BROTHER LOVE

BROTHER LOVE
Perpustakaan


__ADS_3

Sesampainya di rumah.


Mobil Gara sudah terparkir di halaman rumah mewah milik wanita itu. Gara tak tahu jika dirinya akan di sambut oleh ke dua orang tua Helena yang kebetulan sedang berada di rumah. Sejak di perjalanan tadi Helena memang sengaja untuk memberi tahu orang tuanya agar menyambut kedatangan Gara di rumah. Helena tersenyum miring ketika otaknya lagi-lagi bekerja dengan cepat karna ide liciknya mulai muncul.


"Makasih ya Gara udah anterin Helena pulang ke rumah. Tante nggak enak nih jadi ngrepotin gini," sapa mami Helena dengan ramah ketika Gara dan Helena keluar dari mobil secara bersamaan.


"Sama-sama tante," jawab Gara singkat karna berbasa-basi sungguh bukan keahliannya.


"Masuk dulu Gar. Kebetulan sekali kami sudah siapin makan siang," timbrung papi Helena pula.


"Nggak perlu om. Saya mau langsung pamit," tolak Gara dengan cepat.


"Ayolah Gara, udah sampek sini juga masa nggak mau masuk," bujuk Helena.


Tiga banding satu, akhirnya Gara yang mengalah. Lagi pula ini hanya makan siang biasa. Jika di pikir-pikir Gara juga tidak enak menolak permintaan mereka di tambah lagi keluarga Helena dan keluarganya lumayan cukup dekat.


Diam-diam saat ke dua orang tuanya dan Gara sedang asyik mengobrol Helena sengaja mengambil foto mereka. Foto itu langsung dia unggah di instagram miliknya dengan caption begini, "Diapelin sama crush" tak lupa juga dia menambahkan emotikon love di postigannya. Hanya selang beberapa menit postingannya langsung dibanjiri komentar yang rata-rata adalah murid SMA Patimura termasuk Alea dan Melissa. Kini Alea sudah mengirimkan foto itu pada Nala karna gadis itu tidak punya sosial media apapun kecuali hanya whatsapp saja.


Di sisi lain.


Nala terbelalak kaget. Ada rasa nyeri saat dirinya membaca pesan dari Alea. Dia bertanya-tanya sendiri dalam hati apakah Gara dan Helena sedekat itu sekarang. Sampai laki-laki itu menikmati makan bersama keluarga Helena segala.


Nala ingin marah namun dia tidak tahu marah karna apa. Ingin cemburu namun dia juga tidak punya hak apapun. Mungkin dia saja yang terlalu berharap atau salah mengartikan perhatian Gara selama ini.


Karna kesal Nala langsung mengabaikan pesan itu saja. Dia melanjutkan aktivitas membaca novelnya hingga tak terasa sore kini sudah berganti malam.


Gara sampai di rumah saat jam menunjukan pukul lima sore. Setelah membersihkan diri dia menuju perpustakaan pribadi yang berada di rumahnya. Di tempat itu Gara berinisiatif ingin menyuruh Nala untuk menemuinya. Karna itu Gara langsung mengambil ponselnya dan mendial nomor Nala.

__ADS_1


"Ada apa kak?" sapa Nala setelah mengangkat telfon itu. Dia bersikap seperti biasanya.


"Lama banget ngangkatnya? Lo dimana?"


"Tadi ke kamar mandi kak, maaf,"


"Ke perpus sekarang," titah Gara tanpa jeda.


Nala langsung menegang di tempat. Ngapain kak Gara menyuruhnya ke perpus segala?


"Mau ngapain ya kak? Soalnya aku lagi banyak tugas, aku nggak bisa deh kayaknya ke____"


"Lo yang ke sini atau gue yang nyamperin lo ke kamar lo?" potong Gara.


Nala menelan salivanya susah payah. Kenapa suara Gara menjadi menyeramkan begini?


Setelah mengambil nafas dalam-dalam Nala bergegas untuk menuju perpustakaan pribadi milik Gara. Perpustakaan yang letaknya di ruang bawah tanah. Nala tahu jalan menuju ke ruangan bawah tanah itu dimana karna dulu Barga pernah mengajaknya untuk room tour rumah itu. Ke tiga laki-laki itu mempunyai fasilitas pribadi masing-masing di rumah ini. Seperti Gara yang mempunyai perpustakaan bawah tanah, Nanta yang mempunyai lapangan basket luas, dan Barga yang mempunyai ruangan musik. Bisa di bayangkan sendiri sebesar apa kediaman Atmaja ini.


Setelah menuruni tangga Nala akhirnya sampai juga di perpus itu. Matanya langsung di sugguhi pemandangan buku-buku yang tertata rapi di sana. Ada sebuah sofa dan meja juga. Meski di bawah tanah sungguh ruangan itu cukup nyaman dan indah.


"Ada apa ya kak?" tanya Nala kemudian. Dia melihat Gara sedang duduk di salah satu sofa ruangan itu.


"Deketan sini. Gue nggak akan gigit lo kok," ucap Gara pula. Dia bisa membaca wajah Nala yang sekarang ketakutan.


Perlahan Nala menghampiri Gara juga. Namun dia memilih untuk tetap berdiri.


"Lo ngehindarin gue?"

__ADS_1


"Eng-enggak kok kak. Ngapain juga aku ngehindarin kakak," Nala mengelak secepat mungkin. Dirinya tidak berani menatap wajah Gara saat ini.


"Lo ngehindar karna malu gue ngasih nafas buatan buat lo kan?" tanya Gara semakin memperjelas semuanya.


Wajah Nala mulai memanas. Ke dua telapak tangannya rasanya sudah basah. Di tambah lagi jantungnya yang kini mulai berpacu hebat. Sungguh dia malu sekali.


"Maaf kak," cicit Nala. Hanya kata itu yang mampu keluar dari bibirnya.


Gara bangkit dari posisi duduknya. Dia mendekati Nala dan menarik dagu gadis itu yang tingginya hanya setara dadanya.


"Mau gue bikin tambah malu lagi?"


Nala tak bisa berkata-kata saat tatapannya sekarang justru terkunci di manik mata Gara. Wajahnya sudah mendongak dan jarak mereka hanya terpaut beberapa centi saja sekarang.


Cup!


Hanya dalam hitungan detik Nala bisa merasakan bibirnya bersentuhan dengan sesuatu yang terasa kenyal. Matanya terpejam dengan cepat seirama dengan pergerakan Gara yang mendekatkan wajahnya ke bibirnya. Nala tak tahu harus berbuat apa. Pikirannya buntu seketika dalam beberapa detik hingga ciuman itu terlepas tanpa *******. Gara hanya menempelkan bibirnya padanya.


"Jadi pacar gue ya,"


...****************...



Wwkk. Gambaran perpustakaan milik Gara🤣🤣


Orang dingin mah nembaknya beda ya gaess.

__ADS_1


__ADS_2