Bukan Hanya Cinta

Bukan Hanya Cinta
Bab 47. Aku benci....


__ADS_3

Zamar tiba dikediaman orang tuanya. Karena, tubuhnya mendadak lemah, ia dipapah oleh Huan, masuk dalam rumah. Bukannya, mendapat ketenangan, Zamar malah menemukan drama baru didepannya.


"Kau sudah pulang? Kau kenapa, Nak? Kau sakit?"


Tidak ada jawaban, Zamar hanya menatap kosong ke arah sang ibu. Begitu, juga Huan yang hanya memperhatikan kehadiran orang tua Sandra dan koper serta tas yang tergeletak diatas lantai. Sementara, Sandra tidak terlihat.


"Nak, Zamar. Kami ingin bicara." Ayah Sandra membuka suara.


"Tuan Zamar, sedang tidak enak badan, malam ini. Harap, Tuan bertemu besok," Huan yang menjawab, merasa geram dengan orang-orang yang tidak mengerti keadaan.


"Kau mengusir putriku, setelah menceraikannya?" teriak ibu Sandra. "Mana hati nuranimu? Dia sudah membantumu menutup aib, karena perempuan sialan itu dan kau membuangnya begitu saja?"


Amarah Zamar, langsung terpantik. Tubuhnya yang lemah, langsung berenergi. Tatapannya berubah nyalang.


"Ulangi," desisnya kasar.


"Nak, mereka mertuamu. Mereka datang baik-baik, _"


"Aku bilang ulangi!" bentak Zamar dengan suara menggelegar, bahkan para pelayan berlari keluar karena ketakutan.


"Jeng Resti. Lihat putramu! Apa kami terlalu kecil di matanya, hingga meneriaki kami seperti ini?"


"Huan, panggil Sandra." Zamar tidak merespon ucapan ibu mertuanya. Bahkan, tidak mau memandang wajah sang ibu.


Sandra kini berdiri disamping Zamar, dengan wajah sembab. Di pipinya, tercetak jelas tamparan yang ia terima.


"Mereka memukulmu?" tanya Zamar dan Sandra hanya menganggukkan kepala, sebagai jawaban.


"Sialan!" Zamar menatap tajam, orang tua Sandra. "Kami sudah bercerai dan kalian tidak berhak menentukan hidupnya lagi."


"Lalu, kau sendiri, apa berhak? Kau membatalkan semua kerjasama dan menceraikan putriku. Apa ini harga yang kami terima, setelah menyia-nyiakan masa depan putriku?"


"Harga?" Zamar tertawa sumbang. "Bukankah dari awal kalian menjebakku melakukan ini?"


"Nak, apa maksudmu?"


"Mama masih mau berpura-pura," teriak Zamar, "Bukankah, ini idemu? Kau tidak menerima Maya dan menjebaknya dengan orang lain. Berpura-pura terpukul, hingga menawarkan pernikahan dengan Sandra sebagai penyelamat. Mama pikir, aku tidak tahu?"


Resti membelalakkan mata, termaksud orang tua Sandra.

__ADS_1


"Ja-jadi, kalian sengaja?" isak Sandra. "Kalian tega melakukan ini padaku?" Sandra maju beberapa langkah, mendekati orang tuanya. "Aku putrimu, bukan barang. Kalian sudah menyia-nyiakan hidupku, selama ini. Apa benar kalian orang tuaku?"


Orang tuanya, hanya membisu, meski masih ada keegoisan di wajah mereka. Sandra yang terisak, tidak mampu berkata-kata lagi. Sakit hati dan kecewa, bercampur menjadi satu.


"Mulai hari ini, semua kerjasama kita dibatalkan. Termasuk, sewa tanah untuk gedung rumah sakit. Jadi pilihlah, aku menghancurkannya atau menyerahkannya padaku?"


"Kau tidak bisa melakukan ini," teriak ayah Sandra. Lalu, menatap Resti. "Kau menjanjikan, pemilikan tanah kepadaku. Sekarang, kau harus menepati janjimu."


"A-aku...."


"Ingat, jeng Resti. Kami akan menagihnya, nanti!"


Orang tua Sandra langsung pergi, tanpa berpamitan. Mereka bahkan, tidak meminta maaf kepada putrinya.


"Huan, antar Sandra!"


"Baik, Tuan."


Kini tinggallah, Zamar dan sang ibu. Zamar masih menunggu sang ibu untuk membuka mulut. Ia sudah bersiap, untuk membuka segala kebohongan skenario selama tiga tahun.


"Zamar. Apa kau tidak keterlaluan? Ibu melakukannya untukmu."


"Menghancurkan, apa? Memangnya, apa bagusnya perempuan sialan itu? Hah! Dia bukan siapa-siapa dan tidak memberikan pengaruh yang besar untuk masa depanmu."


