Bukan Hanya Cinta

Bukan Hanya Cinta
Bab 48. Papa?


__ADS_3

Malam yang larut, tanpa ada suara manusia selain suara alam. Semua orang sudah terlelap dibalik selimut. Setelah, acara ulang tahun yang cukup melelahkan. Kecuali, Maya yang masih terjaga didalam kamar. Kedua anaknya, tidur dengan memeluk guling masing-masing.


Pikiran yang berkecamuk, membuat kedua matanya enggan menutup. Zamar, sang mantan kekasih, yang namanya tidak pernah lagi ia sebut. Tiba-tiba, muncul dihadapannya, memberikan kado untuk kedua anaknya. Yang paling, Maya tidak pahami. Kenapa ia datang dan mengakui kedua anaknya, setelah tiga tahun berlalu?


Apa ia harus pergi lagi, untuk menghindar? Jika iya, bagaimana dengan kedua anaknya yang sudah terlanjur menganggap keluarga Ansel adalah keluarga mereka. Kakek, nenek, tante dan ayah, bagaimana ia akan menjelaskan hubungan mereka, yang belum dipahami anak seusia Khaira dan Khaysan.


Maya hendak keluar kamar dan ternyata, Ansel sedang berdiri didepan kamarnya. Mungkin, dia ingin mengetuk pintu, namun ragu.


"Kita bicara diluar," ajak Ansel, setengah berbisik.


Mereka duduk bersebelahan diatas sofa. Teras samping, ditemani pot-pot bunga yang bermekaran. Udara sedikit dingin, malam ini.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Maya, tanpa menatap Ansel. Kedua maniknya, memilih memperhatikan langit.


"Dia menyesal. Tapi, tidak mengatakan apa penyebabnya. Dia hanya berkata, ingin membawamu kembali dan kedua anaknya."


"Setelah, tiga tahun?"


"Aku juga mengatakan hal yang sama. Namun, sepertinya dia punya alasan sendiri, hingga baru menyadari kesalahannya."


"Aku tidak ingin mengharapkannya lagi, El. Bagiku, tiga tahun sudah cukup." l


"Tapi, menurutku, kalian harus bertemu, May. Kalian harus menyelesaikannya. Ini bukan antara kalian berdua, tapi kedua anak kalian. Kedua anakmu, butuh status. Mereka akan bersekolah sebentar lagi dan kau membutuhkan dokumen kelahiran mereka."


"Tapi, aku harus mengatakan apa, El? Aku sudah cukup bahagia dengan keadaan kami. Dia sudah menikah, untuk apa mencari kami lagi."


"Temui dia, sekali. Dengarkan, apa yang ia katakan. Setelah itu, ambillah keputusan. Aku tidak akan memaksamu, lagi."


Maya membisu, memikirkan ucapan Ansel yang terdengar bijak dan tidak memihak siapapun. Sepintas, ia mengingat wajah Zamar, yang memohon untuk berbicara padanya.


"Aku akan menemanimu, jika kau ingin bertemu dengannya," lanjut Ansel.


"Apakah kau tidak takut, aku berubah pikiran?" goda Maya.


"Aku tidak pernah memaksa perempuan untuk menyukaiku. Tapi, mungkin aku akan mempertahankanmu, jika kau memberiku kepastian."


Maya tertegun, menatap Ansel lama. Pria yang begitu tulus, mengulurkan tangan untuk menolongnya. Tapi, apakah ini cinta atau hanya untuk membalas budi? Maya tidak mampu membedakannya.


"Maaf, aku belum tahu tentang perasaanku. Aku bingung, bagaimana menafsirkannya. Yang aku tahu, aku sangat bergantung padamu dan merasa sangat nyaman."


Cup. Satu kecupan mendarat di kening Maya dan ia hanya terdiam menatap Ansel. Dan kecupan berikutnya, mendarat dibibir nya. Entah dirasuki apa, Maya membalasnya, hingga mereka larut.


"Aku anggap, itu jawabanmu." Ansel menarik tubuh Maya jatuh dipelukannya. "Ayo, menikah. Aku akan menjaga kalian seumur hidupku." Dan Maya hanya mengangguk. Ia juga tidak tahu, kenapa ia menganggukkan kepala.

__ADS_1


Ansel merangkul pinggang Maya dan wanita itu menjatuhkan kepalanya dipundak. Mereka duduk sebentar, untuk menikmati pemandangan langit dimalam hari.


***


Esok pagi, Maya sudah bangun lebih awal. Menyiapkan barang yang akan mereka bawa pulang. Sudah empat hari mereka menginap, sudah saatnya untuk kembali dirumah mereka sendiri.


