Bukan Hanya Cinta

Bukan Hanya Cinta
Bab 39. Hampir dekat


__ADS_3

Emosi, ternyata bisa mempengaruhi pola pikir dan tindakan. Seharusnya, perceraiannya dengan Sandra menjadi rahasia. Namun, siapa sangka, ia justru mengatakannya sendiri, didepan ibu dan mertuanya.


"Kita pulang bersama. Tunggu, aku akan menjemputmu!"


"Baik."


Sekarang, sudah pukul empat sore. Jam kerja telah usai dan waktunya untuk pulang. Namun, Zamar masih betah berlama-lama dalam ruangan.


"Kau sudah siap?"


"Sudah, Tuan."


"Baiklah. Kau cukup berkeliling dan lakukan tugasmu dengan baik.


Huan melaju seperti biasa. Karena, ia membuat kesalahan pagi tadi. Sore ini, dia tidak banyak bertanya dan hanya menjawab seperlunya.


Diparkiran, Sandra sudah menunggu. Langsung masuk mobil, yang berhenti didepannya.


"Kita mau kemana?"


"Rumahmu," jawab Zamar singkat.


Hening. Semua membisu, baik sopir maupun penumpang dibelakangnya. Suara musik, juga tidak ada. Hanya ada, suara klakson dari mobil-mobil yang berhenti dilampu merah.


"Kau hanya perlu diam, disana."


"Memangnya, kau mau membicarakan apa dengan orang tuaku?"


"Perceraian kita."


"Kau mau memberitahu mereka?" geram Sandra.


"Cepat atau lambat, mereka akan tahu. Jangan takut, aku masih memegang janjiku."


Mobil masuk dalam pekarangan yang sangat luas. Tanaman bonsai, menjadi pemandangan pertama saat memasuki area itu.


"Kalian datang?" Ibu Sandra menyambut mereka. Tanpa senyum, dan menatap tajam putrinya yang tertunduk. "Masuklah."


Zamar memberi isyarat pada Huan, lalu melangkah mengikuti sang ibu mertua. Sandra berjalan disamping Zamar, tanpa bergandengan tangan.


Tanpa dipersilahkan, Zamar sudah duduk lebih dulu. Seperti, berada di rumah sendiri. Bahkan, tidak membalas senyuman ayah mertuanya, yang menyambut mereka dengan ramah.


"Sudah lama, kalian tidak berkunjung." Ayah duduk bergabung, dan meminta pelayan menyiapkan minuman. "Bagaimana kabar kalian? Papa tahu, kalian ada masalah. Tapi, perceraian bukan solusi."


Zamar belum menjawab. Ia memperhatikan ibu mertuanya, juga duduk bergabung. Bersamaan dengan pelayan, yang meletakkan cangkir diatas meja.


"Apa kesalahannya?" tanya ibu Sandra langsung. "Mama akan mengajarinya, agar dia patuh padamu."

__ADS_1


"Mama, diam." Suaminya memperingatkan.


"Aku tidak akan diam." Ibu Sandra menoleh pada Zamar. "Kau tidak menghargai pengorbanan putriku, untuk keluargamu. Dia menutup aib kalian dengan menikah denganmu. Tapi, apa balasan mu? Kau mau menceraikannya? Sekarang, katakan. Apa kesalahannya?"


"Karena, Sandra berhak mendapatkan yang lebih baik." Sandra menatap sang suami. "Putrimu, tidak akan bahagia denganku."


"Omong kosong! Kalian menikah hampir tiga tahun. Dan kau baru mau mengatakan tentang kebahagiaannya? Kenapa bukan dari dulu? Kenapa bukan, saat kalian baru menikah?" cerca ibu Sandra. "Dengan umurnya saat ini, kau pikir dia bisa menikah kembali? Apalagi, menyandang status janda darimu."


"Nak, benar yang dikatakan istriku. Putriku sudah berkorban untuk kalian, menghabiskan waktunya yang sia-sia denganmu. Tapi, kau membuangnya dengan alasan yang tidak masuk akal? Kami tidak terima," timpal Ayah.


Zamar memperhatikan wajah orang tua Sandra, bergantian. Ada kemarahan, namun ada niat terselubung. Ia tahu, sifat mereka yang tidak mau merugi. Karena selama ini, pernikahan keduanya juga karena masalah bisnis. Kesepakatan yang dibuat sang ibu, tanpa sepengetahuan Zamar saat itu.


"Aku kemari, bukan meminta persetujuan," sarkas Zamar. Ia melirik keberadaan Huan, yang menganggukkan kepala kepadanya, sebagai isyarat.


"Bukankah, kau mau mengambil sesuatu?" Zamar menoleh pada sang istri. Tersenyum, agar wanita itu mau menjawab.


