
Rumah yang luas, namun hanya dipenuhi dengan kesunyian. Penghuninya, sibuk dengan urusan masing-masing. Zamar, sibuk di ruang kerja. Sandra, memilih mengurung diri dan Resti juga melakukan hal yang sama.
Seharusnya malam ini, Resti duduk berkumpul bersama, membicarakan tentang rencananya yang ingin segera memiliki cucu. Belum lagi, tentang Zamar yang akan menceraikan sang istri.
Namun, semua hal yang ia susun dengan matang, lenyap seketika. Bahkan, lingerie yang ia beli untuk Sandra, tergeletak begitu saja. Ia tidak tenang, duduk salah, baring salah, semua posisi, membuatnya tidak nyaman. Ia wara-wiri dalam kamar, sembari meremas jari-jarinya. Wajah cucu, teman sosialitanya, terngiang-ngiang terus dalam pikirannya.
"Zamar, Mama mau bicara." Resti sudah duduk di sofa.
"Kenapa? Wajah Mama, kok tegang?" Zamar bangkit, duduk di sofa bersama sang ibu.
"Jawab dengan jujur, selain Maya. Apa kamu punya perempuan lain diluar sana?" Mata Resti menatap intens, dengan kedua tangan saling terpaut.
"Mama, bicara apa? Zamar, tidak punya perempuan lain. Kenapa bertanya hal yang tidak masuk akal?"
"Iya, kau benar. Mama pasti sudah gila. Itu, tidak. mungkin." Raut wajah Resti belum berubah, meski sudah mendapatkan jawaban.
"Ma, sebenarnya, ada apa? Mama, memikirkan apa?"
"Mama, bertemu teman di Mall. Kamu ingatkan, dia yang sering Mama ceritakan. Di punya cucu kembar. Tapi, .... "
"Tapi, apa?" Zamar mengernyitkan alisnya.
"Entah, Mama yang salah lihat atau bagaimana. Cucunya, sangat mirip denganmu, saat kecil. Apalagi, cucu laki-lakinya."
"Mama. Mana mungkin, cucu orang lain mirip denganku. Mama pasti salah lihat." Zamar terkekeh.
"Apa iya. Mama, salah lihat?" Resti melirik langit-langit, kembali mengingat wajah anak laki-laki itu. "Tidak, Za. Mama tidak salah. Dia sangat mirip denganmu."
"Mungkin, Mama kelelahan. Sebaiknya, istirahat. Aku masih punya banyak pekerjaan." Zamar bangkit, hendak menuju kursi kerjanya.
"Za. Kamu tidak pernah, menyentuh Maya, kan?"
Deg. Zamar berhenti, namun tidak menoleh. Ia memejamkan mata dengan tangan terkepal.
"Dia tidak hamil, kan?" Suara Resti terbata, serak, dan seperti akan menangis.
"Jika, dia hamil, aku tidak mungkin mengusirnya, Ma," Zamar menyahut tanpa menoleh.
"Baguslah." Resti menghela napas lega. "Kamu lanjutkan, saja. Mama akan pergi."
Resti, menutup pintu ruang kerja, Zamar. Ia melangkah menuju kamar, tempat sang menantu mengurung diri.
"Kau sedang, apa?" Resti disambut oleh kegelapan. Hanya bayangan gelap Sandra, tampak berada diatas tempat tidur. "Kenapa kau mematikan lampu?" Resti menekan sakelar lampu, hingga sinar terang langsung menerangi ruangan.
__ADS_1
Sandra duduk, dengan memeluk kedua lututnya, pandangan lurus dan kosong. Wajah sembab dan rambutnya acak-acakkan.
"Kau kenapa, sayang? Mama sudah bilang, jangan mengkhawatirkan apapun. Mama yang akan mengurusnya." Resti menyibak rambut Sandra, dibelakang telinga.
"Dia tidak mau berbicara denganku, Ma. Zamar membenciku, hanya karena aku, tidak mau bicara jujur."
"Bicara, tentang apa?"
"Tentang, Maya."
"Maya? Kenapa lagi, dengan perempuan itu?"
Sandra tidak menjawab. Ia tertunduk dan bahunya bergetar, hanya suara tangisnya yang terdengar.
"Jangan menyembunyikan, apapun dari Mama. Bagaimana, Mama bisa membantu, jika kau menyimpan masalahmu sendiri?"
"Aku bingung, Ma. Aku ingin jujur pada Zamar, tapi aku takut dia salah paham dan tidak percaya padaku." Sandra mendongak, wajahnya basah karena linangan air mata.
"Kalau begitu, katakan padaku. Biar, Mama dengarkan!"
