
Sabar, untuk hal yang sangat dibutuhkan, memang tidak mudah. Zamar sudah bisa mengetahui hasil tes DNA hari ini. Setelah, uring-uringan selama dua hari. Hasilnya, bisa ia terima siang nanti dan ulang tahun Khaira dan Khaysan malam ini. Tinggal satu jam, sebelum Huan datang. Namun, ia sudah seperti orang yang menunggu selama beberapa tahun.
"Kau dimana?" tanya Zamar, dengan mengetuk-ngetuk pulpennya diatas meja.
"Di lobby, tuan."
"Run," perintahnya, lalu menutup sambungan telepon.
Selang dua menit, Huan sudah berada didepan pintu yang dibuka. Ia memegang sebuah amplop putih, yang tersegel dengan logo rumah sakit didepannya. Ia segera memintanya.
"Bagaimana jika mereka bukan anakku?" Zamar menggantungkan tangannya diudara, hendak membuka segel. "Akan memalukan, karena aku menguji DNA, anak orang lain."
"Hanya kita berdua yang tahu, Tuan. Tidak ada orang lain. Petugas medis pun, memiliki rahasia rekam medik, yang tidak mungkin bocor."
Selembar kertas yang masih terlipat, dipegang erat Zamar. Jantungnya berdegup, padahal logikanya sudah memberitahu, mereka bukanlah, anaknya. Namun dihati kecilnya, menginginkan hal berbeda.
"Kau yang lihat!" Zamar memberikan kertas itu pada Huan.
Huan membukanya, sembari menghela napas. Membaca dalam hati dan raut wajahnya, tidak menunjukkan ekspresi apa-apa.
"Bagaimana?"
"Anda, lihatlah!" Huan mengembalikannya.
"Aku sudah bilang, kau terlalu berlebihan." Zamar mengoceh, saat mengambil kembali kertas selembar itu.
Namun detik berikutnya, ia membisu, matanya melebar. Wajahnya berubah memucat dan kembali menatap Huan, minta untuk disadarkan.
"Saya tidak mungkin salah, Tuan."
Zamar kembali menatap tulisan-tulisan, dalam kertas. Pikirannya blank, apakah ia harus bahagia atau sebaliknya? Karena, ia tidak tahu harus bagaimana, harus menghadapinya.
"Mereka... anakku?" Ia masih tidak percaya dan kembali bertanya pada sang sekretaris. "Mereka ada didepanku selama ini?"
Huan bingung harus menjawab apa, karena jawabannya sudah jelas. Entah Zamar sedang bertanya atau sedang berusaha untuk bangun dari mimpi.
"Tuan, sebaiknya Anda segera menyiapkan kado ulang tahun."
Tidak ada jawaban disana. Zamar masih duduk membisu, tanpa melepaskan kertas itu. Dia terus membacanya berulangkali.
"Tuan," panggil Huan, sekali lagi. Merasa cemas, saat Zamar membisu dengan wajah pucat pasi.
"Mereka sudah tiga tahun dan memanggil ayah, pada orang lain. Sekarang, aku harus bagaimana? Maya, sudah menikah. Aku harus melakukan apa, Huan? Aku terlambat." Dia terisak dan menjatuhkan kepalanya diatas meja hingga berbunyi.
"Mereka belum menikah," ujar Huan, dengan tegas.
Zamar mendongak, tatapan penuh tanda tanya.
__ADS_1
"Saya sudah menyelidikinya dan masih belum terlambat."
"Kau sudah memastikannya?"
"Sudah, Tuan."
Harapan, yang membuat Zamar mengusap wajahnya. Bibirnya, sedikit mengulas senyum. Harapan itu juga, yang membuat ia mendapatkan energi untuk menegakkan tubuh dan mengangkat kepalanya.
"Tapi,...." Kalimatmya menggantung, beriringan helaan napasnya yang berat. "Dia pasti membenciku. Aku tidak tahu bagaimana menghadapinya."
"Tapi, Anda harus mencobanya. Apa Anda ingin tuan muda dan nona kecil, memanggil ayah pada orang lain?"
"Tidak." Zamar menatap tajam. "Aku tidak rela."
"Kalau begitu, Anda harus berusaha keras memperbaiki semuanya."
"Tentu. Aku akan membawa mereka kembali, Huan. Mungkin, Tuhan masih memberiku kesempatan. Dan aku, tidak akan menyia-nyiakannya."
"Saya senang mendengarnya.Tuan."
"Terima kasih," Zamar menepuk pundak dang sekretaris. "Sekarang, kita cari kado untuk anakku."
Zamar, seolah kembali seperti dulu. Ia membalas sapaan para karyawannya dengan senyuman, yang sudah tiga tahun terakhir, tidak ia tunjukkan.
