BOSS SOMBONG DAN KARYAWATI SABLENG

BOSS SOMBONG DAN KARYAWATI SABLENG
Makan Bareng, Jangan?


__ADS_3

Urusan Nesta nanti dulu saja dipikirkan. Kesal. Gara-gara dispenser di ruangannya rusak, jadi harus ke pantry untuk isi air panas.


"Gimana, Mang, nyala dispensernya?" Viano yang sudah duduk di kursi kerjanya, mengamati Ujang yang lagi kutak-kutik dispenser.


"Kabelnya kendor, Pak, tapi udah dibenerin."


Lega. "Saya nggak mau, loh, kalau harus ke pantry untuk ambil air panas." Malas bertemu Nesta tepatnya. Kapan, ya, dia mengundurkan diri?


Ujang melingkarkan jari. "Beres, Pak, Vi. Ini udah bisa dipakai lagi."


Viano tersenyum puas.


"Mamang, teh, tinggal dulu. Ini udah beres, Bos Kasep."  Ujang sudah rapihkan perkakas kerjanya. Omong-omong, dia salah satu OB juga di kantor. Yah, bisa dibilang, termasuk karyawan paling lama. Lebih suka panggil Viano 'Kasep' yang berarti ganteng, ketimbang Pak Viano.


"Makasih, ya, Mang." Biar semua orang bilang Viano cuma manusia yang workaholic dan ketus habis, aslinya dia tidak sombong. Begitu, sih, menurut Mang Ujang.


Kembali pada berkas kerja. Astaga, menumpuk. Bikin pusing. Belum isi chat Raja yang bikin kepikiran terus.


Ada yang mengetuk pintu. Belum dipersilakan, dia sudah masuk.


Viano masih sibuk memeriksa berkas.


"Jadwal meeting luar kantor besok, sama laporan yang Bapak minta." Lusi langsung duduk dan menaruh berkas kerjanya di meja, meski Viano sibuk sendiri.


"Tinggalin aja." Viano bicara tanpa mengangkat pandangan sama sekali.


Bersandar di kursi, Lusi melipat tangan di dada. Come on! Viano masih berlagak kaku dengannya?


Sebentar! Lusi mendapati dasi yang dipakai Viano berantakan.


"Kamu gimana, sih, pakai gini aja nggak becus." Posisi Lusi lumayan sensual ketika membenarkan dasi Viano.


"Lus!" Viano sempat mau menghalau, akan tetapi Lusi mencegah.


"Diem dulu bentar, aku cuma mau rapihin."


Viano merasa tidak enak kalau begini. Sampai ada yang lihat dan salah sangka, bagaimana?


"Nggak usah kaku-kaku banget, kalau cuma kita berdua," ujar Lusi yang baru saja selesai memasangkan dasi. "Kamu sama aku, satu kampus dulu. Kita udah kenal lama, Vi."


"Kenal lama. Tapi, kalau di kantor, bersikap profesional aja."


Lusi menggeleng seraya berdecak lidah. "Kaku, bukan profesional."


"Ah, iya!" Malas Viano berdebat.


Lusi menyilang kaki. "Vi, kamu butuh pendamping. Meskipun Raja bukan-"


"Lus!" Viano menyela. "Maaf, kalau kasar. Tapi, tolong keluar dulu. Aku banyak kerjaan."


Yah, begitulah Viano. Selalu bersikap dingin dan acuh kala diajak bicara soal hubungan cinta. Padahal, Lusi menyukainya. Sejak lama. Buktinya, dengan gelar sarjana lulusan kampus terbaik di dunia--Harvard University--dia rela cuma jadi sekretaris. Demi bisa dekat sama Viano.


Sedangkan Viano, tidak begitu tertarik dengan Lusi. Dia terlalu agresif, mengumbar keseksian sehingga tidak ada lagi yang buat Viano penasaran. Lebih-lebih, Raja juga kurang suka dengannya. Bahkan dia menyebut Lusi; Tante Jahat.


Tidak bisa memaksa, Lusi memilih permisi keluar. Lain kali, dia harus berhasil, menaklukan hati Viano.

__ADS_1


Baru juga satu menit berselang setelah Lusi pergi, ponsel Viano bergetar.


Cek!


Papa, makan siangnya jangan lupa!


Hari ini nggak boleh bohong!


Viano langsung pijit pangkal hidung. Pening.


***


Nesta disuruh lembur, tidak boleh pulang sebelum Viano izinkan. Oh, Tuhan, musibah macam apakah ini?


Di dalam kepala Nesta langsung ada tulisan besar; No! Big No!


Namun, begitu tahu ada uang bonus lemburan yang plus-plus kata 'no' langsung berubah 'yes'.


Omong-omong, Nesta disuruh lembur apa?


