BOSS SOMBONG DAN KARYAWATI SABLENG

BOSS SOMBONG DAN KARYAWATI SABLENG
E Kuadrat K


__ADS_3

Turun dari mobil, Viano tergesa-gesa masuk rumah. Sampai di ruang tamu, dia dapati Garseta tengah duduk menyilang kaki ditemani secangkir teh hangat.


"Ma?" Masih dalam napas tersengal dia menyapa.


"Tergesa-gesa, Vi?" Ada nada sindiran di dalam ucapan perempuan paruh baya di hadapan Viano.


Viano mengatur napas, mengendurkan dasi lebih dulu sebelum duduk di hadapan ibunya.


"Mama ada perlu apa ke sini?"


"Menunggu putra kesayangan pulang." Garseta yakin, Viano tahu kalau sekadar berkunjung bukan alasan sebenarnya.


"Kita nggak perlu basa-basi, Ma. Mama ada perlu apa ke sini?"


"Besok Mama ada acara makan siang dengan kolega bisnis. Lusi  juga akan datang."


Viano tahu, ujungnya bagaimana.


"Lusi akan datang juga!" Garseta menandaskan.


Viano menggeram, tadinya dia pkir akan ada urusan mendesak. Ternyata perkara sepele.


"Mama bisa telepon-"


"Telepon?" Nada bicara Garseta meninggi. "Mama bukan cuma mau sampaikan itu aja, Vi!"


Viano menegang.


"Mama mau besok kamu datang, tanpa anak itu."


"Raja, Ma!" Viano tidak suka kalau mamanya menyebut kata anak itu. Seolah Raja sama  sekali tidak berharga. "Mama harus tau, kalau dia anak kandung-"


"Apa aku pernah mengakuinya?" Garseta menyentak Viano. "Jangan coba-ciba korek luka lama Mama, Vi!"


Suasana tegang.


Garseta mendesah. "Kalau kamu masih menganggap Mama orang tua, jemput Mama besok pagi."


"Tanpa, anak itu!" Garseta mengingatkan kembali.


Viano tidak bisa membantah. Dua-duanya, sama-sama menjebak.


Menyampirkan tas kecil, Garseta beranjak dari duduknya.


"Mama tunggu kamu besok!"


"Mmh." Viano mengggumam. "Mama mau pulang?"


"Bukannya kamu yang mau mama cepat pergi?"


Viano memegang dahi sebentar. "Bukan begitu maksudnya, Viano cuma nggak mau Mama marah dengan Raja."


Garseta bergidik pelan. "Nggak perlu basa-basi, Vi. Mama tau isi hati kamu."


Diam. Begitulah Garseta, terus berpkiran negatif tentang Viano, meski sang anak telah bersusah payah untuk menunjukkan baktinya.


Semua, hanya karena satu perkara. Viano tidak mau berpisah dari Raja.


•°•


Mamanya pulang, Viano ke atas menuju kamar Raja. Kebetulan, Mia baru keluar.


"Raja gimana, Sus?"

__ADS_1


Mia baru saja menutup pintu pelan. "Den Raja katanya mau tidur."


"Oh!" Viano mengangguk pelan.


"Kalau gitu, saya permisi pulang, ya, Pak."


"Silakan, Sus."


Menundukkan kepala sedikit, Mia permisi pulang. Dia memang bukan pengasuh yang stay di rumah. Pasalnya, yang menghuni rumah ini hanya Viano dan Raja. Ada satu tukang bersih-besih rumah--itu pun tidak menginap--dan seorang satpam.


Khusus untuk Mia, Viano memberikan uang lebih untuk mencari tempat kos yang tidak jauh dari rumah Viano. Dia memang harus pulang-pergi, supaya tidak ada gosip. Apalagi fitnah.


Mia pergi, Viano masuk ke kamar Raja.


Anaknya tengah meringkuk di balik selimut dengan posisi memunggungi Viano.


Duduk di samping anaknya, Viano mengusap lembut pundak Raja.


"Raja udah tidur?" Viano sebetulnya tahu, Raja masih terjaga.


Raja memang hanya sembunyi. Dia tidak mau menangis di depan papanya. Selain tidak mau menambah beban Viano, dia juga malu, karena merasa laki-laki tidak pantas menangis.


"Maafin Papa ...." Viano berbisik lirih. "Raja jangan sedih, ya." Satu sisi lembut Viano yang tidak diketahii banyak orang. Dia memiliki sifat kebapakaan yang bisa dibilang sempurna.


Raja membuka selimutnya, berbalik untuk menatap Viano.


"Oma marahin Papa lagi?" tanyanya polos.


Tersenyum, Viano mengusap puncak kepala anaknya.


"Oma cuma mau kasih tau, kalau Papa ada undangan makan siang, besok."


"Raja nggak boleh ikut, 'kan?" pungkas bocah itu, polos.


Alasan, Raja tahu yang sebenarnya.


"Papa, nanti kalau Papa nikah, Raja tetep sama Papa atau dijauhin?"


Viano mengernyit, karena tiba-tiba anaknya bertanya demikian.


"Oma selalu bilang, Raja nggak boleh ganggu Papa kalau Papa punya istri. Raja harus jauhin Papa."


