BROTHER LOVE

BROTHER LOVE
SMA Patimura


__ADS_3

Hari senin telah tiba. Pagi ini keluarga Atmaja sedang menikmati sarapan bersama dengan suasana yang berbeda dari sebelumnya. Ya, di sana Nala telah hadir di tengah-tengah keluarga mereka. Gadis itu sudah memakai seragam baru sekolahnya. Seragam yang sama seperti Gara dan Nanta kenakan. Nala masih duduk di bangku kelas 10 dan dia masuk di kelas 10 IPA1. Meskipun dari desa Nala adalah anak yang lumayan pintar. setelah kemarin dia menyelesaikan beberapa persyaratan sekolah dan kini ia sudah resmi menjadi murid SMA Patimura.


"Nala, hari ini kamu berangkat bareng Nanta ya," ucap Arga di sela makan.


Nanta yang mendengar itu berdecak kesal di tempatnya. "Kenapa harus aku sih pa? Kan ada Gara. Suruh aja bareng sama Gara,"


"Gara kan selalu bawa motor sportnya kalau ke sekolah. Bahaya nanti kalau Nala ikut sama Gara. Lagian gimana Nala mau naik motor segede itu kalau pakai rok kan," sahut Thalita tidak setuju.


"Kalau gitu suruh sopir yang nganter pakai mobil sendiri. Apapun deh asal jangan bareng sama aku. Nyusahin aja!" tukas Nanta.


Nala yang mendengar itu merasa sangat tidak nyaman. Gara-gara dia mereka semua ribut seperti ini. Apalagi sejak dari awal Nanta seperti tidak menyukai keberadaan Nala.


"Kamu ini kenapa sih Ta? Kalian kan satu sekolah. Apa salahnya berangkat bareng?" tanya Thalita heran.


Tidak tahu aja mamanya jika Nanta sedang mempertahankan reputasinya di sekolah. Apa kata anak-anak nanti jika dia keluar dengan Nala di satu mobil yang sama? Perlu di ingat jika Nanta memang sangat berbeda sekali sikapnya dengan kedua kakaknya.


"Nggak ada pilihan apapun. Nala tetap berangkat bersama kamu. Dan awas kalau sampai kamu kebut-kebutan di jalan," putus Arga tak terbantahkan.


Nanta hanya kembali menggerutu sendiri mendengar keputusan sepihak dari orang tuanya. Membuat nafsu makan Nanta hilang seketika.


"Kalau gitu Barga mau berangkat duluan ya, pa, ma," pamit Barga saat cowok itu sudah menyelesaikan makanannya.


"Yaudah kamu hati-hati kuliahnya," jawab Thalita sedangkan Arga hanya mengangguk.


Barga berdiri lalu menjabat tangan papa dan mamanya bergantian. Namun sebelum ia pergi Barga sempat melemparkan senyum kepada Nala sambil mengacak rambut Nala pelan.


"See you soon baby sist," ucap Barga.


Nala yang mendapat ucapan itu mendadak salting. Ia hanya tersenyum canggung. Lalu setelah itu Barga pamit undur diri untuk berangkat.


Setelah kepergian Barga beberapa menit lalu, kini Arga juga sudah mulai siap-siap untuk berangkat ke  kantor seperti biasa. Hingga di meja makan hanya tersisa Thalita, Gara, Nanta dan Nala.


"Heh cupu! Cepetan makannya! Gue tinggal juga lo lama-lama," celetuk Nanta yang melihat Nala masih bergulat dengan sarapannya.


"Nanta! Mama nggak suka ya kamu manggil Nala gitu," tegur Thalita sambil menatap Nanta tajam.


"Gue tunggu di mobil.  Lima menit nggak  keluar gue tinggalin lo di rumah," ancam Nanta yang mengabaikan ucapan Thalita.


Nanta langsung meraih tas ranselnya dan keluar menuju teras depan. Nala yang harus berangkat bersama cowok itu menjadi takut sendiri rasanya. Bagaimana nanti jika ia harus satu mobil dengan Nanta? Nala bisa di makan mentah-mentah sama cowok galak itu.


"Nala sayang, kamu jangan takut ya. Nanta sebenarnya baik kok. Mungkin cuma butuh waktu aja buat pengenalan sama kamu," ucap Thalita yang mungkin bisa membaca raut wajah Nala sekarang.


"Iya nyonya. Kalau gitu Nala permisi berangkat sekolah dulu," pamit Nala sambil menjabat tangan Thalita sopan.


"Kok manggilnya nyonya sih? Panggil saya mama, oke,"

__ADS_1


Nala pun mengangguk canggung. "I-iya ma."


"Nah gitu dong. Yaudah kamu hati-hati ya sayang,"


Nala pun segera keluar rumah dan menyusul Nanta yang sudah menunggunya di mobil.


"Gar, mama takut deh Nanta akan berbuat macam-macam sama Nala," ucap Thalita pada Gara saat Nala sudah keluar rumah.


Gara yang baru menghabiskan makanannya kini menatap wajah mamanya yang tampak khawatir.


"Mama nggak usah khawatir. Nanta nggak akan berani macem-macem," jawab Gara santai.


"Tetep aja mama kepikiran. Kamu kan satu sekolah sama Nala. Tolong jagain dia ya. Mama takut kalo di sekolah Nala dijahatin sama temen-temennya juga. Dia kan polos banget orangnya,"


"Mama tenang aja," jawab Gara dengan sikap datarnya seperti biasa.


"Yaudah kamu juga berangkat sana. Hati-hati kalo bawa motor jangan ngebut," pesan Thalita sebelum putra ke duanya itu berangkat.


Setelah berpamitan dengan mamanya Gara pun segera berangkat ke sekolah karena tinggal dua puluh menit lagi bel sekolah akan berbunyi.


