
Keberadaan Alecia,
Aku tidak menduga surel yang kukirim akan dibalas dengan cepat oleh Violin. Aku membaca surel dari Violin, ia tampak tak akan hadir saat diriku ujian ability magie. Rasanya sedih sekali, ingin aku menangis dan memohon agar ia datang saat diriku ujian nanti. Tetapi disisi lain aku berpikir mungkin saja Violin sedang sangat sibuk atau ada masalah sehingga tidak bisa datang.
“Ya, aku tidak bisa memaksamu. Tetapi aku ingin seperti yang lainnya, mungkin murid lainnya akan ada teman yang mendukung. Tapi bagaimana denganmu? Meski aku dekat dengan teman-teman, entah mengapa aku tetap saja merasa jauh. Aku hanya ingin kamu datang melihatku bertanding. Tapi apakah aku egois? Maafkan aku! Aku harap masalahmu dapat terselesaikan dengan cepat” gumanku dan mulai membalas surel.
“Violin, aku akan berusaha sebaik mungkin agar dapat lulus dengan nilai terbaik. Aku harap Violin dapat menyelesaikan masalah dengan baik disana. Baiklah, sampai bertemu lagi” mulai mengirim surel.
Keberadaan Violin, kastil tua vampire.
Berjalan menuju ruang tamu, dan duduk di sofa. Tuan vampire, Erega memperhatikanku dari lantai dua di dekat anak tangga. Ia berdiri menatapku dari kejauhan. Aku tidak menghiraukan tatapannya seperti berusaha ingin mencengkam diriku. Aku membuka ponselku, dan telah menerima surel dari Alecia. Aku hanya membaca surel darinya, aku segera membalas surel itu.
“Sebaiknya begitu, teman-temanmu akan sangat senang jika kamu lulus dengan nilai terbaik terutama orang tuamu. Bersemangatlah, aku akan berusaha datang. Mungkin akan terlambat” kemudian mulai mengirim surel.
Saat bersamaan dengan itu, seorang pria dari Buniv datang memasuki kastil. Erega melihat orang yang datang dikenal olehnya segera mendekati orang itu dengan cepat.
“Ada urusan apa?” tanya Erega menatap tajam pria itu.
Spontan pria itu tertawa, “Hahaha…apa aku tidak boleh datang? Ayolah! Aku datang tidak untuk membicarakan masalah apapun. Aku hanya berkunjung. Apakah ini caramu untuk menyambut tamu yang datang?.”
“Aku sudah memperlakukanmu dengan baik. Tamu yang datang ke kastil ini biasanya langsung diantar ke tuhan mereka.”
Pria itu tersenyum manis.
“Baiklah, silahkan melihat-lihat kastil ini! Tapi tidak boleh ke kamarku!” ucap Erega yang kemudian kembali ke tempat semula.
“Terima kasih, Erega. Aku hanya melepas lelah, sangat melelahkan berurusan dengan manusia itu” ucap pria itu yang tanpa sengaja menoleh ke arah gadis yang sibuk dengan ponselnya.
Pria itu dibuat terkejut, dan dengan cepat menghampiri Erega. Berdiri disamping Erega sembari memperhatikan gadis yang sibuk dengan ponselnya.
“Erega, siapa gadis itu? Apa yang kamu lakukan padanya? Bagaimana jika Ethan tahu kalau kamu melanggar perjanjian?” ucap pria itu dengan suara pelan.
“Ia adalah tamu di tempat ini, aku tidak bisa mengusirnya. Ia sendiri yang mau tinggal disini” jawab Erega.
Pria yang berdiri di samping Erega pun bicara dengan suara keras, “Hai! Kamu yang disana?!.”
Aku mendengar suara yang bicara terarah kepadaku, dengan cepat aku menoleh ke suara itu.
“Ya, apakah kamu bicara padaku?” ucapku sembari menoleh ke Erega dan pria di sampingnya.
“Ya, benar! Siapa namamu?” ucap pria di samping Erega.
“Namaku adalah Anita Violinderina, panggil saja Violin. Siapa namamu?” jawabku.
