Bukan Hanya Cinta

Bukan Hanya Cinta
Bab 44. Yang aku dan mereka inginkan.


__ADS_3

Maya merenung dalam kesendiriannya, di taman belakang. Bertemankan sepi dan suara-suara hewan malam. Sejak bertemu Huan di toko roti, ia terus memikirkan Zamar. Apalagi, Huan berkata, Zamar tengah mencarinya. Tapi, untuk apa? Bukankah, ia sudah bahagia?


Sudah tiga tahun berlalu, dua hari lagi, ulang tahun kedua buah hatinya. Ia tidak ingin merayakannya secara meriah. Cukup mereka bertiga dan ada kue serta lilin diatas meja. Namun siapa sangka, keluarga Ansel justru menyiapkan pesta ulang tahun. Mengundang, beberapa anak tetangga serta kerabat. Tak lupa, anak-anak dari panti asuhan. Mereka sudah seperti bagian dari kehidupannya dan anak-anak.


"Kau memikirkan apa?" Ansel memberikan segelas teh madu dan duduk disebelahnya.


"Aku sudah terlalu banyak berutang budi, padamu. Apalagi, keluargamu. Kalian terlalu baik."


"Itu sudah, seharusnya. Tolong menolong, adalah kewajiban."


Maya mengangguk, mengesap teh madu yang hangat. Detik berikutnya, ia mematung, saat Ansel menggenggam tangannya dengan erat, menatapnya hangat, perlakuan yang membuatnya merasa nyaman.


"El,"


"May, apa kau tidak bisa menerimaku? Aku mencintaimu dan anak-anak. Apa kau tidak bisa memberiku kesempatan menjadi ayah mereka?"


"A-aku,... "


"Aku bisa memberi kalian keluarga yang utuh. Kau sudah mengenalku selama hampir tiga tahun."


Maya membalas tatapan Ansel. Mata yang teduh dan hangat, tidak ada kebohongan disana, selain ketulusan. Ia memang mulai membuka hati, namun belum sepenuhnya. Zamar masih membayanginya.


"Aku tahu, kau tulus, El. Kau bisa menjadi ayah yang baik, untuk mereka."


"Jadi?"


"Beri aku waktu, sampai besok. Aku akan menjawabnya."


"Kau tidak perlu buru-buru. Aku bisa menunggu."


Maya menjatuhkan kepalanya, dipundak Ansel. Mendongak, memperhatikan keindahan langit malam yang diramai, dengan kehadiran bulan dan bintang.


"Lucu juga, pertemuan kita." Maya terkekeh, tiba-tiba mengingat momen pertemuan mereka.


"Kau masih ingat? Ada gadis, yang sangat suka berenang malam hari." Maya mencubit pinggang Ansel, lalu tertawa bersama.


"Aku juga, baru tahu, ada laki-laki bodoh, yang mau ikut berenang malam hari."


Ansel merangkul pinggang Maya, mengecup dahinya, dengan lembut.


"Terima kasih, sudah hadir dihidupku," ujar Maya dan Ansel tersenyum menatapnya.


"Mami," panggil Aira yang membuat Ansel dan Maya menoleh kebelakang. "Aila cali-cali. Lagi maen gelapan sama ayah."


"Hahahaha..." Ansel dan Maya langsung terbahak.


Ansel memeluk Aira dan Maya memeluk putranya. Mereka berempat, duduk dibangku kayu, sembari bercengkrama. Suara tawa, mengundang orang rumah untuk keluar bergabung. Sherly dan Saphira yang selalu kepo, serta ayah yang senang mendengar keramaian di taman belakang.


"Wah, wah, kalian bersenang-senang sendiri." Ayah mengangkat kursi plastik dan duduk bergabung.

__ADS_1


"Opa, Mami sama ayah, maen gelap, sendilian."


Semuanya tertawa. Aira berceloteh dengan nada marah, namun terlihat menggemaskan.


"Yah, Mami sama ayah, curang. Iya, kan, Ai?" tambah Saphira.


"Iya, culang. Pasti, makan sendili."


Ayah Ansel terpingkal, langsung bangkit menggendong Aira dan mengangkatnya tinggi.


"Mami, Aila telbang."


Ansel tidak mau ketinggalan. Ia meraih Khaysan dan menggendongnya dengan posisi seperti superman.


"Yeee... Aku juga telbang. Ayah, jauh-jauh lagi." Khay antusias.


Maya menyeka air matanya, yang tiba-tiba jatuh, tanpa ia sadari. Mungkin, inilah keluarga lengkap yang ia inginkan dan juga kedua anaknya. Tidak perlu ragu, bagaimana orang tua Ansel sangat menyayangi buah hatinya dan menerima keadaan mereka.