"Nggak, Papa nggak akan jauh dari Raja." Bahkan kalau pernikahan mengharuskan Viano berpisah dari Raja, dia akan tetap memilih melajang.


"Nanti kalau Raja suruh pergi, taruh aja Raja di panti asuhan, Pa. Jangan masukin kardus, ya?"


Viano terkikik. "Siapa yang ajarin gitu?"


"Tuh, mamanya Davin. Kalau dia nakal, mamanya selalu bilang mau masukin dia ke kardus biar dipungut tukang rongsok."


Gemas. Ada-ada saja pikiran anak kecil.


"Sudah makan, belum?"


"Udah, Pa. Tadi suster suruh Raja makan, takut kemaleman kalau tunggu Papa."


"Sekolahnya tadi gimana?"


"Baik, Pa." Sebenarnya tidak seratus persen baik. Tadi, beberapa anak nakal mengejek Raja yang tidak pernah diantar ibunya ke sekolah. Kata mereka, Raja anak suster bukan anak ibu.


"Beneeeer?" Viano mencubit pipi gembul putranya sampai terlihat melebar. Matanya jadi semakin sipit kalau begitu.


"Bener."

__ADS_1


Viano harus mengajarkan makna kepercayaan pada Raja. Kalau anaknya mengaku demkian, berarti dia harus percaya.


"Papa mau minum kopi, Raja mau temenin atau di kamar aja?"


"Mau di sini aja."


"Oke!" Viano mengangkat bokong dari tempat tidur. "Kalau mau nonton TV jangan sampai malam-malam. Main hape juga, begitu. Maximal jam delapan, semua sudah harus matikan."


Raja mengiyakan. Tidak di kantor, tidak di rumah. Viano selalu jadi orang yang disiplin dan banyak aturan. Namun, semuanya benar juga, sih.


"Jangan lupa sikat gigi sebelum tidur, ya!" pesannya lagi sebelum menutup pintu. Dia bahkan lebih cerewet dari Emak-emak.


...•°•...


Di bawah guyuran shower, Viano membasahi tubuhnya. Lama dia mengguyur kepalanya, mencoba mendinginkan hati yang panas.


Ada banyak beban.


Soal Raja yang semakin besar dan kelak Viano harus mengatakan yang sejujurnya. Masalah mamanya yang sampai hari ini belum mau mengakui Raja sebagai cucu, dan juga hubungan Viano yang kian merenggang. Masalah kantor; jadwal rapat yang menumpuk, strategi untuk memajukan perusahaan.


Belum lagi, dia punya office girl super sinting yang setiap hari bikin sakit kepala. Nesta!


Omong-omong soal Nesta, bukannya tadi sudah sepakat mau telepon anaknya. Kenapa, Raja tadi tidak bahas Nesta?


Viano mengepal tangan, jangan-jangan Nesta bohong. Awas saja, kalau berani membohongi anaknya! Siap-siap, terima amukan Bapak Macan (macho dan tampan)


Menyudahi mandinya, Viano berniat menegur Nesta.


Handukan, pakai baju, terus turun ke lantai bawah. Handuk kecil masih menyangkut di leher, menahan tetes air dari rambutnya. Sambil menyiapkan kopi untuk dirinya sendiri, dia mengetikkan pesan untuk Nesta.


Ngapain aja kamu? Kok, belum telepon anak saya?


Menunggu setengah jam. Dari kopi baru diseduh air panas, sampai tinggal setengah Nesta baru balas. Bikin jengkel.


Pak, saya baru sampai rumah. Tadi tidur dalam bus.


Seandainya Nesta ada di depannya saat ini sudah Viano remat kepalanya.


Sabar! Demi Raja yang butuh sedikit hiburan, Viano harus mengalah.


Anak saya, pasti masih nunggu telepon dari kamu. Telepon dia sekarang. Nanti uang kuota kamu saya tambah ke gaji.


Di aplikasi, ada keterangan; Si Sableng sedang mengetik ....


Tidak lama ....


Nanti aja, Pak. Saya ada perlu E kuadrat K.


Apa, sih! Viano berjengit. Memang suka aneh-aneh, kelakuan Nesta.


Saya nggak ngerti! Ngomong yang jelas, nggak usah pakai kode apalagi basa-basi!


Nesta waktu baca pesan Viano agak ragu, kalau harus menuruti perintah bosnya. Masa, sih, orang sepintar dia tidak langsung paham? Padahal cuma istilah sederhana.


Cuma, ya, kalau Nesta tidak jawab lugas pasti kena omel.


Masa Bapak nggak paham? Oke, deh, saya kasih tau yang blak-blakan. E kuadrat K\= E2K\= EEK\= BERAK!


Kopi yang masuk tenggorokan langsung tersembur keluar dari mulut Viano. Baru kali ini ada gadis bilang 'berak' terang-terangan. Subhanallah sekali, Nesta. Mahluk Tuhan paling sableng.


***


Cek Instagram Yurriansan, Bun atau bisa juga cek YouTube Yurriansan, supaya bisa tau info soal ceritaku

__ADS_1


__ADS_2