Kata siapa, dia lembur. Viano cuma cari akal-akalan, biar dia bisa makan sama Nesta tanpa ketahuan karyawan lain. Sengaja dia suruh Nesta pulang terlambat, biar sepi dulu kantor baru dia makan bareng Nesta.


Malu, kalau yang lain tahu. Apalagi Ivan. Secara, dia hapal si bos, sebal setengah mati sama Nesta.


Jam setengah tujuh, selesai salat magrib, Nesta disuruh ke ruangan Viano. Dia mikirnya, udah bakal diomelin. Suuzon dulu yang penting. Biar siap jantungnya.


"Pak!" Nesta yang melongokan kepala ke dalam ruangan Viano, menyentak bosnya yang sedang melamun.


"Saya bos kamu, bisa sopan dikit, nggak!" Cuma Nesta yang berani panggil atasan begitu.


"Masuk!" Nadanya ketus.


"Oke!" Santai saja Nesta menanggapi.


Masuk, Nesta tetap berdiri saja. Sementara Viano, sibuk dengan tumpukan kotak hitam di mejanya.


"Kamu duduk di situ!" Viano mengarahkan Nesta duduk di kursi di sofa yang ada di dalam ruangan.


Seketika Nesta bersedekap. "Bapak mau ngapain saya?"


Jelas Viano memelotot. Otak Nesta terlalu kotor.


"Coba, kamu tanya sama diri kamu sendiri." Setengah mati Viano tahan emosi. "Kira-kira, saya bakal nafsu sama kamu?"


"Yeeh, siapa tau. Diem-diem Bapak memendam rasa."


Viano menggeram. "Nesta, bisa nggak jangan kepedean?"


"Bisa, Pak, bisa." Nesta mengangguk cepat. Biar Viano tidak makin marah.


Viano memang memendam rasa. Rasa ingin menghempas karyawannya ke Mars biar tidak kembali ke Bumi.


Sudah duduk, Nesta menunggu Viano mau menyuruh apa.


Kotak bekal yang Raja siapkan bersama susternya, Viano bawa ke meja.

__ADS_1


"Ini anak saya sama susternya yang siapin."


Nesta cuma manggut-manggut.


"Nah, kamu makan!" Viano menyodorkan satu kotak yang berisi sushi buatan Raja. "Makan yang bener, nanti saya rekam. Anak saya nanyain bukti, soalnya."


Nesta melirik. Kelihatannya enak, kira-kira ada racun tidak di dalamnya?


"Muka kamu, ngapa gitu?" Tersinggung Viano dengan ekspresi Nesta.


"Bapak, sensitif aja. 'Kan, saya cuma ngira-ngira, ini ada racun apa nggak."


"Coba aja satu!" tegas Viano.


Tanpa ragu, Nesta menyumpit satu roll sushi lalu memakannya. Enak. Sayang, sudah lembab dan dingin.


"Ada racun?" Sebelah alis Viano terangkat naik.


"Ak!" Nesta pura-pura tercekik, habis itu kejang-kejang. Dia, pingsan di tempat.


Oh, mau main-main sama Viano.


"Halo, Mang Ujang?" Diteleponnya si Ujang. "Kalau ke ruangan saya, tolong bawain kantung plastik hitam yang besar. Soalnya ada ****** di ruangan saya."


Nesta terperanjat. "Bapak tega, ngatain saya ******!" rutuknya.


"Makanya jangan banyak tingkah!"


Nesta malah cengar-cengir. "Bercanda, Pak."


"Makan, sana!" Viano beranjak, untuk menaruh ponsel di temlat sesuai, supaya mereka bisa terekam.


Viano makan, Nesta juga. Kelihatannya, dia suka sama bekal yang Raja buatkan.


Pertanyaannya, dia memang suka atau lapar?


Nesta makan dengan lahap, mulutnya sampai terlihat penuh. Suapkan lagi dan lagi. Menikmati, pokoknya.


"Pak, nggak makan?" Mulutnya penuh, Nesta pede bicara. Sampai muncrat sedikit isi makanannya. Jorok. Viano geli lihatnya.


"Kamu perempuan, bisa jaga sikap sedikit?"


"Bisa, Pak. Bisa." Biar tidak ribut, iyakan saja. Lanjut makan lagi. Santai tanpa beban. Ya iyalah! Cuma disuruh makan, dapat uang lemburan.


Viano, malah jadi terpana melihatnya. Terpana dalam artian jijik.


"Di mulut kamu, ada sisa makanan." Viano menunjuk sudut bibir Nesta yang belepotan.


"Mana, Pak?" Duh, cari-cari kaca tidak ketemu. Ah, repot amat. Biasanya juga kalau di cerita romantis si cowok bakal bersihkan. "Bersihin, Pak, tolong." Nesta menyodorkan wajahnya.


Viano melempar tisu. "Bersihin sendiri!"



**mau besok up lagi?

__ADS_1


komennya ditunggu yaaa**


__ADS_2