Maya melirik langit, memejamkan mata beberapa detik. Lalu, menghela napas dan ikut bergabung.


Selamat tinggal, Zamar. Aku akan memulai kisahku bersama mereka.


Mereka semua, berlari masuk dalam rumah. Main kejar-kejaran, yang membuat Aira dan Khay, memekik kegirangan.


"Kakak, Aila mau tiup balon." Aira meminta balon pada pelayan wanita, yang sedang mendekorasi ruangan.


"Ayo, sekarang, kita bertanding meniup balon." Ansel meraih keduanya untuk duduk dan Maya ikut bergabung. Mereka membentuk satu kelompok.


Ayah, ibu dan Fira, juga duduk membentuk kelompok. Pelayan dalam rumah bersorak, untuk mendukung. Hingga, suasana rumah menjadi riuh.


Kelompok Ansel berusaha meniup balon. Aira dan khay, tak mau kalah. Bahkan, gadis kecil itu tidak mau berhenti, saat balonnya sudah sangat membesar.


"Aira, Aira," sorak para pelayan.


Hingga,


Duar, balon itu pecah.


"Yeee... Aila menang. Na.. na.. na..." Ia bangkit dan berjoget, menggoyang-goyangkan pinggulnya.


"Kalah, Aila. balonna ndak boleh pecah," Khay protes.


"Aila, menang. Weee..." Aira menjulurkan lidahnya, lalu berlari karena sang kakak mengejarnya. Melihat itu, Ansel dan Maya bangkit untuk mengejar keduanya.


"Nyonya, kue ulang tahunnya, mau seperti apa?" tanya seorang koki, yang sebenarnya dari tadi menunggu. Namun, tidak ingin mengganggu.


"Sebentar." Sherly memanggil kedua cucunya. "Aira, Khay, sini sebentar, sayang."


"Oma," pekik Aira. "Ayah, na cium-cium Mami. Ayah nakal," tunjuknya.

__ADS_1


Ayah dan Sherly, berpandangan sejenak, lalu mengulum senyum.


"Sayang. Paman bertanya, kalian mau kue ulang tahun seperti apa?"


"Oh, Aila mau kue stlobeli pink, ada belbinya." Aira menjawab lebih dulu, dengan semangat berapi-api.


"Khay, mau yang bagaimana sayang?"


"Ental, Oma." Khay berlari masuk dalam kamar. Ia. keluar, dengan membawa sesuatu ditangannya. "Khay, mau gambal sepelti ini," tunjuknya.


Spontan, sang koki menganga lebar. Begitu, juga Sherly dan ayah. Mereka semua menatap Ansel, meminta penjelasan.


Mainan yang dibawa Khay, bagaimana cara menggambarkan spesifikasinya. Robot, tapi ada ban mobil, menempel dibagian belakang. Rel kereta, sebagai kaki, tangannya ada ban motor dan kepalanya ditempeli manik-manik, entah dari apa.


"Sayang. Ini namanya, apa?"


"Ini, supelhelo."


"Bagaimana, Paman? Apa bisa?" tanya Ansel. Pada sang koki, yang tengah berpikir keras.


"Saya usahakan, tapi sepertinya waktunya, agak lama."


"Tidak apa, Paman. Masih, dua hari."


Keramaian dalam rumah, ditutup dengan maan malam bersama. Seperti biasa, Aira selalu tidur bersama Ansel. Karena, ia merasa saat di rumah, ayahnya selalu pergi.


"Ayah, jangan pelgi-pelgi." Aira mengeratkan pelukan dilengan Ansel.


"Tidak. Ayah tidak akan pergi lagi. Kita semua akan tinggal bersama, dirumah opa."


"Janji, ayah?"


"Janji, sayang. Tidurlah." Ansel menepuk-nepuk, paha Aira dengan lembut. Dan saat itu, ponselnya berdering. Ia memilih keluar kamar.


"Ada apa?"


"Tuan. Kemarin, ada seseorang yang mencari nona Maya."


"Apa yang kau katakan?"


"Saya hanya mengatakan toko roti ini, milik Anda. Dia bersikeras dan menunjukkan foto Nona. Saya hanya mengatakan tidak mengenalnya."


"Kau tahu, siapa dia?"


"Tahu, karena saya sering melihatnya di tv. Dia sekretaris perusahaan PT. Satya."


Zamar.


"Aku mengerti. Terima kasih."

__ADS_1


Ansel mondar mandir depan kamar. Ia dihantui, oleh rasa penasaran. Sudah tiga tahun, kenapa ia tiba-tiba mencarinya? Dan kenapa, ia bertanya ditempat itu?


🍋 Bersambung.


__ADS_2