
Jakarta di pagi hari.
Berbagai kendaraan sudah memadati kota Jakarta pagi ini. Nala yang baru saja keluar dari bis memandang tempat yang menurutnya begitu asing. Gedung-gedung menjulang tinggi terpampang di depan mata. Nala sekarang bingung harus mencari alamat yang di berikan bundanya itu kemana.
Saat Nala sedang di rundung kegelisahan tiba-tiba sebuah mobil taksi berhenti di depannya.
"Mau kemana mbak?" sapa sopir taksi yang sudah terlihat agak tua itu.
Nala pun mencoba mendekat dan menujukkan kertas yang sejak tadi ia pegang.
"Saya mau ke alamat ini pak," ucap Nala.
Sopir taksi itu mengambil kertas yang Nala berikan lalu tampak mengamatinya dengan seksama.
"Oh, alamat ini sih saya tahu. Mari saya antar," tawar sopir taksi itu.
"Bapak yakin tahu alamatnya?" tanya Nala yang masih ragu.
"Yakin mbak. Mari silahkan masuk," jawab sopir itu meyakinkan.
Akhirnya setelah menimang-nimang keputusannya Nala pun menaiki taksi berwarna biru itu. Untung selama ini Nala mempunyai uang tabungan. Jadi dia tidak begitu khawatir soal biaya agar bisa sampai di Jakarta yang katanya kota cukup mahal ini.
Di sepanjang perjalanan mata Nala tak henti-hentinya untuk melihat pemandangan sekitar. Meskipun terkadang Nala harus terjebak di kemacetan jalanan namun ia berusaha menikmatinya.
Setelah perjalanan di tempuh selama satu jam setengah akhirnya mobil taksi yang di tumpangi Nala berhenti di sebuah rumah mewah bercat putih.
"Sudah sampai mbak," ucap sopir itu memberi tahu.
"Rumahnya yang ini pak?" tanya Nala memastikan.
"Kalau menurut alamat yang mbak berikan tadi iya bener ini rumahnya mbak," jawab sang sopir.
Nala pun mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dari dalam tasnya.
"Makasih banyak ya pak," ucap Nala sebelum turun dari taksi.
"Sama-sama mbak," jawab sopir taksi dengan ramah.
Nala pun segera turun dari taksi itu. Matanya memandang takjub melihat rumah megah yang saat ini berada di depan matanya. Apakah benar ini rumah orang tua asuh kakaknya itu? Pasti mereka sangat kaya raya. Dilihat dari bangunan rumahnya saja sudah seperti istana. Seketika nyali Nala menciut. Bagaimana jika nanti keluarga Atmaja tidak mempercayainya? Bagaimana jika Nala sudah jauh-jauh ke sini dan berakhir di usir? Karna pasalnya Nala hanya membawa secarik kertas surat wasiat itu untuk bisa bertemu dengan kakaknya.
Namun Nala tak ingin menyerah. Ia harus mencoba agar tahu hasilnya bagaimana. Dengan keberanian yang ia kumpulkan, Nala berjalan menuju gerbang tinggi berwarna hitam di rumah itu. Nala sempat kebingungan untuk memanggil orang di dalam karena tidak ada bel apapun. Akhirnya Nala berinisiatif untuk berteriak saja.
"Assalamualaikum! Assalamualaikum!" Nala berteriak dari celah gerbang dengan lantang.
Beberapa menit kemudian seorang satpam berseragam putih keluar membukakan gerbang tinggi itu untuk Nala.
__ADS_1
"Maaf cari siapa ya mbak?" tanya satpam itu.
Nala pun bingung harus menjawab apa dan menjelaskannya dari mana.
"Maaf pak. Apa benar ini rumah Atmaja?" tanya Nala dengan hati yang deg-degan.
"Iya betul. Mbak ini siapa ya?" tanya satpam itu dengan heran dan menatap penampilan Nala dari atas sampai bawah.
"Saya ingin bertemu kakak saya pak. Dia tinggal di rumah ini," ucap Nala tanpa basa basi.
Satpam itu mengerutkan dahinya bingung. "Maaf mungkin mbak salah alamat. Setahu saya keluarga Atmaja tidak mempunyai anak perempuan,"
"Tapi kakak saya tinggal di sini pak. Saya bawa bukti kok. Ini surat wasiat dari bunda saya. Bapak bisa baca kalau nggak percaya," jawab Nala sambil memberikan secarik kertas itu kepada sang satpam.
"Maaf mbak. Saya tidak berani mengizinkan orang asing masuk sembarangan ke rumah ini," satpam itu menyodorkan kembali kertas yang di berikan Nala tanpa membukanya.
"Tapi pak, izinkan saya bertemu dengan pemilik rumah ini. Saya tunggu disini juga nggak papa kok. Saya mohon," pinta Nala dengan melas.
Satpam itu tampak berpikir sebentar. Karna tidak tega melihat Nala yang tampak sudah kelelahan akhirnya satpam itupun mengajak Nala untuk memasuki halaman rumah.
"Mbak tunggu disini biar saya panggilkan majikan saya," perintah satpam itu.
Nala pun mengangguk kecil. Dia berdiri di depan teras rumah mewah itu. Banyak bunga-bunga indah yang berjejer rapi. Ada taman kecil juga yang dipercantik dengan kolam dan air mancur.
