
Soal omongan Ivan yang menyebut Vinao terlalu bawa perasaan terhadap urusan Nesta, sepertinya betul. Kalau tuduhan itu tidak benar, mana mungkin Viano sekarang mengunjungi K-Mart sekitar jam empat sore.
Jreng! Dia berani muncul di hadapan Nesta.
Senyum Nesta ketika menyambut pelanggan toko, menguar seketika saat tahu ada Viano di depannya.
Berdiri satu garis lurus, tatapan sengit terjadi.
Demi toko Kevin, Nesta akhirnya mengalah.
"Bapak mau belanja?"
"Umh!" Viano menjawab dingin.
Ya udah, sono! Seandainya Nesta bisa bilang langsung. Namun, yang ada dia malah harus bilang, "Silakan, Pak."
Waktu Viano keliling mengitari rak display satu per satu, perasaan Nesta agak sedikit tidak enak. Matanya mengekori Ke mana Viano pergi.
Viano mengamati tumpukan barang yang didagangkan. Astaga, tidak ada yang bermerek, semuanya biasa.
Rak lain yang dilihat, lagi-lagi cuma menemukan barang biasa. Pasti untungnya kecil. Hah, mana bisa menyaingi perusahaan Viano.
Nesta melayani pelanggan yang lain. Mereka yang baru masuk saja sudah keluar, masa Viano yang dari tadi tidak selesai juga.
Mana keranjangnya masih kosong.
Jangan-jangan mau maling! Huh, gantian Nesta yang curiga.
"Bapak mau cari apa? Kok, dari tadi nggak selesai-selesai?" Nesta terpaksa harus menghampiri Viano.
Viano melihat-lihat, sekitar. "Nggak ada," katanya ketus.
"Ya udah kalau nggak ada, Bapak bisa keluar. Saya tuh merasa terintimidasi karena Bapak berdiri di sini, berasa saya diawasin malaikat maut."
Vano mendesah. "Mana manajer toko kamu, saya mau laporin karyawannya ada yang ngusir pelanggan."
Ya Tuhan, Meskipun Nesta sudah keluar dari kantor, tetap saja Viano buat dia ketar-ketir soal kerjaan.
"Katanya tadi, Bapak bilang gak ada yang mau dicari, berarti Bapak bisa pergi ke toko lain."
Viano mengembalikan keranjang yang tadi sempat Nesta berikan.
"Saya mau cari snack yang nggak ada MSG. Cariin!" titah Viano.
Oke, Nesta bergegas mencari. Dia siapkan beberapa pilihan untuk Viano.
"Raja pasti suka yang ini." Nesta menunuk snack rumput laut. "Pakai MSG,sih. Cuma kalau makan dikit, nggak bakalan bikin bego."
"Kamu suka ini?" Viano mengambil snack dari keranjang.
Status sebagai karyawan toko, membuat Nesta harus membanggak produk yang mereka jual.
"Suka dong, Pak. Ini enak banget."
__ADS_1
Viano mengembalikan snack ke keranjang. "Kalau gitu, anak saya jangan makan ini."
Nesta memandang bungkusan snack yang baru saja ditaruh Viano. Memang, apa salahnya dengan makanan itu?
Jangan-jangan dia takut anaknya jadi bego. Tunggu dulu! Berarti secara tidak langsung, Viano menghina Nesta bego, dong?
Nesta melirik lagi mantan bos yang kebetulan berada di belakang. Tadinya mau marah, cuma begitu melihat Viano berkonsentrasi penuh pada barang yang akan dipilih, di saat itulah aura ketampanannya semakin meningkat.
Waktu tanpa sengaja mereka saling lirik-lirikan, Nesta malah salah tingkah.
Dia menggeram, sambil geleng-geleng.
Naksir Viano sama dengan penderitaan. Tahu sendiri dia sering bilang Nesta tidak menarik di matanya.
Yakin, ini cuma efek banyak pikiran.
Belum lagi masalah dia harus sikut-sikutan dengan Lusi. Fix, harus kubur jauh-jauh perasaan.
Lihat-lihat snack, Nesta jadi bingung sendiri. Sebenernya, Viano mau yang bagaimana? Karena kalau mau bersih total dari MSG itu tidak mungkin.
Hampir semua makanan yang rasanya gurih itu pakai MSG. Meladeni orang yang banyak maunya, memang merepotkan.
Oke dia memang sifatnya terlalu bossy dan Nesta masih terbawa perasaan waktu dia kerja di kantornya Viano. Apalagi di sini dia statusnya sebagai pelanggan, di mana motonya; 'pelanggan adalah raja', maka dari itu Nesta harus memberikan pelayanan terbaik. Supaya tokonya Kevin makin laris.