"Sebelum, Maya pergi, aku bersamanya. Aku mengajaknya minum, dan dia hanya minum segelas. Aku mabuk dan hanya ingat, Maya sudah pergi tidur." Sandra menghapus air matanya. "Saat pagi, aku terbangun di kamarku. Papa dan Mama, mengurungku dan menyita ponselku. Aku tidak bisa menghubungi Maya, untuk mencari tahu keadaannya. Sampai akhirnya, aku dengar dia pergi, karena Zamar mengusirnya."
"Lalu, kenapa tidak memberitahunya?"
"Karena, Mama melarangku mengatakannya. Dia bilang, Zamar tidak akan percaya padaku dan akan menyalahkanku atas kepergian, Maya."
"Maksud, Mama?"
"Zamar adalah tipe yang tidak mudah percaya pada orang lain. Jika hubungan kalian, tidak ingin semakin jauh, jangan pernah membicarakannya lagi."
"Baik, Ma. Tapi, aku harus bagaimana sekarang?"
"Pakai ini." Resti memberikan paper bag. "Mama, akan membuat kalian tidur bersama malam ini. Ingat, ini kesempatanmu!"
"Iya, Ma." Sandra memperhatikan lingerie berwarna hitam dan transparan. Sangat seksi, karena kekurangan bahan. "Tapi, bagaimana caranya? Zamar bahkan tidak mau sekamar denganku."
"Biar, Mama yang urus. Sekarang, kamu mandi dan bersihkan wajahmu yang sembab itu. Mama keluar dulu."
Resti masuk dalam kamar pribadinya. Membuka lemari dan mengambil sesuatu dibawah lipatan baju. Ia membuka pintu dan raut wajahnya berubah seketika. Ada sekretaris Huan, yang tiba-tiba muncul dengan tumpukan dokumen dikedua tangannya.
"Selamat malam, Nyonya."
"Kenapa kau membawa pekerjaan di rumah? Zamar harus istirahat." Intonasi suara Resti meninggi, tidak seperti biasanya. Bahkan, tidak menjawab sapaan Huan.
__ADS_1
"Maaf, Nyonya. Saya hanya melakukan perintah, tuan." Huan melenggang pergi. Dibelakang, pelayan rumah mengekor dengan membawa tasnya.
Resti menggenggam erat, sesuatu dibalik tangannya. Tatapan tajam, masih ia layangkan pada Huan, yang berjalan membelakanginya.
"Buat dua cangkir teh, bawa di kamarku."
"Baik, Nyonya."
Resti kembali masuk, menutup pintu dengan keras. Hingga, suaranya terdengar seluruh rumah. Para pelayan, saling bertukar pandang. Nyonya rumah, tidak pernah seperti ini. Pernah, tapi itu dulu dan sudah lama. Ia menjadi lembut sekarang berubah 180 derajat, dari tahun-tahun sebelum tuan muda bertemu mantan tunangannya.
"Yang ini, kamu berikan pada Zamar dan ini untuk Huan." Resti menunjuk cangkir teh dan menekan dengan jelas, setiap kalimatnya. "Kamu mengerti, kan?"
"Iya, Nyonya."
"Ulangi!"
"Ini, untuk tuan dan ini, untuk pak sekretaris." Si pelayan, kembali menunjuk cangkir-cangkir itu.
"Bagus. Jangan sampai tertukar, paham kamu!"
"Paham, Nyonya."
Resti membuka pintu kamar, membiarkan si pelayan keluar dengan memegang nampan dikedua tangannya. Ia tidak langsung menutup pintu, melainkan memperhatikan pelayan tadi, masuk dalam ruang kerja putranya.
Bagus.
Setelah memastikan, semua sesuai dengan rencananya. Resti kembali menuju kamar tidur Sandra.
"Sudah siap?"
"Sudah, Ma."
"Wah, kau sangat cantik, sayang. Mama yakin, Zamar akan tunduk padamu malam ini."
Sandra menggunakan lingerie pemberian Resti. Ia juga sudah berdandan dengan make up natural. Rambutnya tercium aroma wewangian dan sengaja dibiarkan tergerai.
"Ingat! Mungkin, Zamar akan sedikit kasar dan tidak sabaran. Tapi, kamu jangan menghindarinya. Ini adalah malam pertama kalian."
"Aku sedikit takut, Ma."
"Hahaha... Kamu ini lucu sekali. Kamu kan, bukan pertama kalinya sekamar dengan Zamar. Ingat saja pesan Mama. Kamu hanya perlu pasrah dan membiarkan dia."
"Baik, Ma."
__ADS_1
"Ya, sudah. Kamu siap-siap. Mama akan memeriksa Zamar."
🍋 Bersambung