Maya memperhatikan bingkisan kado yang menumpuk. Ia teringat bingkisan kado pemberian Zamar dan segera mencarinya.


Untuk putri kecilku, selamat ulang tahun.


Untuk jagoan ku, selamat ulang tahun.


Maya tertegun, dengan tulisan diatas bingkisan. Ia menatap kedua anaknya, yang terlelap. Ia menghentikan niatnya, untuk membuka bingkisan tersebut. Memilih mengemasinya, untuk dibawa pulang.


"Kalian akan pulang, May?"


"Iya, Ma. Aku harus ke toko dan restoran." Maya menyuapi Khaira, sedangkan Khaysan, lebih suka makan sendiri.


"Nak, mengenai Zamar. Bagaimana jika ia menemukan kalian dirumah itu? Menurut Mama, sebaiknya kalian disini."


"Aku mengerti, kekhawatiran Mama. Tapi, jangan takut. Cepat atau lambat, kami akan bertemu. Aku tidak mungkin, terus menerus lari dan menghindarinya."


"Papa, suka pola pikir kamu. Kalian harus menyelesaikannya. Dia sudah menikah, Papa rasa, dia hanya ingin kedua anaknya."


"Enak saja!" protes Fira. "Maya sudah membesarkan mereka dan tiba-tiba ingin datang merebutnya."


"Zamal?" Aira mengernyit. "Apa itu om ganteng?" Tidak ada yang menjawab, semua orang dewasa didepannya hanya saling melempar pandangan. "Om ganteng bilang, papa lindu Aila."


Maya memalingkan wajah, bingung harus mengatakan apa. Papa dan Mama, sama bingungnya. Hanya Ansel, yang masih tersenyum menatap keduanya.


"Iya, dia, om ganteng. Dia rindu Aira, karena lama tidak ketemu. Kalian kan, pernah berenang dipantai."


"Oohh... gitu!"


Semuanya bernapas lega dan kembali melanjutkan sarapan. Namun saat itu, Khaysan masih membisu, seolah berpikir.


"Khay, sarapannya, sayang," ujar Maya.


"Papa?" celetuknya, "apa itu sepelti, ayah?"


Maya menjatuhkan sendok diatas meja. Dengan segera, ia mendekati putranya. Mengambil tisu, untuk membersihkan sisa makanan dibibirnya.


"Sayang. Mami hampir terlambat. Mami mau membuat roti dengan resep baru. Khay, mau coba, kan?" Maya mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Yeee... loti balu, Aila makan banyak."


"Ya, sudah. Habiskan, susunya, sayang."


Khaysan meraih gelasnya, tanpa bertanya lagi. Namun, Maya tahu, sang putra tengah memendamnya sendiri. Ia pasti akan menanyakan hal itu kembali. Dan Maya, harus menyiapkan jawaban.


Di rumah yang ukurannya mungil, cocok mereka bertiga, Maya menurunkan barang-barang. Kedua anaknya, bersama-sama mengangkat tas yang berisi susu dan pakaian.


"Mami, Aila mau buka kado."


"Pulang nanti, ya. Mami mau buat roti dan cake."


"Tapi, Aila mau buka kado, Mami."


"Ya, sudah. Buka satu, aja."


"Oke."


Sambil menunggu, Maya membersihkan rumah yang sudah berhari-hari ditinggalkan. Ia mengecek isi kulkas dan dapur, agar bisa berbelanja pulang nanti. Ia juga memasukkan cucian kotor dalam mesin cuci, untuk dicuci pulang nanti.


"Sudah?" Maya memperhatikan dia anaknya, sibuk merobek kertas kado.


"Elum, Mami. Hadiahnya, di unci uat."


"Hahaha..., Mami bantu, yah."


Dua boneka panda, kini dipeluk Aira dengan girang. Sementara, Khay, memegang mainan pistol air.


"Mami, Aila mau peluk-peluk ini."


"Iya. Sekarang, kita pergi, yah."


Di Restoran, Maya mengecek peralatan dapur dan bahan. Ia mendengarkan saran dari koki, untuk menambah menu baru dan mencatatnya. Ia juga memeriksa laporan keuangan, yang rutin ia lakukan setiap akhir bulan.


"Ce, mana anak-anak?"


"Didepan Bu, lagi bermain."


"Makasih, yah."


Maya menyusul kedepan, tepatnya di tempat pengunjung.


"Om ganteng," panggil Aira, dan Maya langsung menghentikan langkah.

__ADS_1


Zamar tengah menggendong kedua anaknya, dipangkuan. Diatas meja, tersaji makanan dan kue ulang tahun.


🍋 Bersambung


__ADS_2