"Tuan, nona Sandra sudah menandatangani surat perceraian," ujar Huan, diperjalanan.
"Minggu depan. Saya sudah menyiapkan segalanya. Dan sepertinya, malam ini ia akan keluar dari rumah."
"Antar dia dengan aman. Aku tidak ingin orang tuanya, menghalangi kepergiannya."
"Apa Anda tidak ingin membalas perbuatan mereka?"
"Nanti, setelah Maya kembali. Aku ingin fokus pada mereka lebih dulu. Tapi, untuk peringatan awalku, batalkan semua kontrak kerjasama kita."
Mereka tiba di pusat perbelanjaan. Seperti biasa, dua orang itu selalu menjadi pusat perhatian. Bukan hanya tampan dan berkharisma, namun karena sosok mereka yang banyak diketahui orang banyak.
"Mereka suka apa?" Zamar bingung memilih. "Putriku, suka boneka barbie. Tapi, putraku, aku sama sekali tidak tahu. Dia sangat pendiam dan tertutup."
"Dia sama seperti, Anda."
"Aku tidak seperti itu, Huan. Aku hanya malas berbicara, banyak."
Bukankah, itu sama saja! Huan hanya mampu membalas dalam hati. Tidak ingin, merusak suasana hati Zamar, yang mulai membaik.
"Saat bertemu mereka, apa Anda mengingat, mungkin mereka mengatakan sesuatu?"
Zamar menerawang, memorinya mundur, saat bertemu kedua anaknya untuk kedua kalinya. Dipinggir pantai, saat menjelang sore, mereka bermain bersama ayahnya.
__ADS_1
"Shitt!" Zamar tiba-tiba mengumpat. Tidak terima, setelah mengetahui kenyataan. Kedua anaknya, memanggil ayah pada orang lain dan parahnya, mereka sangat akrab, layaknya ayah dan anak.
"Malam nanti, mungkin Maya akan shock dengan kehadiranku yang tiba-tiba. Apalagi, menemui kedua anakku, yang dulu tidak aku akui. Aku ingin, kau dan anak buahmu mengawasinya. Aku tidak mau dia lari lagi."
"Saya akan memerintahkan mereka."
Zamar mengambil lima boneka untuk hadiah. Bukan hanya barbie, namun boneka lain yang ia pilih. Ia juga mengambil mainan robot superhero, mobil-mobilan dan Lego.
Keluar dari toko mainan, mereka pindah ditoko buku. Memilih buku cerita, buku gambar, alat menulis dan melukis. Semua ia bungkus, secara terpisah.
"Apa sudah cukup?"
"Sudah, Tuan."
"Baiklah, masih lima jam, sebelum acara."
Zamar membawa semua bingkisan dalam plastik. Ia tidak mengizinkan Huan, untuk membantunya.
"Oh, ya, Huan. Aku sudah membeli rumah untuk mereka. Carikan pelayan dan koki. Aku juga mau, kau mencari seseorang, untuk mendekorasi kamar kedua anakku."
"Baik, Tuan. Tapi, apa Anda akan hidup terpisah dengan nyonya?"
"Tentu. Dia tidak menerimanya. Jadi untuk apa, aku membiarkan Maya tinggal bersamanya."
***
Sekarang sudah pukul tujuh malam. Zamar sudah siap dengan kemeja berwarna putih, yang lengannya digulung sampai siku. Kedua tangannya, memegang bingkisan.
"Anda membawa undangannya? Aku takut, kita tidak bisa masuk. Mengingat, kita tidak tidak membawa anak kecil."
"Aku bawa. Aku juga tidak mau membuat masalah dihari pertamaku, sebagai ayah mereka."
Sepanjang jalan, Zamar merasa gugup dan deg-degan. Ia memikirkan reaksi Maya, yang melihat kedatangannya. Ia juga sudah menyiapkan mental, kemungkinan terburuk untuk menghadapi dokter Ansel dan keluarganya. Diusir, itulah hal pertama, yang mungkin akan terjadi.
Kediaman orang tua Ansel, tampak ramai. Banyak mobil terpakir didepan jalan. Diteras rumah, mereka disambut oleh pelayan.
"Tuan, mencari siapa?" tanya seorang pelayan, dengan pandangan penuh selidik. Dua orang dewasa, tidak mungkin menghadiri acara ulang tahun, tanpa membawa keluarga atau anak.
"Ini," Zamar memperlihatkan undangannya, karena malas untuk menjawab.
"Silahkan masuk, Tuan. Maaf!"
Zamar dan Huan hanya mengangguk, lalu melangkah masuk dalam rumah. Dekorasi balon, hal pertama yang mereka lihat. Suara riuh anak kecil dan....
"Maya," Zamar membeku.
🍋 Bersambung.
__ADS_1