
Satu jam, sebelum kedatangan Huan.
Zamar duduk terpaku, sorot matanya fokus pada layar komputer. Ia juga memasang headset pada telinganya. Beberapa menit berlalu, ia masih membisu, dan mempertajam pendengaran.
Dalam layar, tampak sang istri sedang duduk menangis dan sang ibu, menenangkannya. Tidak ada, yang aneh dari mereka berdua. Percakapannya pun, terbilang biasa saja. Sampai akhirnya, nama Maya disebut.
Seperti tersambar petir siang hari, saat pengakuan meluncur dari bibir Sandra. Zamar melebarkan mata. Namun, yang membuatnya tercengang adalah reaksi sang ibu. Meski, wanita itu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, tetap saja reaksinya, jauh yang diharapkan oleh Zamar.
Kenapa justru meminta Sandra untuk tetap diam? Bukankah seharusnya, ia terkejut? Meski tidak mengerti, tentang apa Sandra ucapkan.
Tok, tok, tok.
"Tuan, sekertaris Huan menelpon."
"Suruh dia kemari."
"Baik, Tuan."
Zamar masih mendengarkan percakapan mereka. Rahangnya mengetat dan otaknya dipaksa, untuk mencerna setiap kalimat yang ia dengar.
"Tuan, saya masuk." Terdengar suara Huan dari balik pintu.
"Hm," jawaban singkat terdengar dari dalam ruangan.
Huan, meletakkan dokumen diatas meja, sembari melirik layar komputer yang menyala. Ia tidak merasa heran, sebab jauh-jauh hari, Zamar sudah merencanakan ini.
Bertanya pada Sandra, adalah jalan buntu. Jadi, memasang kamera pengawas, adalah langkah terbaik, tanpa bersusah-susah mengeluarkan energi dan emosi.
"Dia mengaku bersama Maya. Tapi, dia tidak ingat apa yang terjadi."
"Maksud, Anda?" Huan menarik kursi, duduk di seberang meja.
"Hari itu, Sandra bangun dalam kamarnya dan orang tuanya mengurung dan menyita ponselnya. Dan yang lebih aneh, mereka memintanya untuk diam."
"Apa Anda ingin, saya menyelidikinya?"
"Aku akan mengunjungi mertuaku dan mencari tahu sendiri. Tugasmu, temukan Maya dan pria itu. Secepatnya!"
Tok, tok, tok.
"Tuan, saya membawa teh."
Huan membuka pintu, tanpa menjawab. Pelayan meletakkan cangkir pertama, untuk Zamar dan selanjutnya, untuk Huan. Ditambah sepiring cemilan.
"Saya permisi." Huan hanya mengangguk, lalu kembali menutup pintu.
Zamar menatap dua cangkir didepannya, tanpa menyentuh. Jika saja, ia tidak mendengar percakapan ibunya. Mungkin, teh ini akan langsung diteguknya, tanpa ampun.
"Tumpahkan," perintah Zamar. Dan Huan melakukannya, tanpa bertanya. "Dokumen apa yang kau bawa?"
"Saya butuh tanda tangan."
"Bersiaplah." Zamar mematikan komputer dan bangkit.
"Tapi, nyonya masih didepan."
__ADS_1
"Untuk itulah, aku membutuhkanmu."
Huan mengatur kembali dokumen-dokumen itu dan menyusul langkah Zamar dengan cepat. Seperti dugaan Huan, Resti menunggu, tak jauh dari depan pintu ruangan.
"Kalian mau kemana?" Resti sudah menodong mereka dengan pertanyaan. Ekor matanya, melirik dalam ruang kerja.
"Aku ada pekerjaan." Zamar hendak melangkah, namun tangannya ditahan sang ibu.
"Masih bisa besok, Za. Ini sudah malam, pekerjaan masih bisa ditunda. Istrimu seharian mengurung diri dikamar dan tidak mau bicara. Jika kalian bertengkar, cepat selesaikan."
"Kami baik-baik saja. Sebaiknya, Mama yang bicara dengannya. Aku pergi dulu."
Zamar melepaskan tangan sang ibu dan berjalan dengan cepat. Sementara, Resti masih mengekor dan mencoba menahan langkahnya.
"Za, Zamar." Resti mencegah Zamar masuk dalam mobil. "Sebenarnya, kalian ini kenapa? Temui istrimu sekali saja. Setelah itu, Mama tidak akan menahanmu."
"Huan, nyalakan mobil dan tunggu aku."
"Baik, Tuan."
Zamar akhirnya, mengalah dan mengikuti permintaan sang ibu. Mereka kembali masuk rumah dan langsung menuju kamar.
"Masuklah dan bicara dengannya." Resti pamit, meski tidak sepenuhnya pergi.
Dalam kamar, dengan lampu remang. Sandra mematung dengan wajah merona. Lingerie hitam, menampakkan seluruh lekuk tubuhnya. Ia menunduk malu dan gugup.
Selangkah demi selangkah, Zamar mendekat. Pandangannya lurus, pada wanita yang sudah halal untuk ia sentuh. Munafik, jika ia tidak berhasrat. Namun, hatinya tidak mampu mendorong tubuhnya, untuk lebih mendekat.
