
"Kau terlalu bertele-tele. Aku tidak punya waktu mendengar kisahmu. Jadi, kau tidak punya hubungan dengannya. Lalu, perkataan tiga tahun lalu?"
"Ma-maaf. Saya terpaksa. Saya butuh uang untuk pengobatan putraku. Tiga tahun lalu, empat wanita menemuiku. Salah satu dari mereka, adalah putri dari ketua panti asuhan."
"Apa dia?" Huan meletakkan satu foto diatas meja.
"Benar. Tapi, dia hanyalah seorang pelayan."
Zamar mengeluarkan ponselnya, membuka galeri. Menunjukkan foto wanita yang mungkin saja yang dimaksud pria itu.
"Benar. Itu mereka," jawab pria itu, dengan menganggukkan kepala dengan pasti.
Zamar terhenyak sesaat. Ponselnya jatuh diatas meja, tangannya tiba-tiba melemah. Detik itu, air bening menetes jatuh.
"Ibuku, meminta mu melakukan apa?" tanya Zamar, dengan suara bergetar. Dan pria itu, tertegun mendengar kata "Ibuku"
"Menidurinya," cicitnya dengan kepala tertunduk, mungkin ia merasa bersalah sekarang.
"Ulangi!" Suara Zamar terdengar berat dan penuh penekanan.
"Aku bersumpah, tidak pernah menyentuhnya, selain apa yang Anda lihat. Dia wanita yang baik dan Riko menganggapnya seperti adiknya. Aku hanya ingin menujukkan pada Anda. Tapi, aku tidak pernah melakukan lebih dari itu."
Brak.
"Tidak menyentuhnya?" Bugh, bogem mentah kini melayang. "Tapi, kau menelanjanginya?"
Zamar tidak memberinya jeda, pukulan dan tendangan, ia layangkan.
"Maafkan, saya Tuan. Tolong, maafkan saya." Rian bersujud. "Bukan saya yang membuka pakaiannya. Itu istri saya. Dia bersamaku malam itu dan pulang saat subuh. Sumpah, aku tidak. menyentuhnya. Bahkan, aku memberi Maya uang, karena aku tahu dia pasti akan pergi."
"Uang? Apa maksudmu?" Zamar mencengkram kerah baju Rian.
"Aku menyimpan uang dalam amplop, dimakam orang tuanya. Aku memeriksa, setelah beberapa hari kejadian itu. Sepertinya, dia mengambilnya."
Zamar berteriak frustasi, bercampur isak. Ia tertunduk seperti rukuk. Air matanya, jatuh menetes.
"Lalu, bagaimana kau bisa masuk dalam apartemen?" Zamar mundur, mengambil ponselnya diatas meja. "Yang, mana?" desis Zamar.
"Dia," tunjuk Rian pada foto wanita didalam ponsel. "Dia yang membuka pintu."
"Apa kau tahu, ada dua wanita didalam?"
__ADS_1
"Tahu, dia tertidur disofa karena mabuk. Malam itu, entah mereka orang tuanya atau bukan, mereka membawanya pergi. Aku dan istriku, diminta untuk membersihkan ruangan itu dan menyiapkan segalanya. Kami hanya mengikuti perintah."
Zamar kembali memukul dengan keras, hingga Rian tersungkur.
"Aaaaa...," teriak Zamar. Lalu, beranjak pergi. Meninggalkan semuanya untuk Huan.
"Berapa mereka membayar mu?"
"500 juta," ringis Rian, yang sudah duduk dikursi.
"Lalu, di tas itu?"
"Pelayan itu, memintaku untuk pergi jauh, meninggalkan kota ini."
"Kau pergilah. Mereka akan mengantarmu. Tapi, jangan tinggalkan kota ini, sekarang. Kami masih membutuhkan mu. Kau bisa pindah tempat tinggal. Anak buahku, akan mengawasimu."
"Terima kasih," Rian memasukkan semua uang dalam tas dan bergegas pergi.
"Tuan, WO dan pemilik butik sudah menunggu. Anda ingin menemui mereka?" tanya Huan, pada Zamar yang tertunduk didalam mobil.
Tidak ada, jawaban. Zamar justru terisak pedih. Huan tidak mau bertanya lagi, ia melaju untuk bertemu mereka. Semuanya, harus jelas malam ini. Dan tempat yang mereka tuju, adalah rumah pemilik butik.
"Selamat malam," sapa Huan.
Zamar langsung duduk, dan isyarat tangan dari Huan, si pemilik rumah tidak menyajikan minuman apapun.
