Bukan Hanya Cinta

Bukan Hanya Cinta
Bab 42. Sesal (1)


__ADS_3

Zamar mengerjap, sinar yang menyilaukan, membuatnya kembali memejamkan mata. Ia menyamping, dan mengedarkan pandangan. Ini kamarnya. Tapi, ia tidak mengingat apapun, setelah mabuk. Kepalanya berat, seakan dihantam besi puluhan kilo.


"Kau sudah bangun?" Sandra memberikan segelas air putih, yang diteguk Zamar sampai tandas.


"Apa yang terjadi?"


"Kau mabuk dan Huan mengantarmu pulang."


Zamar bersandar dipunggung ranjang, memijit kepalanya yang masih berdenyut.


"Mama, marah melihatmu seperti ini dan Huan tidak menjelaskan apa-apa. Sepertinya, dia masih menunggumu bicara. Apa terjadi sesuatu? Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya."


"Apa kau pernah fitting baju pengantin sebelumnya?" Zamar justru balik bertanya, tanpa memberikan jawaban pada Sandra.


"Pernah. Aku bersama Mama dan ibumu. Kenapa?"


"Apa gaun milik Maya?" Zamar memicingkan mata.


Sandra menerawang, berusaha mengingat, sesuatu yang mulai samar dalam ingatannya.


"Entahlah. Saat itu, ibumu memberiku banyak gaun untuk dicoba, semuanya hampir sama dimataku. Di hari pernikahan, aku bingung dengan gaun pengantin yang begitu pas ditubuhku. Kenapa kau membahas ini? Kau belum menjawab pertanyaan ku, Zamar."


Zamar tidak menjawab. Ia masih duduk bersandar dengan mata terpejam dan kedua tangan, menutup wajahnya.


"Berkas perceraian sudah lengkap, kau tinggal tanda tangan, hari ini," ujar Zamar yang belum mengubah posisinya.


"Bagaimana dengan kedua orang tua kita?" lirih Sandra, seakan menahan tangis ditenggorokannya.


"Pikirkan hidupmu, San. Aku sudah menyiapkan tempat tinggal sesuai keinginan mu."


"Aku mengerti. Aku akan pergi secepatnya." Sandra bangkit dan hendak pergi, langkahnya terhenti saat Zamar memanggilnya.


"Terima kasih. Dan, maafkan aku." Zamar menatapnya dengan hangat, ucapannya yang halus dan terdengar tulus.


"Aku juga minta maaf. Mungkin, aku harus pergi sebelum bertemu Maya. Jika kalian bersama, tolong sampaikan permintaan maaf ku." Air bening, meluncur bebas dari pelupuk mata Sandra. Ia tersenyum getir, namun merasa beban dipundaknya seakan mulai ringan.


Takdir, adalah sesuatu yang tidak bisa ia ubah dan menerimanya, mungkin adalah jalan yang lebih baik.


Zamar menatap luar jendela, kalut dengan perasaan yang merasa terkhianati. Ibu yang selama ini, ia jaga perasaannya, ternyata melukainya sangat dalam. Tak ada obat, karena sesalnya saat ini, seperti memilih kematian adalah hal baik.


"Kau dimana?" tanya Zamar, pada Huan dibalik telepon.


"Dibawah, Tuan. Nyonya, sedang menginterogasi ku, namun ia sudah menyerah."


"Masuklah. Temui aku, di ruang kerja."


Zamar mengerang, kepalanya masih sangat berat. Ia memijit dan menggeleng beberapa kali, untuk meringankan sejenak.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Zamar menemui Huan. Sekretarisnya, selalu tampak segar setiap hari.


"Kenapa kau membawaku pulang kesini?" Zamar dengan malas, duduk di seberang meja.


"Anda yang memintanya, Tuan."

__ADS_1


"Begitu, ya. Aku tidak ingat apapun. Mabuk, ternyata obat yang sangat manjur untuk menetralkan amarah." Huan hanya tersenyum kecil, padahal saat ini tubuhnya berdenyut, karena Zamar yang memukulnya semalam. Ia menolak pulang.


"Tuan.... " Ragu-ragu, Huan untuk melanjutkan kalimatnya.


"Kenapa?"


"Nona, tidak berada di kampung nelayan. Kami sudah mencarinya. Tapi, nona pernah tinggal di sekitar villa."


"Maksudmu? Dia disana?" Zamar antusias.


"Nona pernah tinggal disana, tidak jelas berapa lama, lalu pergi. Mereka mengatakan dia membuka kedai dan sekarang milik dokter Ansel."


"Apa...!" Zamar menyambar jasnya.


"Tuan, Tuan," panggil Huan, karena Zamar langsung melesat.