Hening. Zamar berhenti, dengan jarak dua langkah didepan Sandra.
Sandra tersenyum getir. Ia sudah menurunkan harga dirinya, dengan berpakaian seperti ini. Merayu pria yang sudah menjadi suaminya, untuk menidurinya.
"Apa kau tidak mampu menyentuh wanita lain, selain Maya?"
"Benar. Aku tidak bisa melakukannya. Jadi, sebaiknya, pakai pakaianmu."
"Kenapa?" Sandra maju selangkah. "Kita sudah menikah. Apa kau tidak sadar, sudah. mendzolimiku? Aku meminta hakku, sebagai istrimu." Lingerie itu, kini mendarat dibawah kaki. Sandra.
Zamar membeku, kakinya terasa berat, bahkan hanya untuk sekedar menghindar. Sentuhan kulit keduanya dan belaian Sandra pada wajahnya, membuat hasrat, Zamar bergelora dan mengalahkan logikanya.
Nafsu mulai menggerakkan tangan Zamar, untuk membalas sentuhan sang istri. Nafasnya memburu dan berat. Bibir tipisnya, mulai menjelajahi leher dan tenguk istrinya.
"Akh, Za." Sandra terbuai setiap sentuhan Zamar. Ia mengigit bibir, agar suaranya tidak mendesah.
"May,"
Sandra melebarkan mata, birahinya menguap. Kecupan dan sentuhan, seolah bukan untuknya. Kedua matanya memanas, hingga akhirnya basah.
Ia memundurkan langkah, membuat Zamar tersadar.
"Mari bercerai," ujar Sandra, sembari berjalan mengambil selimut.
"Maaf," sahut Zamar, pelan, "suatu hari, akan ada pria yang lebih mencintai dan menghargaimu."
Sandra tidak menggubris. Ia duduk di tepi tempat tidur, dengan tubuh yang sudah tertutup selimut. Matanya berenang, dengan isakkan kecil keluar dari bibirnya.
__ADS_1
"Besok. Kita akan ke rumah orang tuamu," lanjut Zamar.
"Untuk apa? Aku tidak ingin mereka tahu. Sesuai perjanjian, kau akan tetap melindungiku, setelah kita berpisah."
"Tentu saja, aku tetap memegang janjiku. Aku hanya ingin memastikan sesuatu."
Zamar memutar badan, keluar dari kamar. Ia tidak langsung beranjak, melainkan berdiri didepan pintu kamar yang sudah tertutup. Ia merutuki kebodohannya, yang begitu cepat berhasrat.
Dari luar, samar-samar terdengar suara Sandra yang menangis. Zamar merasa bersalah, tapi dengan cepat menyesuaikan hatinya. Mungkin, lebih baik seperti ini. Jika otaknya tidak mengingat wajah Maya, mungkin malam ini mereka sudah tidur bersama.
"Kau sudah bertemu istrimu?" Resti tiba-tiba muncul entah dari mana.
"Sudah. Dia sedang tidur. Aku harus pergi, Ma."
Zamar meninggalkan sang ibu, yang tidak lagi menahan langkahnya. Ia hanya mendengar pintu kamar, yang dibuka sang ibu.
"Tuan," Huan memperhatikan Zamar, dalam hati ia bertanya. "Apa terjadi sesuatu? Kenapa sangat lama?"
"Urus perceraianku, secepatnya. Dan carikan rumah, untuk Sandra."
"Baik. Tapi, Anda mau kemana?"
"Apartemen."
Huan melaju meninggalkan halaman rumah. Dengan kecepatan sedang, ia menyalip beberapa kendaraan didepannya.
"Mampir toko roti, Huan."
Beruntung, sebuah toko roti hampir terlewati oleh Huan. Ia mendadak berhenti, mundur beberapa meter dan masuk untuk memarkir kendaraan.
"Anda ingin roti, seperti apa?" tanya Huan dari balik kemudi, dengan posisi sudah melepaskan seatbelt.
"Aku akan melihatnya sendiri."
Ada banyak jenis pilihan roti, yang berada dalam etalase. Pelayan toko, juga terlihat ramah dan merekomendasikan beberapa roti yang paling laku ditempat mereka.
"Aku mau ini, ini dan itu," tunjuk Zamar.
Dari arah depan, seorang wanita, berambut panjang yang hendak keluar, berhenti mendadak, dengan mata melebar. Dengan cepat, ia menoleh dan kembali masuk.
"Tuan, saya ke toilet dulu."
"Cepatlah."
Huan berlari kecil masuk kedalam, setelah bertanya pada pelayan toko, keberadaan toilet ditempat mereka.
"Nona," panggil Huan, sambil berlari mengejar wanita yang hendak menaiki tangga. "Nona, apa perlu saya berteriak, agar tuan kemari?"
Wanita berhenti dan segera menoleh. "Anggap, kau tidak pernah melihatku, Huan."
"Nona, bisaka Anda kembali? Tuan, sedang mencari Anda?"
"Untuk apa?" Maya menyeringai. "Aku sudah pernah bilang, jangan pernah ia mencariku."
🍋 Bersambung
__ADS_1