BROTHER LOVE

BROTHER LOVE
Di Taman


__ADS_3

Setelah dua jam mengikuti pelajaran pertama akhirnya bel istirahat pun berbunyi dengan nyaring. Nala hanya berdiam diri di bangkunya sambil memandangi teman-teman sekelasnya yang meninggalkan kelas satu persatu untuk menuju kantin sekolah.


Rasanya Nala masih tak percaya jika hidupnya akan berubah sedrastis ini. Nala yang dulu hanya gadis desa sekarang bisa berada di tengah-tengah keluarga kaya raya bahkan lingkungan yang dia tempati pun masih teramat asing untuk Nala.


"Eh, lo nggak ke kantin?" tanya seorang perempuan cantik yang duduk satu bangu dengan Nala. Mereka memang belum sempat berkenalan.


"Aku masih nunggu kak Gara. Kamu sendiri nggak pergi ke kantin?"


"Kak Gara? Maksud lo kak Gara yang terkenal dingin itu? Yang tadi nganterin lo ke kelas? Emang lo siapanya kak Gara sih?" cerocos perempuan itu tanpa henti.


Nala pun sempat bingung harus menjawab pertanyaan itu dengan kalimat bagaimana. Alhasil, Nala hanya tersenyum canggung sampai kedatangan Gara di kelasnya menyelamatkan Nala.


"Nala," panggil Gara dari ambang pintu kelas.


"Ma-maaf ya. Aku duluan," ucap Nala pada perempuan tadi.


Akhirnya Nala dan Gara pergi ke kantin sekolah dengan berjalan beriringan.


"Sebenarnya murid baru itu siapa sih. Kok gue jadi penasaran ya," gumam Alea teman sebangku Nala.

__ADS_1


*


*


*


Sepanjang perjalanan Gara dan Nala hanya saling diam. Banyak pasang mata yang memperhatikan mereka berdua. Mereka mempertanyakan siapa murid baru itu. Pertama Nala tadi pagi satu mobil dengan Nanta. Sekarang dia ke kantin bersama Gara yang notabenya adalah cowok tak tersentuh di SMA Patimura.


"Kak Gara," ucap Nala dengan lirih.


"Kenapa? Lo nggak nyaman dengan mereka?" tanya Gara yang sepertinya mengetahui gelagat Nala yang sejak tadi gelisah.


Nala mengangguk dengan setuju. Rasanya dia tidak bisa bernafas dengan leluasa ketika melihat semua orang secara terang-terangan menatap tajam ke arah Nala.


Gara menarik pergelangan tangan Nala yang terlihat pas di tangannya yang besar. Cowok itu mengajak Nala pergi ke sebuah taman belakang sekolah yang letaknya jauh dari keramain. Biasanya hanya dia yang sering menghabiskan waktu di taman itu. Hingga anak-anak lain yang ingin pergi ke sana enggan karna takut terhadap Gara yang terkenal dingin dan juga anak dari keluarga Atmaja, keluarga yang memberikan donatur terbesar di sekolah SMA Patimura.


Kini ke dua remaja itu sedang duduk di atas rerumputan di bawah pohon yang lumayan rindang. Tanpa mereka berdua tahu ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan mereka dari kejauhan.


"Kak Gara nggak malu jalan bareng aku?" tanya Nala memberanikan diri untuk berbicara.

__ADS_1


"Kenapa harus malu?"


Nala tertegun. Pandangannya hanya terus tertuju ke bawah. "Aku hanya gadis desa yang tiba-tiba datang di keluarga kakak dan membuat kakak malu di sekolah,"


Bukan tanpa alasan Nala berbicara seperti itu. Dia jelas mendengar bisik-bisik dari murid SMA Patimura yang terus membicarakan dia dan asal usulnya. Dia yang katanya tidak pantas bersama Gara dan Nanta.


"Nggak usah dengerin apa kata mereka. Karna mulai sekarang lo adalah bagian dari keluarga Atmaja," ujar Gara meyakinkan.


Gara duduk menyerong ke arah Nala. Di tatapnya gadis lugu dan polos itu dengan seksama. Gadis yang sejak tadi terus menundukkan kepalanya. Gara tahu gadis itu pasti sangat tertekan sekarang. Entah kenapa hati kecil Gara menjadi tersentuh saat membayangkan bagaimana hidup gadis itu selama ini. Pasti dia telah memikul banyak beban apalagi setelah orang tuanya meninggal.


"Angkat kepala lo. Mulai sekarang jangan merasa takut lagi. Ada gue," ucap Gara sambil menarik dagu Nala dengan perlahan.


Mendapat perlakuan seperti itu membuat Nala perlahan memberanikan diri untuk menatap mata Gara yang tegas dan tajam. Nala mengulum senyumnya. Entah kenapa kalimat itu berhasil membuat hati Nala menjadi tenang.


Di sisi lain.


Helena, perempuan yang sejak tadi menguntit Gara hingga sampai taman mengeram kesal. Dia mempertanyakan siapa wanita yang bersama Gara saat ini. Dari penampilannya saja sudah bisa dipastikan bahwa dia hanyalah gadis kampung yang tidak selevel dengan dirinya.


"Siapa sebenarnya gadis kampung itu?" gumam Helena.

__ADS_1


__ADS_2