"Aku harus bertanya padanya. Temukan dokter itu!"


"Tuan. Nona Maya berada di kota ini."


"Huan. Kau membuat ku sakit kepala, dengan bicaramu yang berputar-putar. Kau tahu dia di kota ini dan baru memberitahu ku sekarang?"


"Maaf. Saya tidak sanggup mengatakannya."


"Apa maksudmu?" Zamar melemparkan jasnya.


"Saya bertemu, Nona di toko roti waktu itu."


"Nona, sudah menikah."


Duar.


Tangan Zamar mengendur, mundur selangkah sembari mengusap wajahnya.


Dan,


Prang. Ia melempar vas bunga, menendang kursi dan menghamburkan semua dokumen dan buku-buku diatas meja.


"Kau kenapa?" teriak Mama Resti, yang datang karena mendengar suara gaduh.


"Keluar!" usir Zamar, kasar. Untuk pertama kalinya, ia mengucapkan kata itu pada ibunya.


"Sayang. Ini Mama." Resti menatap Huan, meminta penjelasan.


"Keluar! Aku bilang keluar!" Prang, Zamar melempar patung kecil, mendarat diatas jendela kaca hingga pecah.


Resti terlonjak, wajahnya pias dan mundur beberapa langkah. Saat itu, Sandra juga datang. Ia menarik tangan ibu mertuanya, untuk pergi.


"Tuan."


"Kenapa kau baru bilang?" teriak Zamar, "Kau tidak tahu, aku seperti ingin mati."


"Maaf. Nona meminta ku untuk menyerah."

__ADS_1


"Dia menikah dengan siapa?" Zamar menatap nyalang.


"Saya belum tahu, Tuan. Kami belum mendapatkan informasi apapun."


"Satu hari. Waktumu, satu hari untuk menemukannya dan pria sialan itu."


"Saya usahakan."


Zamar bertolak pinggang, tertunduk sembari menarik napas panjang. Sesak, ia bahkan tidak. mampu untuk menghirup oksigen.


"Aku tidak ingin bekerja, hari ini. Antar aku, ke apartemen."


"Baik, Tuan."


Zamar melenggang pergi, tanpa membawa jas atau tas kantor. Dilantai bawah, ia melewati sang ibu, tanpa mengatakan apa-apa. Ia ingin meledak sekarang, dan tidak ingin melukai siapapun.


"Za," panggil mama Resti dengan terbata, "sebenarnya, ada apa? kau kenapa, Nak?"


Kata-kata lembut itu, sudah tidak mampu menggoyangkan hati Zamar. Ia pernah mendengar suara lembut ini, untuk Maya.


"Aku kecewa sama, Mama!" sarkas Zamar.


"Kecewa? Memangnya, Mama melakukan apa?"


Zamar mengeratkan kepalan tangannya. Ada yang ingin meledak dari dalam dirinya. Kenapa wajah itu, tidak menunjukkan rasa bersalah?


"Melakukan, apa?" desis Zamar, "Mama menghancurkan hidupku!" lantang Zamar, beriringan dengan air matanya yang jatuh.


"Mama, tidak mungkin melakukan itu. Kau putraku, bagaimana mungkin, Mama menghancurkan hidupmu."


"Apa Mama benar-benar menerima, Maya?"


"Dia lagi," bentak Resti, "jadi, kau marah, karena perempuan itu? Dia berselingkuh dan mempermalukan Mama, lalu kau masih membahasnya? Lihat, Mama! Kau tidak kasihan padaku?"


"Jadi ini, rencananya?" Zamar tersenyum pahit. "Membuatku merasa bersalah padamu, agar bisa menikahi wanita pilihan Mama. Kenapa?"


"Apa yang kau bicarakan?"


"CUKUP....," bentak Zamar, "mama, membuatku muak."


"Jangan pergi! Mama belum selesai." Resti menarik tangan putranya. "Zamar, Mama melakukan banyak hal, untuk menutupi kesalahan perempuan sialan itu. Mama tidak ingin menerima menantu manapun, selain Sandra."


Duar.


Sesuatu akhirnya meledak, dalam diri Zamar. Tidak Terima, dengan kalimat perempuan sialan. Ia sudah cukup merasa bersalah, tidak ingin mendengar hinaan lagi untuk Maya.


"Hari ini, aku, Zamar Abidsatya, menjatuhkan talak kepada Sandra Laura Abram." Zamar menatap tajam ibunya, yang membeku karena ucapannya.


"Za... Zamar," Resti tergagap, bingung harus berkata apa. Sementara, Sandra hanya mampu menahan tangis dan pasrah.


"Jika Mama, tidak ingin menerima siapapun. Maka, aku juga akan melakukan hal yang sama."


🍋 Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2