"Jadi, Mama mengakui, kalau Mama tidak menyukainya?" Mata Zamar memanas, menyakitkan saat bertanya secara langsung, apalagi jika jawabannya, sudah ia duga.


"Mama, tidak pernah menyukai dan menerimanya!" tegas Resti, "Dia perempuan tidak jelas asal usulnya. Hidupnya menyusahkan. Apa yang kau harapkan dari perempuan seperti itu?"


"CUKUP!" hardik Zamar. "Jangan pernah menghinanya, Ma. Dia memang bukan siapa-siapa, tapi karena dia, putramu memiliki tujuan hidup. Dia bukan siapa-siapa, tapi aku mencintainya."


"Cinta?" Resti tertawa sumbang. "Kau hidup dengan cinta, Zamar? Mama membesarkanmu seorang diri. Keluarga ayahmu, hanya sibuk mempermasalahkan pewaris. Mama melakukannya untukmu, apa kau tidak tahu bagaimana keluarga ayahmu, memandang kita?"


"Itu hanya keegoisan, Mama. Yang aku tahu, mereka tidak pernah mempermasalahkan posisiku. Mereka tidak pernah membuat masalah, selama menjadi pemegang saham. Mama, hanya tidak ingin kalah!"


"Kau menyalahkan, Mama? Yang susah payah, membuat mu seperti ini."


"Lalu, apa Mama pernah bertanya keinginanku selama ini? Aku selalu menurutimu, hal yang aku tidak sukai, tapi aku menerimanya. Aku hanya meminta satu hal, yaitu menerima Maya. Tapi, Mama membuatku kecewa."


Zamar melenggang pergi, tidak menghiraukan sang ibu yang mengejar dan memanggilnya berulang kali.

__ADS_1


"Ma, aku lelah. Aku tidak ingin berdebat."


"Mama tidak akan pergi, sebelum kau menarik keputusanmu."


"Aku tidak akan menjilat ludahku sendiri."


"Lalu, perempuan itu. Apa kau akan menerimanya kembali, setelah dinodai? Dia kotor!"


"MAMA.... " Zamar menatap nyalang, tangannya terkepal dengan gemetar. "Kau sengaja, melakukan itu? Membuatku merasa jijik? Sungguh, tidak punya hati. Hanya, karena tidak menerimanya, Mama melakukan hal memalukan."


"Mama, tidak akan pernah menerimanya, Zamar. Dia tidak pantas!"


"Kalau begitu, jangan pernah mengharapkan penerus dariku. Saat umurku, mencapai batas, perusahaan akan diambil alih, oleh anak-anak paman."


Zamar menutup pintu dengan keras. Sementara, sang ibu mematung depan kamar, karena kehabisan kata-kata.


Zamar kembali keluar kamar, setelah berganti pakaian. Tinggal dalam rumah dengan masalah yang seakan membuat kepalanya pecah, ia memilih mencari pelarian.


Club malam. Entah mengapa, alkohol bisa membuatnya merasa tenang dan aman. Suara musik yang memecah gendang telinga, lampu kelap kelip dan dance floor, yang dipenuhi orang-orang.


Zamar duduk di meja bar, dengan segelas alkohol ditangannya. Ia terus minum tanpa jeda, setiap gelasnya kosong, ia akan minta diisi.


Para wanita dengan pakaian kurang bahan, ingin menghampiri, namun ada seseorang yang selalu memblokade kehadiran mereka. Dia anak buah Huan, yang selalu mengikuti Zamar, tanpa diketahui.


Pria muda, ini lebih tegas dari Huan. Setiap didekati, ia lebih dulu menunjukan pisau lipatnya. Hingga, para wanita langsung kabur tanpa mengatakan apa-apa.


"Aku ayahnya! Hahaha... mereka memanggil ku om." Zamar mulai meracau.


"Mama, kenapa kau tega? Kau membuat ku hancur. Dasar, sial! hahaha... " Entah sudah berapa botol yang habis. Zamar terlihat sangat kacau.


Tanpa mengatakan apa-apa, pria muda itu, langsung membawa Zamar pulang. Karena mabuk berat, Zamar tidak bisa menolak. Ia hanya terus meracau, kadang tertawa dan menangis bersamaan.


"Dia mabuk lagi?" tanya Resti, yang memperhatikan keadaan putranya. "Kau siapa?"


"Sekretaris Huan, yang memintaku mengantar Tuan."


Pria muda itu, memapah Zamar dibantu kepala pelayan, menuju kamar. Sesuai perintah Huan, anak buahnya, tidak meninggalkan kamar. Ia mengunci dari dalam, mencegah nyonya rumah membuat muslihat baru.


🍋 Bersambung

__ADS_1


__ADS_2