***


SMA Patimura.


Mobil Nanta kini sudah memasuki area parkir sekolah setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit. Suasana sekolah sudah ramai dipadati dengan murid-murid yang lalu lalang untuk berjalan ke kelas masing-masing.


Nala pun hanya menuruti perintah Nanta tanpa sepatah katapun. Sejak tadi kepala Nala tak henti-hentinya memikirkan situasi yang sedang ia alami sekarang. Rasanya ini seperti mimpi. Apalagi ia bisa masuk di SMA yang terkenal ini.


"Lo bisa sendiri kan cari kelas lo?" tanya Nanta saat keduanya sudah keluar dari mobil.


"Bi-bisa kok kak," jawab Nala terbata.


"Bagus kalo gitu. Dan oh iya satu lagi. Pulang sekolah jangan nungguin gue. Lo naik taksi aja. Gue banyak urusan," ucap Nanta masih dengan nada sengaknya.


Nala pun hanya bisa mengangguk nurut. Sebenarnya dia juga tidak masalah jika harus berangkat dan pulang denga  taksi karna itu justru membuat Nala lebih nyaman.


"Nanta!"


Tiba-tiba sebuah panggilan dari seorang cewek terdengar. Nanta reflek menoleh begitupun dengan Nala. Seorang cewek cantik berambut panjang menghampiri Nanta.


"Dia siapa? Kok bisa lo berangkat bareng cewek tanpa izin dulu ke gue?" tanya cewek cantik itu.


"Lo jangan salah paham dulu ya. Dia itu cuma adek gue," jelas Nanta sambil memegang ke dua bahu cewek itu.


"Adek dari mana? Adek-adekan lo maksudnya hah? Lo selingkuh dari gue, iya?" cecar cewek itu murka.

__ADS_1


Nanta menghela nafasnya kasar. "Ceritanya panjang. Intinya dia adek gue. Gue bingung mau jelasin gimana. Lo tanya Gara deh kalo nggak percaya,"


"Sejak kapan nyokap lo nglahirin anak terus langsung gede gini? Nanta lo kalo bosen sama gue bilang jangan selingkuh gini! Gue benci sama lo. Lo jahat tau nggak!"


Cewek itu lalu berlari meninggalkan Nanta. Nanta yang frustasi kini mengacak rambutnya sendiri dengan geram.


"Sial! Gara-gara lo nih cewek gue jadi salah paham. Gue nggak mau tau ini terakhir kali lo bareng sama gue ke sekolah!" ucap Nanta pada Nala yang sejak tadi hanya menunduk diam.


Nanta berlari menyusul cewek cantik itu dan meninggalkan Nala sendirian di parkiran sekolah. Di tempatnya Nala merasa sangat bersalah sekarang. Pasti Nanta akan semakin membencinya.


Beberapa menit kemudian bel sekolah berbunyi nyaring. Nala yang tadi sempat melamun memikirkan Nanta kini terkesiap. Dia baru sadar jika belum menemukan kelasnya dimana. Nala tadi sengaja berbohong karena ia tidak ingin merepotkan Nanta lagi. Alhasil Nala harus susah payah sendiri untuk mencari kelasnya sekarang.


Nala berjalan menyusuri koridor tiap kelas-kelas. Namun sejak tadi yang ia lihat hanya papan kelas bertuliskan 10 IPS 1-5.  Mau bertanya pun sudah tidak ada murid yang di luaran kelas. Hingga Nala tiba-tiba tak sengaja menabrak dada bidang seorang laki-laki dari arah depannya.


"Kak Gara?"


Nala terkejut saat melihat orang yang dia tabrak tadi adalah Gara.


"Lo ngapain?" tanya Gara datar.


"Aku lagi nyari kelasku kak," jawab Nala panik.


Gara pun mengernyitkan dahi. Ternyata Nanta memang  nggak bisa diandalkan. Pantas saja mamanya tadi mempunyai firasat tidak enak. Buktinya Nala dibiarkan kebingungan sendiri mencari kelasnya.


"Lo di kelas apa?" tanya Gara kemudian.


"10 IPA1 kak."


"Ikut gue."


Gara berjalan terlebih dulu dan disusul oleh Nala dibelakangnya. Nala sangat bersyukur karena bisa bertemu dengan Gara di situasi genting seperti sekarang. Dan tak sulit bagi cowok itu untuk menemukan kelas yang dimaksud Nala karena sekarang mereka berdua sudah berhenti di kelas yang Nala cari.


Nala menggigit bawah bibirnya karena ketakutan. Baru masuk hari pertama ia sudah terlambat untuk masuk kelas karna sekarang di dalam kelasnya sudah ada guru yang memulai pelajaran.


"Biar gue yang ngomong."


Seakan tahu apa yang ada di pikiran Nala, Gara  langsung mengetuk pintu kelas untuk mengizinkan Nala pada guru yang sedang mengajar itu.


Tok.. tok.. tok..


Gara mengetuk pintu kelas tersebut yang membuat guru paruh baya itu menghentikan aktivitas mengajarnya dan menoleh pada Gara yang berdiri di ambang pintu.


"Permisi bu. Maaf ini ada murid baru. Tadi dia kebingungan cari kelas," ucap Gara sopan.


"Oh iya. Suruh masuk aja anaknya," jawab guru itu mempersilahkan.

__ADS_1


Nala yang mendapat isyarat dari Gara agar segera masuk pun mengangguk patuh. Namun sebelum Nala benar-benar memasuki kelas jantungnya dibuat berdetak tak karuan hanya karena mendengar bisikan Gara di telinganya.


"Istirahat nanti gue jemput ke kelas lo."


__ADS_2