BOSS SOMBONG DAN KARYAWATI SABLENG

BOSS SOMBONG DAN KARYAWATI SABLENG
Gantian Marahnya


__ADS_3

##chapter 19-- Gantian Marahnya


Lusi melihat Nesta setelah dipanggil buru-buru ke ruangan Viano. Dia sudah tahu Pasti mau dimarahi. Cuma penasaran saja kira-kira kesalahan apalagi dilakukan oleh office girl bodoh itu.


Dia mau cari tahu. Tapi ketika mendatangi ruangan Viano pintunya ditutup. Sepertinya memang obrolan bersifat pribadi. Lagi pula Lusi akan hilang harga diri kalau sampai nekat menerobos masuk.


Jadi, jalan satu-satunya adalah dia cari tahu dengan karyawan yang lain. Masalahnya tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi.


Mereka menebak Viano kan memang begitu kalau melihat karyawan yang tidak becus bekerja bisa narah. Makanya semua orang yang ada di sini adalah orang-orang pilihan. Bisa dibilang tingkat kesalahan mereka dalam bekerja itu tidak lebih dari 2%.


Lusi tidak menyerah sampai disitu mumpung Ivan lagi tidak banyak kerjaan dia ke ruangan manajer tersebut.


Ivan yang sedang membaca berkas juga kaget didatangi sekretarisnya Viano.


"Eh, Lusi. Ada apa?" tanyanya sekilas kemudian kembali memusatkan perhatian pada layar komputer.


Lusi cuma tersenyum sinis sambil bilang, "Nggak usah sok banyak kerjaan deh. Aku tahu dari tadi kamu juga nganggur."


Apa sih, lvan hanya membatin. Orang mau banyak kerjaan atau bukan kenapa jadi dia sibuk.


Lusi Tanpa disuruh duduk di depan Ivan, menyilang kaki. "Itu office girl baru hasil rekrutan kamu kira-kira buat masalah apalagi sampai Harus dipanggil ke ruangan Viano?"


"Hah?" Ivan kaget. "Maksudnya Nesta kena masalah?" Ivan bertanya balik.


Lusi pegang kepala. "Bodoh banget sih, aku datang ke sini mau tanya malah ditanyain balik."


Ivan mengerut alisnya. "Kamu enggak lihat terus dari tadi aku ada di ruangan. Jadi mana tahu apa yang terjadi di ruangan Pak Viano. Memangnya, Nesta kenapa?"


"Ya, mana aku tahu! Yang aku liha Ujang tadi keluar dari ruangan Viano buru-buru memanggil Nesta untuk datang ke sana lagian juga aku ke sini mau tanya ke kamu, kalau kamu tanya balik itu namanya sama aja bohong. Ngak guna aku datang ke sini!"


Lusi memang keterlaluan. Mulutnya pedas mengalahkan cabai bubuk level setan.


Ivan yang sebenarnya orang tipe yang sabar Kalau mau diganggu seperti itu dia Jarang mereka terusik. Tapi, kali ini memang cukup keterlaluan.


"Terus masalahnya, Siapa yang minta kamu untuk datang ke sini?"


Lusi langsung angkat bokong. "Jangan sok keren deh, aku tanya juga jarena penasaran doang. Kalau nggak mana mungkin aku sudi ke ruangan kamu!" Dia langsung keluar, menutup pintu dengan kasar.


Ivan memegang kening yang terasa berdenyut. Perempuan model begitu jangankan Viano dia juga nggak nafsu.


Cantik sih, tapi kelakuannya bikin sakit kepala. Kapan coba dia mau sadar dengan sikap yang seperti itu dia benar-benar menyebalkan.


Kalau bukan ingat teman satu kantor Ivan pasti sudah menyuruhnya keluar dari tadi. Lama-lama orang di kantor ini makin aneh-aneh kelakuannya dia harus banyak mendengarkan audio motivasi dan juga siraman rohani biar jadi ikutan stres.


***


Nesta buru-buru ke ruangan Viano. Begitu sampai di sana, tampang bosnya sudah mirip tokoh antagaonis di drakor. Nyeremin tapi cakep.


"Bapak panggil saya?" tanys Nesta langsung setelah dia berdiri di hadapan Viano. Kalau diperhatikan, kali ini Viano marahnya tidak main-main.


"Kenapa kamu masuk ruangan saya?"


"Oh, itu tadi Mang Ujang-"


"Ujang yang kasih kuncinya?" potong Viano, cepat.


Nesta mengangguk.


Tanpa melepas tatapan tajamnya pada Nesta Vinao menelepon Ujang.


