BROTHER LOVE

BROTHER LOVE
Malam


__ADS_3

Malam harinya.


Seluruh anggota keluarga Atmaja sedang menikmati jam makan malam mereka termasuk Nala. Dia hanya terus tertegun sambil memakan makanannya dengan pelan. Tidak berani mengangkat pandangannya sedikitpun.


"Nala, bagaimana sekolah kamu? Tidak ada yang jahat sama kamu kan?" tanya Thalita dengan perhatian. Sungguh wanita itu mencemaskan Nala.


"Ti-tidak. Semuanya sangat baik sama Nala,"


Thalita yang berada di depannya langsung tersenyum lega. "Syukurlah kalau begitu,"


"Tadi pulangnya bareng sama Nanta kan?" kali ini Arga yang bergantian memberi pertanyaan.


Nala tak langsung menjawab pertanyaan itu. Dia justru melirik ke arah Nanta dan laki- laki itu sudah menatapnya dengan penuh ancaman. Pasalnya, Nala tadi pulang sendiri menggunakan taksi seperti perintah Nanta pagi tadi.


"I-iya. Saya bareng sama kak Nanta,"


Nala terpaksa mengatakan seperti itu karna dia tidak ingin Nanta dimarahi oleh Arga dan juga Thalita hanya karna dirinya.


"Pa, ma. Kenapa kita tidak mengadakan pesta perkenalan secara resmi untuk Nala? Semua orang mempertanyakan siapa dirinya di sekolah," ucap Gara menyela obrolan mereka.


"Hm, papa setuju dengan pendapat kamu gar. Besok kita gelar pesta resmi untuk mengenalkan Nala sebagai anggota keluarga Atmaja, bagaimana?"


"Mama setuju pa," sahut Thalita.


"Kita undang beberapa rekan bisnis, klien dan juga teman-teman sekolah kalian," imbuh Arga dengan antusias.

__ADS_1


"Harus banget ya ngadain pesta nggak jelas buat gadis cupu ini? Pa, ma! Aku nggak ngerti deh seistimewa apa dia sampai papa dan mama ngelakuin ini. Udah kayak ratu aja dia di sini," ucap Nanta yang lagi-lagi tak setuju dengan ide gila keluarganya. Di rumah itu hanya Nanta yang menjadi satu-satunya orang yang masih tindak menerima kehadiran Nala.


"Saya tidak ingin merepotkan lagi. Saya rasa itu terlalu berlebihan," tolak Nala dengan sopan.


"Tuh denger. Si cupu aja nggak setuju kan," Nanta kembali menyerobot.


Arga melayangkan tatapan tajamnya kepada Nanta. Anak laki-lakinya itu sungguh tidak bisa mengontrol perkataan pedasnya yang bisa saja menyakitkan bagi lawan bicaranya.


"Pesta tetap akan dilaksanakan besok malam. Ini sudah menjadi keputusan papa," ujar Arga tak terbantahkan.


"Di rumah ini mana ada sih yang dengerin pendapat aku. Sekarang terserah kalian mau berbuat apa," tukas Nanta. Laki-laki itu memilih pergi meninggalkan meja makan.


Kehadiran Nala di rumah ini sepertinya hanya membuat kekacauan saja. Seharusnya memang tidak di sini dirinya berada. Dia tidak pantas berada di tengah-tengah keluarga ini. Mendadak Nala ingin menyerah saja rasanya untuk mencari tahu siapa kakak kandungnya selama ini.


*


*


*


Saat Nala sudah berhasil menuruni tangga dengan mengendap-endap, tiba-tiba dirinya tak sengaja menabrak dada bidang seseorang di tengah kegelapan ruangan utama. Sontak Nala terkejut dan menelan salivanya dengan susah payah. Dia takut jika itu adalah Nanta.


"Lo ngapain malam-malam di sini?" suara dingin itu bisa Nala tebak. Ternyata yang barusan dia tabrak barusan adalah Gara.


Gara yang tadi baru saja mengambil minum dari dapur langsung menyalakan lampu di ruangan utama. Dia melihat Nala yang sudah membawa tas selempangnya saat gadis itu pertama kali muncul di rumah ini. Tas selempang sederhana yang sudah lumayan usang.

__ADS_1


"Maaf kak, tapi aku harus pergi sekarang," cicit Nala sambil menunduk.


"Pergi? Ini tengah malam Nala. Lo mau kemana?"


Nala tak bisa membendung air matanya. Dia sendiri juga bingung. Rasanya menjadi serba salah.


"Aku nggak mau nyonya dan tuan bertengkar terus dengan kak Nanta gara-gara aku. Tempatku bukan di sini kak. Aku mau pulang ke rumah bunda," isak Nala lirih.


"Lo bicara apa sih? Lo nggak boleh pergi dari rumah ini. Lo lupa tujuan lo ke rumah ini mau ketemu sama kakak lo? Emang lo nggak penasaran siapa kakak kandung lo?"


Tentu saja Nala sangat penasaran. Dia ingin sekali memeluk kakak kandungnya karna sudah bertahun-tahun terpisah.


"Ikut gue sekarang,"


Gara menarik pergelangan tangan Nala dan membawa gadis itu menuju lantai atas kembali. Dia tidak ingin perdebatan itu sampai terdengar di kamar orang tuanya yang berada di lantai bawah.


"Kak Gara mau bawa aku kemana?" tanya Nala yang mengikuti langkah Gara. Langkah yang bukan menuju kamarnya sendiri.


"Ke kamar gue. Malam ini lo tidur sama gue. Gue nggak mau lo kabur lagi,"


...****************...


Jadi pengen kayak Nala gaes, wwkkk


Kira-Kira kakak kandung Nala siapa sih?

__ADS_1


Barga, Gara, atau Nanta?


Minta vote dan komennya dong🥰🥰


__ADS_2