"Kalian masih mengingat ku?"
"Masih, Tuan." Kompak mereka menjawab.
"Aku ingin bertanya pada Anda, lebih dulu." Zamar menoleh pada pria sebagai penanggung jawab, yang mencetak undangan pernikahan.
"Silahkan, Tuan."
"Ini adalah desain undangan yang aku pilih waktu itu. Tapi, nama pengantin wanitanya, berbeda dari yang aku berikan padamu." Zamar memberikan undangan pada pria itu.
Pria itu, tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan undangan dan berusaha mengingat hal yang sudah lama berlalu.
"Saya ingat. Waktu itu, saya baru mencetak kurang lebih 100 undangan, sesuai permintaan, Tuan. Namun besoknya, nyonya datang dan mengatakan untuk mengganti nama pengantin. Alasannya, Anda yang memintanya. Jadi, saya tidak bertanya pada Anda."
Zamar tertunduk, menghela napas berat. Ia meremas jari-jarinya, yang tertopang diatas lutut.
__ADS_1
"Lalu, bagaimana dengan gaun pengantin? Aku membawa calon istriku untuk fitting baju. Tapi, entah kenapa sangat cocok dengan wanita lain."
"Hari itu, setelah Anda dan calon istri Anda melakukan fitting. Nyonya datang bersama wanita yang menjadi istri Anda sekarang. Dan juga ibunya, untuk melakukan fitting dengan gaun pengantin yang sama." Wanita pemilik butik yang menjawab. "Saya tidak berani bertanya, namun saat itu, istri Anda sempat bertanya dan ibunya menjawab, itu untuk pernikahannya nanti."
Zamar tidak mampu untuk bertanya lagi. Kepalanya berdentam, seluruh pembuluh darahnya seakan berdenyut. Bibirnya kelu, bahkan sekedar mengucapkan terima kasih.
Tubuhnya, goyah dan hampir jatuh. Beruntung, Huan selalu berdiri di sampingnya. Ucapan terima kasih, terucap dari bibir Huan, yang memapah Zamar untuk pergi.
"Tuan, Tuan," panik Huan, karena tidak mampu menahan Zamar, yang hampir kembali terjatuh. Ia seakan kehilangan penopang tubuhnya.
"Rasanya, aku ingin mati!" lirih Zamar.
"Bertahanlah, Tuan. Tolong, kuatlah. Kita masih harus menemukan Nona."
"Aku tidak sanggup bertemu dengannya, Huan. Aku ingin mati saja." Zamar mensejajarkan langkahnya, dengan Huan yang memapahnya.
"Kenapa Mama, melakukan ini?" isaknya, "Aku pikir, dia menerima Maya. Dia tidak pernah menunjukkan ketidaksukaannya. Dia bahkan memeluknya, memperlakukannya seperti putrinya. Kenapa?" tangis Zamar pecah, didalam mobil. Ia memukul-mukul kursi pengemudi didepannya.
"Dan kenapa aku sangat bodoh? Kenapa aku sama sekali tidak percaya padanya? Kenapa ucapan orang lain, lebih membekas dalam pikiranku."
Huan tidak berkomentar. Ia menyetir dalam diam, membiarkan Zamar, berbicara seorang diri.
"Club. Antar aku kesana," ujar Zamar tiba-tiba dan Huan tidak menolak.
Suara musik yang menggema, seakan speakernya menempel ditelinga. Di dance floor, muda mudi berjoget, tidak jelas, dibawa sorot lampu kelap kelip yang membuat mata pusing.
Zamar sudah duduk, di meja bar memesan cocktail, langsung meneguknya tanpa sisa. Dan kembali, meminta gelasnya diisi.
Huan yang berdiri mengawasi, memblokade para wanita dengan pakaian minim, yang hendak mendekat.
"Butuh teman?" Wanita dengan pakaian ketat, menghampiri Huan. Ia menawarkan minuman dan Huan langsung mengangkat gelasnya yang penuh.
Wanita itu, berdecih dan langsung melenggang pergi.
Zamar sudah terlihat kacau, tubuhnya ikut bergoyang mengikuti irama musik. Entah sudah berapa gelas ia minum.
"Tuan, saatnya pulang."
Zamar tidak peduli, ia masih terus minum dan berjoget diatas kursi. Ia meracau, menyebut nama Maya. Kadang ia tertawa, detik berikutnya ia menangis, seperti orang gila. Berikutnya, ia kembali minum tanpa bersuara.
🍋 Bersambung
__ADS_1