
"Bunda! Bunda jangan tinggalin Nala sendirian. Bunda harus bertahan buat Nala," tangis gadis itu pecah memenuhi ruangan ICU.
"Yang tabah ya mbak. ibunya mbak sudah meninggal. Mbak harus ikhlas," ucap suster rumah sakit yang berusaha menenagkan Nala yang masih histeris.
"Nggak sus! Bunda pasti bisa hidup lagi! Bunda orang yang kuat. Ayo lakuin sesuatu sus. Panggil dokternya lagi!" teriak Nala sambil menarik-narik tangan suster di sampingnya.
"Bunda kamu pasti udah nggak ngrasain sakit lagi. Dia sudah ada di surga sekarang. Kamu harus tabah ya,"
Tubuh Nala mendadak lemas. Sudah tidak ada lagi tenaga untuk menangis meraung-raung meratapi kepergian bundanya. Sekarang Nala benar-benar hidup sebatang kara.
"Bunda kenapa pergi? Bunda nggak sayang sama Nala lagi ya? Nala harus apa di dunia ini jika tanpa bunda?" ucap Nala getir.
Setelah Nala mulai tenang akhirnya pihak rumah sakit mengurus jenazah bundanya yang akan segera di kebumikan. Nala hanya bisa pasrah hingga mobil ambulans membawanya ke pemakaman bersama jasad bundanya tercinta.
__ADS_1
Prosesi pemakaman berjalan dengan cepat. Satu persatu pelayat pun meninggalkan makam. Hanya tersisa Nala disana sambil terus menangis seorang diri.
Makam bundanya sengaja di kebumikan persis di samping makam ayah Nala. Ayah Nala juga sudah meninggal dua tahun lalu karena tragedi tabrak lari. Sedangkan bundanya sendiri sudah mengidap penyakit jantung bertahun-tahun.
Hari sudah semakin sore. Nala akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumahnya karena sepertinya hujan akan turun. Tak lupa Nala mencium nisan ayah dan bundanya bergantian sebelum akhirnya pamit undur diri.
Setibanya di rumah Nala seperti orang linglung. Rumahnya terasa sangat sepi. Sekarang gadis itu bingung harus memulai hidupnya dari mana. Ibarat seperti burung, ke dua sayapnya kini sudah patah. Dia tidak bisa terbang lagi.
Nala kemudian memasuki kamar bundanya. Kamar bunda selalu rapi dan bersih. Mata Nala kini tertuju pada meja nakas yang terletak di samping tempat tidur. Di sana ada sebuah amplop berwarna putih. Karena penasaran Nala lalu mengambil amplop itu dan melihat isinya.
Untuk Nala
Nala sayang...
__ADS_1
Jika surat ini sudah berada di tanganmu, itu tandanya bunda sudah tidak ada lagi di dunia ini. Bunda sangat sayang sekali sama Nala. Nala harus bisa menjadi orang yang kuat. Bunda yakin suatu saat Nala akan bahagia. Maafkan bunda karena harus meninggalkan Nala sendirian.
Nala sayang...
Ada rahasia yang harus kamu ketahui. Sebenarnya kamu mempunyai seorang kakak laki-laki. Dia di adopsi oleh keluarga Atmaja. Pegrilah ke Jakarta dan temui kakakmu disana. Sampaikan permintaan maaf bunda karena sudah menitipkan dia dengan orang lain. Kalian harus akur dan saling menyayangi. Sampaikan juga ucapan terima kasih bunda kepada keluarga Atmaja karena sudah mengasuh kakak mu dengan baik.
Nala sayang...
Maafkan bunda jika sudah membuat semuanya ini menjadi rumit. Maaf sudah memisahkan kamu dengan kakak kamu dari kecil. Tolong maafkan bunda dan ayahmu ini.
Dibalik surat ini ada alamat lengkap keluarga Atmaja. Semoga Nala selalu bahagia nantinya. Bunda sayang Nala selamanya.
Nala masih terperanjat. Dia belum percaya jika ternyata dia mempunyai saudara laki-laki. Bahkan saat bundanya masih hidup Nala tidak pernah sekalipun mendengar soal ini secara langsung.
__ADS_1
Perasaan Nala kini menjadi campur aduk. Ada rasa senang saat mendengar kenyataan bahwa dia masih mempunyai saudara kandung meski harus terpisah sejak kecil. Namun di sisi lain Nala juga kecewa dengan bundanya karena dia baru mengetahui hal ini sekarang. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin Nala tanyakan kepada bundanya mengenai masalah ini. Kepalanya di penuhi segala pertanyaan. Namun Nala mungkin tidak akan pernah mendapat jawaban atas pertanyaannya sekarang.
"Aku harus cari kakak. Bagaimanapun sekarang hanya dia yang aku punya di dunia ini." gumam Nala.