulang."


"Bareng, ya, aku mau numpang motor kamu."


Yato lihat motornya yang butut kalau dipakai untuk menggonceng Astrid yang berkulit bersih dan juga termasuk orang berada, nanti bia jadi tontonan semua orang.


Yato tidak bisa memberikan izin.


"Maaf, aku nggak bisa kasih tumpangan ke kamu."


"Loh, kenapa? Astrid heran.


"Aku nggak mau macam-macam dulu, mau fokus sekolah. Kakaku galak, kamu bia direndang sama dia kalau ketahuan aku ada hubungan dengan teman lebih dari biasa."


Astrid tertawa.


"Aku malah penaaran mau ketemu kakak kamu."


Yato tercengang. Paling juga keder duluan kalau lihat Neta.


***


Lusi menyaksikan Nesta keluar dari ruangan piano dengan wajah merah padam.


Hemh, dia malah mensyukri apa yang menimpa Nesta, anak buah yang sok ke-pd-an belakangan ini. Pasti habis kena marah dengan Viano.


Ivan menyaksikan juga. Dia mau tahu apa yang sudah terjadi. Niatnya sih mendekati Nesta untuk tanya lebih jauh. Lusi yang tahu niatan Ivan langsung mencegah.


"Kamu mau apa?" tanya Lusi ketus. "Enggak usah ikut campur dengan urusan atasan deh."


"Atasan?" Ivan bertanya sendiri. Lusi lupa bahwa Ivan ini meski masih muda dia Manager di sini. itu berarti termasuk atasan dia juga.


"Kamu nggak ada kerjaan sama sekali apa?" Daripada sibuk dengan urusan orang, mending kamu periksa lagi berkas-berkas kerja kamu sebelum Pak Viano mengoceh."


"Memang itu urusan kamu, janagn ikut campur."


Yah, dia juga ikut campur dengan yang bukan urusannya.


Ivan mau mengejar Nesta. Sayangnya, gadis itu keburu pergi keluar.


Tumben suasana kantor kacau balau, biasanya juga kalau Viano marah masih bisa dikendalikan, jangan-jangan yang sekarang sudah sudah keterlaluan.


Ivan berencana untuk masuk ke ruangan bosnya. Bagaimanapun juga Ivan yang bertanggungjawab dengan Nesta.


Kalau sampai jadi kacau begitu berarti Viano marah besar.


Sayangnya, begitu Ivan mau konfirmasi apa yang terjadi baru sampai pintu belum juga masuk semua seluruh badannya, Viano sudah menyentak.


"Saya nggak mau diganggu dulu!"


Kalau sudah dikasiih ultimatum seperti itu, seperti itu mana berani Ivan macam-macam.


Sedekat-dekatnya dia dengan Viano tetap saja laki-laki itu atasannya.


Yang bisa Ivan akukan saat ini adalah berdoa semoga saja dia tidak kena imbasnya. Seperti disuruh melakukan hal macam-macam yang bikin sakit kepala.

__ADS_1


***


Nesta berhenti? Ini bercanda pasti. Kalau iya, Viano rekor lagi, dong?


Pria yang mengaku punya anak satu kini mengacak rambutnya. Dia merutuk sendiri, lantaran tidak tahu harus bersikap bagaimana. Masa iya, bos minta maaf sama  bawahan. Nope!


Baringkan tubuhnya, mungkin bisa mengurangi beban pikiran. Paling, rasa bersalah ini cuma ada sebentar. Besok pagi dia bangun, sydah akan menjadi Viano yang normal seperti biasa.


Pejamkan mata.


Susah. Bayangan Nesta yang tersinggung karena sikapnya terus berputar.


Oke, tidur terlentang kurang bagus, coba miring ke kiri. Ya Tuhan, sama saja. Viano masih merasa gelisah. Balik kanan, tetap saja tidak tenang. Buka mata, malah lihat foto Raja.


Arggh! Tak tahan, besok-besok kalau Raja tanya kabar Nesta bebannya pasti makin bertambah.


Batal tidurnya, Viano sekarang duduk di tepi tempat tidur dengan kaki menyentuh lantai.


Berpikir sebentar.


Bego! Viano menyadari satu hal dan sepertinya ini bisa dimanfaatkan.


Raih ponsel yang ada di meja, Viano menelepon Ivan.


Sudah berdering beberapa kali, Ivan tidak mengangkat. Jangan-jangan, sudah tidur.


Belum menyerah, Viano terus mencoba.


"Ya, Pak?" Ivan akhirnya menjawab. Suaranya agak serak dan terdengar lesu.


"Van, semua karyawan yang masih kontrak itu ijazahnya ditahan perusahaan, 'kan?"


Ivan terdengar menguap. "Masih, Pak."