Setelah beberapa menit Nala menunggu akhirnya satpam yang tadi keluar juga. Nala pun sudah tidak sabar ingin mengetahui jawaban dari pemilik rumah ini.
Nala masih tak percaya jika dia diizinkan untuk memasuki rumah yang mewah ini. Jantungnya berdetak tak karuan.
"Saya beneran boleh masuk pak?" tanya Nala sekali lagi.
"Iya mbak. Tuan dan nyonya sedang sarapan bersama di meja makan. Mari saya antar,"
Nala pun mengikuti langkah sang satpam untuk memasuki rumah. Pandangan Nala menyapu seisi rumah yang serba mewah itu. Hingga langkahnya terhenti di sebuah ruangan dengan meja panjang yang berisikan orang-orang yang sedang menikmati sarapan bersama.
"Ini orang yang tadi ingin bertemu dengan tuan dan nyonya," ucap sang satpam dengan sopan.
"Yasudah. Pak Udin boleh kembali ke pos lagi," perintah sang tuan.
"Baik tuan. Kalau begitu saya permisi,"
Nala meremas rok panjangnya karna rasa takut. Sepeninggalan sang satpam tadi kini ia menjadi pusat perhatiaan semua orang. Di meja makan saja ada sepasang suami istri dan juga tiga pria tampan yang kemungkinan besar adalah putra mereka. Tunggu, tiga pria tampan? Lalu siapa diantara mereka yang menjadi kakak Nala?
"Maaf, kalau boleh tahu nona ini siapa? Dan ada keperluan apa ingin bertemu kami?" tanya seorang laki-laki yang berperawakan berwibawa itu.
Mendapat pertanyaan seperti itu kembali rasanya Nala ingin menghilang dari dunia ini. Keringat dingin sekarang mulai mengalir di pelipisnya. Ditambah lagi Nala yang belum sempat sarapan pagi ini dan harus menghadapi kenyataan di depan matanya sekarang membuat Nala rasanya akan pingsan saja.
__ADS_1
"Ma-maaf tuan sebelumnya. Kedatangan saya kesini karna ingin bertemu dengan kakak kandung saya. Maaf karna saya lancang dan sudah menganggu waktu kalian. Tapi ini wasiat dari almarhum bunda saya. Saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini," ucap Nala panjang lebar.
Semua anggota keluarga itu kelihatan terkejut. Apalagi ketiga pria tampan di sana. Mereka tampak saling melempar pandangan.
Seorang wanita paruh baya berdiri lalu menghampiri Nala. wanita itu mempunyai kulit bersih dan berwajah keibuan.
"Sebelumnya, apa kamu punya bukti untuk membuktikan perkataanmu tadi?" tanya wanita itu dengan nada lembut.
Nala lalu mengeluarkan kertas di genggamannya. Memberikan kertas yang sudah lecek itu ke wanita tadi.
Kini wanita itu membaca kertas dari Nala dengan serius. Karna penasaran suami dari si wanita tadipun ikut serta berdiri dan membaca surat itu.
"Pa, apa mungkin dia anak Rinjani?" bisik sang wanita dengan raut wajah kaget.
Nala yang masih bisa mendengar bisikan itupun langsung menyahut. "Benar nyonya. Nama bunda saya adalah Rinjani. Ayah saya bernama Dirgantara,"
Pasangan suami istri itu saling tatap. Dalam hati Nala begitu lega karna itu tandanya mereka mengenali orang tua Nala dan tidak menganggap Nala sedang mengada-ngada. Berarti kemungkinan besar benar bahwa kakak Nala ada di antara ketiga pria itu.
"Siapa nama kamu sayang?" tanya wanita itu sambil mengelus rambut Nala.
"Nama saya Nala," jawab Nala sambil menunduk sopan.
"Nala, alangkah baiknya ini dibicarakan nanti saja ya. Sekarang kamu makan dulu bersama kami. Kamu pasti belum makan kan?" ajak wanita itu.
"Biarkan dia ikut makan dulu ya pa, kasihan," ucap wanita itu kepada suaminya.
"Yasudah. Ayo ajak dia ke meja makan." suaminya pun setuju.
Akhinya Nala menurut saja untuk diajak sarapan bersama mereka. Saat Nala duduk di salah satu kursi di sana, dirinya tak luput dari tatapan bingung ketiga pria tampan tadi.
"Pa, Ma. Sebenarnya dia siapa sih? Kenapa dia ikut makan sama kita?" protes salah satu dari pria disana.
Nala pun hanya bisa menunduk. Dia merasa tak enak karena sudah menganggu acara makan mereka.
"Nanta! Dia ini tamu, sopan sedikit dong sikapnya," tegur sang wanita tadi.
"Tamu dari mana? Emang mama papa kenal sama orang ini?" sarkas Nanta.
"Nanta! Diam dan habiskan makanan kamu!" bentak sang suami.
Suasana meja makanpun menjadi tegang. Akhirnya laki-laki bernama Nanta tadipun menuruti perkataan orangtuanya.
Tak lama dua pelayan tiba dari arah belakang setelah mendapatkan isyarat dari sang majikan. Ke dua pelayan itu memberikan piring dan satu gelas minuman untuk Nala.
"Setelah sarapan selesai, papa dan mama ingin membicarakan masalah serius sama kalian bertiga. Ada rahasia yang harus kalian ketahui," ucap laki-laki yang berwibawa tadi.
__ADS_1
Semua anggota keluarga itupun diam termasuk Nala. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.