
Pagi ini Nala sengaja berangkat bersama kakaknya Barga. Setelah mendengar cerita dari Nanta semalam rasanya Nala ingin menenggelamkan wajahnya karna rasa malu. Ya, semalam Nanta bercerita kalau Gara yang menolongnya dan memberikan nafas buatan. Sungguh hati Nala masih berdesir ketika membayangkan itu semua.
Dan alasan pagi ini dia berangkat terlebih dulu memang ingin menghindar dari Gara. Nala tidak sanggup jika harus bertemu dengan cowok dingin itu sekarang.
"Nala... Gue perhatiin dari tadi lo kayak galau gitu sih? Mikirin apaan?" tanya Alea. Sejak tadi Alea memang penasaran dengan teman sebangkunya itu yang terus saja melamun. Seperti sedang banyak pikiran.
"Aku malu banget Al kalau ketemu sama kak Gara," adu Nala yang menceritakan kegundahannya pagi ini.
"Cieee... Pasti karna kemarin yang lo di tolongin itu ya. Di kasih nafas buatan dari cowok paling dingin di sekolah, gimana rasanya La?"
Nala mencebik kesal. Bukannya memberi solusi tapi Alea justru mengodanya.
"Jangan gitu dong Al. Sampai sekarang aja aku masih bingung kakak kandung aku itu siapa. Kalau ternyata kak Gara kakak kandung aku gimana?"
"Ya nggak gimana-gimana dong. Emang kenapa kalau kakak kandung lo itu ternyata kak Gara? Atau jangan-jangan lo justru udah suka sama kak Gara makanya lo takut kalo kak Gara itu kakak kandung lo, iya kan? Ngaku La sama gue!"
__ADS_1
"Ih nggak tahu deh! Aku jadi pusing mikirin omongan kamu," kesal Nala.
Masalah yang tadi aja rasanya Nala belum mendapat solusi. Di tambah lagi omongan Alea barusan justru kini menambah beban pikirannya sekarang.
"Apa iya aku suka sama kak Gara? Tapi bagaimana kalau ternyata dia kakak kandungku yang aku cari selama ini? Kakak dan adik kan gak boleh saling suka," Nala berperang dengan pemikirannya sendiri.
Sebenarnya Nala ingin bersikap biasa saja saat di depan Gara namun entah kenapa jantungnya selalu tidak bisa di kendalikan. Alhasil, Nala menjadi tidak fokus untuk mengikuti pelajaran hari ini karna pikirannya terus saja di penuhi oleh cowok dingin itu.
Tak terasa sekolah sudah di bubarkan saat hari menjelang sore. Saat Nala ingin menuju gerbang sekolah tiba-tiba panggilan dari Nanta terdengar. Cowok itu lalu menghampiri Nala.
"Loh, kakak nggak jadi pergi sama Melissa?" tanya Nala heran karna kemarin dia tahu jika Nanta dan Melissa memiliki janji untuk pergi nonton sepulang sekolah.
"Melissa ada kepentingan keluarga mendadak. Jadi ya terpaksa deh cancel dulu ngedatenya,"
Nala pun menyetujui ajakan Nanta. Kini mereka berdua pulang dengan mobil yang sama.
__ADS_1
Di sisi lain Gara sedang mondar-mandir mencari Nala di berbagai sudut sekolah namun gadis itu tak kunjung ia temukan. Saat sarapan pagi tadi Nala juga tidak ada karna mamanya bilang Nala sudah berangkat dengan Barga. Sepagi itu? Gara kini semakin yakin jika gadis itu pasti sedang menghindar darinya.
Tanpa berpikir panjang lagi Gara memutuskan untuk segera pulang. Namun saat dirinya ingin berbalik Gara mendapati Helena yang datang secara tiba-tiba.
"Gar, lo sekarang bawa mobil? Gue boleh pulang bareng lo nggak? Sopir gue mendadak gak bisa jemput," alibi Helena seperti biasa.
Akhir-akhir ini Gara memang sering memakai mobil ke sekolah. Alasannya apalagi jika bukan karna ingin berangkat dan pulang bersama Nala. Hanya karna Nala dia rela meninggalkan motor sportnya dan rela bermacet-macetan di jalanan.
"Sori gue nggak bisa kayaknya,"
Helena mendengus kesal. Tebakannya benar kan? Pasti Gara menolak permintaannya. Namun jangan sebut Helena jika dia langsung menyerah begitu saja. Sejak dulu dia selalu menjadikan Gara tantangan tersendiri. Hampir semua laki-laki menginginkan Helena namun Gara lain cerita. Padahal kurang apa Helena selama ini? Selain cantik dan dari kalangan keluarga yang kaya, Helena juga seorang model brand ambasador terkenal meski dirinya masih duduk di bangku SMA.
"Kali ini aja deh Gar, soalnya kepala gue sakit banget," mohon Helena. Bahkan cewek itu sudah menyentuh lengan kekar Gara.
Dengan terpaksa Gara mengiyakan permintaan Helena kali ini. Dia malas jika harus mendengarkan rengekan cewek itu.
__ADS_1