Viano menyunggingkan senyuman. Akhirnya dia punya cara untuk memaksa Nesta kembali. Jujur saja, batinnya sedang tertawa girang saat ini.


Sudah kelihatan jelas kalau dia yang akan 'menang' kali ini. Nesta pasti sulit dapat pekerjaan lagi.


"Ya udah, Van, makasih."


"Bentar, Pak! Ivan menahan Viano yang hampir memutus panggilan. "Bapak nelepon saya jam segini buat tanya itu doang?"


"Iya, kenapa? Kamu mau saya tagih laporan kinerja karyawan tengah malam begini?" Viano memijit pangkal hidung. Heran, sama karyawannya yang selalu bersikap tidak jelas.


"Nggak, Pak." Ivan mendesah sejenak. "Tapi, sebagai orang yang sudah mengabdi dua tahun sama Bapak tanpa potes, saya boleh bilang sesuatu?"


Viano mencebik, si Ivan kira-kira mau curhat soal apa, nih?


"Bilang aja, Van!"


"Pak, saya lebih iklas ditelepon jam satu malam kalau Bapak mau tanya projek penting atau masalah genting. Kalau cuma tanya gitu doang, BISA BESOK PAGI, PAAAAK!"


•°•


Lusi kemarin sibuk di ruangannya sampai tidak tahu apa yang terjadi antara Nesta dan Viano. Cuma dengar dari bisik-bisik karyawan lain yang bilang Nesta keluar begitu saja dari perusahaaan.


Apa peduli Lusi. Lagi pula, bagus juga kalau Nesta tidak ada. Lusi selalu sebal lihat dia yang bersikap sok asyik di depan Viano. Pergilah sana. Taruna Corp, termasuk perusahaan besar dan bonafit, Lusi yakin dalam sehari sudah banyak yang bisa direkrut.


Betapa bahaganya Lusi mengingat Nesta yang sudah tidak ada lagi di kantor.


"Van, ngapain?" Lusi berpapasan dengan Ivan yang baru saja keluar dari ruangan Viano.


"Ada rapat kecil, Bu."


"Soal?"


Berhubung Lusi tanya, terpaksa Ivan menjelaskan. "Soal Nesta yang ijazahnya masih ditahan di sini. Pak Viano mau, saya hubungi dia dan minta uang denda atau kembali ke perusahaan."


Lusi menggeram. "Apa-apaan, sih, Viano!" Dia merutuk sendiri seraya mendorong pintu, kemudian masuk ke ruangan Viano.


Terlihat si bos sedang sibuk dengan pekerjaannya.


"Kamu apa-apann, suruh  si OG sinting itu kerja lagi?"


Viano mengangkat pandangan, beralih dari tumpukan kertas pada Lusi.


"Kalau karyawan nggak sopan gitu, biarin aja pergi. Kalau memang denda, ya sudah tagih aja uang dendanya. Bila perlu perkarain ke hukum!" omelnya lagi setelah menempelkan bokong di kursi.


Viano tersenyum miring, melihat Lusi yang melipat tangan di dada. "Kesopanan?" tanyanya.


Lusi hanya membalas tatapan Viano.


"Kamu sadar, Lus. Kamu baru saja menggunakan kata 'kamu' untuk manggil saya."


Ah, sial. Lusi malah termakan omongannya sendiri.


"'Kan, cuma ada kita berdua," sergahnya.


"Berdua atau ramai, kalau di kantor saya ini atasan kamu. Biasakan untuk panggil 'Pak'."


Sudahlah, Lusi memang akan selalu kalah kalau berdebat dengan Viano. Lebih baik, langsung beralih pada pekerjaan.


"Jadwal rapat untuk pekan ini, dan notulen rapat minggu lalu."

__ADS_1


Viano menerimanya, kemudian menyingkirkan dulu ke samping. Dia masih fokus menyelesaikan pekerjaannya yang tadi.


Lusi masih diam di tempat.


"Kamu bisa langsung keluar kalau nggak ada urusan lagi."


Menyebalkan! Viano selalu bersikap dingin bukan cuma pada Lusi, tetapi semua orang.


***


Nesta baru saja sampai di seberang jalan ketika ponselnya berdering. Sedikit terkejut karena ternyata Ivan yang meneleponnya.


Nesta duduk di halte, sembari menjawab panggilan Ivan.


Selesai salam di awal percakapan Ivan langsung bahas soal Nesta tanpa basa-basi.


"Kamu beneran keluar dari kantor?"


Nesta mendesah. Rupanya, masih banyak yang ragu kalau dia sungguh-sungguh soal keputusannya kemarin untuk berhenti bekerja. Lagi pula, kalau cuma bercanda, pasti pagi ini dia sudaj ada di kantor.


