
Akhirnya dengan susah payah Gara berhasil membawa Nala naik dari kolam renang itu. Nanta dan Barga juga terlihat sangat panik apalagi kini Nala tak sadarkan diri.
"Nala bangun! Lo harus bertahan!" ucap Gara sambil memberikan pertolongan pertama kompresi pada bagian tengah dada. Namun usaha itu tak membuahkan hasil juga. Nala belum sadarkan diri. Sementara semua orang mengerubungi Nala, Helena berdiri dengan senyum puasnya.
"Biar gue kasih nafas buatan ke Nala," serobot Barga yang sudah ingin mengambil alih posisi Gara saat ini. Namun Gara langsung menepis Barga dengan cepat.
"Biar gue aja," ucap Gara.
Barga tidak bisa bertindak apapun lagi selain pasrah. Dia tidak ingin berdebat dengan Gara karna sekarang nyawa Nala adalah yang terpenting.
Gara melakukan bantuan nafas buatan dari mulut ke mulut itu sebanyak dua kali hingga akhirnya Nala berhasil sadar dan terbatuk-batuk.
"Gara apa-apaan sih! Dia nggak jijik apa nglakuin itu! Biarin aja si kampungan itu mati sekalian," batin Helena. Matanya masih membulat karna sungguh tidak bisa di percaya seorang Gara akan melakukan hal itu pada perempuan.
"Nala, lo baik-baik aja kan?" tanya Nanta memastikan.
"Uhuk! Iya kak aku nggak pa-pa kok,"
"Mending kamu ganti baju dan istirahat aja ya di kamar. Kamu masih syok banget," saran Barga dengan cepat.
Nala mengangguk patuh. Baru saja dirinya ingin beranjak Gara dengan sigap mengangkat tubuh Nala dalam gendongannya. Dengan cepat Nala melingkarkan ke dua tangannya di leher Gara.
"Biar gue anterin lo ke kamar," ucap Gara seperti tak terbantahkan.
__ADS_1
Thalita dan Arga di buat kaget saat melihat Gara mengendong Nala dengan keadaan ke duanya yang sudah basah kuyup. Tadi mereka berdua memang samar-samar mendengar keributan dari dalam rumah.
"Ya ampun Gara! Kalian berdua kenapa? Nala kenapa Gar?" tanya Thalita bertubi.
"Tadi Nala tiba-tiba nyebur ke kolam renang ma,"
"Hah? Kok bisa sih? Ya udah sana bawa Nala ke kamar biar ganti baju. Kamu juga tuh, basah semua gitu. Biarin Nala istirahat aja di kamarnya," ujar Thalita.
Gara mengangguk kecil dan meninggalkan ke dua orang tuanya untuk membawa Nala menuju kamar. Sesampainya di kamar Gara langsung menyuruh Nala untuk menganti bajunya.
"Duduk di sini. Biar gue keringin rambut lo," titah Gara saat Nala baru saja keluar dari kamar mandi.
"Tapi kak Gara masih basah gitu bajunya. Mendingan kak Gara ganti baju dulu. Lagian aku bisa sendiri kok keringin rambutku,"
Kalau Gara sudah berekspresi seperti itu Nala hanya berani menurut tanpa membantah kembali. Dia mengambil duduk di meja rias sedangkan Gara sudah memegang hair dryer di tangannya.
"Makasih ya kak udah nolongin aku," ucap Nala memberanikan diri.
Dia yakin suara bising hair dryer itu tak membuat telinga Gara tuli mendadak, namun entah kenapa cowok dingin itu tak menyahut ucapan terima kasihnya.
Sekilas Nala mengangkat pandangannya dan melihat pantulan wajah Gara di cermin. Cowok itu tampak serius dengan kegiatan mengeringkan rambut panjangnya. Tak sadar Nala mengulum senyumnya. Wajahnya juga bersemu merah.
"Lo ngapain cengegesan?" sentak Gara yang menangkap basah Nala tengah memperhatikannya.
__ADS_1
"Ng-nggak kok kak,"
Tiba-tiba pintu kamar Nala terbuka dengan gusar dan menampilkan sosok Nanta yang baru saja datang membawa nampan berisi dua gelas minuman hangat. Jangan berharap itu inisiatif diirinya sendiri. Itu semua dia lakukan hanya karena Thalita yang menyuruhnya.
"Cie elah. Sia-sia gue bawa minuman hangat. Nggak taunya udah pada berbagi kehangatan di sini," celetuk Nanta sambil tertawa renyah.
Nala sendiri tidak tahu mengapa kakaknya Nanta tiba-tiba mengodanya seperti itu.
"Kak Nanta apa-apaan sih. Ngomongnya loh kok gitu," sahut Nala menjadi canggung sendiri.
"Gimana La rasanya di ***** sama kulkas dua pintu?"
Gara yang mendengar itu langsung mengambil tisu tepat di sampingnya lalu dia lempar ke wajah Nanta. Mulut Nanta itu memang tidak pernah bisa di rem.
"Ma-maksud kakak apa sih?" tanya Nala yang masih tidak mengerti dengan arah pembicaraan Nanta.
"Ya tuhan kenapa adik perempuan gue sepolos ini sih," ucap Nanta dramatis.
Gara yang sudah selesai dengan aktivitasnya langsung mematilan hair dryernya. Dia memilih untuk pergi meninggalkan Nanta dan Nala di kamar itu karna dia sungguh malas jika harus meladeni ocehan Nanta. Biarkan saja Nanta menceritakan kejadian nafas buatan kilat darinya tadi ke pada Nala. Yang terpenting mereka berdua tidak mengetahui wajah malu Gara yang saat ini dia sembunyikan.
"Sial! Jangan bilang kalo gue udah jatuh cinta sama Nala," umpat Gara di kamarnya sendiri.
...****************...
__ADS_1
Emang ada aja ulah Nanta mah, Emang nafas buatan masuk dalam kategori cip*kan?? 🤣🤣