“Namaku adalah Akira, aku adalah teman dekat Erega. Mengapa kamu berada disini? Ini bukan tempat yang bagus untuk manusia sepertimu” ucap Akira memperkenalkan dirinya.
Aku tersenyum dan menyingkirkan focus dari ponsel, melihat ke arah Akira. “Apa kamu pikir ada manusia keras kepala untuk tetap tinggal disini?.”
Spontan Akira dan Erega terkejut, jawaban dari pertanyaan itu adalah tentu saja tidak ada manusia bodoh yang keras kepala untuk tinggal di tempat ini. Terlebih ini adalah tempat tinggal vampire yang tidak segan memangsa siapapun, dan mengirim orang itu menemui tuhan mereka.
__ADS_1
Dengan cepat dua pria itu segera mendekatiku. Terlebih Erega, si vampire yang mampu berlari cepat.
“Siapa kamu sebenarnya?” tanya Erega.
Aku segera berdiri dari tempat duduk, tersenyum dan merendahkan tubuhku.
“Salam hormat tuan vampire, namaku adalah Anita Violinderina. Panggil saja dengan Violin. Senang bisa bertemu denganmu. Aku datang mencari Ethan, apakah ia ada disini? Aku harap ia tidak lupa denganku. Tetapi jika ia lupa juga tidak masalah.”
“Ethan? Kamu mengenalnya?” tanya Akira.
“Ya, siapa yang tidak mengenal pria bodoh itu!”
Spontan dengan cepat Akira menghubungi Ethan, Akira menjauh dariku dan Erega.
“Sebenarnya kamu ini siapa? Apa hubunganmu dengan Ethan?” tanya Erega lagi.
Aku tersenyum dan kembali duduk di sofa, Erega pun duduk di sofa berhadapan denganku.
“Ngomong-ngomong apakah kamu masih berpihak pada tuan Ethan?” tanyaku sebelum menjawab pertanyaan Erega.
“Ya tentu saja, bagaimana pun aku tidak akan berpihak pada Romeo” jawab Erega.
“Tapi bukankah kamu menyukai Rasi?”
“Ya benar, aku memang menyukainya. Bagaimana kamu tahu?”
“Menurutmu, orang yang ada dihadapanmu ini berasal dari dunia mana hingga mengetahui hubunganmu dengan Rasi?”
“Apakah kamu orang yang hidup ratusan tahun? Kamu dari golongan mana? Penyihir, vampire, hybrid, wolf. Yang mana?”
“Yang pertama!”
“Benarkah? Bukankah semua penyihir telah diburu pada masanya?”
“Oh ya benar, benar sekali.”
“Jika kamu penyihir, apakah masih seperti alkemis?”
“Oh tidak, aku tidak melakukan hal seperti itu dan tidak melakukan yang seperti dilakukan penyihir.”
“Lalu bagaimana kamu bisa bertahan seperti ini? Bukankah ramuan awet muda bisa mempertahankan keadaan itu?”
“Ya itu memang benar, tetapi tubuh ini bukanlah tubuh dari ratusan tahun. Aku melakukan reinkarnasi.”
“Wow! Seharusnya itu sudah dapat aku tebak dengan baik. Siapa nama masa lalumu?”
“Maaf ya, aku tidak akan memberitahumu. Itu rahasia!”
“Ah, sayang sekali. Lalu hubunganmu dengan Ethan apa? Apakah Ethan adalah tuanmu?”
__ADS_1
“Bukan! Ethan bukan tuanku, tetapi aku dapat dibilang mengenal Ethan dengan baik.”
“Apa kamu dari keluarganya? Tapi aku mengingat pria itu tidak memiliki keluarga. Sejak kecil hidupnya dipenuhi oleh kebencian orang sekitar yang menganggapnya sebagai….” Ucap Erega belum selesai bicara langsung mendapatkan lemparan botol air mineral ke wajahnya hingga jatuh terpental.
Aku yang melihat hal itu kaget, dan dikejutkan dengan kehadiran Ethan.