"Serius, Pak. Saya marah sama Pak Viano yang main tuduh kalau saya ambil dompetnya."


Sebetulnya, Ivan tidak menyalahkan keputusan Nesta. "Maafin ajalah. 'Kan, tau sendiri dia orangnya gimana."


"Yah, bisa aja, sih, Pak. Cuma, saya maunya Pak Viano minta ,aaf langsung. Ini dia nggak mau, mentang-mentang bos dan saya cuma kacung, gitu?"


Iya juga, sih, Ivan sependapat.


"Ngomong-ngomong, saya nelepon kamu disuruh sama Pak Viano. Disuruh ingetin ke kamu soal denda gaji tiga bulan kalai nerhenti sebelum kontrak habis. Ijazah kamu, 'kan, ada di kita.:


Nesta tidak lupa soal itu. Makanya, kurang dari 24 jam, dia langsung cari info lowongan kerja, biar bisa tebus ijasahnya. Untung, dia punya teman yang bisa bantu.


"Ini saya mau interview kerja, Pak. Nanti kalau usah gajian, saya tebus ijazah saya."


"Cepet amat dapetnya."


Nesta terkikik. "Kebetulan ada kawan yang buka toserba, jadi saya bisa langsung interview."


Kalau begini, makin tipis harapan Nesta mau balik ke kantor.


"Nggak balik aja ke kantor? Dendanya sayang, loh. Sekitar sebelas juta. Nih, saya kasih tau, Pak Viano begini saya yakin bukan karena uang denda. Dia pasti nyesel soal kelakuannya kemarin."


"Saya cuma takut, Pak, kalau besok-besok saya akan dituduh lagi. Makanya, Pak Viano cukup bilang maaf, saya nggak akan ambil hati soal sikapnya."


"Yah, maklumin aja, deh. Manusia nggak ada yang sempurna.  Dia pimpinan yang baik, cerdas cuma masalahnya sesikit arrogant. Tapi, soal kerjaan dia profesional. Apalagi urusan upah karyawan, dia paling anti telat bayar gaji. Saya salut sama kualitas kerjanya."


Nesta akui semuanya benar, cuma keputusannya sudah bulat kalau dia tidak akan kembali sebelum Viano minta maaf.


"Pak Ivan, maaf, kayaknya kita harus udah dulu ngobrolnya. Saya nggak enak, takut ditungguin teman saya."


"Oh, sorry." Dengan Nesta  tidak mau lanjut ngobrol, berarti Nesta sudah teguh pada pendiriannya.


•°•


Katanya, Ivan harus segera lapor kalau sudah dapat kabar dari Nesta. Begitu senggang dan kebetulan Viano ada di ruangannya.


"Saya udah telepon Nesta."


"Gimana ... gimana?" Viano tampak antusias. Dia, sih, yakin Nesta akan kembali lagi. Mau  bayar denda dari mana dia? Serius, batin Viano sudah tertawa jahat dari tadi.


"Saya bawa kabar baik."


Makin senang Viano, pasti Nesta menyesal.


"Kantor kita bakalan dapat uang tambahan sebelas juta," sambung Ivan menyudahi kesenangan Viano.


"Maksudnya?"


"Pilihannya cuma dua, Pak. Minta maaf atau perusahaan dapat uang dari Nesta."


Viano mengernyit, jangan bilang Nesta tidak akan kembali ke kantor.


"Nesta udah interview di tempat kerja lain!" Ivan menandaskan.


"Kok bisa cepet?" Viano sampai memelotot.


"Bisa, karena yang punya tempat kerja itu temannya."


Tidak ... tidak. Viano sulit menerima ini. Harga dirinya serasa dilecehkan. Ini termasuk sabotase karyawan!


"Dia kerja di perusahaan mana?"


Ivan menggeleng. "Bukan perusahaan. Dia kerja di toserba."


"Toserba!" Itu pasti gajinya lebih kecil dari perusahaan Viano.


Omong-omong Viano penasaran, di toserba mana Nesta kerja. Terus, temannya Nesta itu cowok atau cewek?


Jangan-jangan cowok.


Kalau memang cowok, Viano yakin pasti dia jelek. Terus bisanya cuma modus. Kasihan Nesta kalau gitu. Dimanfaatkan oleh orang kebodohannya.


Dari semua yang Viano pikirkan, faktanya teman Nesta itu masih muda, jauh dari kata jelek dan sama sekali tidak modus. Bonusnya lagi, dia tipe orang yang humble dan akrab dengan Nesta.

__ADS_1


Tempat kerja barunya akan lebih menyenangkan. Mampus Viano, kalah saing sama bisnis kecil.


Tidak mau! Viano anti kalah, apalagi sama bisnis menengah. Sepertinya dia harus melakukan pengintaian.


__ADS_2