"Iya. Aku ambil dulu." Sandra bangkit, begitu juga ibunya, yang menyusul langkah putrinya.


"Jadi, kau akan tetap menceraikannya?" Wajah ayah, kini berubah dingin.


"Benar. Tapi, aku akan tetap menyokong hidupnya. Jadi, kalian tidak perlu khawatir."


"Kami tidak kekurangan uang, untuk menghidupi putri kami. Tapi, kau harus tetap bertanggung jawab, karena menyia-nyiakan putriku."


"Maksud, Anda?"


Zamar tertawa sumbang, sembari menggelengkan kepala. Ia merasa lucu, dengan sikap ayah mertuanya. Tidak kekurangan uang, namun meminta saham.


"Papa salah orang, bernegosiasi denganku." Zamar bangkit dan saat itu, Sandra keluar dengan membawa tas.


"Sandra. Masuk kamar!" teriak sang ayah dan ibunya sudah menarik tangan putrinya.


"Mama, lepas!"


"Dia sudah menceraikanmu. Untuk apa, kau ikut dengannya?"


"Dia masih istriku!" Zamar melepaskan genggaman ibu mertuanya.


"Kami tidak akan membiarkan ini," teriak ayah Zamar tidak peduli. Ia menarik tangan sang istri, keluar dari rumah. Dan langsung masuk dalam mobil yang mesinnya sudah dihidupkan Huan.


"Aku takut," ujar Sandra.


"Kau sudah mengambil dokumen yang kau perlukan?"


"Sudah."


"Kalau begitu, jangan pernah kembali dirumah itu, tanpa izinku."

__ADS_1


Sama seperti di rumah orang tua Sandra. Di kediaman Zamar pun, ia mendapat tatapan masam dari sang ibu. Bahkan, wanita yang telah melahirkannya itu, tak mau menegurnya. Ia hanya langsung, menggandeng tangan menantunya, masuk dalam kamar pribadinya.


Zamar enggan mempermasalahkan, ia berlalu begitu saja, menuju ruang kerja bersama sekretarisnya.


"Kau menemukan sesuatu?" Zamar meletakkan tas kerjanya, diatas meja. Melonggarkan dasi dan melepas jasnya.


Huan tidak menjawab, ia hanya meletakkan kertas tebal berwarna diatas meja. Sebenarnya, ia mendapatkan banyak informasi sore tadi. Namun, ia menyimpan untuk ia sendiri.


"Undangan?" Zamar hanya melirik, tanpa berniat mengambilnya.


"Ini undangan pernikahan Anda dengan nona Maya. Sudah dua tahun lebih dan saya menemukannya, digudang belakang."


"Lalu, kenapa kau memberikannya padaku?"


"Lihatlah, Tuan."


Zamar dengan malas mengambil undangan, lalu membukanya. Satu nama tercetak tebal, membuat kedua matanya membelalak.


"I-ini,... "


"Benar, Tuan. Undangan yang disebar dua minggu sebelum pernikahan adalah atas nama nona Sandra, bukan nona Maya. Dan sebenarnya, undangan itu disebarkan, satu minggu sebelum pernikahan."


"Tapi, itu tidak mungkin. Aku jelas-jelas melihat undangan itu. Aku yang mengeceknya sendiri, dipercetakan."


"Kalau begitu, saya akan menemukan undangan lain yang sudah disebar."


"Ini sudah hampir tiga tahun, kau pikir masih ada yang mau menyimpannya?"


"Tidak salah, jika kita mencarinya, Tuan. Dan masih ada lagi." Huan meletakkan souvenir pernikahan Zamar dulu. Sebuah sajadah yang dibaliknya tertulis nama Zamar dan Maya. Namun, saat membaliknya, nama Sandra yang tertera disana.


Zamar tercengang, spechlles dan bingung. Bagaimana mungkin? Pertanyaan, yang terbesit dalam benaknya. Pernikahan mewah, untuk Maya? Tapi, kenapa? Undangan yang ia pilih, begitu juga souvenir, kenapa malah berganti nama.


"Aku bingung, Huan. Aku mau menikahi Sandra, karena undangan yang terlanjur disebar. Pantas saja, media maupun undangan tidak mempertanyakan pengantin wanita yang berubah."


"Tuan, bersabarlah. Kita sudah hampir dekat. Saya akan menemukan bukti."


"Mama," ujar Zamar tiba-tiba.


"Tuan."


"Besok kita ke percetakan dan panggil WO yang bertanggung jawab atas pernikahanku waktu itu. Dan juga, butik yang merancang gaun pernikahan Maya. Aku ingin menemui mereka semua."


"Akan saya lakukan. Tapi, sebaiknya, Anda jangan memanggil mereka di kantor. Saya akan menemukan tempat yang cocok."


"Aku serahkan padamu."


🍋 Bersambung

__ADS_1


__ADS_2