
Nala masih berdiri mematung meskipun ciuman singkat tadi sudah terlepas beberapa detik. Ini kali pertamanya Nala merasakan ciuman dan juga di tembak langsung oleh seorang pria secara bersamaan. Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa sekarang.
"Kalau lo diem gue anggap lo setuju," ucap Gara kembali yang menyadarkan Nala.
"Kita nggak boleh saling suka begini kak," cicit Nala. Dia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri. Kini Nala juga merasakan hal yang sama.
"Kenapa enggak?"
"Kalau kakak ternyata adalah kakak kandungku gimana?" tanya Nala cepat.
"Kalau gitu kita lawan takdir itu sama-sama. Gue nggak peduli dunia akan mengutuk kita sekalipun,"
Perkataan Gara seperti tak ada keraguan sama sekali. Nala tidak tahu mengapa Gara bisa menyukainya dan berani nekat seperti ini. Nala tahu ini adalah keputusan yang salah dan seharusnya dia menolak Gara dengan tegas.
"Gimana kalau mama sama papa tahu? Mereka pasti akan marah besar sama kita," ucap Nala kembali cemas. Kini berbagai pikiran buruk bermunculan di kepalanya.
"Gue akan bilang ke mama papa tentang hubungan kita saat waktunya udah tepat. Untuk sekarang kita berhubungan secara diam-diam dulu," putus Gara.
__ADS_1
Entahlah. Hati Nala seperti merasakan kebahagiaan dan ketakutan di waktu yang sama.
"Bagaimana dengan kak Helena? Bukannya kak Helena menyukai kakak? Kenapa kakak justru malah menyukai aku?"
"Gue nggak pernah suka sama siapapun kecuali lo. Lo orang pertama yang berhasil meluluhkan hati gue,"
Nala menundukkan kepalanya karna tersipu malu. Ketakutan yang barada dalam hatinya tadi berangsur hilang setelah Gara beberapa kali meyakinkannya. Sebagai peresmian hubungan mereka Gara memulai kembali untuk mencium bibir Nala. Meski sedikit malu namun Nala berusaha membalas ciuman itu. Hingga terkadang Nala hampir saja kesulitan bernafas karna Gara yang selalu mendominasinya.
*
*
*
Hubugan Nala dan Gara masih belum di ketahui oleh anggota keluarga Atmaja. Saat siang hari mereka selalu menjaga jarak ketika di rumah. Namun saat malam hari terkadang Gara diam-diam mendatangi kamar Nala untuk sekedar melepas kerinduan. Jika di sekolah mereka lebih banyak menghabiskan waktu bersama saat jam istirahat. Kedekatan itu semakin membuat Helena cemburu. Apalagi postingan Helena saat Gara di rumahnya itu kini kabarnya sudah menguap begitu saja.
Malam ini adalah malam minggu. Gara dan Nanta sedang sibuk bermain PS di rumah. Sedangkan Barga dia sedang ada acara di luar bersama teman-teman satu kampusnya.
__ADS_1
"Gar, gue tanya lo jawab jujur ya," ucap Nanta di sela permainan serius mereka.
Gara hanya menanggapinya dengan gumaman singkat.
"Lo suka sama Nala kan? Ada hubungan apa lo sama dia?"
Pertanyaan itu menghentikan pergerakan Gara yang sejak tadi mengotak-atik stik PS miliknya. Bahkan kini tatapan Gara tertuju pada Nanta yang juga membalas menatapnya. Nanta bertanya seperti itu bukan tanpa alasan. Seminggu ini dia mengawasi pergerakan kakak ke duanya itu. Nanta juga pernah tanpa sengaja melihat Gara memasuki kamar Nala tengah malam secara diam-diam. Semua itu membuat Nanta mencurigai kakaknya.
"Kalau sampai mama papa tahu lo berhubungan di luar batas sama Nala abis lo Gar sama mereka. Gue sih nggak ngelarang lo, gue cuma ngingetin lo aja," ujar Nanta kembali.
Ingin mengelak pun rasanya percuma bagi Gara karna Nanta seperti mempunyai bukti kuat hingga pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Padahal dia selama ini sudah berhati-hati namun nyatanya dia masih ketahuan orang lain. Untung saja hanya Nanta yang tahu.
"Dari sekian banyaknya cewek di dunia ini emang harus banget ya yang lo pacarin itu Nala? Gimana kalo dia itu adik kandung lo? Bisa tambah runyam masalahnya," Nanta kembali bersuara.
"Cuma Nala yang berhasil buat gue jatuh cinta," sahut Gara dengan cepat.
"Bahkan jika dia adik kandung gue sekalipun gue nggak akan lepasin dia buat siapapun. Dia cinta pertama gue," ucap Gara pula.
__ADS_1
"Wah, lo beneran sakit jiwa sih Gar,"
Nanta sudah kehabisan kata-kata lagi untuk menanggapi kakaknya. Tak habis pikir jalan pikiran kakaknya bisa sebuntu ini.