Ketika Nesta menghilang dari pandangannya, sebenarnya Viano bermonolog sendiri. Kata mana yang lebih tepat, harus diucapkan supaya Nesta bisa kembali ke kantornya. Apakah, begini, saya minta maaf soal kemarin dan tolong lupain aja kembali ke kantor, karena saya suka dengan kerja kamu meskipun ceroboh.
Sepertinya jangan. Masih ada kata-kata yang mencemooh.
Mungkin jangan juga. Terkesan seperti ancaman, nanti dia tambah tertekan.
Nesta buat apa kamu kerja di toko ini? Udah kecil, cuma sendirian, sepi pula. Gaji kamu pasti nggak seberapa. Kalau kamu mau kembali ke kantor, saya masih kasih kesempatan.
Opsi ketiga sepertinya lebih bagus.
"Nih, Pak. Snack tanpa MSG." Nesta menaruh keranjang yang berisi beberapa macam snack pilihannya. Terserah deh, Viano mau terima atau tidak, yang penting sudah bantu cari.
Kembali ke meja kasir, Nesta menunggu Viano mau bayar cash, debet atau mau pergi begitu saja.
Viano mengambil keranjang yang tadi Nesta letakkan. Antrianya terpotong karena ada perempuan yang hanya membeli sebuah pembalut dan langsung bayar di kasir. Tidak masalah.
Sambil menunggu dia menyiapkan diri untuk mengungkapkan kata-kata yang tadi dia pikirkan sebaik mungkin tanpa menghilangkan kesan wibawanya.
"Nesta kamu kerja sampai jam berapa?"
Nesta yang baru saja men-scan belanjaan Viano, menatapnya sekilas. Heran untuk apa mantan bosmharus tahu segala jadwal kerjanya.
"Hari ini saya dapat shift sore, sampai jam sepuluh malam."
"Hah!" Reaksi Viano berlebihan, tetapi Nesta tidak perlu kaget. Sudah biasa dia begitu.
"Di kantor saya, kamu nggak pernah kerja sampai jam sepuluh malam. Uang lembur-nya juga besar."
Parah, masa dai harus bandingin toko retail sama perushaan besar. Nggak ada ahlak!
__ADS_1
"Saya nyaman kerja di sini. Kebetulan pemiliknya itu teman saya. Orangnya baik, nggak SOMBONG!" Nesta memberi penekanan pada kata terakhir.
"Saya cuma bersikap tegas." Viano membela diri karena dia tahu Nesta sedang menyendirnya. "Kamu boleh cari, di mana ada bos yang seloyal dan seperhatian ini sama karyawannya."
Nesta pikir, Kevin orangnya.
"Semuanya empat puluh delapan ribu." Nesta menyerahkan kantung belanja. "Kalau bapak mau, potong aja angsuran denda saya. Jadi utang sebelas juta saya, tinggal sepuluh juta sembila ratus lima puluh dua ribu."
Viano melempar kartu debet ke meja.
"Kantor saya nggak miskin-miskin amat, sampai butuh uang denda dari kamu."
"Yah, siapa tau Bapak mau nagih. Saya, 'kan belum punya uang."
"Andai kamu cicil segini, butuh sepuluh tahun untuk lunas. Pada masa itu, ijazah SMA kamu udah lumutan."
Issh! Setiap kali bicara, Viano selalu saja membuat Nesta kalah.
"Saya cuma merasa miris lihat kamu kerja di sini, setengah jam saya datang cuma ada dua orang pembeli itu pun belanjanya nggak seberapa."
Nesta menangkup mulutnya. "Ya ampun, Bapak, gibahin usaha orang dosa, loh. Pasti Pak Ivan lupa ingetin soal azab."
Plang! Nesta disambit kantung plastik.
"Saya mantan bos kamu, yang bisa saja bakalan jadi bos kamu lagi. Yang sopan!"
Ribet amat, penuturan Viano.
Belanjaan Viano sudah selesai, bukan bermaksud mengusir Nesta meminta dia keluar, dengan alasan masih sibuk kerja.
"Tawarin saya pulsa!" pinta Viano.
Ajaib, "kan, dia? Di saat kasir tidak niat menawarkan dia malah menyuruh.
Nesta tawarkan, Viano mengisi nominal seratu ribu.
"Udah, Pak?"
"Tawarin saya barang promo, terbaru, diskon atau apa."
"Bapak sebetulnya, mau apa ke sini?" Nesta gerah meladeni Viano.
Inspkesi dadakan, dengan alasan belanja.
"Saya cuma mau riset, kinerja toko retail kecil begini. Kira-kira gajinya di bawah UM apa, nggak." Viano menyapukan pandangan ke seisi toko.
"Saya masih mau maklumin kalau kamu kembali ke kantor. Besok, kembali seperti biasa. Daripada kamu di sini."
Seseorang berdeham dari belakang. "Maaf, Anda siapa?" katanya.
Viano menoleh ke belakang.
Nesta memelotot matanya. "Mampus!" Tanpa sadar dia membisikkan kata itu.
__ADS_1