
Ceklek!
Tepat saat Gara menutup pintu kamarnya jantung Nala berdetak tak karuan. Perasaan aneh mendadak menyelimuti hatinya sekarang. Selama dua hari terakhir ini Gara lah yang paling dekat dan sangat perhatian dengannya. Apa mungkin Gara adalah kakak kandungnya? Apa mungkin ini ikatan batin antara kakak dan adik? Tapi kenapa jantungnya menjadi tak karuan begini. Darahnya berdesir cepat dan keringat dingin membasahi telapak tangannya. Bukankah ini perasaan yang seharusnya tidak boleh Nala rasakan.
"Kak, aku mau tidur di kamarku sendiri," cicit Nala.
"Gue nggak izinin. Sekarang lo tidur di kasur gue. Gue tidur di sofa,"
"Tapi kak,"
"Sstt," Gara yang masih berdiri di depan Nala mengikis jarak diantara mereka berdua lalu menempelkan jari telunjuknya tepat di bibir Nala.
"Tidur dan jangan banyak bicara," titah Gara dengan kalimat dinginnya.
Nala hanya menuruti setiap perintah dari Gara. Kini dia berbaring di atas kasur empuk di kamar itu. Sesekali Nala mencuri pandang ke arah sofa dimana Gara sudah memejamkan matanya. Sungguh, Nala akui Gara adalah laki-laki tampan yang perlakuannya selalu membuatnya berdebar. Setiap kalimat yang diucapkan laki-laki itu mampu menghipnotis Nala. Namun sesegera mungkin Nala membuang jauh-jauh pemikiran itu. Dia tidak mau terlalu hanyut dengan keadaan. Nala tidak ingin terbawa perasaan terlebih dia saja belum mengetahui kakak kandungnya siapa.
Pagi harinya.
Tidak ada yang tahu tentang kejadian dimana Gara dan Nala tidur di kamar yang sama. Pagi-pagi tadi Gara sudah tidak menemukan Nala di kasurnya. Mungkin gadis itu sengaja bangun terlebih dulu agar tidak ada yang memergokinya keluar dari kamar Gara.
Sebelum turun menuju meja makan untuk sarapan bersama Gara melangkah menuju kamar Nanta yang juga berada di lantai atas. Tanpa mengetuk pintu Gara langsung masuk dan menemukan Nanta yang sedang memakai seragamnya.
"Ngapain lo?" tanya Nanta dingin.
__ADS_1
"Gue cuma mau nanya. Kenapa lo benci banget sama Nala?" ucap Gara langsung pada intinya.
Nanta mendengus sambil memutar bola matanya malas. "Gue heran. Semua orang di rumah ini udah ke cuci otaknya sama si cupu itu. Jangan-jangan pakek pelet tuh orang,"
"Lo harusnya udah cukup dewasa buat nyaring kata-kata kotor yang keluar dari mulut lo itu. Dia nggak ada salah apapun sama lo. Dia cuma ingin ketemu sama kakak kandungnya. Itu alesan kenapa dia mau tinggal di rumah ini," ucap Gara memberi jeda.
"Dan gara-gara ucapan lo kemarin dia hampir aja mau kabur dari rumah ini. Karna apa? Karna dia nggak mau lo bertengkar terus sama nyokap bokap. Apa jadinya kalau ternyata Nala itu adik kandung lo? Pernah mikir sampai situ nggak otak lo?" imbuh Gara kemudian.
Nanta tertegun mendengar setiap kalimat yang keluar dari kakak ke duanya itu. Tidak pernah selama ini Gara berbicara panjang lebar seperti tadi. Tatapan Nanta berubah menjadi sendu. Dia menyesal karna dua hari terkahir ini sudah menyakiti hati Nala dengan kata-katanya. Bahkan Gara benar, dia tidak memikirkan perasaan Nala selama ini. Nala yang hanya ingin tahu siapa kakak kandungnya.
"Sori gar," ucap Nanta dengan penuh penyesalan.
Gara tak menanggapinya lagi. Laki-laki itu memilih untuk pergi meninggalkan Nanta di kamarnya.
"Pa, ma dimana Nala?" tanya Gara. Suaranya terdengar sangat cemas.
"Oh... Tadi Barga ngajakin Nala untuk pergi cari gaun buat nanti malem. Mama izinin aja mereka pergi," jawab Thalita dengan santai.
Gara menghela nafasnya dengan lega. Entah kenapa dia menjadi sangat takut saat membayangkan Nala benar-benar pergi.
"Cepetan sarapan, nanti telat ke sekolah," ujar Thalita yang membuat Gara tersadar kembali. Beberapa detik tadi dia melamun memikirkan gadis itu.
*
__ADS_1
*
*
Di sisi lain.
Barga dan Nala sudah sampai di sebuah butik yang cukup terkenal. Butik itu adalah butik langganan keluarga besar Atmaja. Barga ingin merubah penampilan Nala menjadi seorang ratu untuk acara nanti malam.
Barga menyuruh Nala untuk mencoba beberapa gaun di butik itu. Setelah menemukan yang cocok, Barga langsung menyuruh salah satu karyawan itu untuk membungkusnya. Setelah urusan gaun selesai Barga lantas mengajak Nala untuk menuju sebuah salon.
Sepanjang perjalanan pun Barga dan Nala tak henti-hentinya untuk saling bertukar cerita. Sesekali tawa Nala terdengar begitu sangat lepas. Rasanya ke tiga laki-laki di rumah itu memiliki ciri khas tersendiri bagi Nala. Namun di banding Gara dan Nanta, Barga memang lebih dewasa dan sangat humble.
"Aku jadi gugup sendiri kak kalau ngebayangin nanti malam. Pasti banyak tamu penting yang datang," ucap Nala.
"Nggak usah khawatir. Kakak bakalan nemenin kamu selama acara berlangsung nanti malam,"
Bagian yang sangat Nala sukai dari Barga adalah saat cowok itu mengganti nama 'aku' menjadi 'kakak' yang membuat Nala tanpa sadar tersenyum. Hatinya menjadi sangat tenang sekali.
"Kalau boleh tahu, orang tua kamu meninggal karna apa?" tanya Barga penasaran. Tidak bisa di pungkiri, dia juga merasa sangat iba melihat kehidupan Nala.
"Ayah meninggal karna kecelakaan. Kalau bunda meninggal karna sakit jantung," sahut Nala. Matanya masih menyorotkan tatapan kesedihan yang mendalam saat menceritakan ke dua orang tuanya.
"Kakak ikut berduka cita ya. Sekarang kamu nggak boleh sedih lagi. Kamu nggak akan tinggal sendirian karna kamu punya keluarga baru, keluarga Atmaja,"
__ADS_1
Nala hanya mampu tersenyum. Dia seperti sangat beruntung karna di pertemukan dengan keluarga Atmaja yang begitu baik terhadapnya.