“Kamu baik-baik saja, Erega?” tanyaku.
Erega segera beranjak dari jatuhnya, ia mengelus kepalanya yang masih terasa sakit. Beruntung ia tidak terluka sedikitpun. Dengan santai, Ethan dan Akira datang menghampiri.
“Akira memanggilku kemari. Ada perlu apa ingin bertemu denganku?” tanya Ethan.
“Apakah kamu adalah Ethan?” tanyaku.
“Ya benar, aku adalah Ethan.”
Sontak aku terkejut, melihat pria rambut putih sama seperti Akira. Namun wajahnya hampir tidak pernah berubah.
Aku merendahkan tubuhku, dan kembali berdiri dengan tegak seraya berucap, “Perkenalkan namaku adalah Anita Violinderina, panggil saja dengan Violin. Sedang bertemu denganmu lagi, Ethan.”
“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Ethan.
“Ya tentu saja, pangeran tidak diakui. Hanya satu gadis yang menerimamu dengan baik. Apakah Erega dan Akira adalah bawahanmu?”
Sontak Ethan terkejut, namun penasaran siapa gadis di hadapannya ini dan bagaimana ia mengetahui masa lalu hidup Ethan.
“Apakah kamu mencoba mencari tahu tentang diriku terlebih dahulu sebelum bertemu denganku?” tanya Ethan menatapku dengan tajam.
“Tidak, mana mungkin. Apakah identitasmu ada di buku? Aku rasa tidak ada yang menulis hal itu.”
“Siapa kamu sebenarnya?”
Erega menghampiri dan berucap dengan suara pelan pada Ethan.
“Dia adalah gadis reinkarnasi, mungkin berhubungan dengan masa lalumu. Lebih baik kamu mengingat siapa gadis penyihir ini, daripada nanti kamu dapat masalah besar.”
“Jadi kamu gadis penyihir, dan reinkarnasi?” tanya Ethan kepadaku.
“Ya benar, apakah itu adalah masalah? Oh baiklah, sepertinya kamu lupa. Tetapi aku sangat senang kamu baik-baik saja sekarang. Mereka adalah orang kepercayaanmu bukan? Jika memang benar, tidak masalah bagiku selagi mereka tidak mengkhianatimu. Jika mereka berdua mengkhianatimu maka aku tidak akan segan-segan mematahkan semua tulang di tubuhnya. Tidak ada pemakaman yang layak selain semua anggota tubuh terpisah” ucapku tersenyum yang kemudian segera menuju kamar dan mengemasi barangku.
Tidak perlu waktu yang lama, aku telah selesai mengemasi barang. Kulihat Ethan dari kejauhan masih tidak mengenali diriku. Aku segera menghampiri mereka kembali.
“Tuan Erega, terima kasih telah mengizinkanku masuk ke kastil ini. Aku harap kamu merawat kastil ini dengan baik” ucapku.
“Kamu akan pergi? Malam-malam begini akan pergi kemana?” tanya Erega.
“Aku hanya perlu mencari penginapan, aku akan baik-baik saja. Jadi tidak perlu khawatir. Aku tidak mau mengganggu hidup orang lain. Terima kasih banyak” ucapku segera pergi meninggalkan kastil ini.
Melangkahkan kaki keluar dari kastil dengan perasaan berat hati, penuh harap Ethan akan mengingat diriku lagi. Tetapi tampaknya akan mustahil pria itu dapat mengingat diriku dengan cepat. Aku sendiri menyadari risiko apa yang telah kulakukan. Semuanya tidak akan sama lagi. Aku hanya bisa menarik nafas panjang dan terus melangkah tanpa harus berharap banyak lagi.
__ADS_1
Di luar kastil sangatlah gelap, aku terpaksa menggunakan sihir cahaya untuk menerangi jalanku. Jalan yang kulalui sama seperti sebelumnya, dipenuhi oleh duri bunga mawar.
“Tidak ada yang berubah dari tempat ini, mungkin bunga mawarnya tidak lagi sama” gumanku tersenyum dan terus melangkah.