"Ke ruangan saya sekarang!" katanya, dengan gagang telepon yang menempel di telinga.


Nesta berani bertaruh, masuk wahana hantu tidak akan lebih seram dari lihat muka Viano yang datar, tetapi bikin keder. Untung hidungnya mancung.


Eits! Nrsta menggeleng sendiri. Dia memaksa diri untuk fokus pada pekerjaannya. Jangan fokus pada bagian-bagian wajah Viano.


Viano  mengetuk-ketuk meja dengan telunjuknya. Menimbulkan bunyi yang semakin membuat suasana makin mencengkam.


Entah kenapa, tangan Nesta terasa gatal tanpa sebab, menunggu Ujang datang. Malah Viano diam saja, bikin makin kikuk jadinya. Heran, hari ini si bos punya masalah apa?


Ujang datang hanya dalam waktu singkat. Untunglah. Paling tidak dimarahi berjamaah lebih menyenangkan daripada senang-senang sendirian.


"Saya, Pak?" Ujang membungkuk-bungkuk, karena meraaa ada yang salah juga dari dirinya.


"Kami yang kasih kuncj ruangan saya ke dia?" Viano menunjuk Nesta.


Hei, Viano menggunakan kata 'dia', membuat Nesta berpikir seberapa sulit menyebut namanya langsung.


"Iya, Pak." Ujang menjawab tanpa ada dusta di antara mereka.

__ADS_1


Viano mengejap, Ujang buru-buru menjelaskan.


"Tadi pagi, ulu hati mendadak nyeri, Bos Kasep. Makanya saya minta tolong Nesta untuk cek ruangan ini. Takutnya, kalau masih kotor, si Bos nanti nggak nyaman."


Viano mengangguk. Alasan Ujang bisa diterima, karena memang mendesak.


"Nesta kamu ngapain aja di ruangan saya?"


"Eh?" Dua alis Nesta terangkat naik.


"Mengelap meja, menyapu lantai, setelah itu apa lagi?"


Mengingat sebentar ....


"Nggak ada, pak. Saya cuma lakuin yang Bapak sebut tadi."


Rasanya, napas Viano tertahan di paru-paru, membuat dadanya terasa penuh.


"Nesta saya serius kali ini."


Tidak tahu maksud Viano apa, Nesta mulai menerka-nerka. Serius yang bagaimana dia maksudkan?


Satu hal, memang Viano pernah bergurau?


"Saya nggak tau maksud Bapak apa."


"Apa yang kamu pindahkan dari ruangan saya?"


Nesta tingak-tinguk. Seingatnya, dia sama sekali tidak menggeser apa pun.


"Saya kehilangan dompet!" Viano mengaku secara lugas.


Hela napas lega, Nesga tersenyum. Tadinya dia kira Viano akan bertanya soal apa.


"Oh, dompet itu-"


"Kamu tau, 'kan?"


"Tau. Saya kira, Bapak mau tanya apa, tadi."


"Kamu jangan anggap remeh soal benda itu. Saya nggak peduli dengan seberapa banyak uang yang hilang asalkan dompet dan foto di dalamnya tetap ada."


Nesta tersenyum kaku. "Maksud Bapak?"


Nesta tak percaya soal ini. Viano menuduhnya mencuri?


"Nesta Vilian, kamu dengar saya bilang apa tadi?" Viano menegaskan.


Ujang mencolek-colek Nesta. Maksudnya kalau memang benar Nesta menyimpannya, tolong segera kembalikan atau beri penjelasan apa supaya mereka tidak kena marah. Lebih bikin takut, kalau sampai dipecat.


"Dompetnya nggak ada sama saya."


Viano memundurkan badannya sedikit, sampai menyentuh bahu kursi.


"Jangan bohong, saya lihat sendiri di CCTV, kamu memindahkan dompet itu dari meja saya."


"Saya memindahlan, bukan mengambil!"


Ujang yang ada di samping Nesta, mencolek lagi supaya Nesta  bisa bersikap sopan. Biar bagaimanapun, Viano bos di sini.


Nesta menjauhkan tangannya dari Ujang, bahkan kali ini dia berikan tatapan yang menantang.


"Kalau begitu, di mana dompet itu sekarang?"


Nesta menunjuk box binder berwarna biru di sisi sebelah kiri Viano. "Saya selipkan di situ supaya lebih aman."


Ya Tuhan, ternyata yang dikatakan Nesta benar. Dia memang menyimpan dompet Viano di sana. Astaga, bagian yang tertutup dari CCTV rupanya ini.


Viano berdeham. "Makasih kalau gitu."


Ujang tersenyum lega. Syukur Viano tidak marah lagi.


"Maskaih Bapak bilang?" Nesta tidak bisa menahan kekesalan.


"Huus!" Ujang sudah sibuk saja menarik Nesta keluar. Jangan sampai, malah mulai ribut lagi mereka.


Nesta menolak ajakan Ujang. Dia malah makin menajamkan pandangan pada Viano.


"Minta maaf!" serunya.

__ADS_1


Viano berjengit. "Maksud kamu?"


"Bapak minta maaf dengan saya!"


Viano menghela napas. Dia bahkan sampai mendongakan kepala sejenak, sebelum menatap Nesta kembali.


"Saya panik tadi, karena benda ini. Bukannya saya sudah bilang terima kasih?" Sebelah alis Viano terangkat naik. "Apa perlu saya siapkam hadiah?"


Viano sempat berpikiran kalau Nesta yang mengambil dompetnya. Nesta mau Viano meminta maaf, bukan bilang 'terima kasih'!


"Nestaaa!" Ujang berbisik sambil mengejap lama. Nesta biasanya cuma agak eror, bisa kerja dengan benar. Kali ini, bisa lurus, tetapi malah bikim ketar-ketir. "Hayuk atuh, kita keluar."


"Nggak, sebelum Pak Viano minta maaf."


Viano memelotot. "Apa kamu sadar, saya ini siapa?"


Benar, Viano mengingatkan posisinya saat ini. Kalau begitu, tanpa ragu Nesta melepas ID card yang menggantung di lehernya.


Dia letakkan ID card-nya di meja Viano. Jelas membuat si empu ruangan mengernyit keheranan.


"Saya mengundurkan diri!"


Viano tercekat.


"Surat pengunduran diri, saya antar besok."


Nesta mengundurkan diri mendadak?


Ini tidak benar, 'kan?


"Permisi, Pak!" Nesta melangkah keluar.


"Heh!" Viano teriak memanggil, tetapi tidak dihiraukan.


Ujang yang ada di dalam, jadi bingung sendiri.


"Saya keluar dulu, ya, Pak?"


"Mang, tunggu!" Viano menahan Ujang yang hampir keluar. Pasalnya, dia punya pertanyaan yang perlu dijawab. "Itu yang tadi di pipi  Nesta, apa?"


Ujang menggaruk kepala. Ini bosnya sedang basa-basi atau bagaimana?  Sudah jelas tadi  Nesta menanigs. Masa iya, keringat sampai keluar dari mata?


"Apa saya keterlaluan? Salah kalau saya tanya ke dia begitu?"


Ujang dilema. Kalau bohonh, dia dosa. Kalau jujur dia takut dipecat.


"Bba-pak bisa tebak sendiri." Ujang meringis.


Menggeram, Viano bergegas menyusul Nesta. Masuk lift, dia turun ke lantai dasar, tingak-tinguk setelah keluar dari lift.


Sikapnya, menjadi pemandangan tidak biasa bagi seisi kantor.


"Nesta!" Viano meneriaki yang Nesta sudah berada di lobi kanor.


Viano menghampirinya.


"Nesta, soal yang tadi-" Viano menggantung ucapan.  Dia mengumpat dalam hati, ketika tatapan Nesta beda dari biasanya.


Meminta maaf pada Nesta, haruskah dia lakukan?


Beberapa detik kosong, ketika mereka saling diam.


"Tadi ...." Dia kelihatan berat untuk mengatakan. Nesta sebetulnya menunggu, seandai Viano akan mengatakan maaf, dia akan kembali bekerja. Lagipula, biaya hidup cukup tinggi. Belum urusan keluarga di kampung.


"Kamu nggak boleh mengundurkan diri sembarangan!"


Ahhh! Bego! Viano memaki diri sendiri, karena yang ada di pikirannya bukan kalimat tadi.


Pupus harapan Nesta untuk bisa kembali bekerja. Salah Nesta, sudah menarun harapan pada orang sombong yang tidak mungkin pengertian.


Fix! Dia keluar dari pekerjaannya.


Mengingat harus bayar uang kos, biaya makan, paket internwt buat nonton drakor ....


Kejamnya Viano.


"Permisi, Pak."


"Nnes-" Viano kesal sendiri. Dia tidak mungkin mengaku terang-terangan kalau mau menahan Nesta.

__ADS_1


Kalau dia pergi? Bagaimana jika Raja mencarinya? Apa dia masih mau menemuinya.


Viano mengacak rambutnya. Ayolah, dia butuh jawaban jujur soal sikapnya tadi. Apakah itu keterlaluan?


__ADS_2